Manusia hidup menurut insting, perasaan, dan logikanya
Manusia hidup menapaki bumi, berpayungkan awan
Bagi manusia itu adalah sebuah neraca yang letak keseimbangannya manusia yang mengatur
Awan adalah sang pencerah yang telah menutup teriknya matahari agar sengatnya tak membakar kulit tipis manusia
Awan pembendung uap air dan menahannya diangkasa
Dikala beban air terlalu berat, awan pun menghaturkan percikan air ke bumi
Menyejukkan gersangnya bumi akan lalu lalang dan kesibukan manusia
Awan menyerukan pertemuan muatan positif dan negatif yang akan direfleksikan dalam
kilatan listrik diangkasa
Awan berada diatas, memerhatikan tingkah pola manusia yang berlaku
Lantas bagaimana dengan Bumi?
Dia tempat berpijak manusia-manusia dan segala yang melengkapinya
Menjadi saksi akan tingkah polah keangkuhan manusia
Tanpa sadar didalamnya terdapat cairan panas yang apabila tak terbendung dapat meluap tak terkendali meluluhlantakkan semua yang berada diatasnya
Kala kotoran - kotoran yang manusia ciptakan meracuni Bumi, membuat rusak dan tak sedap ditinggali
Namun Bumi senantiasa berjalan sebagaimana mestinya, berputar meski sedang sakit menahan luka
Tetap bergerak tanpa tahu hakikatnya dia bersedih
Awan dan Bumi melengkapi si Manusia tersebut, tanpa Awan, manusia kering tandus oleh terpaan matahari
Tanpa Bumi, Manusia akan berpijak dimana?
Maka dari itu, selalu dampingi dan tegur pabila kegelapan jiwa mulai mengatur
Manusia hidup menapaki bumi, berpayungkan awan
Bagi manusia itu adalah sebuah neraca yang letak keseimbangannya manusia yang mengatur
Awan adalah sang pencerah yang telah menutup teriknya matahari agar sengatnya tak membakar kulit tipis manusia
Awan pembendung uap air dan menahannya diangkasa
Dikala beban air terlalu berat, awan pun menghaturkan percikan air ke bumi
Menyejukkan gersangnya bumi akan lalu lalang dan kesibukan manusia
Awan menyerukan pertemuan muatan positif dan negatif yang akan direfleksikan dalam
kilatan listrik diangkasa
Awan berada diatas, memerhatikan tingkah pola manusia yang berlaku
Lantas bagaimana dengan Bumi?
Dia tempat berpijak manusia-manusia dan segala yang melengkapinya
Menjadi saksi akan tingkah polah keangkuhan manusia
Tanpa sadar didalamnya terdapat cairan panas yang apabila tak terbendung dapat meluap tak terkendali meluluhlantakkan semua yang berada diatasnya
Kala kotoran - kotoran yang manusia ciptakan meracuni Bumi, membuat rusak dan tak sedap ditinggali
Namun Bumi senantiasa berjalan sebagaimana mestinya, berputar meski sedang sakit menahan luka
Tetap bergerak tanpa tahu hakikatnya dia bersedih
Awan dan Bumi melengkapi si Manusia tersebut, tanpa Awan, manusia kering tandus oleh terpaan matahari
Tanpa Bumi, Manusia akan berpijak dimana?
Maka dari itu, selalu dampingi dan tegur pabila kegelapan jiwa mulai mengatur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar