Selasa, 28 November 2017

Percakapan Esok dan Hari Ini

"Apa yang sedang kau tatap ke angkasa?" Ujar Esok kepada Hari Ini.
"Tak ada, aku hanya sedang berkontemplasi."
"Lagakmu bagai seorang pemikir, kamu hanya perlu memikirkan sekarang saja."
"Justru itu."
"Apa? Kamu tak perlu risaukan hal didepan, kau hanya perlu jalani apa yang berada pada saat ini."
"Tetiba aku ingin sepertimu, Esok."
"..."
"Ya, kau hanya berada pada saat ini menjadi Esok, sebab besok, kau akan menjadi aku. Menjadi Hari Ini."
"Aku tak mengerti." Ucap Esok begitu bingung dengan ucapan Hari Ini. "Kau pun besok akan menjadi Kemarin."
"Iya, menjadi terlupakan, dan terlewati."
"Lho, memang sudah begitu adanya, kan?"
"Iya, hanya saja tiba-tiba menjadi terpikir."
"Aku pun akan menjadi Kemarin, setelah ku menjadi Hari Ini, sama sepertimu."
"Ya, hanya fase ku lebih cepat saja."
"Kau sudah pernah merasakan jadi Esok kan kemarin?" Tanya Esok.
"Ya, memang betul dan rasanya begitu singkat hingga sekarang aku menjadi Hari Ini."
"Malah aku takut, aku takut bahwa ku hanya menjadi Esok dan tak pernah menjadi Hari Ini sepertimu."
"Mengapa kau berkata demikian?" Nada Hari Ini mulai meninggi.
"Mungkin karena ketularan gusar sepertimu,.." Ucap Esok sambil tertawa renyah.
"Sial, kau malah menggodaku." Hari Ini memasang wajah cemberut.
"Lantas apa yang Hari Ini bisa berikan kepada Esok? Kegusaran dan ketidakjelasanmu sekarang?"
"Ah.." Hari Ini menunduk. "Hm..maafkan aku, Esok."
"Lho mengapa kau meminta maaf padaku?"
"Ya, aku hanya tukang gusar dan penakut saja, ku tak bisa memberikan apa-apa untukmu, Esok."
"Hei!" Esok memegang pundak Hari Ini. "Masih ada waktu hingga aku menjadi kau, Hari Ini, jadi mari kita isi 'hari ini' menjadi Hari Ini-mu!"
"Terimakasih, tapi..."
"Kenapa lagi? Apa yang sebenarnya kau risaukan?"
"Hm.. kontemplasi-ku sedang kemana-mana, biarkan sajalah."
"Jika dibiarkan saja, maka kau hanya akan mengisi Hari Ini-mu menjadi sebuah kesia-siakan karena kau tak memberikan energi positif kepadaku yang akan menjadi hari ini pada besok hari." Ucap Esok meyakinkan Hari Ini.

Hari Ini tertunduk, dia menggigit bibirnya, menahan getir atas keresahan yang selama ini dia tahan. Lalu dia menengadahkan kepalanya dan memasang senyum pada Esok.
"Terimakasih, Esok. Terimakasih sudah menguatkan aku."
Esok tertawa renyah. Dia memegang bahu Hari Ini.
"Tidakkah kau lihat bahwa hari ini begitu cerah dan tidak mendung seperti yang nampak pada wajahmu sekarang?"
"Hm..?" Hari Ini nampak bingung.
"Itu karena meski kau tampak gusar, tetapi masih ada semangat di hatimu. Masih ada keceriaan di hatimu. Jangan takut terlupakan, karena memang sudah begitu jalan kita, yang bisa kita lakukan adalah melakukan yang terbaik sesuai peranan kita. Aku yakin mereka pasti mengingat kita. Mengingat apa yang terjadi hari ini, menarik pelajaran atas apa yang terjadi hari ini, agar esok bisa mengenang keindahan atau memperbaiki apa yang belum bisa baik pada hari ini. Begitulah hidup."
"Kamu memang paling bisa menenangkanku."
"Hahahaha.. Ayo kita taklukan dunia, Hari Ini, demi Esok yang lebih baik!!!"
Esok memegang tangan Hari Ini dengan erat dan mengacungkannya ke angkasa.
Tawa segar hadir dari keduanya.
Mereka pun berlari.
Berlari kedepan.
Esok tetap melaju kedepan, sementara Hari Ini terhenti sejenak.
Dia menolehkan wajahnya dan tersenyum.

Selasa, 16 Mei 2017

Demi Asa, Demi Cita

Kemarin Hari Selasa menjadi pengalaman perdana menjadi pengawas ujian masuk perguruan tinggi. Datang dari hari masih gelap hingga pulang di hari yang beranjak gelap.
Sedari ngawas menahan kantuk yang sangat, melihat 20 anak yang berusia 18 tahun mencoba peruntungan untuk mengganti titel siswa menjadi mahasiswa.
Yang tiap hari sekolah menggunakan seragam, kini beranjak memakai baju bebas.
Yang sekolah dari Senin bisa sampai Sabtu, nonstop, kini bisa kuliah Senin-Kamis, atau Senin, Selasa, Jumat, tergantung jadwal.
Dan memoriku terbang ke beberapa tahun lalu saat aku berada pada posisi seperti itu.

