Kamis, 28 Mei 2015

Second Lead

Second Lead atau biasa disebut pemain nomor dua.
Dia bukan pemeran utama dalam sebuah cerita.
Dia peran kedua setelah peran utama.
Adegannya sudah jelas lebih banyak si pemeran utama.
Dia juga bukan cameo atau supporting actor.
Dia hanya pemain kedua.

Dia sangat akrab dengan cinta sepihak atau bertepuk sebelah tangan.
Dia menyimpan rasa cinta kepada si pemeran utama, namun apadaya Sang Sutradara sudah memilih bahwa pemeran utama harus bersanding dengan pemeran utama juga.
Tentu bukan tanpa usaha, si second lead ini pun mencoba untuk meraih hati dan cinta si pemeran utama, bahkan bisa dibilang bahwa si second lead ini memiliki perasaan jauh lebih tulus dibanding si pemeran utama.
Dia sangat dekat dengan patah hati.

Pemeran utama biasanya menangis dan terluka oleh sikap pemeran utama lainnya.
Dan datangnya si second lead yang memberi pundak, menghapus tangis, bahkan menghibur.
Setelah bahagia, maka pemeran utama kembali ke pangkuan si pemeran utama lainnya.
Dan second lead pun hanya menelan pil pahit dan dia patah hati.

Second Lead kadang berubah menjadi tokoh antagonis.
Dia mengerahkan segala cara agar si pemeran utama bersanding dengannya.
Dia menjadi jahat dan cinta tulusnya berubah menjadi hitam dipenuhi arogansi.
Namun tetap saja dia patah hati.
Bahkan dengan cara tulus dan manis pun tak dapat merengkuh sang pemeran utama, apalagi menggunakan cara jahat laksana penyihir.
Dia kembali menelan ludah.

Dia tak dapat menyalahkan Sang Sutradara.
Ini mungkin sudah jadi bagian dari skenario-Nya.
Dia hanya pemain baru yang belum banyak jam terbangnya, atau dia bisa saja pemain lama namun belum siap naik kasta jadi pemeran utama.
Ya...Dia patah hati dari berbagai arah.

Second Lead ini demi naik kasta menjadi pemeran utama, dia tampilkan segenap kemampuannya.
Meskipun dia hanya pemain lapis kedua, hanya jadi sandaran si pemeran utama saat sedih, yang selalu tak dipilih oleh si pemeran utama, yang hanya mampu menatap dari jauh, namun dia tak pernah mundur.
Sebab yang terpenting adalah proses mencintai bukan dengan siapa dia akan bersanding.
Karena bermula dari pemain kedua, dia akan menjadi pemeran utama.

Jumat, 08 Mei 2015

Ibu, Master of Encryption

Sosok perempuan paruh baya berdiri didepan sebuah gapura bercat biru sembari membawa payung besar yang dia genggam oleh tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengangkat payung hijau untuk melindungi tubuhnya dari rintikkan hujan. Dia nampak menunggu seseorang. Tidak terlihat ekspresi jenuh di raut mukanya. Yang terlihat adalah wajah rindu menanti seseorang yang bisa saja sangat dia rindukan kehadirannya. Lalu dari kejauhan tampak seorang anak perempuan berlari mendekati perempuan paruh baya itu.
"Ibu.." Sapa anak perempuan itu. Wajah anak itu berseri mendekati Ibunya rasanya ingin segera memeluk.
"Ini payungnya." Perempuan paruh baya yang disebut itu memberikan payung kepada anaknya.
Dia pun tak jadi memeluknya. Tangannya diremas lalu mengambil payung dan membukanya.
"Ibu, tahu tidak kalau,.... bla...bla...bla.." Anak itu menceritakan segala macam hal hingga lupa titik koma dalam sebuah pembicaraan. Rasanya seluruh hal yang dia alami di perantauan ingin dia curahkan pada Ibunya.
"Oh.." Jawab Ibu sekenanya.
No response suppossed to be.
Anak itu tidak jadi meneruskan ceritanya. Mood-nya seketika hilang, menguap ke angkasa yang akan menjadi embun di pagi hari.

Ibu, The most frozen woman ever. Mungkin Elsa juga kalah.
Tak banyak bercerita. Tak banyak tawa. Namun sering menangis tiba-tiba.
Beberapa kali dibuat bingung. Ini maksudnya apa. Perasaan Ibu seperti apa.
Jika bertanya Ibu kenapa,hanya derai air mata jawabannya.
Apakah Ibu sulit mengekspresikan apa yang Ibu rasakan.
Tapi Ibu paling senang menceritakan anak lelaki sulungnya. Rasanya begitu bangga mempunyai anak sepertinya. Menjadi abdi negara berpangkat dan disegani banyak orang.
Namun pil pahit menodai kebanggaannya.
Ketika tak semua buah di pohon memberikan rasa yang sama.
Akhirnya keluhan demi keluhan terlontar dari mulut Ibu.
Rasanya gelar the most frozen woman ever kini beralih kepada anak perempuan semata wayangnya.

