Kamis, 31 Desember 2015

Tulisan Pertama

Selalu saja saat pertama menulis terkadang dihadapkan pada satu titik, kalimat apa yang pertama ditulis, bagaimana penyampaiannya, bagaimana rangkaian katanya.
Tetapi jika satu kalimat sudah tertulis, maka kalimat lainnya begitu lancar ditulis tanpa banyak berpikir, tahu-tahu malah sudah lebih dari tiga paragraf.
Sama seperti sekarang pula.
Ya, memulai sesuatu memang sulit, memang perlu trigger yang cukup kuat untu mengalihkan diri dari segala prokrastinasi dan segala anteknya.
Begitu pula dengan memulai dengan sesuatu yang baru di tahun yang baru.

Anggap saja ini semacam throwback, flashback, dan sebagainya.

Dimulai dari 2014.
Ya, ini dianggap tahun dengan ujian terberat di era usia 20 tahun hidup saya, mengapa? Karena saya banyak kehilangan di tahun ini. Meski Tuhan tetap memberikan hadiah yang indah di tanggal 30 September 2014, yaitu kini dibelakang nama saya tersemat sebuah gelar dan sebuah prestasi yang membuat orang tua saya bangga sepanjang masa. Sebenarnya pencapaian di 2014 itu diusahakan sejak 3 tahun kebelakang, namun pengumumannya di tahun 2014, jadi seakan-akan tahun 2014 merupakan tahun penuh prestasi.
Anggap saja, meski sakitnya malah lebih dan rasanya titik terburuk hidup saya, titik depresi, titik rasa dimana menjadi orang yang paling antagonis, paling buruk, paling tak ada gunanya, dan rasanya ingin mencari shortcut lalu lari dari tanggung jawab, maka dari itu banyak yang pergi dari kehidupan saya di tahun itu. Terlalu bertubi-tubi, tetapi saya bisa melaluinya dengan "berpura-pura tenang" seperti biasa, mengapa? karena dengan berpura-pura itu, malah akan menjadi tenang yang sebenarnya.
Ada dua kemungkinan yaitu mereka tak pantas berada disisi saya, atau saya yang tak pantas berada disisi mereka.
Anggap saja ini pembelajaran hidup, bukankah semakin merasa sakit, maka akan semakin kuat, kuat menahan sakit, maksudnya hahaha....
Kita tak akan pernah tahu seberapa kuat kita, jika belum dihadapkan pada rasa sakit :)

Time is so flash.
2015 adalah tahun transisi penyembuhan.
Pengalihannya kuat sekali, dengan bekerja lebih dari 12 jam membuat tak ada waktu untuk memikirkan sakit ditahun lalu. Dan lagi-lagi Tuhan memberikan "hadiah" di setiap tahunnya, yaitu membuat saya menjadi suatu bagian cita-cita saya dari jam bangku sekolah. Memakai almamater kuning, dan diizinkan menuntut ilmu di universitas yang katanya nomor 1 di Indonesia.
Doa yang terkabul dengan tanggung jawab yang begitu besar, pergolakan, dan tangisan yang malah jauh lebih banyak daripada sakit tahun lalu. Tapi ini tangis bahagia. Bahkan terlalu bahagia.
Mari serap ilmu sebanyak-banyaknya dari sini. Mari kembali bermimpi untuk menuju negeri asal Sherlock Holmes.

Dan kini di tahun 2016.
Baru dilewati kurang lebih 3 jam yang lalu.
Semoga tahun ini titik puncak seorang Retno dimulai kembali, biasanya sih setiap 4 tahun sekali, haha
Sudah mirip pemilihan Presiden Amerika saja.
2008, 2012, adalah bisa dibilang masa keemasan anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Apa saja yang dia dapat dan dia rasakan pada tahun itu? Mungkin lain kali bisa dibagikan disini.
Semoga banyak hal yang indah di tahun 2016 ini, dan semoga resolusi agar benar-benar bisa menjadi wanita seutuhnya bisa diraih di tahun ini.

Brace your self, nno.
Let's conquer the world :)

Minggu, 06 Desember 2015

Mohon ajari saya

Mohon ajari saya untuk menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab
Menjadi seseorang yang bisa lari dari tugasnya, bisa tidak peduli dengan tugasnya, atau bahkan pura-pura lupa pada tugasnya

Mohon ajari saya untuk menjadi percaya kepada orang lain, agar segalanya tidak selalu saya yang menggarap, agar saya pun bisa mempercayai kemampuan orang lain
Agar tidak hanya saya saja yang merasa lelah, sementara yang lain hanya melihat dan bertepuk tangan jika itu semua berhasil dan mengejek jika itu gagal

Mohon ajari saya untuk lupa akan amanah, agar bisa dengan mudah mengatakan "maaf lupa, maaf tidak sengaja" dan maaf atas segala alasan konyol lainnya

Mohon ajari saya untuk menjadi pribadi yang mengutamakan kepentingannya diatas segalanya, hingga bahkan saya tak perlu berkorban apapun, hanya duduk manis dan menjadi penonton yang hanya dapat mengkritik

Mohon ajari saya untuk marah, untuk sedih, agar tidak selalu membuat orang tertawa, menjadi candaan orang lain, menjadi orang yang always full charge, agar dengan mudah mengungkapkan bagaimana perasaannya, supaya orang-orang mengerti dan memakluminya

Mohon ajari saya untuk setidaknya terlihat seperti manusia, bukan cyborg, zombie atau sejenisnya

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...