Senin, 27 Mei 2013

Totalitas dan Loyalitas: Harga Mati!


Bermula dari sebuah konsep sederhana, dimana setiap mengikuti seminar tak pernah ada SKP dari organisasi profesi sendiri yaitu PPGI
Terbersitlah keinginan untuk mengadakan seminar dikampus sendiri
Tentu ini bukanlah hal mudah dan setelah tercetus ide pada awal tahun kemarin namun karena terdapat serangan virus Ebola yang merusak sistem pada tubuh sendiri, akhirnya ide ini vakum selama 3bulan

Awal tahun, awal periode, datanglah keberanian untuk memunculkan ide ini lagi ke khalayak
Berharap bahwa konsep ini tidak hanya bersemayam dalam memori tetapi terbentuk dalam sebuah implementasi nyata

Proses pertama dimulai saat ditunjuk dan mengajukan diri sebagai Ketua Pelaksana
Ini bukan hal main-main, karena telah memperhitungkan segala macam pertimbangan dan kesiapan baik mental maupun fisik
Dan saya menyanggupinya

Selanjutnya menentukan seksi-seksi disetiap slot, butuh pemikiran yang ekstra
Saya akui ada beberapa teman saya yang sudah "langganan" menjabat sebagai seksi itu, saya tempatkan pada seksi tersebut
Mengapa? Alasannya sederhana, karena ini acara besar, acara perdana dan memang dibutuhkan orang-orang yang expert didalamnya
Sebuah pepatah dari orang sahabat yang masih saya ingat yaitu "Seorang pemimpin adalah seseorang yang mengetahui kemampuan anak buahnya"

Perencanaan awal wajar jika terbentur beberapa hal, apalagi saat saya mengutarakan konsep saya didepan panitia
Banyak berpendapat ini itu, tapi semuanya saya filter karena semuanya harus saya pikirkan ulang
Dan dengan segenap pergolakan yang alot akhirnya proposal selesai (tanpa anggaran biaya - baru perencanaan)

Pergolakan dari tubuh sendiri pun terjadi, entah apakah saya yang terlalu sistematis, idealis dan perfeksionis?
Tetapi jujur, saya sudah menekan as posible as I can untuk acara ini
Banyak kicauan yang menyeru bahwa acara yang hanya digarap 2bulan ini tak akan berhasil
Mulai dari pihak institusi hingga tubuh sendiri
Tapi saya harus yakin dan saya harus meyakinkan yang lain bahwa ini bukan hanya sekedar tulisan dikertas meja kerja, bukan sekedar diam dan mengambang diatas otak
Sulit, namun sulit hanyalah masalah waktu

Gejolak mendalam dan menyayat sukma saya pun tiba saat virus influenza tingkat tinggi menyerang tubuh
Berbagai kendala 'eh' masalah yang mengapa harus didetik-detik klimaks perjuangan
Saya pun tak kuasa menghadapinya, merasa bahwa beban ini berada dikepala dan pundak saya sendiri
Kemana harus mengadu dan berkeluh kesah?
Kegelapan menertawakan saya, dia berkata "Khayalanmu akan terang, akan tetap sebuah imajinasi!"
Saya sempat gentar, saya down tetapi ini tak boleh berlangsung lama
Dunia tak mau menunggu saya untuk terpuruk, and show must go on
Suatu kalimat penyemangat pun terngiang dalam ingatan
"Daripada kau sibuk mengutuk kegelapan, lebih baik kau menyalakan lilin untuk menghadirkan terang"

Permainan Bounce yang saya sangat gemari saat saya SMP mengingatkan akan satu hal bahwa saya harus seperti bola dalam permainan  Bounce tersebut
Saat ada tantangan yang memukul keras saya untuk jatuh maka seketika itu saya akan terpantul jauh melewati angkasa
Jadi disaat saya down disaat itu pula saya harus up
Proses ini sungguh saya nikmati, indah :)

H-1
Saya senang dan bahagia melihat sebentar lagi tinggal hitungan jam, catatan-catatan kecil saya dan coretan-coretan yang berasal dari pemikiran teman saya  akan segera dihadirkan
Melihat semuanya berjibaku dengan segala pekerjaan yang tidak mudah, inisiatif dan senantiasa bergegas membuat saya yang diawal-awal push over limit, kini harus menghargai sesuatu yang bernama "pengorganisasian"
Ya, idealis saya tetap pada kadar yang sama tetapi saya mengkombinasikan dengan teori "Hukum Kekekalan Energi" dimana energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, namun dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, begitupun dengan keidealisan saya

