Minggu, 14 Maret 2021

Stigmata (dalam 4 babak)

1.
Terompet genderang berbunyi tak ada suara
Aku bukan tuli namun tak ingin dengar
Acapkali berisik itu menggaung minta ku hirau

2. 
Segan ku mulai namun tak bisa ku kendali
Besi karat kini sudah menancap di hati
Lebam biru dengan darah yang tak kunjung henti

3.
Menoleh berat memincingkan mata
Berteriak tapi bukan dengan kata-kata
Mencari sinar di ujung gelap yang tak tahu dimana

4. 
Putar roda gusar bagi sang pendosa
Tersayat luka meski bau amis tanpa rasa
Dipenghujung hari penuh asa bagi si penghunus lara

Sabtu, 13 Maret 2021

Kamu.

Biru dan abu-abu bukanlah warna kesukaanmu.

Namun kini seakan menaungimu.

Mengapa bermuram biru dan berlangitkan abu-abu? 

Apakah itu protagonis yang ingin kau ciptakan?

Seakan jaring hidup pekat merantaimu, menenggelamkanmu jauh ke dasar yang jemu.


Nampak sekilas kamu yang ingin terus berlari.

Lari hingga lelah meski tahu bahwa ini tak ada tepi.

Kamu sekarang jatuh, bukan pada cinta tapi pada semesta yang katamu begitu membencimu.

Sesak peluh berputar pada orbit yang berceracau.

Hingga rasa ini mati tak berasa hanya dera letih ingin berhenti.


Semesta akan selalu membencimu sesuai persepsimu.

Ada malam dimana kamu menyerah, namun kamu belum kalah.

Kamu sudah pernah coba greentea cheese cake?

Jika belum, jangan pernah mencobanya.

Kalau ada malam menyerah lainnya, kalau ada malam biru langit abu-abu lainnya, ingat bahwa kamu belum mencoba greentea cheese cake.

Jadi, bertahan, ya, kamu?

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...