Kamis, 07 November 2013

November Rain

November Rain..
Ya.. lagu itu identik dengan segala yang berbau being blue, full of sadness..
Semua terjadi di bulan November menurut lagu yang dinyanyikan oleh Gun N Roses dengan apik
Saya menyukai lagu itu dan saya menyukai bulan November
Bulan dimana saya terlahir sebagai anak kedua dari pasangan Bapak Eddy Supriady dan Ibu Rianti Rubiana serta menjadi anak perempuan satu-satunya yang diapit oleh kakak laki-laki dan adik laki-laki.
Sejak kecil, saya paling antusias jika bulan ini datang, bulan yang berada di "hampir" akhir tahun, perlu waktu yang cukup lama untuk menanti kehadirannya.

Saya tidak suka hujan.
Hujan identik dengan kesedihan, kehampaan, dingin, dan sendu.
Hujan menghalangi sinar matahari yang masuk ke pori-pori kulit di kala siang, menutupi indahnya kerlip bintang saat malam hari
Hujan memberikan manfaat menyejukkan bumi dari gersangnya terik matahari, tapi jika terlampau deras dapat menggenang bumi
Kala hujan tiba, saya berlari menghindarinya.
Saya tidak suka hujan.

November adalah bulan di musim penghujan
Intensitas hujan akan sering terjadi di saat bulan November
Iya, ini adalah friksi yang membuat saya bingung
Saya menyukai November namun saya tidak menyukai hujan yang selalu menyertai November
Tapi hal ini tak pernah menyurutkan saya untuk tetap menyukai November

Kehidupan merupakan dua sisi yang menempati ruang "SUKA" dan ruang "TIDAK SUKA" akan sesuatu atau seseorang dalam berbagai problema hidup
Lantas, apa karna tidak menyukai satu hal, harus menyerempet pada hal lain yang bersamanya?
Tidak.
Make the dislike become the thing which you like..
Pretending like, you'll like for real..


November Rain 
When I look into your eyes
I can see a love restrained
But darlin’ when I hold you
Don’t you know I feel the same
‘Cause nothin’ lasts forever
And we both know hearts can change
And it’s hard to hold a candle
In the cold November rain
We’ve been through this
Such a long long time
Just tryin’ to kill the pain
yeahh..
But lovers always come
And lovers always go
And no one’s really sure
Who’s lettin’ go today
Walking away
If we could take the time
To lay it on the line
I could rest my head
Just knowin’ that you were mine
All mine
So if you want to love me
Then darlin’ don’t refrain
Or I’ll just end up walkin’
In the cold November rain
Do you need some time
On your own
Do you need some time
All alone
Everybody needs some time
On their own
Don’t you know you need some time
All alone
I know it’s hard to keep an open heart
When even friends seem out to harm you
But if you could heal a broken heart
Wouldn’t time be out to charm you
Sometimes I need some time
On my own
Sometimes I need some time
All alone
Everybody needs some time
On their own
Don’t you know you need some time
All alone
And when your fears subside
And shadows still remain
I know that you can love me
When there’s no one left to blame
So never mind the darkness
We still can find a way
‘Cause nothin’ lasts forever
Even cold November rain
Don’t ya think that you
Need somebody
Don’t ya think that you
Need someone
Everybody needs somebody

Jumat, 13 September 2013

Dislike Children!!

Selamat datang di semester 5..!!
Seruan itu menyeruak saat pertama kali menjajaki semester ini.
Notabene sebagai mahasiswa tingkat akhir pun siap disandang
Yeah, tinggal 2 semester lagi maka genap saya akan bergelar Amd.Kepgi dan bertoga ria pada September 2014 (aamiin..)
Namun, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa itu bukanlah hal yang mudah
Pasti bakal ada proses panjang yang mengiringi dan sangat terjal tentunya ditahun-tahun terakhir ini
Tapi perlu diketahui saya tidak sendiri, masih ada 37 orang lagi di kelas saya, dan masih ada mungkin sekitar 400 orang di kampus saya yang merasakan hal yang sama

Salah satu hal yang tak dapat saya prediksi solusinya adalah Merawat kesehatan gigi dan mulut Murid SD
Yap, itu merupakan salah satu mata kuliah dengan segenap requirement yang tidak sedikit dan saya akan mempunyai siswa asuh yang mesti saya rawat kesehatan gigi dan mulutnya sampai tuntas
Secara teori dan praktikum saya siap karena sudah 2 tahun bergelut dengan dunia kesehatan gigi dan mulut, ya.. meskipun belum terlalu expert. Namun, tantangannya disini adalah merawat anak usia SEKOLAH DASAR (saya capslock nih :p )
Bagaimana saya bisa menangani bocah yang seumuran adik saya, sekitar usia 6 tahun sampai 12 tahun?
Masa anak dimana senang bermain dan berulah tentunya..