***

"Mulai besok, bangun pagi, tiap sore lari, tiap minggu harus berenang, jangan lupa latihan push up, sit up, pull up." Ucap Ibu di pagi hari, membangunkan aku yang baru tidur beberapa jam. "Oh iya, ikut karate, beli susu, susah amat badan mau 50kg juga, makanya makan tuh jangan pilih-pilih."
Aku kaget sekali dengan pernyataan Ibu yang berulang kali tanpa jeda tersebut, lho ada apa ini, aku kan sudah mengatakan berulang kali kalau itu bukanlah jalanku, aku mau kuliah, mau jadi mahasiswa. Mahasiswa disana tidak peduli jurusan apa, aku harus kuliah disana.
"Kapan, Bu, aku mengiyakan akan melalukan itu, Bu?" Sanggahku. "Itu ngga cocok, Bu, Ibu tahu kan nilai olahraga aku jeblok banget, cuma bisa lari aja, itu juga di remedial, Bu. Bakat aku ga disitu, Bu."
"Bakat kayak gitu bisa dilatih, masih ada setahun lagi sebelum kamu 18 tahun, bisa sampe kok."
"Ngga kayak gitu, Bu, aku ga suka hal yang kayak gitu. Aku mau kuliah."
"Kuliah itu mahal, darimana uangnya. Bapak kamu juga ga akan sanggup biayainnya. Terus banyak yang sudah jadi sarjana tapi nganggur. Kalau kamu nurut kata Ibu, sudah pendidikan beberapa bulan, kamu sudah punya uang banyak, dapat tunjangan juga. Apa jadi mahasiswa, cuma demo aja di TV."
"Karena aku bisanya cuma belajar, Bu, mengerjakan PR, membuat tugas, membaca, menulis, bukan lari, push up, sit up, capek itu, Bu, ngga bisa, ngga suka." Bantahku. Hampir saja airmata yang sudah menggunung akan menetes, namun ku masih teguh menahannya. Aku harus menahannya.
"Ya, dengerin dulu mau Ibu kamu kayak gimana, yang Ibu bilang bener kok." Ucap Bapakku yang dari tadi dia hanya asik menonton TV dan tak terlibat, kini ia buka suara.

Ughh..malas rasanya, tak ada yang memihakku. Tak ada yang mendukung mimpiku.
Memang salah jika menginginkan yang aku mau, kan aku sendiri yang menjalaninya, aku yang akan menanggung resiko atas segala konsekuensi yang aku pilih. Ini jalanku, ini inginku, aku yang lebih tahu!!
Ingin sekali mengatakan kalimat itu dengan lantang, namun selalu ku telan mentah-mentah. Mengeluarkan itu semua sama saja dengan bom bunuh diri. Menjadi pemberontak secara terang-terangan seperti itu siap saja akan menelan pil cap sebagai "anak durhaka" karena tak menurut perintah orang tua.
Tetapi lantas aku harus bagaimana, aku tak mau jadi anak durhaka, aku pun tak mau menjalani sesuatu yang tak sesuai inginku. Apa aku harus merelakan kebahagianku demi bahagianya orang tuaku? Apa aku harus mengubur mimpiku jauh-jauh untuk membuat orang tuaku bangga dengan keinginannya?
Tahulah. Pusing.
Aku mengantuk. Aku ingin tidur jika bisa tak ingin aku terbangun.

*

"Boleh ga aku pinjam semua buku IPS kamu?" Ucap aku pada teman sekolahku.
"Ya boleh aja, ngga dipake juga. Emang buat apa?"
"Buat aku makan. Ya, buat aku baca."
"Lha kan kamu anak IPA ngapain baca buku IPS?"
"Buku IPA yang bisa dibaca cuma Biologi aja, biarin dong iseng."
"Anaknya iseng baca buku IPS, hahaha.."
"Yaudah pinjem ya, kapan-kapan aku balikin hahaha."

"Brooo, pinjem buku bimbelnya dong."
"Ambil aja, kalau perlu sekalian gantiin aku bimbel ya, haha"
"Hah? Emang bisa?" Ucapku kaget.
"Bisa, aku mau main nih sama temenku, udah janjian, gantiin ya, kelasnya lumayan banyak jadi ga ada yang tahu. Nanti kasih tahu ya belajar apa." Ucap temenku yang sosialita itu sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa buku. "Nih, ada kisi-kisi ujian masuk kuliah, jadi kamu bisa belajar dari point-point ini. Ini juga buku latihan soal IPA, yang dibelakangnya kunci jawabannya."
"Eh.. aku beneran boleh pinjem? Kamu ga akan pake buku ini?
"Ngga kok, lagian aku kan udah diterima di universitas itu, ya males buat ikut tes-tes lagi, haha." Ucapnya enteng sekali.

Bukan aku namanya kalau menyerah. Ya, aku harus ikut ujian masuk kuliah. Urusan nanti bayarnya darimana, lulus atau ngganya itu gimana nanti. Karena aku tahu tujuanku ini benar.
Lari? Berenang? Push up sit up?
Ya, aku melakukannya selepas pulang sekolah. Agar ibuku senang.
Selepas olahraga itu aku mandi dan makan, pasti saja aku mengantuk karena lelah.
Aku izin tidur lepas jam 7 malam. Ku set alarm jam 01.00 pagi.
Alarm berbunyi, wih berat rasanya aku membuka mataku ini. Tapi aku harus bangun. Aku mencuci muka. Aku membuat susu panas didapur.
Aku bawa beberapa buku di meja makan. Aku harus belajar. Aku harus berlatih soal.
Dan tak terasa sudah adzan Subuh, aku bereskan kembali bukuku mengambil wudhu lalu shalat, lalu tidur lagi.
Rutinitas itu aku lakukan sepanjang hari. Ibu sampai salut padaku karena shalat subuh tak pernah kelewat padahal biasanya susah dibangunin, hahah iya kan udah bangun dari jam 01.00.
Tapi Ibu tak tahu.
Biarlah.
Capek ngga sih?
Capek banget, rasanya aku iri pada temanku yang bimbel tapi selalu saja bolos karena lebih penting main daripada bimbel, padahal aku beberapa kali meminta ingin bimbel tetapi selalu ditolak. Iya sih aku ngga mikir, bisa sekolah biasa saja aku harusnya bersyukur, ini malah ngelunjak ingin bimbel, hm..
Ya, karena aku hidup digariskan harus bekerja keras, berusaha lebih keras, aku bukan lahir dari keluarga kaya, bukan pula orang yang beruntung, bukan orang yang jenius pula. Yang aku punya cuma mimpi, ya cuma mimpi yang harus aku wujudkan mau bagaimanapun, salah satunya dengan push over limit.

