Temanku selalu bertanya mengapa ku tak punya cermin di kamarku. Aku menjawab bahwa aku tak suka melihat diriku. Diriku yang penuh kepura-puraan. Pura-pura tangguh, pura-pura kuat, dan pura-pura bahagia.
Lalu ku membeli cermin, agar jika temanku ke kamarku dan ingin berkaca, aku dapat menyediakannya. Namun setelah itu, cermin itu ku balikkan. Lagi-lagi aku tak suka melihat cermin. Apalagi melihat pantulan diriku di cermin.
Apa aku sebegitubencinya terhadap diriku sendiri hingga melihat pantulan di cermin saja tidak mau?
Ya bisa jadi iya, bisa jadi tidak.
Yang pasti aku selalu didera kelelahan berkepanjangan. Seakan ingin berhenti namun dunia terus saja berputar tak memberiku rehat.
Seakan, ya namun tak benar-benar akan.
Suatu hari ku beranikan diri untuk menatap diri di cermin, aku menatap lekat-lekat.
Inilah seseorang yang ku lihat di cermin, lagi-lagi penuh kepura-puraan. Aku pun menatap nanar wajah yang terpantul itu. Matanya mulai digenangi air. Tampak dia begitu kuat menahannya agar tak sampai jatuh dengan menggigit bibirnya. Namun semakin dia menahannya, semakin banyak genangan itu hingga akhirnya semuanya tumpah membasahi pipi. Dia menutup wajahnya dengan tangan, tak kuasa lagi dia melihat cermin. Dia kini terisak larut akan kesedihan yang dia ciptakan sendiri. Lalu tetiba dia bergumam, "mengapa untuk merasa bahagia begitu sulit?!"
Aku muak melihatnya! Aku balikkan cermin itu. Dan ku rasa dingin di pipiku. Aku menyentuhnya dan basah. Ah sial!! Ternyata yang menangis itu adalah diriku, ya siapa lagi yang kulihat di cermin itu jika bukan diriku yang cengeng ini.
Lalu ku hempaskan tubuhku ke kasur tipisku. Mataku kini menatap langit-langit kamar sempitku. Ku naikkan tanganku seakan mencoba meraih lampu kamar diatasku. Sinarnya begitu silau hingga ku halangi dengan tanganku, namun masih silau hingga akhirnya ku tutup wajahku dengan bantal. Gelap. Semuanya mulai gelap.
Dan ku terisak kembali. Semua kesedihan seakan datang menusuk dari segala arah. Ku biarkan dia menguasaiku, ku biarkan diriku menangis sejadinya. Mungkin ini sudah terlalu berat untuk ditahan dengan segala tameng kepura-puraanku.
Terdengar ceracau-ceracau yang mendengung di telingaku.
"Ibu ngga bangga kamu lulus dari universitas sana, ibu bangga jika kamu menikah dengan orang yang berada."
"Lo tuh yang perlu pergi ke psikiater, obatin diri lo kenapa masih jomblo sampai sekarang!"
"Harusnya kamu lihat keadaan keluarga kamu, malah maksain kuliah lagi. Ngga mikir kamu!"
"Cukup jangan ganggu keluarga aku lagi, disaat aku susah kamu kemana, aku sudah lelah dengan keluarga ini."
"Wajarlah kamu ke psikiater, kamu kan orangnya introvert!"
"Kamu dilecehkan orang? Kamu ada masalah sama saya?!"
"Kamu pasti suap sekolah ya makanya ranking 1 terus?"
"Bapak cuma tukang parkir aja mau sok-sokan sekolah yang bagus?!"
DIAM!!!! Bentakku!! Telingaku makin berdengung mendengar itu semua. Ku tutup semakin kuat bantal di wajahku hingga tangis isakku menjadi sesak, aku kehilangan nafas, aku bahkan tak bisa bernafas. Dadaku berat, kepalaku rasanya terus berputar. Lalu terasa getaran hebat, sangat hebat. Aku terperanjat.