Saya jujur tidak menyukai anak kecil, bahkan saya acuh sekali pada adik saya sendiri
Memikirkannya saja sudah tidak sanggup
Harus memasang muka manis, tersenyum palsu, dengan tingkah yang hampir menyerupai mereka -gaya sok-sok anak kecil, dan mengajukan pertanyaan basa-basi pada mereka. Jujur, it's not my track record!

Semua kini sudah jalan 3 hari, tetapi baru awal saja sudah kelimpungan
Apalagi saat hari ini ketika saya dan tiga teman lainnya harus mengajari bocah kelas 1 SD menyikat gigi dengan baik dan benar
Tubuh mereka setengah dari tinggi badan saya, anaknya nurut sekali tetapi mereka perlu usaha dan tenaga serta cuap-cuap extra untuk mengajari mereka menyikat gigi
Bahkan cara memegang sikat giginya pun mereka belum bisa
Semua teman saya menikmati gelak tawa dengan mereka, tetapi hal ini begitu sulit untuk saya

Dan saya harus mendekam selama lebih dari 2 bulan di SD, berkutat dengan anak-anak SD yang giginya berantakan dan tingkah polah mereka yang harus membuat saya banyak mengelus dada
Mengapa harus ada requirement seperti ini? Mengapa harus ada matakuliah seperti ini?
Harus mulai dari sekarang mencari solusi, Harus!!

Senin, 09 September 2013

Neraca awan dan bumi

Manusia hidup menurut insting, perasaan, dan logikanya
Manusia hidup menapaki bumi, berpayungkan awan
Bagi manusia itu adalah sebuah neraca yang letak keseimbangannya manusia yang mengatur

Awan adalah sang pencerah yang telah menutup teriknya matahari agar sengatnya tak membakar kulit tipis manusia
Awan pembendung uap air dan menahannya diangkasa
Dikala beban air terlalu berat, awan pun menghaturkan percikan air ke bumi
Menyejukkan gersangnya bumi akan lalu lalang dan kesibukan manusia
Awan menyerukan pertemuan muatan positif dan negatif yang akan direfleksikan dalam
kilatan listrik diangkasa
Awan berada diatas, memerhatikan tingkah pola manusia yang berlaku

Lantas bagaimana dengan Bumi?
Dia tempat berpijak manusia-manusia dan segala yang melengkapinya
Menjadi saksi akan tingkah polah keangkuhan manusia
Tanpa sadar didalamnya terdapat cairan panas yang apabila tak terbendung dapat meluap tak terkendali meluluhlantakkan semua yang berada diatasnya
Kala kotoran - kotoran yang manusia ciptakan meracuni Bumi, membuat rusak dan tak sedap ditinggali
Namun Bumi senantiasa berjalan sebagaimana mestinya, berputar meski sedang sakit menahan luka
Tetap bergerak tanpa tahu hakikatnya dia bersedih

Awan dan Bumi melengkapi si Manusia tersebut, tanpa Awan, manusia kering tandus oleh terpaan matahari
Tanpa Bumi, Manusia akan berpijak dimana?
Maka dari itu, selalu dampingi dan tegur pabila kegelapan jiwa mulai mengatur

Ekspetasi Terlalu Tinggi

Jika membuka kembali asa yang telah terkubur lama dalam persemayaman otak, kadang enggan untuk membongkarnya kembali
Tetapi ternyata hal ini diluar kuasa, ketika kasus yang sama menimpa
Namun beda pelaku, beda waktu, beda situasi, namun entah mengapa di rasa begitu sama
Dan kembali harus membongkar, kembali

Butuh usaha yang keras dan teramat gigih untuk merefleksikan bongkahan-bongkahan tersebut menjadi sesuatu yang utuh kembali
Kadang suara di otak berceracau, mengungkap bahwa untuk apa di bongkar?
Sesuatu parut itu, kini harus dibuka kembali dengan alasan yang tak bisa diterima oleh jiwa manapun
Alasan sepele, karna ini kasus yang sama, persis mungkin lebih tepatnya
Lantas kalau sama, apakah penyelesaiannya harus sama?
Caranya harus sama?
Pelakunya berbeda, situasi, dan waktunya pun sudah lain
Lantas begitu kukuh untuk memaksanya untuk membongkarnya kembali..