Saya bukanlah pemimpin yang baik, tetapi saya mencoba untuk selalu memberikan yang terbaik
Karena hidup ini untuk melayani
Visioner, Konsisten, dan selalu Semangat merupakan bukti nyata dari harga mati suatu Totalitas dan Loyalitas
Semua terbayar lunas saat kesuksesan yang begitu sederhana terpantulkan dalam pupil mata
Saya lelah tetapi saya bahagia

Terimakasih kepada segenap kawan sekaligus panitia
Kalian luar biasaaaaa
Saya harap ini bukan acara euforia sesaat tetapi menjadi agenda tahunan
Imposible is Nothing

Eureka!

Rabu, 22 Mei 2013

Refleksi Kajian Hati

Suatu hari ayahnya menghadiahinya sebuah cermin.
Panjangnya sekitar 80cm dengan lebar yang entah berapa krna tak dapat dikira-kira!
Sederhana
Hanya cermin datar tanpa hiasan apapun

Ia lihat parasnya dicermin
Tampak layu dan penuh kejenuhan
Jenuh akan keterbatasan dirinya yang belum jadi apa-apa
Belum bisa apa-apa

Satu hati terpantulkan
Rasa yg pnuh obsesi
Semangat
Serta efisiensi pikiran yang matang
Dan satu hati lg terefleksikan
Suram
Gurat-gurat lelah menghiasi stiap lengkung matanya
Serta keputusasaan!
Pandangannya semakin dalam.dalam..dan dalam..
Ayah memberikannya cermin bukan untuk menangisi keterpurukan dan bukan untuk menggelorakan sebuah ambisi
Tapi untuk satu hal yaitu mengkaji hati dari balik sinar mata yang kadang redup dan kadang bersinar itu..

Selasa, 21 Mei 2013

How can I always pretend?

Sometimes I feel down
Sometimes I feel suffer
Sometimes I feel broke
Sometimes I feel sad
Sometimes I feel confused
Sometimes I feel hurt
Sometimes I feel sick

But, sometimes I feel happy
Sometimes I feel glad
Sometimes I feel cheerful
Sometimes I feel I must accept the others
Sometimes I feel higher spirit
Sometimes I feel I must struggle

But, sometimes I feel angry
Sometimes I feel dissapointed
Sometimes I feel bad
Sometimes I lonely
Sometimes I feel misery

Many expression which I appear in my face, but not at all
If I angry, dissapointed, bad, lonely, misery, suffer, sad, confused, broke, sick, hurt, and down
I must pretend happy, glad, cheerful, having higher spirit, must struggle
The world cant wait me to realize my sadness, I always pretend keep happy

"If I wear a mask, I cant fool the world, but I can not fool my heart"

But it's doesnt matter ..

Yeah, Yeah, Yeah


Memasuki dimensi hijau dengan bertemankan Luigi
Menutup pintu dan jendela dan pejamkan mata lalu tutup indera pendengaran dengan musik penyemangat dan menolak hiruk pikuk kebisingan dunia sejenak

Hirup hawa jeruk dan menyentuh dinginnya dinding pembatas
Berguling - guling dihangatnya roti panjang yang seakan baru keluar dari pemanggang

Yeah, Yeah, Yeah...
Yeahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!

Partikel Beban


Maaf jika topeng ini telah retak dan bahkan rusak
Tak ada maksud untuk terlihat rentan, namun tak kuasa karena terlalu berat
Derai mutiara pun turun dari pelupuk mata

Apa yang salah ini?
Terlalu memusingkan persoalan sepele, atau menyepelekan persoalan yang memusingkan
Yang pasti dengan menceritakan dan menangis sembari tertawa adalah cara terbaik untuk mengeluarkan segenap partikel-partikel yang memberatkan ini

Dan ternyata saya ini masih manusia :)

Senin, 20 Mei 2013

Idealis, angel or demon?


Kembali
Kembali tersudutkan pada posisi seperti ini berulang-ulang dalam situasi yang berbeda
Mengapa terus menghinggapiku?