Apa ini? Ada apa ini? Tanyaku didalam hati. Rasanya pipiku masih basah, kepalaku sungguh berat, dadaku masih sesak tapi semua yang kulihat tampak bergetar hebat. Ku pun bergegas lari keluar dengan tas berisi laptop dan berkas penting yang sebelumnya telah kusiapkan jika hal ini terjadi. Ku buka pintu, ku turuni tangga dengan panik, namun setelah tiba dibawah, ku mulai terdiam.
Malam sudah semakin larut dan hanya aku sendiri dengan tas ranselku berdiri mematung.
"AH!!" lagi dan lagi ini datang kembali.
Aku lemas dan terduduk di tangga.
Ku memandang kakiku yang ternyata memakai sandal yang kiri dan kanan berbeda.
Ku raba kepalaku dan terasa rambutku berantakan.
Tidak hanya rambutku, tapi seluruh keadaanku saat itu. Dengan langkah gontai ku kembali ke kamar. Menyimpan kembali tas ranselku dan membanting diriku ke kasur dengan posisi telungkup.
Ku pukul kasurku berkali-kali.
Aku bangun, duduk, dan terdiam kembali.
Mengapa ini begitu nyata? Mengapa seakan-akan yang aku lihat benar-benar bergetar hebat dan nyaris akan runtuh? Aku begitu panik sejadinya. Aku begitu takut sejadinya. Tapi mengapa aku mesti takut? Bukannya beberapa kali aku ingin pergi dari kehidupan ini? Melarikan diri dari sakitnya hidup ini. Jika saja kamarku runtuh hari itu maka biarkan saja aku didalamnya yang nanti aku akan tertimbun reruntuhannya, tapi mengapa aku malah takut, kabur, dan menyelamatkan diri?
Aku berdiri mendekati meja belajarku. Ku ambil beberapa obat lalu ku tegak tanpa minum. Pahit. Namun sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan ini semua. Kepahitan dan kesakitan ini sungguh aku ingin melepasnya. Ini sungguh begitu berat dan tak bisa lagi ku tahan.
Ilusi itu terasa nyata. Namun mengapa hanya ilusi ketakutan yang nyata. Aku ingin ilusi kebahagiaan yang terasa nyata untukku. Aku sudah lelah menangis, aku sudah lelah merasa ketakutan, aku sudah lelah dengan rasa cemas yang tak berkesudahan ini, aku sudah muak dengan rasa sakit ini. Bisakah ini berubah menjadi kebahagiaan? Meski itu hanya ilusi, tak apa yang penting ku bisa merasakan kebahagiaan. Ku tak butuh lagi kenyataan yang hanya dera sakit yang ku terima.
Mataku sudah mulai berat. Nafasku yang sesak kini sudah semakin teratur. Aku mulai menguap. Aku mengantuk. Obatnya sudah bereaksi. Ku mulai baringkan tubuhku ke kasurku lagi.
Ku tatap langit-langit dengan rasa kantuk maha dasyat yang sebentar lagi menidurkanku.
Untuk bisa tenang saja ku perlu minum obat.
Untuk bisa terlelap saja ku perlu minum obat.
Aku tersenyum. Ku merasa bibirku menyungging senyuman meski ku tak melihat di cermin tapi aku tahu jika aku sedang tersenyum.
Ketenangan itu memberikan kebahagiaan yang tersalurkan melalui senyumku.
Ku tutup mataku perlahan.
Bahkan bahagia itu pun ku dapat dari obat.
Ilusi kebahagiaan itu akhirnya datang.
Tak bisa kuciptakan sendiri.
Semua datang dari obat sakti yang kunamai obat kebahagiaan.
Ku pun terlelap. Semakin dalam. Ku bahkan sudah melupakan kejadian menyedihkan saat ku menangis melihat diriku sendiri di cermin serta kejadian ketakutan tak beralasan yang membuatku malam-malam keluar kamar membawa ransel.
Sebuah malam yang panjang yang berputar seperti hampir di setiap hari.