"Ini dapat terselesaikan dengan cara yang sama! Toh yang kemarin hasil penyelesaiannya baik?!" Kembali ceracau itu mengusik
Kendali, Kendali ini lepas
Ternyata otak kukuh ingin membongkar hal yang telah tertutup rapat ini
Dia menaruh ekspetasi tinggi bahwa kasus ini akan terselesaikan dengan cara yang sama

Dan sialnya, tak dapat dikendalikan!

Senin, 27 Mei 2013

Totalitas dan Loyalitas: Harga Mati!


Bermula dari sebuah konsep sederhana, dimana setiap mengikuti seminar tak pernah ada SKP dari organisasi profesi sendiri yaitu PPGI
Terbersitlah keinginan untuk mengadakan seminar dikampus sendiri
Tentu ini bukanlah hal mudah dan setelah tercetus ide pada awal tahun kemarin namun karena terdapat serangan virus Ebola yang merusak sistem pada tubuh sendiri, akhirnya ide ini vakum selama 3bulan

Awal tahun, awal periode, datanglah keberanian untuk memunculkan ide ini lagi ke khalayak
Berharap bahwa konsep ini tidak hanya bersemayam dalam memori tetapi terbentuk dalam sebuah implementasi nyata

Proses pertama dimulai saat ditunjuk dan mengajukan diri sebagai Ketua Pelaksana
Ini bukan hal main-main, karena telah memperhitungkan segala macam pertimbangan dan kesiapan baik mental maupun fisik
Dan saya menyanggupinya

Selanjutnya menentukan seksi-seksi disetiap slot, butuh pemikiran yang ekstra
Saya akui ada beberapa teman saya yang sudah "langganan" menjabat sebagai seksi itu, saya tempatkan pada seksi tersebut
Mengapa? Alasannya sederhana, karena ini acara besar, acara perdana dan memang dibutuhkan orang-orang yang expert didalamnya
Sebuah pepatah dari orang sahabat yang masih saya ingat yaitu "Seorang pemimpin adalah seseorang yang mengetahui kemampuan anak buahnya"

Perencanaan awal wajar jika terbentur beberapa hal, apalagi saat saya mengutarakan konsep saya didepan panitia
Banyak berpendapat ini itu, tapi semuanya saya filter karena semuanya harus saya pikirkan ulang
Dan dengan segenap pergolakan yang alot akhirnya proposal selesai (tanpa anggaran biaya - baru perencanaan)

Pergolakan dari tubuh sendiri pun terjadi, entah apakah saya yang terlalu sistematis, idealis dan perfeksionis?
Tetapi jujur, saya sudah menekan as posible as I can untuk acara ini
Banyak kicauan yang menyeru bahwa acara yang hanya digarap 2bulan ini tak akan berhasil
Mulai dari pihak institusi hingga tubuh sendiri
Tapi saya harus yakin dan saya harus meyakinkan yang lain bahwa ini bukan hanya sekedar tulisan dikertas meja kerja, bukan sekedar diam dan mengambang diatas otak
Sulit, namun sulit hanyalah masalah waktu

Gejolak mendalam dan menyayat sukma saya pun tiba saat virus influenza tingkat tinggi menyerang tubuh
Berbagai kendala 'eh' masalah yang mengapa harus didetik-detik klimaks perjuangan
Saya pun tak kuasa menghadapinya, merasa bahwa beban ini berada dikepala dan pundak saya sendiri
Kemana harus mengadu dan berkeluh kesah?
Kegelapan menertawakan saya, dia berkata "Khayalanmu akan terang, akan tetap sebuah imajinasi!"
Saya sempat gentar, saya down tetapi ini tak boleh berlangsung lama
Dunia tak mau menunggu saya untuk terpuruk, and show must go on
Suatu kalimat penyemangat pun terngiang dalam ingatan
"Daripada kau sibuk mengutuk kegelapan, lebih baik kau menyalakan lilin untuk menghadirkan terang"

Permainan Bounce yang saya sangat gemari saat saya SMP mengingatkan akan satu hal bahwa saya harus seperti bola dalam permainan  Bounce tersebut
Saat ada tantangan yang memukul keras saya untuk jatuh maka seketika itu saya akan terpantul jauh melewati angkasa
Jadi disaat saya down disaat itu pula saya harus up
Proses ini sungguh saya nikmati, indah :)

