Rabu, 19 Februari 2020

Kompas : Terdiam lalu Bergerak Perlahan


"Don’t be afraid, it's okay if you fall down
When you feel down, you can take a rest for a while"

Aku menghela nafas panjang ketika penggalan dari lirik lagu itu terdengar di telingaku
Lagu itu berjudul "Compass", akhir-akhir ini mendengarkan lagu tersebut setiap saat
Mungkin aku sedikit kehilangan "arah" sehingga aku butuh kompas untuk mengingatkan akan jalan yang sedang dan akan ku lalui, tetapi daripada ku sebut kehilangan arah, bisa saja sebenarnya arahnya sudah sesuai (dari konteks jalan yang ku pilih), namun ku memilih untuk diam dahulu, tidak bergerak baik ke kanan atau ke kiri, ke depan atau malah ke belakang, ya.. Ku hanya diam, ingin diam dulu.

Anggap saja diam ini sebagai istirahat dari tekanan yang selama ini dibuat oleh diri sendiri meski jelas faktor dari luar lebih sangat mendalam, tetapi aku membiarkannya menusuk dan melukaiku hingga sakit sesakit-sakitnya
Entah darimana ku mendapatkan kalimat ini, tapi aku ingat ungkapannya, "Tak ada yang bisa melukaimu, kecuali dirimu sendiri." Ya.. Ku rasa itu benar adanya, meski terkadang malah ingin menjadi korban atas segala derita ini dan menyalahkan orang lain atau bahkan Tuhan atas kenestapaan ini.
That's human basic, well.

Mengapa ku setuju akan kalimat itu, karena jika kita tidak menganggap itu sebagai luka maka hal itu tidak akan berdampak pada diri kita.
Rasa sedih, kecewa, atau marah sekalipun adalah hal yang kita izinkan datang untuk dirasakan, adapun orang lain atau situasi hanya perantara saja.
Jika kita menganggap hal itu biasa saja, ya tak akan menjadi kesedihan.
Jika kita menoleransi hal itu, ya tak akan kecewa.
As simple as like that, but not .. HAHA

Karena itu, kita perlu orang lain, situasi, keadaan, atau bahkan Tuhan untuk kita jadikan "dalang" dari segala rasa ini.
"Duh.. Gara-gara dia, ku jadi menderita."
"Kenapa aku harus berada di situasi ini, sungguh membuatku marah!!"
Ya jelas dong, harus ada yang disalahkan, mana mau menyalahkan diri sendiri, ada ego dan pride yang mendominasi atau titik level paling tinggi ya jelas dengan menyalahkan Tuhan.
"Kenapa aku harus berada di posisi ini, Tuhan?"
"Kenapa ku di dera luka dan sakit, mengapa tak kau beri kebahagiaan, Tuhan?"
Mau buat versi bahagianya? Ah tak perlu, manusia jika bahagia tak perlu menyalahkan siapapun, tetapi berterimakasih dan bersyukur (biasanya).

Jadi apa yang terjadi padaku tepatnya hari ini?
Ya, aku sangat lelah bahkan saking lelahnya ku hanya berdiam diri sembari memegang kompas yang sebenarnya bisa menunjukkanku ke arah yang ku tuju, namun ku memilih diam dan mulai menangis.
Seharian ini yang ku lakukan hanyalah menangis, sejadinya, sekerasnya namun ku redam suaranya dengan bantal agar tidak membuat orang-orang di sekitarku bertanya-tanya dan malah membuatku jadi pusat perhatian.

Lantas mengapa ku menangis?
Karena aku sendiri yang membiarkan diriku terluka, aku membiarkan diriku sedih, nestapa, menderita, atau segala kata yang bisa mendeskripsikan kesakitan yang luar biasa.
Apakah aku ingin menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padaku ini?
Secara naluriah, ya jelas saja iya, aku akan menyalahkan orang lain, mengutuknya, memarahinya, serta meminta penjelasan Tuhan mengapa ku mesti lahir ke dunia jika hanya derita yang ku punya.
Tetapi ku memilih untuk tidak melakukannya, setidaknya sekarang hm.. Mungkin.

Aku tidak baik-baik saja sekarang, aku mengakuinya
Namun ketidakbaik-baiknya aku ini, tak akan aku salahkan siapapun akan hal itu
Biarlah, ya, aku ingin melepaskan segala rasa sakit itu dengan menangis sepuasnya hari ini
Entah kapan akan redanya tapi aku berharap tidak akan lama

Setiap pagi aku akan mengingat sebelum memulai aktivitas untuk "melepaskan" rasa sakit ini
Hari demi hari, aku ingat untuk "melepaskan"-nya, pelan-pelan saja
Disini aku tidak mencoba untuk sok bijak, hanya aku ingin mengarahkan energiku (yang terbatas ini) untuk hal lain seperti mulai lagi bergerak meski perlahan ya tak apa yang penting ku bisa bergerak, sambil sesekali istirahat
Tak apa-apa, toh aku tidak sedang berlomba-lomba dengan siapapun, ku hanya berlomba dengan waktu kematianku yang tak pernah ku tahu, setidaknya ku melakukan sesuatu hal yang berguna dan sedikit demi sedikit melepaskan sakit itu

Semoga lekas membaik, ya :")

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...