*

Aku daftar ujian, yeah.. uangnya ku dapat dari menyisihkan jajan dan bantuin teman dalam mengerjakan tugas akhir study tour. Namun aku kaget setengah mati ketika jadwal ujian masuk kuliah bersamaan dengan ujian kesehatan yang sudah Ibu daftarkan untuk aku.
Bagaimana ini? Aku bingung setengah mati, hingga aku lebih memilih ujian masuk kuliah. Ibu tak tahu dan sudah pasti aku tak akan lulus dan Ibu akan marah besar.
Aku merahasiakan ini rapat-rapat dan akhirnya terbongkar bahwa aku mangkir dari tes kesehatan. Ibuku marah besar, dia mengambil gagang sapu dan memukul kakiku.
Sakit sekali. Aku menangis sejadinya.
Tetapi bukan kakiku yang sakit, hatiku yang sakit.
Ketika kertas digenggamanku menuliskan bahwa aku lulus ujian masuk kuliah, aku segera berlari ke rumah dengan nada gembira bukan main, tetapi yang ku dapat bukan pelukan tanda selamat, malah pukulan dan makian bertubi-tubi.
Apakah aku telah membuat kejahatan maha dahsyat?
Apa aku telah menjadi anak durhaka?
Aku hanya bisa menangis dan mengurung dikamar.

Batas daftar ulang masuk kuliah segera berakhir, dan harganya pun sangat mahal. Mau bagaimanapun aku harus bilang, ya terserah apa yang akan Ibu katakan, jika dia memukulku lagi aku siap. Aku harus siap.
Aku tak banyak bicara, ku berikan kertas itu kepada Ibu. Aku menunggu dan melihat reaksi Ibu.
Aku menelan ludah dan bersiap untuk berbicara. Tetapi baru saja mengucapkan sepatah kata aku sudah menangis, dan tak lagi bisa ku tahan. Air mata yang selama ini ku tahan mengalir deras.
"Bu.. Aku tak mau disebut anak durhaka, aku jalani dan mengikuti apa kata ibu. Cuma waktu itu tesnya barengan sama tes masuk kuliah. Aku belajar bu biar masuk, aku ga minta bimbel karena tahu itu ga mungkin. Tapi aku ingin kuliah, aku ingin belajar, Bu. Darimana aku punya teman kalau ngga dari sekolah, Bu, aku ingin jadi ilmuan, Bu, aku ga bisa lari bu, olahraga aku payah. Aku suka belajar, baca buku, bukan seperti yang Ibu mau. Maaf, Bu. Kalau memang ngga diizinkan untuk kuliah, ya ga apa2 bu, aku akan kerja saja buat bayar biayanya. Tapi maaf bu aku ga bisa menjadi yang Ibu mau."
Aku mengucapkan itu dengan sesegukan. Ini beban yang selama ini dipendam, aku lepaskan begitu saja. Akhirnya aku berani mengatakannya.
"Ya sudah Ibu udah pinjem ke bank buat bayar biaya masuknya."
Aku kaget bukan main, ini aku ga salah dengar kan, ini beneran kan.
"Eh.. Ibu ini maksudnya?"
"Ya tahu Ibu juga kamu suka bangun tengah malam buat belajar, bikin susu juga sampai tumpah-tumpah ke meja. Ya belajar yang bener, semoga ada rezeki. Inget ya, harus jadi orang sukses atas jalan yang sudah kamu pilih."
"Beneran, Bu? Jadi boleh ini, Bu, beneran, Bu??"
"Iya bawel."
Aku teriak sejadinya, aku bahagia bukan main, aku peluk Ibu erat sekali. Terimakasih, Bu, terimakasih Bu. IBUUUUUUU...

***

Bel berbunyi 3x tanda ujian telah berakhir.
"Semuanya jangan ada lagi yang mengerjakan ya, soalnya boleh dibawa pulang." Ucapku. Aku berdiri meraih satu persatu lembar ujian. "Oke, kalian boleh pulang. Semoga sukses ya.." Tambahku.
Tugasku sebagai pengawas selesai hari itu.Melihat mereka ujian, aku jadi melayang ke peristiwa beberapa tahun lalu itu. Dan sekarang aku telah menjadi mahasiswa seperti yang aku inginkan. Semoga mereka pun bisa menggapai apa yang mereka inginkan.
Karena aku tahu dan sudah pasti bahwa tak akan ada usaha yang sia-sia.
Demi asa dan cita yang kini ku harus buktikan pada Ibu bahwa aku telah memilih jalan yang benar, Bu, doakan dan ridhai, Bu, karena ridho-mu itu adalah ridho-Nya.

Selasa, 25 April 2017

Ya, aku kangen..