H-1
Saya senang dan bahagia melihat sebentar lagi tinggal hitungan jam, catatan-catatan kecil saya dan coretan-coretan yang berasal dari pemikiran teman saya  akan segera dihadirkan
Melihat semuanya berjibaku dengan segala pekerjaan yang tidak mudah, inisiatif dan senantiasa bergegas membuat saya yang diawal-awal push over limit, kini harus menghargai sesuatu yang bernama "pengorganisasian"
Ya, idealis saya tetap pada kadar yang sama tetapi saya mengkombinasikan dengan teori "Hukum Kekekalan Energi" dimana energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, namun dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, begitupun dengan keidealisan saya

Saya bukanlah pemimpin yang baik, tetapi saya mencoba untuk selalu memberikan yang terbaik
Karena hidup ini untuk melayani
Visioner, Konsisten, dan selalu Semangat merupakan bukti nyata dari harga mati suatu Totalitas dan Loyalitas
Semua terbayar lunas saat kesuksesan yang begitu sederhana terpantulkan dalam pupil mata
Saya lelah tetapi saya bahagia

Terimakasih kepada segenap kawan sekaligus panitia
Kalian luar biasaaaaa
Saya harap ini bukan acara euforia sesaat tetapi menjadi agenda tahunan
Imposible is Nothing

Eureka!

Rabu, 22 Mei 2013

Refleksi Kajian Hati

Suatu hari ayahnya menghadiahinya sebuah cermin.
Panjangnya sekitar 80cm dengan lebar yang entah berapa krna tak dapat dikira-kira!
Sederhana
Hanya cermin datar tanpa hiasan apapun

Ia lihat parasnya dicermin
Tampak layu dan penuh kejenuhan
Jenuh akan keterbatasan dirinya yang belum jadi apa-apa
Belum bisa apa-apa

Satu hati terpantulkan
Rasa yg pnuh obsesi
Semangat
Serta efisiensi pikiran yang matang
Dan satu hati lg terefleksikan
Suram
Gurat-gurat lelah menghiasi stiap lengkung matanya
Serta keputusasaan!
Pandangannya semakin dalam.dalam..dan dalam..
Ayah memberikannya cermin bukan untuk menangisi keterpurukan dan bukan untuk menggelorakan sebuah ambisi
Tapi untuk satu hal yaitu mengkaji hati dari balik sinar mata yang kadang redup dan kadang bersinar itu..

Selasa, 21 Mei 2013

How can I always pretend?

Sometimes I feel down
Sometimes I feel suffer
Sometimes I feel broke
Sometimes I feel sad
Sometimes I feel confused
Sometimes I feel hurt
Sometimes I feel sick

But, sometimes I feel happy
Sometimes I feel glad
Sometimes I feel cheerful
Sometimes I feel I must accept the others
Sometimes I feel higher spirit
Sometimes I feel I must struggle

But, sometimes I feel angry
Sometimes I feel dissapointed
Sometimes I feel bad
Sometimes I lonely
Sometimes I feel misery

Many expression which I appear in my face, but not at all
If I angry, dissapointed, bad, lonely, misery, suffer, sad, confused, broke, sick, hurt, and down
I must pretend happy, glad, cheerful, having higher spirit, must struggle
The world cant wait me to realize my sadness, I always pretend keep happy

"If I wear a mask, I cant fool the world, but I can not fool my heart"

But it's doesnt matter ..

Yeah, Yeah, Yeah


Memasuki dimensi hijau dengan bertemankan Luigi
Menutup pintu dan jendela dan pejamkan mata lalu tutup indera pendengaran dengan musik penyemangat dan menolak hiruk pikuk kebisingan dunia sejenak

Hirup hawa jeruk dan menyentuh dinginnya dinding pembatas
Berguling - guling dihangatnya roti panjang yang seakan baru keluar dari pemanggang

Yeah, Yeah, Yeah...
Yeahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!

Partikel Beban


Maaf jika topeng ini telah retak dan bahkan rusak
Tak ada maksud untuk terlihat rentan, namun tak kuasa karena terlalu berat
Derai mutiara pun turun dari pelupuk mata

Apa yang salah ini?
Terlalu memusingkan persoalan sepele, atau menyepelekan persoalan yang memusingkan
Yang pasti dengan menceritakan dan menangis sembari tertawa adalah cara terbaik untuk mengeluarkan segenap partikel-partikel yang memberatkan ini

Dan ternyata saya ini masih manusia :)

Senin, 20 Mei 2013

Idealis, angel or demon?


Kembali
Kembali tersudutkan pada posisi seperti ini berulang-ulang dalam situasi yang berbeda
Mengapa terus menghinggapiku?

