Kamis, 15 Oktober 2015

Dialog Menjelang Fajar

Apa yang harus ku katakan pada dunia yang dinamis ini, jika ku begitu statis?
Apa yang harus ku katakan pada dunia yang fleksibel ini, jika ku begitu kaku?
Apa pula yang harus kukatakan pada dunia yang penuh sesak ini, jika ku selalu merasa sendiri?
Tak ada yang bisa ku katakan, ku hanya diam saat dunia menghakimi diri yang tidak bisa menyesuaikan ini.
Lama-lama ku bisa saja tergerus kejamnya dan angkuhnya dunia.
Manusia lainnya berburu untuk berubah, tetapi ku masih seperti ini saja.

Menatap jauh dan lebih senang memperhatikan orang-orang yang tergesa-gesa
Berdiri mematung dan hanya senang terdiam dengan sesekali menertawakan mereka yang tanpa rencana,
yang terpenting adalah ikuti saja dunia yang dinamis ini.
Tetapi apabila belum siap, mau dikatakan bagaimana?
Apabila belum siap berubah -berubah lebih baik- mengapa harus tergesa-gesa?
Nikmati saja, dunia memang ditakdirkan berubah-ubah.
Jika statis, mungkin tak ada malam ataupun siang, tak ada kemarau atau musim penghujan
Manusia juga dinamis, tetapi ada yang drastis atau ada yang "alon-alon asal klakon"

Jika ada yang bertanya, mengapa kau masih disini?
Aku akan menjawab bahwa "aku tak pernah berubah, jikapun ada yang berubah, mungkin aku tampak lebih tua,
tapi hal ini tak pernah berubah"
Apakah yang kau maksud dengan hal ini? Hati atau perasaan?
Lalu, ku tertawa dangkal sebelum menjawabnya, "Yang ada dipikiranmu hanya persoalan hati saja."
Lantas apa?
Dia mulai menanyaiku layaknya tersangka yang diinterogasi oleh detektif. Aku tak menjawab, sengaja agar dia penasaran.
Apa? Apa? Apa?
"Begitu inginnya kamu mengetahui jawabannya?"
Iya, lantas apa lagi yang aku tunggu selain jawabanmu.
"Hm...bagaimana ya, aku menjelaskannya."
Kau membuatku semakin kesal.
"Oke,baiklah. Jadi hal ini adalah sesuatu yang sebenarnya aku pun tak tahu."
Hahahaha, -dia menertawaiku- pasti soal perasaan dan hati kan?
Aku segera tegas membantah, "Bukan, bukan hal yang dangkal dan dipenuhi oleh prasangka seperti itu"
Dia menatap tajam padaku, "Aku tak pernah tahu apa mauku, karena aku jarang berdialog dengan diriku sendiri.
Dia semakin menatap tajam membuatku semakin takut.
Dia lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku, kau tahu mengapa kita mirip? Karena kau adalah aku dan aku adalah kau.
Kau tak pernah membiarkan dirimu jujur pada dirimu sendiri, sehingga kau tak tahu maumu apa, oleh karena itu,
kau hanya bisa mengamati orang lain, sementara dirimu terabaikan.
Ajak bicaralah diriku, kau tak sendirian. Jika memang kau belum siap berubah, aku temani.
Jika kau memang senang menatap interaksi orang lain, ketimbang kamu ikut berinteraksi, maka aku temani.
Jika kau lebih senang berdiri mematung, sementara orang-orang nampak tergesa-gesa, aku temani.
Kau tak pernah sendiri, ada aku.
Aku pun tak akan pergi ataupun berubah.
Karena aku adalah kehendakmu.
Mari kita sering berdialog, agar kita lebih akrab, wahai diriku sendiri.

"A..aku, a..ku..." Aku tak bisa berkata apa-apa.
Dan langit malam pun menjelang pagi.
Matahari sudah mulai memancarkan warna cerahnya pada langit yang gelap.
Kini langit pun merona.
Aku pun tersenyum merona, menatap dia. Terimakasih, ucapku dalam hati.