Aku pun tertidur. Aku lelah berpura-pura.
Aku ingin bahagia ini nyata.
Suatu hari nanti.
Lalu ku membeli cermin, agar jika temanku ke kamarku dan ingin berkaca, aku dapat menyediakannya. Namun setelah itu, cermin itu ku balikkan. Lagi-lagi aku tak suka melihat cermin. Apalagi melihat pantulan diriku di cermin.
Apa aku sebegitubencinya terhadap diriku sendiri hingga melihat pantulan di cermin saja tidak mau?
Ya bisa jadi iya, bisa jadi tidak.
Yang pasti aku selalu didera kelelahan berkepanjangan. Seakan ingin berhenti namun dunia terus saja berputar tak memberiku rehat.
Seakan, ya namun tak benar-benar akan.
Suatu hari ku beranikan diri untuk menatap diri di cermin, aku menatap lekat-lekat.
Inilah seseorang yang ku lihat di cermin, lagi-lagi penuh kepura-puraan. Aku pun menatap nanar wajah yang terpantul itu. Matanya mulai digenangi air. Tampak dia begitu kuat menahannya agar tak sampai jatuh dengan menggigit bibirnya. Namun semakin dia menahannya, semakin banyak genangan itu hingga akhirnya semuanya tumpah membasahi pipi. Dia menutup wajahnya dengan tangan, tak kuasa lagi dia melihat cermin. Dia kini terisak larut akan kesedihan yang dia ciptakan sendiri. Lalu tetiba dia bergumam, "mengapa untuk merasa bahagia begitu sulit?!"
Aku muak melihatnya! Aku balikkan cermin itu. Dan ku rasa dingin di pipiku. Aku menyentuhnya dan basah. Ah sial!! Ternyata yang menangis itu adalah diriku, ya siapa lagi yang kulihat di cermin itu jika bukan diriku yang cengeng ini.
Lalu ku hempaskan tubuhku ke kasur tipisku. Mataku kini menatap langit-langit kamar sempitku. Ku naikkan tanganku seakan mencoba meraih lampu kamar diatasku. Sinarnya begitu silau hingga ku halangi dengan tanganku, namun masih silau hingga akhirnya ku tutup wajahku dengan bantal. Gelap. Semuanya mulai gelap.
Dan ku terisak kembali. Semua kesedihan seakan datang menusuk dari segala arah. Ku biarkan dia menguasaiku, ku biarkan diriku menangis sejadinya. Mungkin ini sudah terlalu berat untuk ditahan dengan segala tameng kepura-puraanku.
Terdengar ceracau-ceracau yang mendengung di telingaku.
"Ibu ngga bangga kamu lulus dari universitas sana, ibu bangga jika kamu menikah dengan orang yang berada."
"Lo tuh yang perlu pergi ke psikiater, obatin diri lo kenapa masih jomblo sampai sekarang!"
"Harusnya kamu lihat keadaan keluarga kamu, malah maksain kuliah lagi. Ngga mikir kamu!"
"Cukup jangan ganggu keluarga aku lagi, disaat aku susah kamu kemana, aku sudah lelah dengan keluarga ini."
"Wajarlah kamu ke psikiater, kamu kan orangnya introvert!"
"Kamu dilecehkan orang? Kamu ada masalah sama saya?!"
"Kamu pasti suap sekolah ya makanya ranking 1 terus?"
"Bapak cuma tukang parkir aja mau sok-sokan sekolah yang bagus?!"
DIAM!!!! Bentakku!! Telingaku makin berdengung mendengar itu semua. Ku tutup semakin kuat bantal di wajahku hingga tangis isakku menjadi sesak, aku kehilangan nafas, aku bahkan tak bisa bernafas. Dadaku berat, kepalaku rasanya terus berputar. Lalu terasa getaran hebat, sangat hebat. Aku terperanjat.
