Apa yang harus ku katakan pada dunia yang dinamis ini, jika ku begitu statis?
Apa yang harus ku katakan pada dunia yang fleksibel ini, jika ku begitu kaku?
Apa pula yang harus kukatakan pada dunia yang penuh sesak ini, jika ku selalu merasa sendiri?
Tak ada yang bisa ku katakan, ku hanya diam saat dunia menghakimi diri yang tidak bisa menyesuaikan ini.
Lama-lama ku bisa saja tergerus kejamnya dan angkuhnya dunia.
Manusia lainnya berburu untuk berubah, tetapi ku masih seperti ini saja.
Menatap jauh dan lebih senang memperhatikan orang-orang yang tergesa-gesa
Berdiri mematung dan hanya senang terdiam dengan sesekali menertawakan mereka yang tanpa rencana,
yang terpenting adalah ikuti saja dunia yang dinamis ini.
Tetapi apabila belum siap, mau dikatakan bagaimana?
Apabila belum siap berubah -berubah lebih baik- mengapa harus tergesa-gesa?
Nikmati saja, dunia memang ditakdirkan berubah-ubah.
Jika statis, mungkin tak ada malam ataupun siang, tak ada kemarau atau musim penghujan
Manusia juga dinamis, tetapi ada yang drastis atau ada yang "alon-alon asal klakon"
Jika ada yang bertanya, mengapa kau masih disini?
Aku akan menjawab bahwa "aku tak pernah berubah, jikapun ada yang berubah, mungkin aku tampak lebih tua,
tapi hal ini tak pernah berubah"
Apakah yang kau maksud dengan hal ini? Hati atau perasaan?
Lalu, ku tertawa dangkal sebelum menjawabnya, "Yang ada dipikiranmu hanya persoalan hati saja."
Lantas apa?
Dia mulai menanyaiku layaknya tersangka yang diinterogasi oleh detektif. Aku tak menjawab, sengaja agar dia penasaran.
Apa? Apa? Apa?
"Begitu inginnya kamu mengetahui jawabannya?"
Iya, lantas apa lagi yang aku tunggu selain jawabanmu.
"Hm...bagaimana ya, aku menjelaskannya."
Kau membuatku semakin kesal.
"Oke,baiklah. Jadi hal ini adalah sesuatu yang sebenarnya aku pun tak tahu."
Hahahaha, -dia menertawaiku- pasti soal perasaan dan hati kan?
Aku segera tegas membantah, "Bukan, bukan hal yang dangkal dan dipenuhi oleh prasangka seperti itu"
Dia menatap tajam padaku, "Aku tak pernah tahu apa mauku, karena aku jarang berdialog dengan diriku sendiri.
Dia semakin menatap tajam membuatku semakin takut.
Dia lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku, kau tahu mengapa kita mirip? Karena kau adalah aku dan aku adalah kau.
Kau tak pernah membiarkan dirimu jujur pada dirimu sendiri, sehingga kau tak tahu maumu apa, oleh karena itu,
kau hanya bisa mengamati orang lain, sementara dirimu terabaikan.
Ajak bicaralah diriku, kau tak sendirian. Jika memang kau belum siap berubah, aku temani.
Jika kau memang senang menatap interaksi orang lain, ketimbang kamu ikut berinteraksi, maka aku temani.
Jika kau lebih senang berdiri mematung, sementara orang-orang nampak tergesa-gesa, aku temani.
Kau tak pernah sendiri, ada aku.
Aku pun tak akan pergi ataupun berubah.
Karena aku adalah kehendakmu.
Mari kita sering berdialog, agar kita lebih akrab, wahai diriku sendiri.
"A..aku, a..ku..." Aku tak bisa berkata apa-apa.
Dan langit malam pun menjelang pagi.
Matahari sudah mulai memancarkan warna cerahnya pada langit yang gelap.
Kini langit pun merona.