Selasa, 13 Oktober 2015

Doa Yang Terkabul



"Waaaaa......" 
ku berteriak dalam hati sembari berlari penuh semangat saat langit mulai meredup dan tergantikan oleh lampu-lampu jalan. Tak terasa bagian paling sentimentil ini pun tak dapat lagi tertahan. Air pun keluar dari sudut gelap mata ini. Basah, namun menyejukkan.

Rasanya kaki ini tak mampu lagi menahan kesumringahan hati yang tak dapat terbendung. Ku pun mengistirahatkan kakiku dengan berduduk-duduk santai di halte. Tak ada siapapun, hanya ada aku dan kertas-kertas pengumuman yang mulai usang dan terkelupas dari dindingnya. Ku pandangi satu-satu, mungkin ada lowongan kerja part time untuk mahasiswa sore seperti ku. Ya, mahasiswa. Kini ku benar-benar menjadi mahasiswa. "Waaaa....." ku teriak lagi dalam hati.

Baru 5 hari rasanya menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi idaman mungkin semua orang, tetapi aku tak peduli. Perguruan tinggi ini adalah idamanku, idamanku sejak masih berseragam putih abu-abu. Bahkan bermimpi saja sudah sangat indah dan membahagiakan, apalagi benar-benar menjadi bagian disini. Memakai almamaternya saja mungkin hanya sekedar mimpi di siang bolong. Namun, kini, saat ini, mimpi ini telah terwujud. Kini aku benar-benar mahasiswa disini, iya, disini. Aku mohon jangan teriak lagi dalam hati. Hati ini bisa sakit telinganya mendengarmu berteriak, hahaha.

Kini aku terduduk di lantai 4 perpustakaan fakultas tempatku menimba ilmu. Dekat jendela. Ya, untuk seseorang yang bahkan naik jembatan penyebrangan saja sudah keringat dingin bukan kepalang, kini duduk di dekat jendela lantai 4, hahah, seakan-akan lupa bahwa aku punya phobia ketinggian. Tetapi semua itu benar kulupakan, karena ku memang bahagia. Bahagia itu distraksi yang paling ampuh dari semua rasa sakit didunia ini.

Bukan hal yang mudah untukku sampai disini. Beberapa kali rasanya ingin menyerah saja untuk sesuatu yang tak mungkin ini. Mimpi kamu terlalu tinggi, hingga doa pun diganti, "Ya..Tuhan, hamba pasrahkan apa yang terbaik untuk hamba, jika memang ini terbaik untuk hamba, pasti akan ada jalan untuk hamba sebagaimana pun sulitnya jalan tersebut. Jika memang ini bukan yang terbaik untuk hamba, pasti Engkau mempunyai jalan yang lebih indah untuk hamba di tempat lain." Dan, tanggal 14 Agustus, namaku terpasang di website penerimaannya dan dinyatakan lulus. Ya, lulus, aku akan menjadi mahasiswa disana. Ini serius, Tuhan?
Apakah perjuangan terhenti? Tidak, ini baru dimulai. Bukan harga yang murah untuk menebus Kartu Tanda Mahasiswa dan Jaket Almamaternya. Aku pun menangis tersedu-sedu, saat Ibu berkata bangga memiliki anak sepertiku. Harga yang kukumpulkan selama setahun pergi pagi pulang malam pun belum cukup untuk menebusnya. Maksud hati tak ingin membebani Ibu, akhirnya membebani juga. Juara sekali perjuangannya, hingga last minutes sebelum pendaftaran ulang ditutup, Ibu menelepon. Ku berlari dan lagi-lagi sentimentil lagi, ku menangis. Dan ku menangis lagi saat jaket itu berada ditanganku. Iya, jaket dengan warna mencolok. Bahkan ada kalimat yang menyatakan, "jika mahasiswa almamater itu telah turun ke jalan, maka ada sesuatu di negara ini." Wuih...keren bukan main kalimat itu. Entah kalimat dari siapa.
Kini, ku masih menatap ke luar jendela. Dan berkata dalam hati bahwa ini baru permulaan. Hidupmu baru saja dimulai di Kampus Perjuangan ini. Disini semua serba sendiri, dan kamu sendiri yang memutuskan kapan kamu akan bertoga. Semakin lama disini, harga yang dibayar juga semakin menggunung. Euforianya harus diiringi dengan tanggungjawab. Ya, kamu harus membuat laporan pertanggungjawaban kepada Tuhan karena Tuhan telah benar-benar mengabulkan doamu. Sulit, setiap hari rasanya sulit, tetapi pasti ada kemudahan setelahnya. Jangan terlalu santai karena kamu berbeda dengan yang lainnya. Kamu disini untuk berjuang dan harus menjadi yang terbaik, buat tangis Ibumu menjadi sebuah tangis kebanggaan. Dan jangan sampai membuat Tuhan kecewa dan menyesal telah mengabulkan doamu ini.