Lama sekali ku memikirkannya, bahkan menahannya..
Aku memang pandai bersandiwara dan bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa
Bukan pandai tetapi terbiasa seperti itu
Aku pun ingin menangis ketika bersedih
Aku pun ingin bisa mengungkapkannya sesuai apa yang di isi hati sebenarnya
Tetapi selalu saja ditahan
Ditahan hingga rasanya sesak

Biarlah ku lampiaskan lewat tulisan saja
Tak perlu orang melihat bagaimana raut wajahku yang sebenarnya saat menulis ini
Aku ingin dan hanya ingin menceritakan sesuatu yang telah ku tahan
Yang pasti aku sangat sedih, dan teramat sedih

Aku kangen, Mamah..
Rasanya kangen setengah mati seperti ini, ya..
Aku seperti orang gila menelpon nomornya beberapa kali, yang tentu nomornya tak akan pernah menjawab lagi
Aku sangat rindu saat dia berkata, "Enno sehat? Kapan pulang?"
Kini tak ada kalimat itu lagi yang ku dengar,

Rasanya masih ingat sekali terakhir berjumpa dengannya,
Seharian itu aku mengantuk karena lelah didera deadline tugas, lalu aku berkata, "Mah, Enno tidur dulu, ya, nanti kalau ada tukang baso bangunin ya.."
Mamah menjawab ya. Aku pun tertidur sangat nyenyak.
Lalu Mamah membangunkan katanya tukang basonya sudah datang.
"No, Mamah juga mau ya.."
"Tumben, Mah, kan ga suka baso." Ucapku heran.
"Ah.. lagi pengen."
Aku memesan 2 mangkok baso. Kami pun makan bersama.
"Ah..ini sayurnya ngga mateng." Ucap Mamah.
Dia malah kasih basonya ke aku. "Padahal kalau ngga pengen ngga usah beli, Mah."
"Iya kirain tuh enak."
Kami pun lanjut ngobrol. Mamah pasti tanya sekarang lagi sama siapa, bisa ngga kalau nikah dulu baru S2, hm...itu sulit sekali, Mah, sudah di-planning seperti itu.
"Enno mau ga sama tentara?" Mamah nawarin udah kayak nawarin baso aja, haha.
Kami pun ngobrol kesana kemari seperti biasa pasti Mamah cerita soal sinetron dan tetangganya, haha.

Besoknya seperti biasa Hari Senin, harus struggle ke Depok lagi buat mengejar mimpi.
Pamitan ke Mamah. Dia mengeluarkan uang.
"Maaf Mamah cuma punya uang segini, ini buat jajan Enno aja." Ucapnya, terlihat matanya mulai berkaca. Ah ini pasti mau nangis deh, ucapku dalam hati.
"Udah, Mah, ga usah. Harusnya aku yang ngasih ini Mamah yang ngasih." Tolak aku.
Dan Mamah beneran nangis, "Mamah kasihan sama kamu, anak perempuan sendirian di kota besar, ngga punya siapa-siapa, segala ditanggung sendiri, Mamah ga bisa kasih apa-apa," Mamah lalu meluk aku, hangat sekali.
Aku pun ingin menangis tapi ku tahan.
"Yaudah, Mah, ga apa-apa, kan udah pilihan Enno."
"Ini ah terima." Mamah maksa dan menaruh uang itu di saku bajuku.
"Udah terima aja. Hati-hati ya, jangan lupa makan."
Aku pamitan dan pergi.

Itulah pertemuan terakhir kami.
Ya, jika aku tahu kalau itu pertemuan terakhir akan ku dekap dia lebih lama.
Akan ku lihat wajahnya lekat-lekat lebih lama lagi.
Bahkan jika bisa aku tak akan pergi dulu.
Akan ku temani dia. Menemani dia mengobrol.
Andai saja aku tahu..

Dua hari setelahnya..
Malam itu aku kaget ketika Bapak menelpon bahwa Mamah sudah tak ada.
Aku terpana dan masih tak percaya.
Lalu nada bicara Bapak perlahan getir berkata, "Mamah udah ngga ada, No."
Setelahnya ku tak bisa berkata apa-apa, air mata perlahan deras mengalir.
Ini sungguhan?
Ini nyata?
Berkali-kali ku tampar pipiku dan sakit rasanya.
Tetapi dada ini lebih sakit dan sesak lagi.

Jarak 130 Km kulalui dalam perjalanan tengah malam
Sampai subuh dirumah sudah banyak orang
Ku masuk ke rumah dan melihat seseorang terbujur kaku berselimutkan kain batik.
Bapak berkata, "Ya itu Mamah, No."
Ku dekati perlahan.
Banyak yang menepuk pundakku dan berkata, Sabar, Kuat, dan Tabah, serta suara lain yang samar ku dengar.
Aku buka kain itu dan aku melihat kalau itu adalah Mamah, ya itu benar Mamah.
Mamah sudah tak ada, No.
Mamah sudah terbaring.
Tak lagi bisa kamu dengar suaranya berteriak, "Enno, mau baso? Enno, mau es? Enno, mau buah?"
Dia tak bergerak lagi. Ku peluk dia yang sudah mendingin.
Oh.. ini nyata? Ini sungguh nyata.
Aku menangis terus saja menangis.

Aku belum bahagiakan, Mamah.
Mamah selalu menangis setiap kali aku pulang.
Mamah belum tersenyum bahagia karenaku.
Dan kini tak lagi ku bisa bertemu dan menyentuh wajahnya lagi.
Padahal ingin sekali ku wisuda dan berfoto bersama Mamah.
Ingin sekali Mamah melihat pernikahanku.
Menggendong anakku, memeluk eratnya.

Ayo, Mah, kita makan baso lagi.
Ayo, Mah, kita jalan-jalan.
Ayo, Mah, katanya mau ke Mekah.
Ayo, Mah...
Ayo...
Mamah, lagi apa, Mah..
Enno telpon ga diangkat, Mah..
Angkat, Mah, Enno kangen
Kangen sekali, Mah..

