Rabu, 05 September 2018

Gadis 21 Tahun


Berdiri dititian tanah berwarna merah, sepatuku saat itu mulai lengket oleh tanah itu
Sepertinya kemarin baru saja turun hujan, sisa basahnya di tanah membuat siapa saja yang menginjaknya akan ikut serta dengannya
Sambil memerhatikan tanah di sepatuku, aku pun melihat sebuah lubang yang akan menempatkannya disana
Sebuah lubang menuju keabadian, yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah, begitu yang sering ku dengar saat masih di bangku sekolah dasar

Ku lihat dia dibalut kain putih dan ditempatkan didasar lubang tersebut
Dia yang tahun ini seharusnya berusia 21 tahun
Di usia itu seorang gadis sedang jatuh cintanya pada lawan jenis, mulai memakai make up, bergaya dengan dress masa kini, berceloteh riang dengan teman sebayanya membahas tugas kuliah, lelaki yang tampan, atau parfum apa ya yang enak untuk dipakai
Tetapi dia tak pernah melakukannya, dia tak bisa melakukannya
Dia terlahir berbeda
Tentu saja bukan inginnya seperti itu

Dia tak bisa berbicara dan berjalan
Dia hanya terbaring di ranjangnya selama 21 tahun
Sesekali dia beranjak dan didudukan diatas kursi rotan untuk berjemur di matahari pagi, tetapi semakin bertambah usianya, dia tak bisa melakukannya, sebab badannya terlalu berat untuk diangkat dari kasur menuju kursi.
Alhasil, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbaring

Meski begitu, dia sama seperti gadis lainnya
Dia senang mendengarkan lagu, menonton drama, dan selalu tertawa serta tersenyum saat memamerkan baju baru yang dia kenakan
Pernah dia mengatakan padaku dengan bahasa isyarat bahwa dia sedang memakai baju bagus, dia tertawa saat menceritakannya
"Wah..cantik sekali bajunya, buat aku ya.."Godaku. Dia memasang wajah cemberut seolah berkata, "Tidak boleh, ini bajuku."
Aku senang menggodanya, aku senang memegang kulitnya yang halus seperti bayi dan putih kuning langsat. Aku iri karena kulitnya putih, aku pernah menggodanya untuk bertukar kulit, dan kami pun tertawa…

Dia tahu apa yang diucapkan yang lain
Dia pun dapat menangis saat sedih
Dia pun dapat tertawa dan tersenyum saat bahagia
Dia pun menangis saat ibundanya 3 tahun silam meninggal karena sakit
17 tahun ibundanya menjaganya, menyuapi setiap hari, mengganti pakaiannya, menyisiri rambutnya, dan berada disampingnya siang dan malam tanpa lelah
Hingga suatu hari dia didera sakit parah, hingga dia tak mampu lagi menjaga anak gadisnya, dan Tuhan mengambil nyawanya ditengah dia berjuang agar sembuh
Ibundanya telah tiada, dia sedih bukan main, dia tidak bisa berkata, "Ibu..jangan tinggalkan aku, Ibu, mengapa pergi.." Dia tak bisa mengatakannya. Sesak rasanya ingin berteriak tetapi tak bisa. 
Kehilangan yang amat sangat.

Selama 3 tahun ini dia kesepian, berbaring di kasurnya menatap drama di televisi dengan tatapan kosong
Dia rindu ibundanya yang selalu berada disampingnya
Dia hanya diam dan tak bisa berkata apa-apa, jika dia rindu ibundanya, dia tak bisa berlari menuju makam ibundanya, dia hanya tertegun dan terdiam
Masa berat itu dia lalui sendiri  tanpa bisa dia bagi, hingga akhirnya dia jatuh sakit
Dia tak mau makan
Dia menolak untuk minum
Hingga rasa sakit yang terungkapkan itu tak lagi bisa dia tahan

Nafas mulai tersengal-sengal rasanya
Samar, dia melihat sinar yang terang..
"Ibu.." ucapnya. Dia kaget, mengapa dia bisa berkata demikian, mengapa dia bisa berbicara.
"Ibu.." Dia ulangi kata tersebut, berusaha meyakinkan dua hal. Hal pertama yang dia lihat apakah benar ibundanya. Hal kedua, apa benar dia bisa berbicara.
Dia mengucek-ngucek matanya, itu benar ibu.
Seorang wanita didepannya tersenyum, dan mengulurkan tangannya.
Dia sangat senang, dan meraih tangan ibundanya, dia beranjak dari kasurnya dan kakinya bisa berdiri, dia terkaget bukan main.
Dia dapat berdiri. Kakinya dapat merasakan dinginnya lantai.
Dia dapat berjalan. Wajahnya memasang wajah takjub bukan main.
Kini dia dapat berjalan dan berbicara.
Dia berjalan mengikuti ibundanya.
Lalu dia menoleh ke belakang, dia melihat wajahnya sendiri yang terbaring menutup mata di atas kasurnya.
Orang-orang berkumpul duduk mengelilingi dengan iringan isak dan tangis.
Sepersekian detik dia tertegun,  dia lalu menatap ibundanya yang masih tersenyum
Dia mengikuti ibundanya, berjalan menuju cahaya yang terang
Terang..
Dan bersinar..

Gadis 21 tahun ini pun telah tiada, dia telah pergi menyusul ibundanya
Gadis 21 tahun ini tak pernah merasa bahagia seperti gadis 21 tahun lainnya
Tetapi kini, dia bersama ibundanya yang jauh membahagiakan baginya
Surga menantinya, dia bisa berjalan, berlari dan berbincang atau perlu dia bisa bersenandung dengan lagu kesukaannya
Dunia ini terlalu asing baginya dan aku harap dia selalu bahagia disana

Selamat jalan..
Sampai jumpa..

Subang, Mei 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...