Entah darimana awalnya pemikiran seperti ini tumbuh dalam diri saya
Mungkin karena faktor lingkungan yang mendominasi
Mungkin bukan karena disekeliling saya adalah orang-orang yang seperti itu
Namun lebih tepatnya karena terpaan tantangan hidup yang membuat saya mempunyai pemikiran seperti ini

Idealis!
Ya itu pemikiran saya
Lebih tepatnya dinamakan pemikiran karena itu memang berada dalam pemikiran (dulunya) dan seiring sejalan, pemikiran ini pun terimplementasikan juga
Namun saya tetap beranggapan bahwa keidealisan ini adalah sebuah pemikiran

Saya dulu tak tahu bahwa hal yang sudah saya lakukan dari kecil adalah sebuah keidealisan,
Saya tahu kata idealis berasal dari Buku Sejarah yang sedang menceritakan tokoh NAZI bernama Adolf Hitler
Setelah disingkronisasikan dengan pemikiran saya ternyata amat sangat cenderung idealis.
Wow!

Saya menilai apa yang saya lakukan sesuai dengan visi dan cara pandang saya
Bahkan saya tak peduli bila saya akan cape sendiri, raga dan tenaga bahkan pikiran saya akan amat terporsir sekalipun
Bahkan saya tak peduli seberapa jauh saya harus berjalan hingga berlari dan telah terjatuh hingga tertatih sekalipun
Dan saya amat sangat tak peduli sekalipun saya harus kehilangan harta atau nyawa sekalipun untuk mencapai  obsesi dan rencana yang telah saya susun dengan matang
Semua demi satu kata : Kesuksesan!

Kesuksesan yang diraih itu dinilai secara subjektif menurut keidealan saya
Maka dari itu saat saya masih SD dan SMP keidealisan ini cenderung egois
Meski saya tahu itu hanya akan membuat tekanan pada diri saya tapi saya tak peduli yang terpenting ini harus sesuai

Saat saya SMA dan diarahkan diberbagai organisasi dan saya ditempatkan dibeberapa acara yang menjadikan saya sebagai Ketua Pelaksana, disinilah keidealisan saya teruji
Saya yang terbiasa menekan diri saya sendiri untuk push over limit kini saya disudutkan untuk menuntut anggota saya untuk seperti itu jelas itu tidak bijaksana
Saya tidak bisa sewenang-wenang pada orang lain, saya tidak berhak memposisikan orang lain menjadi saya
Kesewenangan atau keidealisan itu hanya berlaku pada diri saya

Disana saya mulai belajar menghargai pendapat orang lain
Saya yang tipikal orang yang selalu mendewakan ide saya dan menganggap yang lain hanya sekedar pelaksana dari ide saya, kini sudah mulai open minded
Namun lagi-lagi terpatri pada sosok idealisme ini
Terkekang karena saya harus mengorganisasikan setiap divisi-divisi bagian kegiatan tetapi diarahkan pada indikator keberhasilan menurut si Idealis ini

Dan sekarang sama
Bagi yang lain kesuksesan suatu acara berdasarkan berapa besar keuntungan yang diraih, seberapa banyak partisipan yang mengikuti
Tapi bagi si Idealis ini hal itu bukan bagian dari indikator keberhasilan, hal itu merupakan bonus
Indikator keberhasilan adalah bagaimana kita bisa mengemas acara dengan seapik mungkin, sesama anggota saling terkait dan solid dan partisipan dapat menangkap acara yang telah digagas, having meaning
Ya itu sudah cukup bahkan lebih bagi si Idealis
Namun mayoritas menuntut lain dan si minoritas idealis ini pun tertunduk
Bukan karena tak dapat mempertahankan tetapi galau yang diarahkan pada realita yang ada dan tuntutan pihak mayoritas
Meski si minoritas idealis ini pemimpin sekalipun tetapi jika mayoritasnya yang beranggapan seperti itu adalah anggotanya, berpura-pura bijaksana demi amankan wilayah bukanlah record si idealis

Aarrrgggghhhhh.....!
Ingin sekali lepas dari belenggu keidealisan ini, namun tak bisa dan memang tak terlalu ingin lepas
Bukankah hidup didunia ini yang hanya sekali ini adalah mencari kebahagiaan?
Jika mengikuti zona aman namun tak bahagia untuk apa?
Menuruti jalur hidup mayoritas tapi sengsara, lebih baik menjalankan jalan minoritas ini dengan kebahagiaan
Ya, indikator kebahagiaan menurut si Idealis

Kembali
Kembali pada keadaan seperti ini
Idealis yang bagai angel yang menyinari jiwa sekaligus demon yang menggerogoti tubuh

Minggu, 19 Mei 2013

Unpredictable But Basicly


Hahahahaha...
Saya tertawa ringan dahulu sejenak

Tak terasa sudah 4 semester telah saya lalui dengan predikat Mahasiswi
Hal yang paling saya dambakan saat saya masih SMA
Dan sekarang tercapai
Tetapi tak ada bedanya karena sekarang pun kuliah menggunakan seragam
Ya, saya kuliah di Jurusan Keperawatan Gigi
Dan jurusan ini hanya satu-satunya diwilayah Banten dan Jawa Barat
So special, right?