Apa ini? Ada apa ini? Tanyaku didalam hati. Rasanya pipiku masih basah, kepalaku sungguh berat, dadaku masih sesak tapi semua yang kulihat tampak bergetar hebat. Ku pun bergegas lari keluar dengan tas berisi laptop dan berkas penting yang sebelumnya telah kusiapkan jika hal ini terjadi. Ku buka pintu, ku turuni tangga dengan panik, namun setelah tiba dibawah, ku mulai terdiam.
Malam sudah semakin larut dan hanya aku sendiri dengan tas ranselku berdiri mematung.
"AH!!" lagi dan lagi ini datang kembali.
Aku lemas dan terduduk di tangga.
Ku memandang kakiku yang ternyata memakai sandal yang kiri dan kanan berbeda.
Ku raba kepalaku dan terasa rambutku berantakan.
Tidak hanya rambutku, tapi seluruh keadaanku saat itu. Dengan langkah gontai ku kembali ke kamar. Menyimpan kembali tas ranselku dan membanting diriku ke kasur dengan posisi telungkup.
Ku pukul kasurku berkali-kali.
Aku bangun, duduk, dan terdiam kembali.
Mengapa ini begitu nyata? Mengapa seakan-akan yang aku lihat benar-benar bergetar hebat dan nyaris akan runtuh? Aku begitu panik sejadinya. Aku begitu takut sejadinya. Tapi mengapa aku mesti takut? Bukannya beberapa kali aku ingin pergi dari kehidupan ini? Melarikan diri dari sakitnya hidup ini. Jika saja kamarku runtuh hari itu maka biarkan saja aku didalamnya yang nanti aku akan tertimbun reruntuhannya, tapi mengapa aku malah takut, kabur, dan menyelamatkan diri?
Aku berdiri mendekati meja belajarku. Ku ambil beberapa obat lalu ku tegak tanpa minum. Pahit. Namun sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan ini semua. Kepahitan dan kesakitan ini sungguh aku ingin melepasnya. Ini sungguh begitu berat dan tak bisa lagi ku tahan.
Ilusi itu terasa nyata. Namun mengapa hanya ilusi ketakutan yang nyata. Aku ingin ilusi kebahagiaan yang terasa nyata untukku. Aku sudah lelah menangis, aku sudah lelah merasa ketakutan, aku sudah lelah dengan rasa cemas yang tak berkesudahan ini, aku sudah muak dengan rasa sakit ini. Bisakah ini berubah menjadi kebahagiaan? Meski itu hanya ilusi, tak apa yang penting ku bisa merasakan kebahagiaan. Ku tak butuh lagi kenyataan yang hanya dera sakit yang ku terima.
Mataku sudah mulai berat. Nafasku yang sesak kini sudah semakin teratur. Aku mulai menguap. Aku mengantuk. Obatnya sudah bereaksi. Ku mulai baringkan tubuhku ke kasurku lagi.
Ku tatap langit-langit dengan rasa kantuk maha dasyat yang sebentar lagi menidurkanku.
Untuk bisa tenang saja ku perlu minum obat.
Untuk bisa terlelap saja ku perlu minum obat.
Aku tersenyum. Ku merasa bibirku menyungging senyuman meski ku tak melihat di cermin tapi aku tahu jika aku sedang tersenyum.
Ketenangan itu memberikan kebahagiaan yang tersalurkan melalui senyumku.
Ku tutup mataku perlahan.
Bahkan bahagia itu pun ku dapat dari obat.
Ilusi kebahagiaan itu akhirnya datang.
Tak bisa kuciptakan sendiri.
Semua datang dari obat sakti yang kunamai obat kebahagiaan.
Ku pun terlelap. Semakin dalam. Ku bahkan sudah melupakan kejadian menyedihkan saat ku menangis melihat diriku sendiri di cermin serta kejadian ketakutan tak beralasan yang membuatku malam-malam keluar kamar membawa ransel.
Sebuah malam yang panjang yang berputar seperti hampir di setiap hari.
Aku pun tertidur. Aku lelah berpura-pura.
Aku ingin bahagia ini nyata.
Suatu hari nanti.