Minggu, 12 Agustus 2018

Untold Story : Sendiri dan Luka



Seorang anak perempuan berusia 8 tahun itu terduduk menatap kaca ruang tamu rumahnya. Dia menatap punggung teman-temannya yang datang ke rumah untuk mengajaknya bermain namun ibunya mengatakan bahwa dia sedang tidur siang dan tidak bisa ikut bermain. Dia tidak tidur siang, bahkan dia sulit untuk tidur. Ibunya hanya tidak suka dia pergi keluar. Banyak alasannya, karena takut kotor, panas, dan terbawa pergaulan yang tidak baik. Anak seusia itu biasa melontarkan ucapan kasar, melakukan lawakan menyebut nama orang tua, jajan diluar yang dinilai tidak bersih dan banyak kuman. Itu kata ibunya. Hingga dia hanya bisa diam dirumah, keluar pun hanya sekedar sekolah. Ya, itu saja. Berdiam di kastil dengan berbagai lapis pintu besi. Ibunya selalu berkata, “Diluar sana berbahaya, di rumah adalah tempat paling aman. Kamu mau apa? Nanti ibu belikan, asal kamu diam di rumah saja, ya.” Rayuannya saat itu. Ditepati? Ah..tidak.  Dia hanya membaca buku-buku pelajaran sekolah, sesekali iseng membaca buku-buku pelajaran kakaknya yang berada 6 tingkat sekolah dengannya. Saat dia kelas 4 SD, kakaknya sudah SMA kelas 1. Mainan pun adalah mainan unisex yang bisa dimainkan baik oleh anak pria maupun anak perempuan. Ah..dia memiliki mainan perempuan seperti boneka Barbie, alat-alat untuk bermain masak-masakan, dan beberapa boneka lainnya pemberian dari neneknya. Dia mainkan itu sendiri. Dia sering berbicara sendiri, membuat cerita dengan boneka-bonekanya, berdialog dengan boneka barbienya, dan banyak hal yang dia lakukan sendiri.

Terbiasa seperti itu membuat dia nyaman dengan hal itu. Dia benar larut akan dunianya dan buku-buku yang setia menemaninya. Dia bosan di rumah dan hanya diperintah untuk belajar dan hanya belajar. Dia tak bisa melakukan apapun kecuali belajar. Bahkan menyapu rumah saja dia tidak bisa. Hingga dia akhirnya telah menyelesaikan seluruh soal yang berada di buku paket sekolahnya. Dari kelas 1 SD hingga saat itu dia selalu ranking 1. Duduk didepan sendirian, tanpa ada yang menemani. Menjadi anak kesayangan guru. Dia tidak suka bermain saat jam istirahat dengan temannya. Dia sudah biasa dan nyaman sendiri, dia lebih senang ke perpustakaan dan membaca buku. Dia pun tidak jajan di kantin sekolah. Ibunya sudah membawakan dia bekal untuk dimakan saat jam istirahat. Dia tidak menyenangkan untuk diajak berteman. 

Pada suatu hari salah seorang temannya kehausan karena telah jajan makanan pedas. Dia yang sedang asyik membaca buku di bangkunya kaget ketika temannya yang sedang kehausan itu mengambil botol minumannya dan meminumnya tanpa izin dulu padanya. Dia menatap tidak nyaman dan kesal pada temannya. Lalu temannya sadar, “Eh..maaf soalnya kepedesan.” Dia tersenyum palsu dan berkata, “Ambil saja semua sama botolnya.” Dan pergi keluar bersama bukunya. Dia tidak melihat ekspresi temannya kala itu. Dia pun tidak peduli. Dia tak akan mau meminum botol itu. Sudah tercemari oleh ludah temannya. Bagaimana jika itu ada kumannya, bagaimana kalau dia sakit setelah meminumnya. Menyebalkan, pikirnya saat itu. Karena sifatnya yang seperti itu dia benar-benar tak memiliki teman.

Hari pertama dia duduk di kelas 5. Dia duduk dibangku depan karena bangku depan adalah bangku yang jarang dipilih karena dekat dengan guru. Namun dia senang duduk didepan, dia tidak akan terganggu dengan berisiknya teman-temannya yang mengobrol saat guru sedang menjelaskan. Lalu saat dia tengah mengeluarkan buku-bukunya, beberapa temannya menghampiri, salah seorang bahkan duduk disamping.  

“Eh..kemarin ranking 1 lagi, ya.. Hebat selalu ranking satu.” Ucap yang duduk disebelahnya. “Hebat ya, nyogoknya.” Mendengar ucapan itu, dia merasa tersinggung.

“Nyogok apaan?!” Dia masih mengatur nada bicaranya, dia tidak mau terpancing.

“Ah..udah ngaku aja pasti nyogok kan, aku selalu lihat ibu kamu ke ruang guru bawa-bawa makanan, pasti nyogok biar kamu ranking 1.” Ucap yang berada didepan mejanya.

“Nggak, itu ngasih karena mau ucapin makasih aja. Lagipula itu ngasihnya kan udah dibagiin raport.” Dia tak menatap mata teman-temannya, dia berbicara dengan sambil menata buku-buku di mejanya.

