Seorang anak perempuan berusia 8 tahun itu terduduk menatap
kaca ruang tamu rumahnya. Dia menatap punggung teman-temannya yang datang ke
rumah untuk mengajaknya bermain namun ibunya mengatakan bahwa dia sedang tidur
siang dan tidak bisa ikut bermain. Dia tidak tidur siang, bahkan dia sulit
untuk tidur. Ibunya hanya tidak suka dia pergi keluar. Banyak alasannya, karena
takut kotor, panas, dan terbawa pergaulan yang tidak baik. Anak seusia itu
biasa melontarkan ucapan kasar, melakukan lawakan menyebut nama orang tua,
jajan diluar yang dinilai tidak bersih dan banyak kuman. Itu kata ibunya.
Hingga dia hanya bisa diam dirumah, keluar pun hanya sekedar sekolah. Ya, itu
saja. Berdiam di kastil dengan berbagai lapis pintu besi. Ibunya selalu berkata,
“Diluar sana berbahaya, di rumah adalah tempat paling aman. Kamu mau apa? Nanti
ibu belikan, asal kamu diam di rumah saja, ya.” Rayuannya saat itu. Ditepati?
Ah..tidak. Dia hanya membaca buku-buku
pelajaran sekolah, sesekali iseng membaca buku-buku pelajaran kakaknya yang
berada 6 tingkat sekolah dengannya. Saat dia kelas 4 SD, kakaknya sudah SMA
kelas 1. Mainan pun adalah mainan unisex yang
bisa dimainkan baik oleh anak pria maupun anak perempuan. Ah..dia memiliki mainan
perempuan seperti boneka Barbie, alat-alat untuk bermain masak-masakan, dan
beberapa boneka lainnya pemberian dari neneknya. Dia mainkan itu sendiri. Dia
sering berbicara sendiri, membuat cerita dengan boneka-bonekanya, berdialog
dengan boneka barbienya, dan banyak hal yang dia lakukan sendiri.
Terbiasa
seperti itu membuat dia nyaman dengan hal itu. Dia benar larut akan dunianya
dan buku-buku yang setia menemaninya. Dia bosan di rumah dan hanya diperintah
untuk belajar dan hanya belajar. Dia tak bisa melakukan apapun kecuali belajar.
Bahkan menyapu rumah saja dia tidak bisa. Hingga dia akhirnya telah
menyelesaikan seluruh soal yang berada di buku paket sekolahnya. Dari kelas 1
SD hingga saat itu dia selalu ranking 1. Duduk didepan sendirian, tanpa ada
yang menemani. Menjadi anak kesayangan guru. Dia tidak suka bermain saat jam
istirahat dengan temannya. Dia sudah biasa dan nyaman sendiri, dia lebih senang
ke perpustakaan dan membaca buku. Dia pun tidak jajan di kantin sekolah. Ibunya
sudah membawakan dia bekal untuk dimakan saat jam istirahat. Dia tidak
menyenangkan untuk diajak berteman.
Pada
suatu hari salah seorang temannya kehausan karena telah jajan makanan pedas.
Dia yang sedang asyik membaca buku di bangkunya kaget ketika temannya yang
sedang kehausan itu mengambil botol minumannya dan meminumnya tanpa izin dulu
padanya. Dia menatap tidak nyaman dan kesal pada temannya. Lalu temannya sadar,
“Eh..maaf soalnya kepedesan.” Dia tersenyum palsu dan berkata, “Ambil saja semua
sama botolnya.” Dan pergi keluar bersama bukunya. Dia tidak melihat ekspresi
temannya kala itu. Dia pun tidak peduli. Dia tak akan mau meminum botol itu. Sudah
tercemari oleh ludah temannya. Bagaimana jika itu ada kumannya, bagaimana kalau
dia sakit setelah meminumnya. Menyebalkan, pikirnya saat itu. Karena sifatnya
yang seperti itu dia benar-benar tak memiliki teman.
Hari
pertama dia duduk di kelas 5. Dia duduk dibangku depan karena bangku depan
adalah bangku yang jarang dipilih karena dekat dengan guru. Namun dia senang
duduk didepan, dia tidak akan terganggu dengan berisiknya teman-temannya yang
mengobrol saat guru sedang menjelaskan. Lalu saat dia tengah mengeluarkan
buku-bukunya, beberapa temannya menghampiri, salah seorang bahkan duduk
disamping.
“Eh..kemarin
ranking 1 lagi, ya.. Hebat selalu ranking satu.” Ucap yang duduk disebelahnya. “Hebat
ya, nyogoknya.” Mendengar ucapan itu, dia merasa tersinggung.
“Nyogok
apaan?!” Dia masih mengatur nada bicaranya, dia tidak mau terpancing.
“Ah..udah
ngaku aja pasti nyogok kan, aku selalu lihat ibu kamu ke ruang guru bawa-bawa
makanan, pasti nyogok biar kamu ranking 1.” Ucap yang berada didepan mejanya.
“Nggak,
itu ngasih karena mau ucapin makasih aja. Lagipula itu ngasihnya kan udah
dibagiin raport.” Dia tak menatap mata teman-temannya, dia berbicara dengan
sambil menata buku-buku di mejanya.
