Jumat, 13 September 2013

Dislike Children!!

Selamat datang di semester 5..!!
Seruan itu menyeruak saat pertama kali menjajaki semester ini.
Notabene sebagai mahasiswa tingkat akhir pun siap disandang
Yeah, tinggal 2 semester lagi maka genap saya akan bergelar Amd.Kepgi dan bertoga ria pada September 2014 (aamiin..)
Namun, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa itu bukanlah hal yang mudah
Pasti bakal ada proses panjang yang mengiringi dan sangat terjal tentunya ditahun-tahun terakhir ini
Tapi perlu diketahui saya tidak sendiri, masih ada 37 orang lagi di kelas saya, dan masih ada mungkin sekitar 400 orang di kampus saya yang merasakan hal yang sama

Salah satu hal yang tak dapat saya prediksi solusinya adalah Merawat kesehatan gigi dan mulut Murid SD
Yap, itu merupakan salah satu mata kuliah dengan segenap requirement yang tidak sedikit dan saya akan mempunyai siswa asuh yang mesti saya rawat kesehatan gigi dan mulutnya sampai tuntas
Secara teori dan praktikum saya siap karena sudah 2 tahun bergelut dengan dunia kesehatan gigi dan mulut, ya.. meskipun belum terlalu expert. Namun, tantangannya disini adalah merawat anak usia SEKOLAH DASAR (saya capslock nih :p )
Bagaimana saya bisa menangani bocah yang seumuran adik saya, sekitar usia 6 tahun sampai 12 tahun?
Masa anak dimana senang bermain dan berulah tentunya..

Saya jujur tidak menyukai anak kecil, bahkan saya acuh sekali pada adik saya sendiri
Memikirkannya saja sudah tidak sanggup
Harus memasang muka manis, tersenyum palsu, dengan tingkah yang hampir menyerupai mereka -gaya sok-sok anak kecil, dan mengajukan pertanyaan basa-basi pada mereka. Jujur, it's not my track record!

Semua kini sudah jalan 3 hari, tetapi baru awal saja sudah kelimpungan
Apalagi saat hari ini ketika saya dan tiga teman lainnya harus mengajari bocah kelas 1 SD menyikat gigi dengan baik dan benar
Tubuh mereka setengah dari tinggi badan saya, anaknya nurut sekali tetapi mereka perlu usaha dan tenaga serta cuap-cuap extra untuk mengajari mereka menyikat gigi
Bahkan cara memegang sikat giginya pun mereka belum bisa
Semua teman saya menikmati gelak tawa dengan mereka, tetapi hal ini begitu sulit untuk saya

Dan saya harus mendekam selama lebih dari 2 bulan di SD, berkutat dengan anak-anak SD yang giginya berantakan dan tingkah polah mereka yang harus membuat saya banyak mengelus dada
Mengapa harus ada requirement seperti ini? Mengapa harus ada matakuliah seperti ini?
Harus mulai dari sekarang mencari solusi, Harus!!

Senin, 09 September 2013

Neraca awan dan bumi

Manusia hidup menurut insting, perasaan, dan logikanya
Manusia hidup menapaki bumi, berpayungkan awan
Bagi manusia itu adalah sebuah neraca yang letak keseimbangannya manusia yang mengatur

Awan adalah sang pencerah yang telah menutup teriknya matahari agar sengatnya tak membakar kulit tipis manusia
Awan pembendung uap air dan menahannya diangkasa
Dikala beban air terlalu berat, awan pun menghaturkan percikan air ke bumi
Menyejukkan gersangnya bumi akan lalu lalang dan kesibukan manusia
Awan menyerukan pertemuan muatan positif dan negatif yang akan direfleksikan dalam
kilatan listrik diangkasa
Awan berada diatas, memerhatikan tingkah pola manusia yang berlaku

Lantas bagaimana dengan Bumi?
Dia tempat berpijak manusia-manusia dan segala yang melengkapinya
Menjadi saksi akan tingkah polah keangkuhan manusia
Tanpa sadar didalamnya terdapat cairan panas yang apabila tak terbendung dapat meluap tak terkendali meluluhlantakkan semua yang berada diatasnya
Kala kotoran - kotoran yang manusia ciptakan meracuni Bumi, membuat rusak dan tak sedap ditinggali
Namun Bumi senantiasa berjalan sebagaimana mestinya, berputar meski sedang sakit menahan luka
Tetap bergerak tanpa tahu hakikatnya dia bersedih

Awan dan Bumi melengkapi si Manusia tersebut, tanpa Awan, manusia kering tandus oleh terpaan matahari
Tanpa Bumi, Manusia akan berpijak dimana?
Maka dari itu, selalu dampingi dan tegur pabila kegelapan jiwa mulai mengatur

Ekspetasi Terlalu Tinggi

Jika membuka kembali asa yang telah terkubur lama dalam persemayaman otak, kadang enggan untuk membongkarnya kembali
Tetapi ternyata hal ini diluar kuasa, ketika kasus yang sama menimpa
Namun beda pelaku, beda waktu, beda situasi, namun entah mengapa di rasa begitu sama
Dan kembali harus membongkar, kembali

Butuh usaha yang keras dan teramat gigih untuk merefleksikan bongkahan-bongkahan tersebut menjadi sesuatu yang utuh kembali
Kadang suara di otak berceracau, mengungkap bahwa untuk apa di bongkar?
Sesuatu parut itu, kini harus dibuka kembali dengan alasan yang tak bisa diterima oleh jiwa manapun
Alasan sepele, karna ini kasus yang sama, persis mungkin lebih tepatnya
Lantas kalau sama, apakah penyelesaiannya harus sama?
Caranya harus sama?
Pelakunya berbeda, situasi, dan waktunya pun sudah lain
Lantas begitu kukuh untuk memaksanya untuk membongkarnya kembali..

"Ini dapat terselesaikan dengan cara yang sama! Toh yang kemarin hasil penyelesaiannya baik?!" Kembali ceracau itu mengusik
Kendali, Kendali ini lepas
Ternyata otak kukuh ingin membongkar hal yang telah tertutup rapat ini
Dia menaruh ekspetasi tinggi bahwa kasus ini akan terselesaikan dengan cara yang sama

Dan sialnya, tak dapat dikendalikan!

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...