Teruntuk diri yang senang berada di "zona nyaman"
Huft..
Menghela nafas dulu biar terkesan dramatis.
Well,
Tiba-tiba otak mendadak sok ingin menceramahi pola pikirnya sendiri
Hahaha, tertawa dulu agar tidak terlalu serius.
Ya, serius itu hanya milik orang dewasa, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hari terus menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun, dan tahun itu menginjak menjadi windu, dasawarsa, bahkan bisa menjadi abad, namun rasanya I dont wanna getting old.
Padahal kalau ingin menjadi abadi, harus jadi vampire atau werewolf sekalian. But that's imagine.
Karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa waktu bisa menjadi teman yang menyenangkan sekaligus musuh yang mematikan.
Diri ini bisa saja tergusur oleh kejamnya waktu yang tak pernah memihak siapapun.
Semua akan berubah pada waktunya.
Mungkin pepatah itu tepat untuk mendeskripsikan segala apa yang menjadi bahan pemikiran dewasa ini.
Ya, harusnya pepatah itu "semua akan indah pada waktunya", tapi keindahan itu bukan berdasarkan pada waktunya, tapi bagaimana diri ini yang membuat indah, sekali lagi jika terlalu mengandalkan waktu hanya akan tergusur oleh keras dan pedihnya kenyataan.
Tapi diri ini tak suka perubahan, diri ini ingin segalanya berjalan sebagaimana pattern "nyaman" yang mungkin perlu waktu lama untuk sampai pada fase "that's my comfortable place", tapi nyatanya itu semu, hanya sementara, karena satu hal manusia itu dinamis.
Manusia berpindah dari sekolah TK menuju SD, SMP, SMA, lalu kuliah, kerja, menikah, mempunyai keluarga, membesarkan anak, hingga ditutup dengan meninggal.
Dan selalu diri ini menjadi salah satu yang ditinggalkan oleh perpindahan manusia.
Meskipun diri ini pun menjadi salah satu pemeran dari perpindahan, namun hanya perpindahan status, tetapi dalam segi apapun masih sama dan tak pernah berubah.
Menjadi yang ditinggalkan pasti menorehkan setitik luka
Luka ini pun menjadi penguat agar jangan sampai menggantungkan diri kepada manusia yang melakukan perpindahan
Pada akhirnya diri ini hanya bisa berdiri melihat orang - orang berpindah, satu per satu meninggalkannya.
Tak perlu khawatir, karena zona nyaman itu kini akan dia buat sendiri bersama dirinya sendiri.
Ketika manusia default lainnya hanya berpindah secara horizontal,
Dia akan berpindah, menjulang ke angkasa dan melihat dari langit orang-orang yang meninggalkannya sibuk berpindah, bergeneralisasi dengan common-common people karena dia akan menjadi the only special.
Jangan khawatir.
Huft..
Menghela nafas dulu biar terkesan dramatis.
Well,
Tiba-tiba otak mendadak sok ingin menceramahi pola pikirnya sendiri
Hahaha, tertawa dulu agar tidak terlalu serius.
Ya, serius itu hanya milik orang dewasa, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hari terus menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun, dan tahun itu menginjak menjadi windu, dasawarsa, bahkan bisa menjadi abad, namun rasanya I dont wanna getting old.
Padahal kalau ingin menjadi abadi, harus jadi vampire atau werewolf sekalian. But that's imagine.
Karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa waktu bisa menjadi teman yang menyenangkan sekaligus musuh yang mematikan.
Diri ini bisa saja tergusur oleh kejamnya waktu yang tak pernah memihak siapapun.
Semua akan berubah pada waktunya.
Mungkin pepatah itu tepat untuk mendeskripsikan segala apa yang menjadi bahan pemikiran dewasa ini.
Ya, harusnya pepatah itu "semua akan indah pada waktunya", tapi keindahan itu bukan berdasarkan pada waktunya, tapi bagaimana diri ini yang membuat indah, sekali lagi jika terlalu mengandalkan waktu hanya akan tergusur oleh keras dan pedihnya kenyataan.
Tapi diri ini tak suka perubahan, diri ini ingin segalanya berjalan sebagaimana pattern "nyaman" yang mungkin perlu waktu lama untuk sampai pada fase "that's my comfortable place", tapi nyatanya itu semu, hanya sementara, karena satu hal manusia itu dinamis.
Manusia berpindah dari sekolah TK menuju SD, SMP, SMA, lalu kuliah, kerja, menikah, mempunyai keluarga, membesarkan anak, hingga ditutup dengan meninggal.
Dan selalu diri ini menjadi salah satu yang ditinggalkan oleh perpindahan manusia.
Meskipun diri ini pun menjadi salah satu pemeran dari perpindahan, namun hanya perpindahan status, tetapi dalam segi apapun masih sama dan tak pernah berubah.
Menjadi yang ditinggalkan pasti menorehkan setitik luka
Luka ini pun menjadi penguat agar jangan sampai menggantungkan diri kepada manusia yang melakukan perpindahan
Pada akhirnya diri ini hanya bisa berdiri melihat orang - orang berpindah, satu per satu meninggalkannya.
Tak perlu khawatir, karena zona nyaman itu kini akan dia buat sendiri bersama dirinya sendiri.
Ketika manusia default lainnya hanya berpindah secara horizontal,
Dia akan berpindah, menjulang ke angkasa dan melihat dari langit orang-orang yang meninggalkannya sibuk berpindah, bergeneralisasi dengan common-common people karena dia akan menjadi the only special.
Jangan khawatir.