Entah darimana awalnya pemikiran seperti ini tumbuh dalam diri saya
Mungkin karena faktor lingkungan yang mendominasi
Mungkin bukan karena disekeliling saya adalah orang-orang yang seperti itu
Namun lebih tepatnya karena terpaan tantangan hidup yang membuat saya mempunyai pemikiran seperti ini

Idealis!
Ya itu pemikiran saya
Lebih tepatnya dinamakan pemikiran karena itu memang berada dalam pemikiran (dulunya) dan seiring sejalan, pemikiran ini pun terimplementasikan juga
Namun saya tetap beranggapan bahwa keidealisan ini adalah sebuah pemikiran

Saya dulu tak tahu bahwa hal yang sudah saya lakukan dari kecil adalah sebuah keidealisan,
Saya tahu kata idealis berasal dari Buku Sejarah yang sedang menceritakan tokoh NAZI bernama Adolf Hitler
Setelah disingkronisasikan dengan pemikiran saya ternyata amat sangat cenderung idealis.
Wow!

Saya menilai apa yang saya lakukan sesuai dengan visi dan cara pandang saya
Bahkan saya tak peduli bila saya akan cape sendiri, raga dan tenaga bahkan pikiran saya akan amat terporsir sekalipun
Bahkan saya tak peduli seberapa jauh saya harus berjalan hingga berlari dan telah terjatuh hingga tertatih sekalipun
Dan saya amat sangat tak peduli sekalipun saya harus kehilangan harta atau nyawa sekalipun untuk mencapai  obsesi dan rencana yang telah saya susun dengan matang
Semua demi satu kata : Kesuksesan!

Kesuksesan yang diraih itu dinilai secara subjektif menurut keidealan saya
Maka dari itu saat saya masih SD dan SMP keidealisan ini cenderung egois
Meski saya tahu itu hanya akan membuat tekanan pada diri saya tapi saya tak peduli yang terpenting ini harus sesuai

Saat saya SMA dan diarahkan diberbagai organisasi dan saya ditempatkan dibeberapa acara yang menjadikan saya sebagai Ketua Pelaksana, disinilah keidealisan saya teruji
Saya yang terbiasa menekan diri saya sendiri untuk push over limit kini saya disudutkan untuk menuntut anggota saya untuk seperti itu jelas itu tidak bijaksana
Saya tidak bisa sewenang-wenang pada orang lain, saya tidak berhak memposisikan orang lain menjadi saya
Kesewenangan atau keidealisan itu hanya berlaku pada diri saya

Disana saya mulai belajar menghargai pendapat orang lain
Saya yang tipikal orang yang selalu mendewakan ide saya dan menganggap yang lain hanya sekedar pelaksana dari ide saya, kini sudah mulai open minded
Namun lagi-lagi terpatri pada sosok idealisme ini
Terkekang karena saya harus mengorganisasikan setiap divisi-divisi bagian kegiatan tetapi diarahkan pada indikator keberhasilan menurut si Idealis ini

Dan sekarang sama
Bagi yang lain kesuksesan suatu acara berdasarkan berapa besar keuntungan yang diraih, seberapa banyak partisipan yang mengikuti
Tapi bagi si Idealis ini hal itu bukan bagian dari indikator keberhasilan, hal itu merupakan bonus
Indikator keberhasilan adalah bagaimana kita bisa mengemas acara dengan seapik mungkin, sesama anggota saling terkait dan solid dan partisipan dapat menangkap acara yang telah digagas, having meaning
Ya itu sudah cukup bahkan lebih bagi si Idealis
Namun mayoritas menuntut lain dan si minoritas idealis ini pun tertunduk
Bukan karena tak dapat mempertahankan tetapi galau yang diarahkan pada realita yang ada dan tuntutan pihak mayoritas
Meski si minoritas idealis ini pemimpin sekalipun tetapi jika mayoritasnya yang beranggapan seperti itu adalah anggotanya, berpura-pura bijaksana demi amankan wilayah bukanlah record si idealis

Aarrrgggghhhhh.....!
Ingin sekali lepas dari belenggu keidealisan ini, namun tak bisa dan memang tak terlalu ingin lepas
Bukankah hidup didunia ini yang hanya sekali ini adalah mencari kebahagiaan?
Jika mengikuti zona aman namun tak bahagia untuk apa?
Menuruti jalur hidup mayoritas tapi sengsara, lebih baik menjalankan jalan minoritas ini dengan kebahagiaan
Ya, indikator kebahagiaan menurut si Idealis