Berat sekali rasa kangen ini.
Yang bisa aku lakukan adalah semoga Mamah bahagia disana.
Aku akan membuat Mamah bangga melihat dari sana.
Dan aku akan menyusul Mamah
Mari kita bahagia bersama, Mah..

Entah sampai kapan ku mampu berdiri di dunia ini tanpa Mamah.
Bukankah aku harus kuat agar Mamah bahagia disana?
Sudahlah itu urusan nanti apa bisa bertahan atau tidak, yang pasti sekarang,
...
...
Aku Kangen Mamah :"


Kamis, 30 Maret 2017

Hitamku

Ada yang salahkah dari penglihatanku ini?
Ku menutup rapat mataku, lalu ku membukanya kembali
Tetap saja, tak berubah
Ini ada kesalahan dari mataku!
Ini jelas kesalahan!
Bagaimana lautan yang biru kini menghitam pekat?
Tanganku mencoba merasakan airnya
Dingin sekali
Ombaknya begitu besar, seakan ingin memakanku hidup-hidup

"Lakukanlah!!" Teriakku.
Jika ingin membawaku bersamamu, lakukanlah!
Ku menoleh kebelakang
Disana terlihat barisan orang-orang memandang tajam kearahku
Mereka menertawaiku. Meneriakkanku seorang pecundang. Pembual
Merekalah yang mendorongku di tepi lautan yang hitam pekat
"Tanpa perlu kalian dorong, aku memang ingin melakukannya. Ya, terimakasih!"
Ucapku pada barisan orang-orang itu.
Mereka manusia tanpa wajah dan lidahnya panjang menjilati kotoran mereka sendiri
Aku terlalu berharga bersama mereka
Lebih baik aku hanyut ditelan ombak daripada harus menjadi bagian dari mereka
Picik!
Munafik!
Mereka meneriakku seperti itu.
Hah, tak salah dengar?
"KALIAN YANG MUNAFIK DAN PICIK!!"

AKU INGIN MATI SAJA!!!!!
Itu artinya kamu kalah dari mereka. Usik batinku.
Tak ada tempat bagiku.
Ku tak diterima dimanapun.
Ku tak bisa menjadikan mereka menerimaku.
Ku tak bisa menjadi nyaman dengan ini semua.
Lihat, Lihat, ku melukai tubuh dan jiwaku sendiri karena menelan kemunafikan mereka.
Aku tak sanggup hidup berpura tersenyum pada apa yang tak sesuai dengan jalanku.
Aku hitam. Pekat.
Tak ada sinar yang mau menerangiku.
Aku berduka.
Duka yang teramat panjang.
Mungkin memang selamanya ku akan berduka.

Ini jalanku.
Ini pilihanku.
Aaarrrgggghhh..mereka terus menertawaiku, aku menutup telingaku.
Aku meneruskan langkahku.
Rasa dingin lautan merasuk masuk ketelapak kakiku
Semakin lama membasahi kaki, lutut, hingga tak terasa kini airnya sudah sampai dada
Sesak.
Dingin sekali merasuk dadaku.
Ku tak mau menoleh ke belakang.
Ku tak mau melihat manusia-manusia tanpa wajah itu
Air sudah sampai leherku.
Sebentar lagi.
Sebentar lagi aku akan bertemu keabadian.
Mungkin disana tak akan lebih indah.
Malah mungkin akan didera siksa atas pelanggaran hidup sesuka yang ku lakukan dulu
Lagi-lagi ini jalanku

Kini air telah memenuhi seluruh tubuhku
Kakiku sudah tidak lagi berpijak
Ku tak memberontak
Ku terhenti nafas
Ku mencoba membuka mata
Tak ada yang bisa ku lihat
Sesak
Semakin sesak dan sakit
Rasanya perutku telah dipenuhi air hitam pekat itu
Ya, ini tempatku

Akhirnya ini kegelapan yang abadi
Ku lelah, saatnya beristirahat panjang
Ini sakit, tapi mengapa begitu menenangkan
Begitu nyaman, sakit ternyaman yang pernah kurasa

Dari segaris mataku yang terpejam, ku melihat cahaya
Cahaya semakin lama semakin memenuhi pelupuk mataku
Ku membuka mata perlahan
Apa ini tempat yang diinginkan setiap orang itu?
Ah..tidak mungkin secepat ini
Dan aku pun tak pantas berada disana
Tapi ini sungguh terang sekali
Lalu ku rasa,
Ya, aku merasakan sesuatu
Sesuatu yang menarik tanganku
Tetapi ku tak bisa bergerak
Ku tak memiliki tenaga untuk menolak tarikan itu
Ku terbawa entah kemana
Apakah ku telah dijemput oleh malaikat maut
Ya, mungkin saja dia

Gelap.
Gelap.
Dan saatku membuka mata, aku berada di pesisir pantai
Apa ini?
Apa?
Ku seperti orang kebingungan.
Lautan yang ku lihat masih hitam pekat
Samar ku lihat punggung seseorang
Apa dia yang telah menarikku ke daratan?
Ku terduduk, "Hei…!! Mengapa kau melakukan ini?"
Dia tetap berjalan menjauhiku.
"Hei..!" Ingin rasanya ku berdiri dan mengejarnya, tetapi dada ini masih sakit.
"Hei..!"
"Hei..!" Ku terbatuk, suara semakin parau.
Dia masih terus berjalan menjauhiku
Aku lemas dan terkulai diatas pasir pantai.

