Sabtu, 27 Agustus 2016

Malam Dingin

Terpaku ku menatap ke arah jendela
Rembesan sisa gerimis di senja masih menetes
Layaknya mata ini yang berujung sembab tanpa sebab

Nafas menghela begitu panjang seakan sesak di dada dan akhirnya bisa bernafas meski tersengal
Pundak terasa berat dan seakan tak mampu lagi tegak
Membungkuk, terbungkuk hingga pandangan pun menunduk
Kini ku tak lagi dapat melihat rembesan air di jendela
Pandanganku menjadi kabur dan ku hanya dapat memandang kaki ku yang penuh luka

Lukanya ada yang mengering, ada pula yang masih terasa perih, terutama di telapak
Mengapa kakiku penuh luka? Apa ku berjalan diatas aspal panas sisa kemarau tanpa alas kaki?
Ataukah ku berjalan diatas berbatuan yang tajam?
Mengapa tak menggunakan alas kaki? Mengapa kau membiarkannya terluka? Ucapku pada diriku
Entahlah, ku tak dapat menjawabnya, terlalu banyak ceracau dalam kepala yang tak mampu ku jawab segala pertanyaan itu

Kepalaku terasa berat, menatap kebawah membuatku merasa pusing
Hingga rasa penat itu begitu sakit, sehingga ku tak mampu menahannya dan terkulai lemas di lantai yang dingin, sangat dingin
Kutarik kedua kaki ku, ku dekap erat, tangan ini mencoba menghangatkan kaki ini namun tangan ini pun begitu dingin
Tanpa sadar gigiku pun saling beradu, tak dapat ku tahan dinginnya

Mata ini mulai rabun melihat sekitar
Yang ku tahu, ku berada di sebuah ruangan berjendela dan semua warna dindingnya adalah putih
Jendela itu begitu jauh, hingga tak lagi dapat ku melihat rembesan air sisa hujan
Jendela tanpa pintu disampingnya
Tak ada pintu
Lantas bagaimana ku bisa berada disini?
Apakah melalui jendela?
Entahlah aku lupa

Yang ku tahu hari ini begitu dingin, dan diluar melalui jendela ke melihat gelap diantara rembesan titik hujan
Yang pasti aku sendirian
Meski tetap ku coba menegakan kepalaku untuk melihat sekitar, apakah ada orang lain di sekitarku?
Berat sekali, bahkan untuk melihat sekeliling
Pandanganku pun menjadi buram, dan rasa sakit dari kepala ku mengalir ke seluruh tubuhku
Ku mengerang tanpa suara, tak dapat ku mengeluarkan suara
Ku tarik kedua kakiku, ku dekap erat
Rasa sakit dan dingin itu mulai menusuk amat sangat
Nafasku semakin tersengal, dan begitu sesak
Kini ku tak dapat melihat apapun
Ku begitu sesak
Hingga sampai pada titik ku tak ingat apapun
Semua begitu gelap
Rasa sakit itu pun sudah tak terasa

Apa ini yang namanya kematian?
Apa jiwa ku sudah terlepas dari raga?
Yang ku ingat dan masih terasa jelas adalah rasa sakit, sepi yang begitu dingin
Dingin di malam hari.

Senin, 15 Agustus 2016

Bulimia Rhapsody


Hari itu hujan deras, aku dan teman-temanku merapat di sebuah tempat makan yang cukup terkenal, terkenal harganya yang bisa dijangkau dengan mengganti menjadi makan mie selama seminggu.
Ya, demi pride dan demi check in di path.
Kami pun memesan makanan. Sebenarnya lebih memesan harganya.
Sebab, yang kami lihat bukanlah makanannya, melainkan brandrol harganya.
Sambil menunggu makanan kami datang, ada yang asyik mengobrol, ada pula yang asyik dengan gadget-nya. Dan aku, asyik memfoto berbagai sudut restoran tersebut.

Akhirnya makanan kami pun datang.
Suasana dinginnya hujan menyebabkan suasana lapar kian kentara, hingga layaknya anak yang tidak makan seminggu, kami pun kalap. Meski sekalap-kalapnya tidak akan pernah lupa untuk "memfoto" makanannya.
Aku adalah orang yang paling cepat menghabiskan makanan "mahal" itu.
Antara sedang lapar, atau karena aku tak pernah mengunyah makananku lebih lama. Kata orang, makanku tak pernah aku hayati.

Makan pun selesai, kami lanjut berbincang-bincang sambil menunggu hujan reda.
Namun, ditengah berbincang itu, aku merasa ada yang salah dengan mulutku.
Rasanya kering dan menjadi asam seketika.
Aku pun meneguk minumku. Namun rasanya malah semakin mual.
Tak perlu dirasa-rasa begitu dalam, aku bertingkah seperti biasanya, hingga rasanya perut sebelah kiri terasa memanas dan sakit melilit. Mual begitu kuat terasa hingga kekerongkongan.
Lama-lama tak bisa ku tahan, hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk ke kamar mandi.
Disana, rasa mual kian kuat, aku coba menahannya hingga air mataku keluar dan mata mulai perih.
Dan pada akhirnya semua yang ku tahan akhirnya aku keluarkan, makanan seharga jatah makan seminggu itu kini telah bersarang di lubang toilet.
Aku flush dan aku pun menangis, menatap kebodohanku yang tak bisa ku tahan.

Aku keluar dari toilet dan menuju wastafel.
Ku bersihkan mulutku, dan ku basuh mukaku.
Setelah semuanya kering, ku baru memberanikan diri keluar menemui sahabatku dan tertawa seperti biasa.