Kembali
Kembali pada keadaan seperti ini
Idealis yang bagai angel yang menyinari jiwa sekaligus demon yang menggerogoti tubuh

Minggu, 19 Mei 2013

Unpredictable But Basicly


Hahahahaha...
Saya tertawa ringan dahulu sejenak

Tak terasa sudah 4 semester telah saya lalui dengan predikat Mahasiswi
Hal yang paling saya dambakan saat saya masih SMA
Dan sekarang tercapai
Tetapi tak ada bedanya karena sekarang pun kuliah menggunakan seragam
Ya, saya kuliah di Jurusan Keperawatan Gigi
Dan jurusan ini hanya satu-satunya diwilayah Banten dan Jawa Barat
So special, right?

Semula tak ada sedikitpun terbersit dalam benak saya akan mengambil kuliah di jurusan kesehatan seperti sekarang
Saya tipikal yang teoritis, maka dari itu saya dulu berniat masuk HI, Hukum, atau Sastra.

Awalnya saya concern mengambil soal IPS sewaktu SNMPTN 2011 lalu dengan mengambil jurusan Sastra Inggris dan Ilmu Administrasi Negara (IAD) di Universitas Negeri di Bandung.
Saya amat ingin masuk IAD tetapi saya melihat teman-teman saya banyak yang lolos dipilihan dua dan tiga bukan pilihan pertama
Saya tak mau hal itu terjadi di saya, maka dari itu saya memilih untuk menaruh jurusan dambaan saya di nomor dua dan Sastra Inggris hanya jadi pancingan saja
Toh saya di SMA jurusan IPA lantas mengapa di SNMPTN saya bernyali besar untuk memilih soal IPS itu bukanlah hal yang mudah
Saya menganggap jurusan IPA yang keren itu ya kalau tak FK ya FKG tapi itu tak mungkin karena persoalan klise; biaya
Singkatnya, saya telah menyusun suatu strategi matang agar saya dapat lolos di IAD

Selanjutnya setelah saya SNMPTN, seseorang mengajak saya untuk daftar di tempat kuliah saya sekarang ini
Awalnya saya ragu, apakah benar saya memilih jurusan kesehatan tetapi saya coba saja

Setelah tes berbagai tes dilalui, saya lulus di kampus kesehatan itu dan seseorang yang mengajak saya itu dia tidak lolos
Saya tak enak hati pada dia

Dan ternyata strategi saya di SNMPTN gagal, saya malah lolos ke Sastra Inggris yaitu ke pilihan pertama
Saya kecewa tetapi saya harus bersyukur karena banyak teman saya yang tak lolos satu jurusan pun di SNMPTN

Dengan berbagai pertimbangan di kedua jurusan yang bertolak belakang, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di Jurusan Keperawatan Gigi (JKG) ini
Tentu hal ini bukan gambling namun ini dengan pertimbangan matang
Yang pertama Sastra Inggris bukan pilihan saya dan saya menganggap bahwa persoalan bahasa dapat dipelajari otodidak tanpa harus kuliah 4 tahun
Kedua, karena saya antimainstream dan ingin kuliah kesehatan yang masih buta untuk saya hadapi

Saya tanggalkan impian saya untuk menjadi Diplomat, dan seseorang yang hanya bisa teoritis
Saya ingin out of the box menjadi seorang perawat yang kualifikasinya di praktek

Banyak teman saya yang sekarang sekelas menyayangkan pilihan saya
Mereka beranggapan bahwa masuk sini adalah suatu zonk
Tapi tidak untuk saya
Meskipun saya akui ini berat karena sudah keluar dari comfort zone saya dan dihadapkan oleh dosen-dosen yang perfeksionis dan seabreg requirement pasien tetapi saya anggap ini tantangan hidup
Kalau hidup ingin flat, aman-aman saja maka hidup yang cuma sekali ini pun akan terasa hambar
Dan saya memilih untuk menjalaninya dan selalu bersyukur
Karena banyak teman saya yang ingin meneruskan kuliah tetapi karena satu dan lain hal tak bisa dan saya disini masih dapat berkuliah

Selanjutnya paradigma mengenai pendidikan dan kesehatan yang saya pikirkan selama ini ber-manuver
Dan saya telah pikirkan kedepannya

Ya, kadang sesuatu yang diinginkan bisa saja meleset dari perkiraan
Tetapi manusia hanya bisa berusaha dan Tuhanlah yang Maha Menentukan
Manusia tidak tahu apakah didepannya itu pilihan yang Tuhan beri, maka dari itu manusia senantiasa bersyukur akan segala nikmat

