Selasa, 28 November 2017

Percakapan Esok dan Hari Ini

"Apa yang sedang kau tatap ke angkasa?" Ujar Esok kepada Hari Ini.
"Tak ada, aku hanya sedang berkontemplasi."
"Lagakmu bagai seorang pemikir, kamu hanya perlu memikirkan sekarang saja."
"Justru itu."
"Apa? Kamu tak perlu risaukan hal didepan, kau hanya perlu jalani apa yang berada pada saat ini."
"Tetiba aku ingin sepertimu, Esok."
"..."
"Ya, kau hanya berada pada saat ini menjadi Esok, sebab besok, kau akan menjadi aku. Menjadi Hari Ini."
"Aku tak mengerti." Ucap Esok begitu bingung dengan ucapan Hari Ini. "Kau pun besok akan menjadi Kemarin."
"Iya, menjadi terlupakan, dan terlewati."
"Lho, memang sudah begitu adanya, kan?"
"Iya, hanya saja tiba-tiba menjadi terpikir."
"Aku pun akan menjadi Kemarin, setelah ku menjadi Hari Ini, sama sepertimu."
"Ya, hanya fase ku lebih cepat saja."
"Kau sudah pernah merasakan jadi Esok kan kemarin?" Tanya Esok.
"Ya, memang betul dan rasanya begitu singkat hingga sekarang aku menjadi Hari Ini."
"Malah aku takut, aku takut bahwa ku hanya menjadi Esok dan tak pernah menjadi Hari Ini sepertimu."
"Mengapa kau berkata demikian?" Nada Hari Ini mulai meninggi.
"Mungkin karena ketularan gusar sepertimu,.." Ucap Esok sambil tertawa renyah.
"Sial, kau malah menggodaku." Hari Ini memasang wajah cemberut.
"Lantas apa yang Hari Ini bisa berikan kepada Esok? Kegusaran dan ketidakjelasanmu sekarang?"
"Ah.." Hari Ini menunduk. "Hm..maafkan aku, Esok."
"Lho mengapa kau meminta maaf padaku?"
"Ya, aku hanya tukang gusar dan penakut saja, ku tak bisa memberikan apa-apa untukmu, Esok."
"Hei!" Esok memegang pundak Hari Ini. "Masih ada waktu hingga aku menjadi kau, Hari Ini, jadi mari kita isi 'hari ini' menjadi Hari Ini-mu!"
"Terimakasih, tapi..."
"Kenapa lagi? Apa yang sebenarnya kau risaukan?"
"Hm.. kontemplasi-ku sedang kemana-mana, biarkan sajalah."
"Jika dibiarkan saja, maka kau hanya akan mengisi Hari Ini-mu menjadi sebuah kesia-siakan karena kau tak memberikan energi positif kepadaku yang akan menjadi hari ini pada besok hari." Ucap Esok meyakinkan Hari Ini.

Hari Ini tertunduk, dia menggigit bibirnya, menahan getir atas keresahan yang selama ini dia tahan. Lalu dia menengadahkan kepalanya dan memasang senyum pada Esok.
"Terimakasih, Esok. Terimakasih sudah menguatkan aku."
Esok tertawa renyah. Dia memegang bahu Hari Ini.
"Tidakkah kau lihat bahwa hari ini begitu cerah dan tidak mendung seperti yang nampak pada wajahmu sekarang?"
"Hm..?" Hari Ini nampak bingung.
"Itu karena meski kau tampak gusar, tetapi masih ada semangat di hatimu. Masih ada keceriaan di hatimu. Jangan takut terlupakan, karena memang sudah begitu jalan kita, yang bisa kita lakukan adalah melakukan yang terbaik sesuai peranan kita. Aku yakin mereka pasti mengingat kita. Mengingat apa yang terjadi hari ini, menarik pelajaran atas apa yang terjadi hari ini, agar esok bisa mengenang keindahan atau memperbaiki apa yang belum bisa baik pada hari ini. Begitulah hidup."
"Kamu memang paling bisa menenangkanku."
"Hahahaha.. Ayo kita taklukan dunia, Hari Ini, demi Esok yang lebih baik!!!"
Esok memegang tangan Hari Ini dengan erat dan mengacungkannya ke angkasa.
Tawa segar hadir dari keduanya.
Mereka pun berlari.
Berlari kedepan.
Esok tetap melaju kedepan, sementara Hari Ini terhenti sejenak.
Dia menolehkan wajahnya dan tersenyum.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...