AAAAAAAA….!!
Aku kesal seketika.
AAAAAAAA….!!
"Selamat berduka, jalani dan jangan bertindak seperti pengecut!"
Hah?? Aku kaget, suara siapa itu?
Aku terduduk namun tak ada siapa-siapa
Punggung itu pun kini sudah tak terlihat
Apa ini?
Apa semua ini?
Apa memang ku dihukum untuk mejalani kedukaan ini.
Terbaring abadi dalam hitamku, diantara sinar imaji?
Entahlah..

Sabtu, 25 Maret 2017

Hukum Penyuka Sastra

25 Desember 2016 - 25 Maret 2017

Wise men say
Only fools rush in
But I can't help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
If I can't help falling in love with you?


Lagu itu terus kau mainkan melalui headset di telingaku
Kau terus bergumam nada lagu itu, ya..lagu kesukaanmu
Aku selalu memintamu menyanyikannya langsung, tapi tetap saja kau selalu membantah dan berkata,
"Kamu boleh minta apa saja, tetapi jangan memintaku untuk bernyanyi. Suaraku sama sekali tak bagus, ah.. Kamu akan pingsan mendengarnya."
Dia berkata seperti itu sambil sesekali membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tak perlu dibenarkan, lalu dia tersenyum dengan matanya yang menjadi segaris itu..
Ah..Gemas sekali, haha..

***

Aku hanya memandang luasnya danau pagi itu, rasanya angin semilir memasuki setiap pori-poriku
Ku bersenandung lagu Elvis Presley - Can't Help Falling In Love, hanya bergumam, namun kini sendirian di depan danau yang tenang, seperti perasaanku saat itu
Tenang dan diam..
Atau memang hanya berpura-pura tenang..
Tetapi rasanya ini ingin meledak, ingin sekali berlari dan berkata, "Please, Dont Go!!"
Namun hal itu terlalu klise dan dramatis untuk diungkapkan

Pagi ini 25 Maret 2017, Depok tampak mendung, bahkan sinar matahari rasanya malas untuk menampakkan diri
Langit Depok kelabu, dan gerimis pun menyadarkanku untuk tak terlalu lama menatap danau
Ku berlari kecil menuju "ruang belajar", sebuah ruangan yang selalu dijadikan tempat bertemu

"Tak usah saling berbicara, ini bukan tempat ngobrol, ini tempat belajar."
"Lalu kenapa membawaku kesini?"
"Ya, biar belajar."
"Belajar saja sendiri, disiplin ilmu kita berbeda jadi ngapain belajar bersama?!"
"Ya, tapi aku ingin tidak ingin sendiri belajarnya." Ucapnya dengan mata yang tertuju pada buku yang isinya pasal semua. Dia sama sekali tak memandangku saat berbicara. Aku bosan dan memasangkan headset di handphone-ku.
"Eh, bentar." Ucapnya. Kali ini dia mengalihkan matanya dari buku tebalnya.
Dia mengeluarkan handphone-nya, lalu beberapa saat kemudian dia berkata, "Buka Line!"
Aku membukanya, ada sebuah kiriman.
"Apa ini?"
"Itu kan sudah namanya, pakai nanya?!"
Hm...Juteknya kambuh. Dia mengirim sebuah mp3, lalu ku dengarkan melalui headset-ku.
"Ya, ampun ini kan versi lamanya."
"Yaudah dengerin aja, aku mau lanjut belajar, besok kuis." Dia lagi-lagi menghiraukan aku. Kembali menatap buku pasal-pasal itu.

Aku mendengarkan lagu itu berulang-ulang di "ruang belajar".
Kali ini sendiri tanpa si kutu buku itu.
Dia kini sedang terbang tinggi mengangkasa.
Tak kan tergapai dan diraih kembali.
Padahal ini belum dimulai dan belum ingin dibuka, tetapi apa dan mengapa begini dan seperti ini.
Rasanya seperti, ini mengapa sesak.
Ini mengapa seperti ingin terisak, meraung, dan menjerit.
Tetapi tetap saja tenang dan diam.

***

"Kalau lo ga suka sama cara kepemimpinan gue, mending lo keluar aja dari kepanitiaan ini. Gue ga butuh orang yang ga bisa jaga komitmen. Ini acara gede, kalau lo setengah-setengah mending lo mundur." Lelaki berkacamata itu tampak seriius. Diantara ratusan orang, dia berkata dengan tegas dan hmm..savage sekali.
Semua dalam forum itu terdiam dan menunduk. Tapi aku penasaran dengan wajahnya saat itu, aku memandangnya, dan ada getir diwajahnya. Tampak lelah seakan merasa apa kerja kerasnya tak dianggap orang lain. Aku pernah merasakan posisi seperti itu, sering, sering sekali.
"Jadi gue mohon banget sama kalian semua, please do team work and makes our dream come true! It's not for me, but for you all. I never asked you into this, you choose it, so, you must be responsible it." Ucapnya, nadanya semakin bergetar. Terlihat sekali dia seperti menahan rasa marah, tapi dia tahan, Dia menggigit bibirnya. Dia membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tidak perlu dibenarkan.
Forum pun dibubarkan.
"Hei, sini!" Lelaki itu memanggilku. Aku menghampiri dan berkata, "Iya, Kak?"
"Sudah sampai mana?"
Dia bertanya progres pekerjaanku, aku bercerita panjang lebar dan dia cuma manggut-manggut.
"Dek, suka puisi?" Ucapnya tiba-tiba.
"Hah?"
"Ga jadi deh."
"Eh.." Aku kayak orang bego yang planga plongo, ketika aku sudah laporan ini itu, tiba-tiba dia tanya seperti itu. "Aku ga terlalu suka puisi, Kak."
"Terus?"
"Ya, suka teaternya aja. Habis bingung sih."
"Bingung gimana?"
"Puisi itu menginterpretasinya kayak gimana, harus gimana, dan ya..bingung."
"Ya dibaca aja, isinya kayak gimana."
"Nah itu.."
"Gue suka banget sama puisi. Kayaknya enak aja baca kalimat yang tersirat kayak gitu, butuh pemikiran buat ngartiin setiap kalimatnya."
Ini anak suka puisi kenapa ga kuliah sastra aja sih, malah ambil hukum coba. Ungkapku dalam hati.
"Aneh ya, anak hukum suka puisi?" Ucapnya tiba-tiba. Aku kaget lagi, apa dia bisa baca pikiran ya, apa dia bisa mendengar gumamku barusan.
"Nggak kok, Kak. Bagus heheh. Aku juga anak kesehatan tapi suka teater, kan ga nyambung, haha" Aku mencoba tertawa, hmm.. awkward banget rasanya situasi ini. Rasanya pengen cepet selesai percakapan ini.
"Yasudah kerjakan urusannya ya, kalau ada apa-apa, kabari gue ya."
Akhirnya obrolan ini selesai.
Tetapi obrolan lain pun datang.
Mengapa
Semakin
Kesini
Semakin
Senang
Mengobrol
Dengannya
Berbincang tentang segala hal
Berbincang tentang apapun
Tidak.
Sepertinya ini harus dihentikan
Sebelum..
Sebelum..
Sebelum berharap semakin jauh
Karena
Ini
Semua
Dimulai
Dari
Kebohongan
Oh... Caught in a Lie..
A Sweet Lie ever..