Kamis, 16 Mei 2013

Getar, Getir


Kegelimangan noda menutupi segala pusaran kehidupan
Menapaki kemunafikan dan kecemburuan dari khalayak dengan candaan kelu
Gaungan nurani menyeruak mengangkasa langit hijau
Segmen-segmen disetiap kehidupan mengisi relung

Peri-peri langit turun kebumi menebar bibit dengan kerlap-kerlip
Indah, kala senja datang menyertai
Tak dinyana bahwasanya mata senantiasa menanti
Pengakuan langit akan hadirnya insan

Pandangan lurus sembari menerawang
Diperhatikan awan di langit hujan yang enggan berceloteh
Angkuhnya sukma menutupi kegamangan jiwa
Berpoles pada kepalsuan yang berganti menjadi kenyataan

Senandung mengalun perlahan hingga berbisik
Disertai kicauan yang menemati sedu sedan ini
Getaran ini sungguh getir

Eat Well, Live Well


Saya sering menyepelekan hal kecil.
Kurang suka memperhatikan remeh temeh pada kehidupan saya pribadi.
Berbeda dengan hal lain diluar dari diri saya, saya orang yang selalu  memperhatikan hal yang detail.

Hingga suatu ketika negara api pun menyerang.
Menggerogoti dan membumihanguskan secara perlahan hal vital dari diri saya.
Dan saya menyadarinya setelah semuanya kian hari kian memburuk.

Orang-orang sering mengalami hal ini dalam skala kecil.
Lalu membiarkannya karena akan hilang sendiri.
Saya pun beranggapan seperti itu.

Dan itu tak lama.
Ternyata hal yang saya anggap kecil begitu besar efek yang ditimbulkan.
Kian hari kemunduran itu kian nyata.
Melemaskan dan melumpuhkan satu persatu sendi kehidupan saya.
Mengakibatkan ide yang bergelora ini tertahan dan mesti menahan untuk  tidak meledak karena kapasitas pertahanan yang regresif.

Kini saya tersudut pada suatu pilihan.
Memperbaiki dengan kemungkinan yang tipis atau menjalani dengan  kemungkinan tergerus.

Semuanya berputar-putar saja.
Dan saya akui ini adalah kesalahan saya.
Kesalahan fatal yang telat saya duga.

Dan saya memilih untuk menjalani karena saya pesimis untuk  memperbaikinya.
Alasan klise yang saya temui adalah saya tak mempunyai waktu untuk  memperbaiki.
Memperbaiki sama saja dengan berjalan ditempat, sementara dunia tak mau  menunggu saya ditempat.
Dunia yang dinamis ini tak mau menunggu.

Hal ini bukan egois tapi realistis.

Rabu, 15 Mei 2013

Paradigma Kekecewaan

Tarik nafas, Tahan... , Keluarkan perlahan...

Semburat senyum tersungging di sudut bibir.
Memainkan peran sebagai manusia ceria.
Sebabnya karena dunia enggan menunggu kesedihan.
Dunia tersaji dengan kemasan yang sempurna.

Kalanya lelah menyergap karena berusaha sempurna
Namun selalu terdapat hambatan
Kecewa hinggap
Namun tetap tersenyum

Lambat senja menutup kilauan bintang
Kecewa hadir pada sang matahari
Namun semuanya harus berjalan
Dan matahari harus tetap bersinar



Selasa, 07 Mei 2013

Sudah lama...

Waktu menjadikanku berkembang. Waktu pula yang menjadikanku menua. Namun, waktu tak mampu mematikan asa ini. Waktu hanya berjalan sebagaimana seharusnya. Dan aku berjalan semau pikiranku.

Waktu mengajariku arti kematian dengan mengakhiri setiap nafas yang telah kehabisan waktu.
Waktu mengajariku pula arti kehidupan dengan seiring nafas dan tangis bayi hadir disetiap waktu.

Waktu mengubahku dari bayi menjadi besar seperti ini, aku menyebutnya besar dibanding dewasa, sebab badanku telah tumbuh besar namun dewasa belum terlalu nampak hadir. Dan waktu pun mengikis kemampuan hidupku, bagai air laut yang mengabrasi karang laut.

Waktu tidak hanya persoalan lama atau sebentar, singkat dan panjang, tapi waktu memaknai hakikat jiwa yang mampu menobrak keangkuhan raga.
Ya, sudah lama nampaknya, gemericik kegusaran ini namun waktu tak kuasa menghapusnya dalam ingatan.