Selamat datang, mari serap ilmu terbaik yang ada disini. Dan gunakan ilmu itu untuk menjadi bermanfaat bagi sesama. Selamat berjuang, Enno. Aku selalu berjuang bersamamu.

Dari ku untuk diriku.
Depok, 4 September 2015.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Fam-ill-y

Ketika air lebih kental daripada darah
Ya, kutipan itu pernah terdengar dalam sebuah drama sejarah.
Lalu pertanyaan yang timbul, mengapa bisa seperti itu?
Bukankah substansi air jauh lebih encer daripada darah, lantas mengapa terjadi kebalikan seperti itu.
Dan seribu diam berkecamuk dalam jiwa.
Kediaman, bukan kegaduhan akan ceracau-ceracau. Tetapi diam, diam yang sangat hening, hingga seseorang datang memegang sebuah batu lalu melemparkannya dengan penuh amarah pada dinding imajiner yang dulunya sangat kokoh bahkan tak ada yang mampu menembusnya.
Mungkin dulu ada yang sempat berniat, namun hanya sampai pada fase niat.

Tak perlu lagi ditutupi.
Karena bau darah kini semakin membusuk.
Air yang datang pun ikut terbawa menjadi berbau busuk.
Terbawa menjadi berwarna merah.
Merah darah oleh pertumpahan saudara.

Bukankah bangsa kita sangat terkenal akan cerita Kerajaan Singasari?
Ya, kerajaan yang dibangun atas pertumpahan darah atas nama dendam dan perselisihan antar saudara.
Dan berakhir dengan ketiadaan penerus baik berikutnya.
Kertanegara adalah raja yang berhasil berdiri diatas pertumpahan darah saudaranya.
Dendam tak akan menghasilkan kemenangan abadi, yang ada hanya keterpurukan dan membumihanguskan segalanya hingga dasarnya.

Seyogyanya saudara adalah keluarga.
Ya, keluarga sedarah yang berasal dari nenek yang sama.
That's a family..
Such a great warm love, contain sweetness and tenderly.
Being having much time, with full-like-heart-talkative
Itu kan idealnya.
Hingga pertempuran darah pun dapat berlangsung seperti halnya yang terjadi pada Kerajaan Singasari lampau.
Saling cakar, saling terkam, saling tusuk, saling melukai, saling menodai, sesama keluarga.
Seharusnya saling mengasihi, saling melindungi, saling mencintai, saling membantu, sesama keluarga.
Hingga rela terlihat bertampak "baik" dimata orang lain ketimbang menolong saudaranya yang tercengkram antara hidup dan mati.

Ketika orang lain yang bukan sedarah malah lebih mengasihi, lebih mencintai, lebih menghormati, daripada darah daging sendiri.
Atas dasar apa? Mungkin atas dasar kemanusiaan. Lalu bukankah saudara atau keluarga pun adalah manusia? Lantas mengapa tak memiliki rasa kemanusiaan?
"Untuk apa menolong saudara sendiri, hanya akan semakin membebani dan seterusnya akan terus ingin ditolong, lebih baik menolong orang lain, bisa disebut dermawan dan baik hati."
Perkataan macam apa itu? Perkataan inilah yang timbul dari pepatah 'air lebih kental daripada darah'

Ada sakit dan kesakitan serta penderitaan dalam darah daging sendiri yang perlahan membusuk dan mematikan organ yang lain. Hingga perlahan akan mati dengan kesendirian.
Biarlah, mungkin jika image dermawan itu terbangun sempurna maka orang lainlah yang akan membantu merawat bangkai busuk itu, bukan sanak keluarganya. Mengapa? Karena sanak keluarganya telah sakit dan mati terlebih dulu. Mati tercekik oleh ari-ari saudaranya.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...