***

25 Desember 2016 

"Gue mau ngomong sesuatu."
"Sama, Kak, aku juga mau ngomong sesuatu."
"Yaudah, Dek dulu."
"Hm..."
"Apa?"
"Gimana, ya.."
"Ah..Lama."
Susah banget ya ampun, rasanya pengen kabur dari situasi ini. Tetapi ini harus diselesaikan biar jelas, tapi buat apa sih kejelasan toh juga, apa sih ini, situasi apa ini. Aduh...
"Jadi gini, Kak, sebenarnya Kak ga harus panggil aku Dek, yang jelas aku lebih tua dari kakak. Terus aku ini..."
"Ya tahu, kok." Dia menyela pembicaraanku.
"Tahu gimana?"
"Ya intinya udah tahu kok, jadi mau ngomong itu?"
"Hah?" Sumpah aku masih bingung. Jadi selama ini dia sudah tahu, terus dia biasa aja?
"Sekarang gue yang mau ngomong. Dek tahu ga kenapa tema acara ini every moment count together?"
"Hah?" Sumpah aku masih ngga ngerti dong.
"Yes, because I want to make moment count together."
"Hah?"
"Kenapa sih hah mulu? Kepedesan?"
"Kak, udah tahu dari kapan?"
"Apaan sih?"
"Ya kalau aku lebih tua?"
"Emang itu penting banget, ya?"
"Hm..ya tapi.."
"Yaudah deh, intinya gue udah tahu dan itu ga penting. Intinya, let's make every moment count together".
"Tapi ini?"
"Doesnt mean anything, just do it together. Laper kan? Yuk, makan."
"But why?"
"Hah?"
"Em..Why?"
"It's nothing, just I want it. I just attract to you among 240 people on it. Cleary?"
"Hmmm..."
"Yuk, makan.."
Semuanya terjalani dan begitu saja.
Tapi mengapa..

***

25 Maret 2017

Pagi itu di depan danau, ku membaca dua lembar kertas yang diselipkan pada halaman ke 4 sebuah buku..


PEMBERIAN TAHU

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.

Kupilih kau dari yang banyak, tapi

sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.

Aku pernah ingin benar padamu,

Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,


Kita berpeluk cium tidak jemu,

Rasa tak sanggup kau kulepaskan.

Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,

Aku memang tidak bisa lama bersama

Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!


Chairil Anwar, 1946


Lalu lembar berikutnya ku buka..


KELABU UNTUK SENDU YANG MENUNGGU

Jauh sudah ku menerka asa ini
Jauh sudah ku redam resah ini
Kelu lidah berkata ini
Seharusnya permulaan tak perlu dimulai
Jika sesak rindu tertahan hanya sampai disini

Tak pantas bibir ini memohon maaf
Atas kelancangan menaruh asa pada kelabu yang tak ingin bersinar
Datangku memberi pelangi namun tetap saja kelabu
Ku hancur pondasimu lalu kini ku berlari
Ku manusia tak tahu diri

Tersenyumlah, atau setidaknya bersinar
Ku tak termaafkan 
Ku pecundang yang bersembunyi dalam keraguan
14000 kilometer, sesak rindu ini tak termaafkan
Kelabu untuk sendumu, bersinarlah
Rebut sinarku untuk mu
Agar biar saja ku yang sendu, kelabumu akan menjadi jingga

Tak perlu menunggu
Tak perlu jika menambah sendu

MR, 25 Maret 2017

Lalu hujan pun turun, ku belari menuju "ruang belajar" dengan segala kebisingan yang teredam

***

Kisah yang tak berawal dan entah apakah ini memang sudah berakhir.
Terimakasih sudah menjadi bagian cerita pendek hitam duniaku, wahai Hukum Penyuka Sastra.

Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Some things are meant to be
Take my hand,
Take my whole life, too
For I can't help falling in love with you


*****

Jumat, 03 Maret 2017

Darah!