Aku pun tersenyum merona, menatap dia. Terimakasih, ucapku dalam hati.
Apa yang harus ku katakan pada dunia yang fleksibel ini, jika ku begitu kaku?
Apa pula yang harus kukatakan pada dunia yang penuh sesak ini, jika ku selalu merasa sendiri?
Tak ada yang bisa ku katakan, ku hanya diam saat dunia menghakimi diri yang tidak bisa menyesuaikan ini.
Lama-lama ku bisa saja tergerus kejamnya dan angkuhnya dunia.
Manusia lainnya berburu untuk berubah, tetapi ku masih seperti ini saja.
Menatap jauh dan lebih senang memperhatikan orang-orang yang tergesa-gesa
Berdiri mematung dan hanya senang terdiam dengan sesekali menertawakan mereka yang tanpa rencana,
yang terpenting adalah ikuti saja dunia yang dinamis ini.
Tetapi apabila belum siap, mau dikatakan bagaimana?
Apabila belum siap berubah -berubah lebih baik- mengapa harus tergesa-gesa?
Nikmati saja, dunia memang ditakdirkan berubah-ubah.
Jika statis, mungkin tak ada malam ataupun siang, tak ada kemarau atau musim penghujan
Manusia juga dinamis, tetapi ada yang drastis atau ada yang "alon-alon asal klakon"
Jika ada yang bertanya, mengapa kau masih disini?
Aku akan menjawab bahwa "aku tak pernah berubah, jikapun ada yang berubah, mungkin aku tampak lebih tua,
tapi hal ini tak pernah berubah"
Apakah yang kau maksud dengan hal ini? Hati atau perasaan?
Lalu, ku tertawa dangkal sebelum menjawabnya, "Yang ada dipikiranmu hanya persoalan hati saja."
Lantas apa?
Dia mulai menanyaiku layaknya tersangka yang diinterogasi oleh detektif. Aku tak menjawab, sengaja agar dia penasaran.
Apa? Apa? Apa?
"Begitu inginnya kamu mengetahui jawabannya?"
Iya, lantas apa lagi yang aku tunggu selain jawabanmu.
"Hm...bagaimana ya, aku menjelaskannya."
Kau membuatku semakin kesal.
"Oke,baiklah. Jadi hal ini adalah sesuatu yang sebenarnya aku pun tak tahu."
Hahahaha, -dia menertawaiku- pasti soal perasaan dan hati kan?
Aku segera tegas membantah, "Bukan, bukan hal yang dangkal dan dipenuhi oleh prasangka seperti itu"
Dia menatap tajam padaku, "Aku tak pernah tahu apa mauku, karena aku jarang berdialog dengan diriku sendiri.
Dia semakin menatap tajam membuatku semakin takut.
Dia lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku, kau tahu mengapa kita mirip? Karena kau adalah aku dan aku adalah kau.
Kau tak pernah membiarkan dirimu jujur pada dirimu sendiri, sehingga kau tak tahu maumu apa, oleh karena itu,
kau hanya bisa mengamati orang lain, sementara dirimu terabaikan.
Ajak bicaralah diriku, kau tak sendirian. Jika memang kau belum siap berubah, aku temani.
Jika kau memang senang menatap interaksi orang lain, ketimbang kamu ikut berinteraksi, maka aku temani.
Jika kau lebih senang berdiri mematung, sementara orang-orang nampak tergesa-gesa, aku temani.
Kau tak pernah sendiri, ada aku.
Aku pun tak akan pergi ataupun berubah.
Karena aku adalah kehendakmu.
Mari kita sering berdialog, agar kita lebih akrab, wahai diriku sendiri.
"A..aku, a..ku..." Aku tak bisa berkata apa-apa.
Dan langit malam pun menjelang pagi.
Matahari sudah mulai memancarkan warna cerahnya pada langit yang gelap.
Kini langit pun merona.
Aku pun tersenyum merona, menatap dia. Terimakasih, ucapku dalam hati.