Kamis, 17 Januari 2013

Prolog

Teramat sulit dideskripsikan siapa saya ini.
Teramat rumit pula untuk menerka.
Teramat menghabiskan waktu untuk memikirkan hal itu.
Menghirup nafas kemunafikan dan senyuman palsu sang pencibir.
Menapaki jalan usang buatan manusia angkuh.
Menyentuh lembabnya kesunyian diantara orang-orang yang terpuruk.


Tak penting memikirkan hal-hal sepele. Namun, ada orang yang sangat memerhatikan detail
Tak penting mengkaji masalah yang ruwet. Namun, ada orang yang ingin menyelesaikannya
Tak penting untuk berkerja berpeluh sendiri. Namun, ada orang yang rela banjir keringat sendiri karena tak percaya kinerja orang lain. Semua itu demi satu kata : AMBISI

Terkadang lelah menilai segalanya menurut keindahan sendiri
Terkadang muak membuat segalanya sistematis
Terkadang tersisih karena selalu memikirkan sekecil apapun
Terkadang tercibir oleh orang-orang penjilat

Seumpama ilalang yang mengintari padang sabana
Seumpama bintang kecil yang berusaha memberi sinar pada semesta malam
Seumpama cermin yang mereflesksikan keresahan jiwa
Seumpama bunga yang hidup ditanah tandus
Seumpama caci yang segar di atas pujian
Seumpama diri yang tinggal diramainya kesunyian

Rabu, 16 Januari 2013

Midnight Written

Jika ada yang bertanya untuk apa kau hidup didunia, maka saya akan menjawab untuk mencari kebahagiaan.
Jika ada yang mencaci untuk apa kau bersusah payah sendiri akan suatu hal yang tak pasti, maka saya akan menjawab untuk sebuah pencapaian diri
Jika ada yang mengusik hidup yang telah carut marut ini, maka saya akan diam dan buktikan bahwa kecarutan ini untuk dihadapi bukan untuk mengganggu orang lain

My Over Protected Mom


Rasa terkekang itu pasti sering dirasakan oleh seorang anak yang terpasung berbagai aturan oleh orang tuanya sendiri. Over Protected dan menganggap dunia luar tak baik untuk dirimu.
Sejak kecil, saya tak pernah bermain dengan teman sebaya. Doktrin Ibu terlalu kuat.
Kalau ada yang kerumah ajak main, Ibu selalu bilang " Ennonya lagi tidur, lain kali saja maennya , ya.." atau "Ennonya lagi belajar,besok kan ulangan"
Padahal waktu itu saya  tak lagi tidur dan sedang menonton TV.
Disekolah, Ibu selalu bawakan makan dan minum dari rumah. Lalu Ibu bilang "Nanti kalau ada teman yang minta minum jangan dikasih, bakteri kuman dari mereka nanti masuk ke kamu. Nanti kamu sakit"
Saya menurut saja. Alhasil, saya dijuluki si pelit. Dan teman-teman menjauhi saya. Hingga puncaknya dikelas 4 SD saya di bullying abis-abisan oleh teman-teman saya.
Disebut pelit air, saya ranking 1 karena orang tua saya nyogok ke guru -Ibu saya dekat dengan para guru, disinyalir ada tindakan suap (WEIRD)-
Sungguh saya sakit hati dan saya hanya bisa diam, mereka mengancam akan menantang saya karena kakak-kakak mereka jauh lebih tua dari pada kakak saya, kakak mereka sudah SMA, kuliah bahkan sudah berkeluarga. Sementara kakak saya baru duduk di kelas 2 SMP.
Saya tak melawan. Lalu saya bilang ke Ibu.
Ibu hanya mengatakan "Yasudah, tak usah capek-capek lawan mereka. Mereka hanya sirik. Anak Ibu ini memang pintar kok, jadi ngapain Ibu nyogok, hahaha" Ujar Ibu sambil tertawa renyah.
Entah kenapa kata-kata Ibu itu menyejukkan.

Dari sana saya tahu bahwa hal yang dilakukan Ibu itu benar dan tepat.
Tak apa tak mempunyai teman juga kalau hanya memperdaya dan membuat saya menjadi anak nakal.
Ibu tak pernah secara eksplisit mengatakan maksud beliau apa mengatakan hal tersebut.
Namun pada akhirnya saya tahu sendiri apa manfaatnya itu semua.
Kadang harus merasa tersiksa terlebih dahulu untuk sebuah kebaikkan.
Masa lalu yang menyakitkan tinggalkan saja, I'm new born strong woman ever :)

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...