Landasan pacu begitu luas tergambar mata ini
Begitu luas dan terik kala ku menengadah pada langit yang tampak biru dan cerah
Ku halau sinarnya dengan telapak tanganku
Samar, ku masih melihat semburat cahaya dari sela-sela jariku
Cahayanya begitu kuning dan indah menghangatkan wajahku yang kini mulai memerah

Angin datang tiba-tiba membelai rambutku
Begitu dingin di sela teriknya panas matahari
Ku lihat pesawat terbang mengudara tepat di atasku
Anginnya begitu besar bahkan menghamburkan rambutku ke angkasa
Ku tersenyum dan lebih tepatnya ku tertawa
Rambutku menjadi tak karuan
Ku berlari seolah mengejar pesawat itu
Bukan untuk benar-benar mengejarnya, tetapi untuk berlari dan melepas semuanya
Ku berteriak melawan deru suara pesawat yang terbang
Rasanya teriakanku hampir memutuskan pita suaraku
Tak apa, yang penting ku bisa meluapkannya

Lelah berlari, ku baringkan tubuhku begitu saja di atas aspal landasan pacu
Hangat meresap ke pakaian dan langsung pada tubuhku
Matahari makin terik menyerangku namun ku biarkan panasnya
Ku pejamkan mataku, warna lembayung seolah hadir di tengah pelupuk mataku, biar dulu aku ingin tertidur sebentar
Melanglanglah aku pada saat itu, tahun 2016 yang baru sehari ku tinggalkan
Tahun yang penuh Darah, Keringat, dan Airmata

*****

DARAH

Agustus 2016

Kali kedua setelah hampir 3 tahun tidak mengalami hal menyedihkan seperti ini
Bukan karena seberapa sakitnya tetapi dengan siapa menanggungnya
Dan lagi-lagi menanggungnya ini sendiri
Merasakan perihnya selang yang dimasukan ke dalam mulut
Rasanya sangat mual dan berasa dimasukkan ke mesin pencuci mobil
Di beri air, dibasuh, di beri air lagi, di kuras, di isi, terus menerus seperti itu
Luka yang dibasuh air menjadi perih seketika dan ku hanya bisa meringis sendirian dalam ruangan pekat etanol

Ku melihat miris apayang ada dalam tubuhku
Cairan tak jelas berwarna merahmuda
Katanya ada luka yang telah menjadi parut kini terkikis lagi
Dia memarahiku yang begitu bodoh mengulang kesalahan 3 tahun lalu dan malah semakin memburuk
Aku tak membantah, sudah, ini memang seperti ini

Dua minggu setelah berselang
Ku rasakan sakit di bagian lain dalam tubuhku
Dan ini membuatku sangat takut
Sangat takut hingga ku habiskan seharian untuk merenung
Ayolah ini kenapa lagi

Hasilnya mencengangkan
Selama ini segalanya memburuk akibat ketidakpedulianku pada diriku sendiri
Ku terkejut bukan main, terdiam lemas

Saat itu udara begitu dingin dan lembab, ku langkahkan kakiku perlahan sedikit demi sedikit
Sepatuku beradu basah dengan genangan air sisa hujan di senja itu
Tak banyak yang ku pikirkan saat ku berjalan kala itu
Aku hanya ingin tidur, itu saja..

Sampailah aku pada tempat dimana ku bisa tertidur
Ku baringkan tubuhku, ku luruskan seluruh badanku
Mata ini menatap langit-langit kamar
Lampu digelapkan, kata temanku itu sengaja sebab dia tak bisa tidur jika lampunya menyala
Samar ku lihat wajah temanku yang tertidur tepat disampingku
Tidurnya begitu lelap, dalam, dan nyenyak
Ingin rasanya seperti itu, tidur dengan senyenyak dan sedalam itu

Pikiranku pun lari kemana-mana
Ketika badan ini telah lelah dideru rasa sakit tetapi mata ini enggan terpejam
Ku terduduk, ku tundukkan kepalaku
Lalu airmata ini tiba-tiba mengalir begitu deras
Dada ini bergetar hebat, ku tutupi wajahku dan ku tahan mulutku hingga tak ada suara yang keluar dari mulutku
Ku gapai bantal dan ku letakkan di wajahku
Semoga bantal ini dapat meredam segalanya pikirku kala itu

Ku rasa menyesal dan amat sangat merasa bersalah terutama pada diriku sendiri
Ku benci pada diriku
Ku muak pada diriku
Ku menyesal pada diriku
Ku bersalah pada diriku
Ku sedih pada diriku
Tetapi ku tak dapat berbuat apa-apa
Lagi-lagi ku lihat wajah temanku yang tertidur itu, aku harus berkata apa, aku harus berkata dan bercerita darimana, akankah dia akan menerima segala keadaan ini, akankah ku diperlakukan seperti biasa, lidah ini kelu dan tak dapat berkata apa-apa

Maaf..
Maaf..
Maaf..
Ku tak berbagi bukan berarti ku tak menganggap
Ku hanya tak ingin membebani
Mungkin ini takdir getir yang harus ku jalani atas kesalahanku yang harus ku tebus sendiri
Maaf, sekali lagi maaf...

***

Ku buka mataku
Ku angkat tubuhku
Ku duduk diatas aspal landasan pacu
Matahari terik sudah menyerang
Menyuruhku segera pergi dari sana
Lalu ku berdiri, melangkah meninggalkannya

Disamping pandanganku ada ilalang tinggi yang mengapit landasan pacu
Haruskah ku kesana bermain dengan ilalang itu
Ku tersenyum dan mengangguk
Mari kesana, mungkin itu tempat yang lebih teduh
Lebih nyaman dan bersahabat untuk melanglang pikiranku pada cerita tentang …
Tentang sesuatu yang tak dapat diucapkan secara kata prakata..


Cianjur, 1 Januari 2017

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...