Senin, 20 Januari 2020

Celoteh Sebelum Tidur



Disaat sedang suntuk-suntuknya dan yang ku lakukan hanyalah scrooling media sosial, lalu di grup angkatan ada yang membagikan seminar untuk lanjut studi ke salah satu universitas ternama di Amerika Serikat. Hal yang membuatku tertarik adalah disanalah tempat terbaik -yang menurutku dan dosenku pun pernah mengatakannya- untuk lanjut studi sesuai jurusan yang telah kulalui -karena sudah lulus, alhamdulillah- dan ku geluti sekarang.

Tak seperti kebanyakan teman seangkatanku yang sudah mulai menikah, mempunyai anak, ada yang lanjut S2 di kampus yang sama, ada yang jadi pengabdi negara, dan segala macam pekerjaan, mungkin hanya aku dan segelintir teman-teman lainnya yang bertahan sebagai freelancer -karena disebut pengangguran ya ngga nganggur banget-, jujur aku sama sekali belum pernah menggunakan ijazah terbaruku untuk melamar pekerjaan secara resmi.

Ada hal dan alasan dibalik itu semua yang mungkin aku ceritakan nanti -jika tidak lupa dan malas-. Lalu, akhirnya ku mendaftar ke acara tersebut, karena memang dari dulu ku suka datang ke acara-acara bedah kampus, hunting scholarship, ya yang berhubungan dengan study aboard.

Hari H pun datang, ku tiba saat itu telat 10 menit karena memang berangkatnya telat dan keretanya berhenti lama di salah satu stasiun. Ku bergegas masuk dan ternyata baru pembukaan. Di acara itu pun mendapat snack gratis -lumayan buat ganjel perut- haha.

Di sesi awal, ku sedikit bosan karena yang ku harapkan adalah pembahasan bagaimana caranya bisa masuk ke universitas itu -jangan bilang tinggal masuk ke gerbangnya- dan disana juga ada peraih beasiswa yang sedang kuincar, ku ingin mendengar presentasi dan sesi tanya jawab soal itu. Namun, yang ku dapatkan adalah -anggap saja- seperti sedang kuliah kembali. Seorang doktor menjelaskan studi dan perkembangannya serta beberapa contoh kasus dan pengalamannya. Dia mendapat gelar tersebut dari universitas ternama itu.

Dan yang ku tunggu pun datang, sesi presentasi bagaimana bisa kuliah kesana, tips and trick, dan segala rupa. Ada 4 pembicara, metode yang digunakan panel diskusi. Dua pembicara adalah dokter yang lebih memilih ambil magister di bidang studi yang sama denganku ketimbang menjadi spesialis dan dua pembicara lainnya adalah lulusan yang S1-nya sama denganku.

Salah satu pembicara bahkan satu almamater, hanya beda jurusan namun satu fakultas. Dia seusia denganku, bahkan sejak magang, dia sudah magang di salah satu subunit PBB yang membidangi anak. Keren. Aku kagum.

Ku pun yang asalnya -ya, aku pernah punya mimpi untuk kuliah di Amerika, sebab memang sarangnya dan gudangnya jurusanku itu ada disana bukan di Eropa tapi aku keukeuh pada negara impianku itu, inisial : koentji- ingin kesana, namun api yang mulai padam itu, seakan menyala kembali.

"Ya.. aku juga bisa, kamu juga pasti bisa." Ungkapnya, yang semakin menambah panas api di hatiku. "Yuk, nno, gas!!"

Keesokkannya, aku terbangun dan termangu memikirkan betapa bodohnya aku selama tahun 2019 aku sudah apa saja?? tak ada selain rebahan, berkutat dengan sesuatu yang tak bisa disembuhkan namun hanya bisa ku kendalikan -nanti ku cerita tentang ini, kalau ga lupa, haha- ya, lagi-lagi aku tertinggal dan tahun sudah 2020.

Mana katanya mau study aboard sementara persiapan baru dititik, "okay, gue punya paspor." lha terus lainnya? Ditengah kontemplasi dan ceracau yang terus berdengung di telingaku, akhir aku bangkit dari kasur dan berkata, "Yuk, mulai lagi, sebab tahap yang sekarang jauh lebih sulit maka yuk lebih semangat!!"

Dan kini ku mulai susun strategi mempersiapkan itu semua, mesti entah bagaimana ku membagi antara mewujudkan mimpiku atau berlatih demi memperjuangkan mimpi orangtua.

Ya, sebab bulan ini hampir menuju 1 tahun setelah aku lulus dan aku masih gini-gini aja, mau sampai kapan? Hingga tiba celotehan sebelum tidur ini aku tulis sambil menunggu kantuk.

Aku sungguh tak mau tahun 2020 mengulang 2019 yang sudah ku buang begitu saja, tanpa ada pencapaian apa-apa -okay, nno, kamu dan temanmu bikin jurnal ya yang katanya terbit februari nanti, dan kamu juga sidang skripsi serta lulus di 2019 dan kamu bilang ((ku buang begitu saja)) oh my God- iya, baik.

Progresku lebih lambat dari yang lain. Aku memang selalu tertinggal dan berkutat di persoalan itu itu saja. Belum tekanan dari orangtua yang pasti lebih mendukungku menikah -seperti perempuan seusiaku yang bahkan ada yang anaknya sudah SD- daripada lanjut sekolah lagi.

Tetapi ini impianku, aku ingin jadi peneliti, dosen, dan akademisi. Aku ingin ketika orang mengingat tentang 'itu' -hal yang sedang kugeluti- mereka akan bilang, "ah dia adalah pakarnya!" dan dia itu adalah aku.

Huft, aku harus punya mimpi agar aku bisa tetap hidup, agar aku punya alasan untuk bertahan, meski dunia tak berpihak padaku.

Jadi celotehan ini sudah saja karena efek obatnya sudah bekerja dan ku mulai ngantuk. Intinya, ya begitulah..

Selamat malam, mari wujudkan mimpi jadi kenyataan. 

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...