Senin, 09 September 2013

Neraca awan dan bumi

Manusia hidup menurut insting, perasaan, dan logikanya
Manusia hidup menapaki bumi, berpayungkan awan
Bagi manusia itu adalah sebuah neraca yang letak keseimbangannya manusia yang mengatur

Awan adalah sang pencerah yang telah menutup teriknya matahari agar sengatnya tak membakar kulit tipis manusia
Awan pembendung uap air dan menahannya diangkasa
Dikala beban air terlalu berat, awan pun menghaturkan percikan air ke bumi
Menyejukkan gersangnya bumi akan lalu lalang dan kesibukan manusia
Awan menyerukan pertemuan muatan positif dan negatif yang akan direfleksikan dalam
kilatan listrik diangkasa
Awan berada diatas, memerhatikan tingkah pola manusia yang berlaku

Lantas bagaimana dengan Bumi?
Dia tempat berpijak manusia-manusia dan segala yang melengkapinya
Menjadi saksi akan tingkah polah keangkuhan manusia
Tanpa sadar didalamnya terdapat cairan panas yang apabila tak terbendung dapat meluap tak terkendali meluluhlantakkan semua yang berada diatasnya
Kala kotoran - kotoran yang manusia ciptakan meracuni Bumi, membuat rusak dan tak sedap ditinggali
Namun Bumi senantiasa berjalan sebagaimana mestinya, berputar meski sedang sakit menahan luka
Tetap bergerak tanpa tahu hakikatnya dia bersedih

Awan dan Bumi melengkapi si Manusia tersebut, tanpa Awan, manusia kering tandus oleh terpaan matahari
Tanpa Bumi, Manusia akan berpijak dimana?
Maka dari itu, selalu dampingi dan tegur pabila kegelapan jiwa mulai mengatur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...