"Ndo.. Ibu rasa, bla...bla...bla..." Ibu membuka cerita mengisahkan betapa pelik dan menderita hidupnya.
"Oh.." Anak perempuan itu menjawab sekenanya. "Enggeh, Bu, Iya.. Oh.. Hmm..." hanya itu kata perkata yang anak perempuan itu lontarkan.
Hingga suatu waktu anak perempuan itu pulang kerumah, rencananya ingin melepas rindu namun apa yang didapat hanya sekumpulan keluhan. Dia tak lebih dari Departemen Sosial atau mungkin samsak.
Anak itu mengunci diri di kamar. Memakai earphone tanda dia menolak segala suara kecuali lagu kesukaannya.
Ini persoalan siapa yang tidak mengerti keadaan satu sama lain. Siapa yang tidak bisa membaca hati sama lain. Atau siapa yang tidak peka.

Rasanya hidup begitu teramat susah kala usia semakin bertambah. Apakah ini bagian dari proses pendewasaan yang tak pernah kunjung usai.
Rasanya ingin sekali mengutarakan satu sama lain, apa inginnya, apa yang diharapkan, semua tak pernah mencapai titik temu, semua tak pernah akan seperti itu.
Saling memprediksi dan saling merasa dirinya adalah korban.

Sejak kecil Ibu melarang anak perempuan itu bermain dengan sebayanya. Jika ada yang ke rumah, selalu dikatakan bahwanya anaknya sedang tidur atau anaknya sedang belajar.
Jangan berkomunikasi dengan siapapun, ke sekolah hanya belajar.
Jadilah anak perempuan itu menjadi anak kutubuku, tak punya kawan, hanya segudang musuh dan malah jadi korban pem-bully-an karena terlihat eksklusif.
Lalu saat anak perempuan itu menginjak dewasa, dia menjadi rebel.
Dia tak pernah sekalipun membantah omongan orang tua. Jika mendapat khotbah, dia hanya diam tak berucap sama sekali. Tapi pikirannya menolak semua omongan itu. Dia tetap akan mengulanginya lagi, hanya saja jika dia membantah, dia akan kehilangan tenaga percuma. Dia tak akan melawan hal dengan kemungkinan kekalahan yang besar.
Dia ingin bebas. Hampir 10 tahun dia terkurung dalam rumah. Dia tak hanya sekedar si kutubuku, dia ingin mempunyai teman, dia ingin aktif. Hingga dia pun berbohong, berucap bahwa dia belajar kelompok, padahal dia main atau rapat organisasi.
Jelang masa lulus sekolah, Ibu berubah jadi diktator tangan besi. Dia ingin semua anaknya menjadi seperti dia inginkan, tanpa melihat anaknya berada pada potensi apa.
Apa Ibu tahu jika anaknya mengikuti olimpiade Kimia? Jika anaknya mendapat nilai tertinggi saat masuk SMP? Jika anaknya murid teladan waktu SD? Jika anaknya juara lomba debat B.Inggris? Jika anaknya menyukai teater? Jika anaknya senang menulis naskah drama? Jika anaknya ingin jadi seorang kimiawan? Anaknya ingin jadi translater? Apakah Ibu tahu?
Tidak.
Tentu saja, tidak.
No matter what happen, no matter what you desire, I judge you what I want.
Tak akan tinggal diam.
Anak itu melawan hingga akhirnya dia bisa....
Kuliah.

"Yeah, sekarang saya mahasiswi." Teriak dia kegirangan.
Kuliah jam 7 pagi tak pernah dia lalui dengan kejenuhan. Segala tugas dia kerjakan.
Mungkin dia prokrastinasinya jagoan, tapi tak pernah lari dari deadline meski terkadang sering last minutes, but she was happy for doing that. That's what she wants. 
Dan Ibu sedikit melunak. Entah melunak, entah memang ada sesuatu yang bisa saja jadi bom waktu, hingga 1 bulan setelah kelulusan...
Boom! Boom! Boom!
Dia terkulai lemas. Dia menjatuhkan sebuah kertas bertuliskan "Lulusan Terbaik".
Hati dan usahanya seakan tercabik oleh mahluk visioner yang tak bertanggungjawab.
Mimpi kuliah mungkin hanya sampai ahli madya, begitu ujar mahluk visioner kebanggaan Ibu itu.
Kini anak perempuan itu menanggung kesalahan seseorang.
Seseorang yang dulunya sering mengajarinya bagaimana bertahan disaat serangan dari berbagai arah mata angin datang. Bagaimana harus menjadi orang yang tak bisa diprediksi, bagaimana hidup harus meaningful, harus idealis, harus berbeda tetapi tetap keren.
Bullshit. That's theory. I just grown up by my way.
Begitu teriak anak perempuan itu.
Ini konspirasi. Tetapi tak tega rasanya melihat Ibu menangis seperti itu.