Semula tak ada sedikitpun terbersit dalam benak saya akan mengambil kuliah di jurusan kesehatan seperti sekarang
Saya tipikal yang teoritis, maka dari itu saya dulu berniat masuk HI, Hukum, atau Sastra.

Awalnya saya concern mengambil soal IPS sewaktu SNMPTN 2011 lalu dengan mengambil jurusan Sastra Inggris dan Ilmu Administrasi Negara (IAD) di Universitas Negeri di Bandung.
Saya amat ingin masuk IAD tetapi saya melihat teman-teman saya banyak yang lolos dipilihan dua dan tiga bukan pilihan pertama
Saya tak mau hal itu terjadi di saya, maka dari itu saya memilih untuk menaruh jurusan dambaan saya di nomor dua dan Sastra Inggris hanya jadi pancingan saja
Toh saya di SMA jurusan IPA lantas mengapa di SNMPTN saya bernyali besar untuk memilih soal IPS itu bukanlah hal yang mudah
Saya menganggap jurusan IPA yang keren itu ya kalau tak FK ya FKG tapi itu tak mungkin karena persoalan klise; biaya
Singkatnya, saya telah menyusun suatu strategi matang agar saya dapat lolos di IAD

Selanjutnya setelah saya SNMPTN, seseorang mengajak saya untuk daftar di tempat kuliah saya sekarang ini
Awalnya saya ragu, apakah benar saya memilih jurusan kesehatan tetapi saya coba saja

Setelah tes berbagai tes dilalui, saya lulus di kampus kesehatan itu dan seseorang yang mengajak saya itu dia tidak lolos
Saya tak enak hati pada dia

Dan ternyata strategi saya di SNMPTN gagal, saya malah lolos ke Sastra Inggris yaitu ke pilihan pertama
Saya kecewa tetapi saya harus bersyukur karena banyak teman saya yang tak lolos satu jurusan pun di SNMPTN

Dengan berbagai pertimbangan di kedua jurusan yang bertolak belakang, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di Jurusan Keperawatan Gigi (JKG) ini
Tentu hal ini bukan gambling namun ini dengan pertimbangan matang
Yang pertama Sastra Inggris bukan pilihan saya dan saya menganggap bahwa persoalan bahasa dapat dipelajari otodidak tanpa harus kuliah 4 tahun
Kedua, karena saya antimainstream dan ingin kuliah kesehatan yang masih buta untuk saya hadapi

Saya tanggalkan impian saya untuk menjadi Diplomat, dan seseorang yang hanya bisa teoritis
Saya ingin out of the box menjadi seorang perawat yang kualifikasinya di praktek

Banyak teman saya yang sekarang sekelas menyayangkan pilihan saya
Mereka beranggapan bahwa masuk sini adalah suatu zonk
Tapi tidak untuk saya
Meskipun saya akui ini berat karena sudah keluar dari comfort zone saya dan dihadapkan oleh dosen-dosen yang perfeksionis dan seabreg requirement pasien tetapi saya anggap ini tantangan hidup
Kalau hidup ingin flat, aman-aman saja maka hidup yang cuma sekali ini pun akan terasa hambar
Dan saya memilih untuk menjalaninya dan selalu bersyukur
Karena banyak teman saya yang ingin meneruskan kuliah tetapi karena satu dan lain hal tak bisa dan saya disini masih dapat berkuliah

Selanjutnya paradigma mengenai pendidikan dan kesehatan yang saya pikirkan selama ini ber-manuver
Dan saya telah pikirkan kedepannya

Ya, kadang sesuatu yang diinginkan bisa saja meleset dari perkiraan
Tetapi manusia hanya bisa berusaha dan Tuhanlah yang Maha Menentukan
Manusia tidak tahu apakah didepannya itu pilihan yang Tuhan beri, maka dari itu manusia senantiasa bersyukur akan segala nikmat