“Kalau lagi ngomong tuh lihat orangnya dong.” Yang duduk disebelahnya, melempar bukunya. Dia kaget setengah mati. “Sok banget sih, mentang-mentang pinter, ga punya temen juga, kasihan.”

“Ini mau ngapain sih?” Dia lalu berdiri mau mengambil buku yang telah dilempar temannya. Namun saat berdiri, teman yang berdiri didepannya memegang pundaknya dan menyuruh dia untuk duduk lagi.

“Eh..teman aku yang disebelah belum selesai ngomong, katanya ranking 1 ga punya sopan santun banget.” 

Mereka ada 4 orang. Satu orang duduk disebelahnya, mungkin dia ketua gengnya, dan sisanya berdiri didepan mejanya. 

“Siniin.” Yang duduk disebelahnya seperti meminta sesuatu dengan kode kepada salah satu temannya yang berdiri. Lalu temannya mengeluarkan sebuah botol minuman dan memberikan pada yang duduk sebelahnya. Ditariklah tas dari genggamannya. 

“Eh.. mau apa?” Dia mulai berteriak karena tasnya telah direbut. Dia tahu ada teman-temannya lainnya dikelas tapi mereka pura-pura tidak mendengar seperti tidak terjadi apa-apa.

“Ini buat anak yang sok kayak kamu. Udah pinter, belagu, ga mau kasih contekan, nyogok lagi.” Dia menuangkan air dibotol itu ke tas dia. Dia ingin memberontak tapi sisa 3 teman lainnya menggenggam tangan dan badannya. Dia memberontak namun karena kalah tenaga, dia tersungkur ke lantai. 

Semua yang dia taruh di meja dimasukan ke tas yang kini sudah berisi air dan membawanya ke dekat jendela. Dia bangkit dan berusaha meraih tasnya. Matanya sudah mulai berair namun masih bisa dia tahan. 

“Siniin ih.. Siniin!!” Teriaknya. Lagi-lagi karena kalah orang, dia tak berkutik. Lalu temannya itu membuang tasnya keluar jendela. Dia berteriak saat melihat isi tasnya berhamburan semua dan terlempar ke tanah. Mereka semua tertawa lepas seakan sebuah kesenangan melakukan hal itu.

Dia menatap satu-satu dari 4 orang itu, lalu dia mengedarkan pandangan ke seluruh orang di kelasnya yang hanya sebagai penonton. 

“Mau apa? Mau ngadu? Kakak kamu juga masih sekolah. Kakak aku udah jadi tentara.”
“Kakak aku juga udah kerja, kalah sama kakak aku.”
“Mau ngadu ke orang tua, ya. Nanti disogok lagi lagi dong gurunya.”
“Nanti kita yang dihukum, takut!!” Dan 4 orang itu tertawa lepas lagi. 

Dia mendorong salah satunya dan pergi keluar. Dia menangis, dia tak lagi bisa menahannya. Baju seragam barunya pun sudah kotor karena terjatuh di lantai ubin kelas yang masih berubin hitam. Dia berlari, dia tak peduli beberapa orang melihatnya yang sedang menangis sejadinya dengan pakaian kotor. Dia lalu memungut satu-satu buku yang telah basah dan rusak. Dia mengeluarkan air dalam tasnya. Empat orang itu hanya melihat dibalik jendela, entah mereka berbicara apa, dia sudah tidak mau mendengarnya. Dia menyeka airmatanya dan meraih tasnya, lalu dia memutuskan tidak kembali ke kelas dan pulang saja. 

Sampai dirumah, Ibunya kaget melihat baju anaknya kotor dan isi tasnya basah dan kotor.

“Ini kenapa begini?”

“Jatoh, bu.” Dia masuk kerumah dan membuka bajunya menaruhnya di ember cucian.
“Kok bisa jatuh gitu? Jatuh dimana?”

“Di sekolah.” Dia tak mau menatap ibunya. Dia mengambil handuk dan mau pergi ke kamar mandi.

“Kenapa sih, coba lihat ibu kalau ibu lagi ngomong. Jatuh dimana, kenapa sampai basah, itu kan buku baru, tas baru, seragam baru, suka macem-macem kamu tuh.” Ibunya menggenggam kedua lengannya dengan kuat.

“Sakit, bu. Jatuh ya jatuh.” Dia mau menangis lagi, dia menyesal karena pulang bukanlah solusi terbaik saat itu. Dia lalu lari ke kamar mandi. Dia nyalakan keran air dan menangis sejadinya. Dia menyalakan keran dengan air yang besar agar suara tangisannya tak terdengar keluar. Dia meringis perih saat melihat sikut dan lututnya terdapat luka goresan.  Sakit sekali rasanya padahal hanya luka goresan, mungkin terkena pinggiran bangku saat dia didorong temannya tadi. Tapi sakitnya hingga ke dada, sungguh sesak. Tak hanya sikut dan lututnya yang sakit, namun hatinya pun terluka. Dia tak ingin mendengar “kenapa sampai basah, itu kan buku baru, tas baru, seragam baru, suka macem-macem kamu tuh”, dia hanya ingin mendengar, “Ada yang sakit? Mana yang sakit? Kamu ga apa-apa, kan?” dan memeluknya. Jika seperti itu mungkin tak akan sesakit itu rasanya.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...