Berdiri dititian
tanah berwarna merah, sepatuku saat itu mulai lengket oleh tanah itu
Sepertinya kemarin
baru saja turun hujan, sisa basahnya di tanah membuat siapa saja yang
menginjaknya akan ikut serta dengannya
Sambil memerhatikan
tanah di sepatuku, aku pun melihat sebuah lubang yang akan menempatkannya
disana
Sebuah lubang menuju
keabadian, yang berasal dari tanah akan kembali
ke tanah, begitu yang sering ku dengar saat masih di bangku sekolah
dasar
Ku lihat dia dibalut
kain putih dan ditempatkan didasar lubang tersebut
Dia yang tahun ini
seharusnya berusia 21 tahun
Di usia itu seorang
gadis sedang jatuh cintanya pada lawan jenis, mulai memakai make up, bergaya dengan dress masa
kini, berceloteh riang dengan teman sebayanya membahas tugas kuliah, lelaki
yang tampan, atau parfum apa ya yang enak untuk dipakai
Tetapi dia tak pernah melakukannya, dia tak
bisa melakukannya
Dia terlahir berbeda
Tentu saja bukan inginnya seperti itu
Dia tak bisa berbicara dan berjalan
Dia hanya terbaring di ranjangnya selama 21
tahun
Sesekali dia beranjak dan didudukan diatas
kursi rotan untuk berjemur di matahari pagi, tetapi semakin bertambah usianya,
dia tak bisa melakukannya, sebab badannya terlalu berat untuk diangkat dari
kasur menuju kursi.
Alhasil, dia lebih banyak menghabiskan waktu
untuk berbaring
Meski begitu, dia sama seperti gadis lainnya
Dia senang mendengarkan lagu, menonton drama,
dan selalu tertawa serta tersenyum saat memamerkan baju baru yang dia kenakan
Pernah dia mengatakan padaku dengan bahasa
isyarat bahwa dia sedang memakai baju bagus, dia tertawa saat menceritakannya
"Wah..cantik sekali bajunya, buat aku
ya.."Godaku. Dia memasang wajah cemberut seolah berkata, "Tidak
boleh, ini bajuku."
Aku senang menggodanya, aku senang memegang
kulitnya yang halus seperti bayi dan putih kuning langsat. Aku iri karena
kulitnya putih, aku pernah menggodanya untuk bertukar kulit, dan kami pun
tertawa…
Dia tahu apa yang diucapkan yang lain
Dia pun dapat menangis saat sedih
Dia pun dapat tertawa dan tersenyum saat
bahagia
Dia pun menangis saat ibundanya 3 tahun silam
meninggal karena sakit
17 tahun ibundanya menjaganya, menyuapi
setiap hari, mengganti pakaiannya, menyisiri rambutnya, dan berada disampingnya
siang dan malam tanpa lelah
Hingga suatu hari dia didera sakit parah,
hingga dia tak mampu lagi menjaga anak gadisnya, dan Tuhan mengambil nyawanya
ditengah dia berjuang agar sembuh
Ibundanya telah tiada, dia sedih bukan main,
dia tidak bisa berkata, "Ibu..jangan tinggalkan aku, Ibu, mengapa
pergi.." Dia tak bisa mengatakannya. Sesak rasanya ingin berteriak tetapi
tak bisa.
Kehilangan yang amat sangat.
Selama 3 tahun ini dia kesepian, berbaring di
kasurnya menatap drama di televisi dengan tatapan kosong
Dia rindu ibundanya yang selalu berada
disampingnya
Dia hanya diam dan tak bisa berkata apa-apa,
jika dia rindu ibundanya, dia tak bisa berlari menuju makam ibundanya, dia
hanya tertegun dan terdiam
Masa berat itu dia lalui sendiri tanpa bisa dia bagi, hingga akhirnya dia
jatuh sakit
Dia tak mau makan
Dia menolak untuk minum
Hingga rasa sakit yang terungkapkan itu tak
lagi bisa dia tahan
Nafas mulai tersengal-sengal rasanya
Samar, dia melihat sinar yang terang..
"Ibu.." ucapnya. Dia kaget, mengapa
dia bisa berkata demikian, mengapa dia bisa berbicara.
"Ibu.." Dia ulangi kata tersebut,
berusaha meyakinkan dua hal. Hal pertama yang dia lihat apakah benar ibundanya.
Hal kedua, apa benar dia bisa berbicara.
Dia mengucek-ngucek matanya, itu benar ibu.
Seorang wanita didepannya tersenyum, dan
mengulurkan tangannya.
Dia sangat senang, dan meraih tangan
ibundanya, dia beranjak dari kasurnya dan kakinya bisa berdiri, dia terkaget
bukan main.
Dia dapat berdiri. Kakinya dapat merasakan
dinginnya lantai.
Dia dapat berjalan. Wajahnya memasang wajah
takjub bukan main.
Kini dia dapat berjalan dan berbicara.
Dia berjalan mengikuti ibundanya.
Lalu dia menoleh ke belakang, dia melihat
wajahnya sendiri yang terbaring menutup mata di atas kasurnya.
Orang-orang berkumpul duduk mengelilingi
dengan iringan isak dan tangis.
Sepersekian detik dia tertegun, dia lalu menatap ibundanya yang masih
tersenyum
Dia mengikuti ibundanya, berjalan menuju
cahaya yang terang
Terang..
Dan bersinar..
Gadis 21 tahun ini pun telah tiada, dia telah pergi
menyusul ibundanya
Gadis 21 tahun ini tak pernah merasa bahagia
seperti gadis 21 tahun lainnya
Tetapi kini, dia bersama ibundanya yang jauh membahagiakan baginya
Surga menantinya, dia bisa berjalan, berlari
dan berbincang atau perlu dia bisa bersenandung dengan lagu kesukaannya
Dunia ini terlalu asing baginya dan aku harap dia
selalu bahagia disana
Selamat jalan..
Sampai jumpa..
Subang, Mei 2017