Kamis, 16 Mei 2013

Getar, Getir


Kegelimangan noda menutupi segala pusaran kehidupan
Menapaki kemunafikan dan kecemburuan dari khalayak dengan candaan kelu
Gaungan nurani menyeruak mengangkasa langit hijau
Segmen-segmen disetiap kehidupan mengisi relung

Peri-peri langit turun kebumi menebar bibit dengan kerlap-kerlip
Indah, kala senja datang menyertai
Tak dinyana bahwasanya mata senantiasa menanti
Pengakuan langit akan hadirnya insan

Pandangan lurus sembari menerawang
Diperhatikan awan di langit hujan yang enggan berceloteh
Angkuhnya sukma menutupi kegamangan jiwa
Berpoles pada kepalsuan yang berganti menjadi kenyataan

Senandung mengalun perlahan hingga berbisik
Disertai kicauan yang menemati sedu sedan ini
Getaran ini sungguh getir

Eat Well, Live Well


Saya sering menyepelekan hal kecil.
Kurang suka memperhatikan remeh temeh pada kehidupan saya pribadi.
Berbeda dengan hal lain diluar dari diri saya, saya orang yang selalu  memperhatikan hal yang detail.

Hingga suatu ketika negara api pun menyerang.
Menggerogoti dan membumihanguskan secara perlahan hal vital dari diri saya.
Dan saya menyadarinya setelah semuanya kian hari kian memburuk.

Orang-orang sering mengalami hal ini dalam skala kecil.
Lalu membiarkannya karena akan hilang sendiri.
Saya pun beranggapan seperti itu.

Dan itu tak lama.
Ternyata hal yang saya anggap kecil begitu besar efek yang ditimbulkan.
Kian hari kemunduran itu kian nyata.
Melemaskan dan melumpuhkan satu persatu sendi kehidupan saya.
Mengakibatkan ide yang bergelora ini tertahan dan mesti menahan untuk  tidak meledak karena kapasitas pertahanan yang regresif.

Kini saya tersudut pada suatu pilihan.
Memperbaiki dengan kemungkinan yang tipis atau menjalani dengan  kemungkinan tergerus.

Semuanya berputar-putar saja.
Dan saya akui ini adalah kesalahan saya.
Kesalahan fatal yang telat saya duga.

Dan saya memilih untuk menjalani karena saya pesimis untuk  memperbaikinya.
Alasan klise yang saya temui adalah saya tak mempunyai waktu untuk  memperbaiki.
Memperbaiki sama saja dengan berjalan ditempat, sementara dunia tak mau  menunggu saya ditempat.
Dunia yang dinamis ini tak mau menunggu.

Hal ini bukan egois tapi realistis.

Rabu, 15 Mei 2013

Paradigma Kekecewaan

Tarik nafas, Tahan... , Keluarkan perlahan...

Semburat senyum tersungging di sudut bibir.
Memainkan peran sebagai manusia ceria.
Sebabnya karena dunia enggan menunggu kesedihan.
Dunia tersaji dengan kemasan yang sempurna.

Kalanya lelah menyergap karena berusaha sempurna
Namun selalu terdapat hambatan
Kecewa hinggap
Namun tetap tersenyum

Lambat senja menutup kilauan bintang
Kecewa hadir pada sang matahari
Namun semuanya harus berjalan
Dan matahari harus tetap bersinar



Selasa, 07 Mei 2013

Sudah lama...

Waktu menjadikanku berkembang. Waktu pula yang menjadikanku menua. Namun, waktu tak mampu mematikan asa ini. Waktu hanya berjalan sebagaimana seharusnya. Dan aku berjalan semau pikiranku.

Waktu mengajariku arti kematian dengan mengakhiri setiap nafas yang telah kehabisan waktu.
Waktu mengajariku pula arti kehidupan dengan seiring nafas dan tangis bayi hadir disetiap waktu.

Waktu mengubahku dari bayi menjadi besar seperti ini, aku menyebutnya besar dibanding dewasa, sebab badanku telah tumbuh besar namun dewasa belum terlalu nampak hadir. Dan waktu pun mengikis kemampuan hidupku, bagai air laut yang mengabrasi karang laut.

Waktu tidak hanya persoalan lama atau sebentar, singkat dan panjang, tapi waktu memaknai hakikat jiwa yang mampu menobrak keangkuhan raga.
Ya, sudah lama nampaknya, gemericik kegusaran ini namun waktu tak kuasa menghapusnya dalam ingatan.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...