“Kalau
lagi ngomong tuh lihat orangnya dong.” Yang duduk disebelahnya, melempar
bukunya. Dia kaget setengah mati. “Sok banget sih, mentang-mentang pinter, ga
punya temen juga, kasihan.”
“Ini
mau ngapain sih?” Dia lalu berdiri mau mengambil buku yang telah dilempar
temannya. Namun saat berdiri, teman yang berdiri didepannya memegang pundaknya
dan menyuruh dia untuk duduk lagi.
“Eh..teman
aku yang disebelah belum selesai ngomong, katanya ranking 1 ga punya sopan
santun banget.”
Mereka
ada 4 orang. Satu orang duduk disebelahnya, mungkin dia ketua gengnya, dan
sisanya berdiri didepan mejanya.
“Siniin.”
Yang duduk disebelahnya seperti meminta sesuatu dengan kode kepada salah satu
temannya yang berdiri. Lalu temannya mengeluarkan sebuah botol minuman dan
memberikan pada yang duduk sebelahnya. Ditariklah tas dari genggamannya.
“Eh..
mau apa?” Dia mulai berteriak karena tasnya telah direbut. Dia tahu ada
teman-temannya lainnya dikelas tapi mereka pura-pura tidak mendengar seperti
tidak terjadi apa-apa.
“Ini
buat anak yang sok kayak kamu. Udah pinter, belagu, ga mau kasih contekan,
nyogok lagi.” Dia menuangkan air dibotol itu ke tas dia. Dia ingin memberontak
tapi sisa 3 teman lainnya menggenggam tangan dan badannya. Dia memberontak
namun karena kalah tenaga, dia tersungkur ke lantai.
Semua
yang dia taruh di meja dimasukan ke tas yang kini sudah berisi air dan membawanya
ke dekat jendela. Dia bangkit dan berusaha meraih tasnya. Matanya sudah mulai
berair namun masih bisa dia tahan.
“Siniin
ih.. Siniin!!” Teriaknya. Lagi-lagi karena kalah orang, dia tak berkutik. Lalu
temannya itu membuang tasnya keluar jendela. Dia berteriak saat melihat isi
tasnya berhamburan semua dan terlempar ke tanah. Mereka semua tertawa lepas
seakan sebuah kesenangan melakukan hal itu.
Dia
menatap satu-satu dari 4 orang itu, lalu dia mengedarkan pandangan ke seluruh
orang di kelasnya yang hanya sebagai penonton.
“Mau
apa? Mau ngadu? Kakak kamu juga masih sekolah. Kakak aku udah jadi tentara.”
“Kakak
aku juga udah kerja, kalah sama kakak aku.”
“Mau
ngadu ke orang tua, ya. Nanti disogok lagi lagi dong gurunya.”
“Nanti
kita yang dihukum, takut!!” Dan 4 orang itu tertawa lepas lagi.
Dia
mendorong salah satunya dan pergi keluar. Dia menangis, dia tak lagi bisa
menahannya. Baju seragam barunya pun sudah kotor karena terjatuh di lantai ubin
kelas yang masih berubin hitam. Dia berlari, dia tak peduli beberapa orang
melihatnya yang sedang menangis sejadinya dengan pakaian kotor. Dia lalu memungut
satu-satu buku yang telah basah dan rusak. Dia mengeluarkan air dalam tasnya.
Empat orang itu hanya melihat dibalik jendela, entah mereka berbicara apa, dia
sudah tidak mau mendengarnya. Dia menyeka airmatanya dan meraih tasnya, lalu
dia memutuskan tidak kembali ke kelas dan pulang saja.
Sampai
dirumah, Ibunya kaget melihat baju anaknya kotor dan isi tasnya basah dan
kotor.
“Ini
kenapa begini?”
“Jatoh,
bu.” Dia masuk kerumah dan membuka bajunya menaruhnya di ember cucian.
“Kok
bisa jatuh gitu? Jatuh dimana?”
“Di sekolah.”
Dia tak mau menatap ibunya. Dia mengambil handuk dan mau pergi ke kamar mandi.
“Kenapa
sih, coba lihat ibu kalau ibu lagi ngomong. Jatuh dimana, kenapa sampai basah,
itu kan buku baru, tas baru, seragam baru, suka macem-macem kamu tuh.” Ibunya
menggenggam kedua lengannya dengan kuat.
“Sakit,
bu. Jatuh ya jatuh.” Dia mau menangis lagi, dia menyesal karena pulang bukanlah
solusi terbaik saat itu. Dia lalu lari ke kamar mandi. Dia nyalakan keran air
dan menangis sejadinya. Dia menyalakan keran dengan air yang besar agar suara
tangisannya tak terdengar keluar. Dia meringis perih saat melihat sikut dan
lututnya terdapat luka goresan. Sakit
sekali rasanya padahal hanya luka goresan, mungkin terkena pinggiran bangku
saat dia didorong temannya tadi. Tapi sakitnya hingga ke dada, sungguh sesak. Tak
hanya sikut dan lututnya yang sakit, namun hatinya pun terluka. Dia tak ingin
mendengar “kenapa sampai basah, itu kan buku baru, tas baru, seragam baru, suka
macem-macem kamu tuh”, dia hanya ingin mendengar, “Ada yang sakit? Mana yang
sakit? Kamu ga apa-apa, kan?” dan memeluknya. Jika seperti itu mungkin tak akan
sesakit itu rasanya.