Selasa, 25 April 2017

Ya, aku kangen..

Lama sekali ku memikirkannya, bahkan menahannya..
Aku memang pandai bersandiwara dan bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa
Bukan pandai tetapi terbiasa seperti itu
Aku pun ingin menangis ketika bersedih
Aku pun ingin bisa mengungkapkannya sesuai apa yang di isi hati sebenarnya
Tetapi selalu saja ditahan
Ditahan hingga rasanya sesak

Biarlah ku lampiaskan lewat tulisan saja
Tak perlu orang melihat bagaimana raut wajahku yang sebenarnya saat menulis ini
Aku ingin dan hanya ingin menceritakan sesuatu yang telah ku tahan
Yang pasti aku sangat sedih, dan teramat sedih

Aku kangen, Mamah..
Rasanya kangen setengah mati seperti ini, ya..
Aku seperti orang gila menelpon nomornya beberapa kali, yang tentu nomornya tak akan pernah menjawab lagi
Aku sangat rindu saat dia berkata, "Enno sehat? Kapan pulang?"
Kini tak ada kalimat itu lagi yang ku dengar,

Rasanya masih ingat sekali terakhir berjumpa dengannya,
Seharian itu aku mengantuk karena lelah didera deadline tugas, lalu aku berkata, "Mah, Enno tidur dulu, ya, nanti kalau ada tukang baso bangunin ya.."
Mamah menjawab ya. Aku pun tertidur sangat nyenyak.
Lalu Mamah membangunkan katanya tukang basonya sudah datang.
"No, Mamah juga mau ya.."
"Tumben, Mah, kan ga suka baso." Ucapku heran.
"Ah.. lagi pengen."
Aku memesan 2 mangkok baso. Kami pun makan bersama.
"Ah..ini sayurnya ngga mateng." Ucap Mamah.
Dia malah kasih basonya ke aku. "Padahal kalau ngga pengen ngga usah beli, Mah."
"Iya kirain tuh enak."
Kami pun lanjut ngobrol. Mamah pasti tanya sekarang lagi sama siapa, bisa ngga kalau nikah dulu baru S2, hm...itu sulit sekali, Mah, sudah di-planning seperti itu.
"Enno mau ga sama tentara?" Mamah nawarin udah kayak nawarin baso aja, haha.
Kami pun ngobrol kesana kemari seperti biasa pasti Mamah cerita soal sinetron dan tetangganya, haha.

Besoknya seperti biasa Hari Senin, harus struggle ke Depok lagi buat mengejar mimpi.
Pamitan ke Mamah. Dia mengeluarkan uang.
"Maaf Mamah cuma punya uang segini, ini buat jajan Enno aja." Ucapnya, terlihat matanya mulai berkaca. Ah ini pasti mau nangis deh, ucapku dalam hati.
"Udah, Mah, ga usah. Harusnya aku yang ngasih ini Mamah yang ngasih." Tolak aku.
Dan Mamah beneran nangis, "Mamah kasihan sama kamu, anak perempuan sendirian di kota besar, ngga punya siapa-siapa, segala ditanggung sendiri, Mamah ga bisa kasih apa-apa," Mamah lalu meluk aku, hangat sekali.
Aku pun ingin menangis tapi ku tahan.
"Yaudah, Mah, ga apa-apa, kan udah pilihan Enno."
"Ini ah terima." Mamah maksa dan menaruh uang itu di saku bajuku.
"Udah terima aja. Hati-hati ya, jangan lupa makan."
Aku pamitan dan pergi.

Itulah pertemuan terakhir kami.
Ya, jika aku tahu kalau itu pertemuan terakhir akan ku dekap dia lebih lama.
Akan ku lihat wajahnya lekat-lekat lebih lama lagi.
Bahkan jika bisa aku tak akan pergi dulu.
Akan ku temani dia. Menemani dia mengobrol.
Andai saja aku tahu..

Dua hari setelahnya..
Malam itu aku kaget ketika Bapak menelpon bahwa Mamah sudah tak ada.
Aku terpana dan masih tak percaya.
Lalu nada bicara Bapak perlahan getir berkata, "Mamah udah ngga ada, No."
Setelahnya ku tak bisa berkata apa-apa, air mata perlahan deras mengalir.
Ini sungguhan?
Ini nyata?
Berkali-kali ku tampar pipiku dan sakit rasanya.
Tetapi dada ini lebih sakit dan sesak lagi.

Jarak 130 Km kulalui dalam perjalanan tengah malam
Sampai subuh dirumah sudah banyak orang
Ku masuk ke rumah dan melihat seseorang terbujur kaku berselimutkan kain batik.
Bapak berkata, "Ya itu Mamah, No."
Ku dekati perlahan.
Banyak yang menepuk pundakku dan berkata, Sabar, Kuat, dan Tabah, serta suara lain yang samar ku dengar.
Aku buka kain itu dan aku melihat kalau itu adalah Mamah, ya itu benar Mamah.
Mamah sudah tak ada, No.
Mamah sudah terbaring.
Tak lagi bisa kamu dengar suaranya berteriak, "Enno, mau baso? Enno, mau es? Enno, mau buah?"
Dia tak bergerak lagi. Ku peluk dia yang sudah mendingin.
Oh.. ini nyata? Ini sungguh nyata.
Aku menangis terus saja menangis.

Aku belum bahagiakan, Mamah.
Mamah selalu menangis setiap kali aku pulang.
Mamah belum tersenyum bahagia karenaku.
Dan kini tak lagi ku bisa bertemu dan menyentuh wajahnya lagi.
Padahal ingin sekali ku wisuda dan berfoto bersama Mamah.
Ingin sekali Mamah melihat pernikahanku.
Menggendong anakku, memeluk eratnya.

Ayo, Mah, kita makan baso lagi.
Ayo, Mah, kita jalan-jalan.
Ayo, Mah, katanya mau ke Mekah.
Ayo, Mah...
Ayo...
Mamah, lagi apa, Mah..
Enno telpon ga diangkat, Mah..
Angkat, Mah, Enno kangen
Kangen sekali, Mah..

Berat sekali rasa kangen ini.
Yang bisa aku lakukan adalah semoga Mamah bahagia disana.
Aku akan membuat Mamah bangga melihat dari sana.
Dan aku akan menyusul Mamah
Mari kita bahagia bersama, Mah..

Entah sampai kapan ku mampu berdiri di dunia ini tanpa Mamah.
Bukankah aku harus kuat agar Mamah bahagia disana?
Sudahlah itu urusan nanti apa bisa bertahan atau tidak, yang pasti sekarang,
...
...
Aku Kangen Mamah :"


the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...