Ini bukanlah yang pertama, ini sudah menjadi rutinitas dari mulai tahun 2008 silam.
Ketika aku memutuskan untuk berhenti sarapan karena sibuk harus segera ke sekolah karena kebagian piket OSIS.
Hingga puncaknya mulai tahun 2011. Dan terkulai lemah semalaman di ruangan serba bau etanol di tahun 2012.

Bulimia, ya ini namanya Bulimia. Aku namai itu, meski sebelumnya memang telah ada namanya. Namun biasanya Bulimia telah terjadi karena faktor psikologis dari seseorang yang ingin langsing. Namun aku menganggap substansinya sama, yaitu senang memuntahkan makanan yang telah dia makan.
Dan begitulah aku menjalani kehidupan selama hampir 8 tahun ini.
Memang tidak setiap saat tetapi hal ini selalu terjadi jika aku terlampau senang.
Ya, Rhapsody.
Maka ku namai setiap status ku dengan Bulimia Rhapsody.
Agar aku selalu ingat bahwa aku tak boleh berlebihan dalam makan dan merasa senang, jika tidak mau semuanya berakhir dalam lubang toilet.

Youth Pt.1


Hai 22 tahun, masa dimana kamu bakal jadi leader girl group kalau debut dalam usia segitu. Usia yang seharusnya sudah lulus kuliah dan memikirkan bagaimana hidup menjadi isteri orang, tetapi kamu? Masih kuliah, masih senang hura-hura dan ngomongin Oppa-Oppa Korea.
Tapi begitu bahagianya hidup seperti ini (dulu).
Sampai kapan? Ah entahlah, sampai bosan, sampai larut, mungkin.

Hari itu ceritanya pergi ke gunung, ingin melepas penat dan segudang deadline yang malah asyik ditunda daripada dikerjakan. Sebab tidak akan alright pengerjaannya jika dilakukan saat otak begitu penat, butuh penyegar, atau pengalihan sejenak (padahal sebenarnya lari dari masalah, hahaha).
Paket data sengaja dimatikan agar tak ada yang menghubungi, jika pun amat begitu penting, bisa SMS atau telpon, ya kedua hal yang jarang dilakukan zaman sekarang.
Sebab ingin sekali fokus, tenang, senang, tanpa diingatkan akan tugas dan sebagainya.

Aku pergi kesana dengan seorang teman, yang sudah kenal sejak 2008.
Kita punya satu kesamaan yaitu begitu "menggilai" Oppa Korea (Oppa yaitu panggilan untuk lelaki yang lebih tua kalau di Korea, eits..jangan berpikir kalau dia itu kakek yang sudah tua ya, hehe)
Terjebak diantara batas imajinasi dan realita.
Sangat berharap bisa menetap disana, bahkan bermimpi ingin menjadi isteri mereka.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa diantara teman sebaya kami telah menikah dan memiliki kekasih, sementara kami masih sendiri, hahaha (miris, ya.. Haha)

Kami kesana naik motor, dan tahu apa perbincangan selama 3 jam perjalanan menuju ke gunung? Apalagi selain fantasi tentang si mata sipit dan berlesung pipit.
Ceritanya seminggu belakangan ini terjebak dalam fanfiction atau cerita fiksi yang dibuat fans hasil kiriman dari teman yang "sama gilanya" terhadap hal tersebut.
Ceritanya juga hampir sama kayak pengalaman pribadi, jadi berasa baca cerita sendiri dan baper sendiri, haha.

Setelah menempuh trayek yang begitu terjal dan ekstrem, serta ada adegan jatuh pula dari motor (efek kebanyakan ngomongin si Oppa), apa yang kami lakukan? Malah lihat video youtube offline, lagi-lagi tentang Oppa. Yang diobrolin adalah Oppa. Dan disana kami memiliki ide untuk membuat video self camera ya mirip-mirip dengan duo keong racun dulu, dan ngegunain lagu Oppa.
Malu dilihatin orang, kita bodo amat deh. Hahaha, kita tertawa bersama, saling menertawai diri sendiri, katanya malu tapi masih lanjut hahaha.
Handphone sampai lowbatt dan kurang lebih ada sekitar 25 video, udah pas tuh buat dibikin film yang ber-sequel-sequel.

Perjalanan pulang apa yang kami lakukan? Hahaha, kami bernyanyi lagu-lagu Korean Pop ala-ala Boy Band dengan lirik yang nyaris ngawur, kami hanya tahu lirik belakangnya dan nada-nadanya saja, maklum itu bukan bahasa ibu kami, meski sering dengar dan baca liriknya, ya jika dinyanyikan ya sebagaimana penangkapan saja.
Meski macet, kami tetap bernyanyi dan berteriak tak jelas, bahkan sama dengan fanchants-nya (suara penyemangat dari fans kalau idolanya mulai bernyanyi diatas panggung), selama lebih dari 2jam mungkin kami sudah buat  album rekaman.

Sampai dirumah, kami malah buka laptop, rencananya ingin berbagi video untuk selanjutnya akan dilakukan tahap pengeditan, tapi malah ujung-ujungnya lihat video Oppa, tertawa bersama melihat keseruan dan kelucuan mereka, tanpa terasa sudah malam, saatnya kembali ke rumah.

Ah, rasanya hari itu ingin seperti itu, melupakan sejuta beban yang menggunung di pundak. Tetapi hanya pada hari itu, sebab esok hari dunia yang sebenarnya harus dijalani.
Thanks, teman, untuk harinya :) 

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...