"Ibu, apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya Ibu rasakan? Katakan! Katakan! Saya akan selalu berburuksangka jika Ibu tak pernah mengatakannya dengan jelas. Saya akan selamanya tak pernah mengerti Ibu. Saya akan....." Anak perempuan itu tak mengatakan apa-apa. Dia hanya tertunduk. Bahkan air matapun tak dapat mewakili perasaannya saat itu.
Lalu hanya satu kata keluar dari mulutnya, "Iya, Bu."
Setelah itu saatnya berpikir keras bagaimana sekaligus bisa mewujudkan mimpinya, dengan mengiyakan permintaan Ibu.
Headache.
Heartache.

Matahari mungkin rasanya sudah meninggi. Namun anak perempuan itu masih berkutat pada selimut kucelnya. Lalu handphone berdering. Membangunkan dia dari mimpi singkatnya.
Dia meraih handphone-nya dengan malas.
"Iya, Halo."
"Ndo..." Terdengar suara wanita paruh baya.
"Oh..Ibu, ada apa?"
"Jangan lupa, ya, Ibu tunggu."
Anak perempuan itu menghela nafas panjang.
Ibu seharusnya Ibu juga mengatakan hal itu kepada anak kebanggaan Ibu. Apa karena saya bukanlah anak yang menuruti keinginan Ibu dulu, Ibu jadi terus menekan saya. Ibu saya lelah, Bu, saya sakit. Mengapa Ibu tak menanyakan kabar saya dulu. Mengapa Ibu begitu dingin. Mengapa Ibu begitu kejam kepada saya, Bu. Apakah saya tidak berbakti hingga Ibu menghukum saya sedemikian rupa. Apakah mempunyai anak seperti saya hanyalah beban bagi Ibu.
"Iya, Bu."
"Baik-baik ya."
"Iya, Bu." Anak perempuan yang selalu mengiyakan apapun yang Ibu katakan itu pun menutup teleponnya.
Dia melanjutkan tidurnya dan berharap tak akan terbangun lagi.

Selasa, 05 Mei 2015

Kamar Hijau

Disebuah kamar bernuansa hijau dari mulai dinding, sprei yang melapisi kasur tipisnya, hingga sebuah boneka besar berkumis kesayangannya pun didominasi hijau.
Hijau adalah warna yang menenangkan, baginya. Tidak hanya sekedar warna kesukaan. Tetapi malah lebih memberikan efek "sedasi" padanya.
Dia yang meletup-letup seperti gunung berapi yang kapan saja bisa menyemburkan lava didalamnya, seketika begitu tenang jika berada didalamnya.
Tempat yang dingin dengan sejuta keheningan.
Tempat yang dibentengi dinding yang tak pernah lelah mendengar setiap celotehannya tentang ketidakadilan dunia kepadanya.
Tempat dengan sejuta tissue bertebaran dilantai jika suara saja tak mampu menjelaskan segalanya.
Tempat dengan segala kebisuan yang menatap sendu ketika dia mengerang kesakitan sendirian tanpa ada seorang pun tahu.
Tapi dia begitu jujur kepadanya.
Dia mencurahkan segalanya.
Karena dia tak pernah merasa jenuh mendengarkan cerita yang melulu itu-itu saja.
Dia memang tak pernah memberi pundak saat sedih datang.
Tak pernah ikut tertawa ketika melihat gerakan yang aneh serta gimik-gimik naskah yang selalu dia perankan.
Dan selalu ada.
Itu yang pasti.
Lelah selalu berujung disini.
Tidur dan kembali menatap langit-langit kamar.
Menatap sendu, kosong, dan hampa.
Tetapi dia ada dan selalu ada.
Tanpa mengeluh balik.
Apa karena dia hanya benda mati?
Bukan, dia adalah taman dengan sejuta ketenangan yang selalu tertutup, takkan dibiarkan terbuka kecuali atas keinginannya.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...