Selasa, 17 Mei 2016

Mem[di]beri Cinta, Kak

Adakah cinta yang tulus kepadaku? Adakah cinta yang tak pernah berakhir?
Selalu untuk selamanya...

Ya, kalimat diatas merupakan lagu klasik era tahun 90-an, mengenai seseorang yang mempertanyakan tentang keberadaan cinta yang tulus. Adakah hal tersebut didunia ini?
Orang yang mempertanyakannya pasti "belum" mendapatkan cinta yang tulus versi dia.

Tulisan ini bukan cinta yang tulus antara pasangan pria dan wanita. Tetapi cinta antara saudara.
Karena memang cinta itu universal, kan? Bisa apa saja.
Contohnya saja, kita mau mencintai seseorang jika seseorang itu mencintai kita.
Padahal hakikat cinta itu memang memberi, karena cinta itu mencintai, terlepas orang tersebut mau mencintai kita atau tidak, itu jelas urusannya. Bukan urusan kita.

Ini naif, ya, sangat naif.
Dunia ini berlaku take and give. 
What you give, what you get.
Hidup ini adalah budaya pamrih.
Bahkan hal setulus cinta pun pamrih.

Kisahnya dimulai dari seorang adik perempuan.
Dia mempunyai seorang kakak dan adik laki-laki.
Sebab jarak umur yang relatif dekat, dia cenderung dekat dengan si kakak.
Sementara dengan adik bungsunya, dia yang cenderung kesepian karena diacuhkan oleh kedua kakaknya.

Adik perempuan ini menuntut lebih pada kakaknya, dia ingin diperhatikan.
Dia ingin kakak bisa berperan ganda.
Menjadi sahabat, penjaga, dan saudara.
Lalu seiring waktu keadaan, sang kakak pun harus menjalani kehidupannya sendiri.
Adik perempuan tak dapat menuntut lebih.
Dia memandang sudut lain, ada adik laki-lakinya terduduk di pojokan.
Ingin sekali mendekati adiknya, namun nanti mau berbicara apa, mau melakukan apa.
Jarak usia terlalu jauh, menjadi celah besar bagi mereka.
Pasti tidak nyambung, dia hanya anak kecil. Gumam adik perempuan.

Jika sama-sama kesepian, mengapa saling terdiam?
Mengapa tak mulai saling mendekat daripada hanya melihat kejauhan?

Adik perempuan itu sangat menyayangi kakak laki-lakinya, dia pun (berusaha) menuntut haknya kembali.
Tetapi keadaan sudah berubah, ada hal yang perlu kakak laki-lakinya perhatikan.
Masanya telah selesai. Bukannya semakin orang menjadi dewasa dia hanya akan memikirkan urusannya sendiri? Tetapi adik perempuan tak mengerti, if I give one, I must take one too.
Pamrih.
Adik perempuan ini belum dewasa, atau mungkin dia enggan menjadi dewasa.

Adik perempuan lalu membuat dunianya sendiri selepas ditinggal kakaknya.
Dia menenggelamkan dirinya dalam kesibukan yang dia buat sendiri.
Dia ingin menjadi dewasa seperti kakaknya.
Lalu, adik laki-lakinya menghampiri.
"Kak, ayo main!"
"Aduh, dek, nanti saja, kakak lagi sibuk, main saja diluar."
Adiknya pun pergi.
Penolakan-penolakan demi penolakan adik laki-lakinya terima.
Tak ada yang mau bermain dengannya.
Tak ada yang mau berbicara dengannya.
Dia kembali terduduk di sudut, sendiri, sepi

Adik laki-laki itu menghampiri kakak perempuannya. Dia mengumpulkan kekuatan terakhir yang dia punya.
Dia punya segudang benang kusut dikepalanya, dia meminta kakaknya meluruskan benang itu.
Dia menuntut lebih. Merengek minta diperhatikan oleh kakak perempuannya yang sok sibuk.
"Kak, tidak ada waktu buat aku?"
"Kakak sibuk, dek."
"Kakak sibuk terus."
"Ya, kan kalau orang dewasa pasti sibuk, Dek, nanti kamu kalau sudah dewasa juga pasti sibuk."
"Ngga mau, adek ngga mau menjadi dewasa. Dewasa itu menyebalkan. Maunya dapat lebih padahal kasihnya sedikit."
Kakaknya yang sedari tadi sibuk pun, menghentikan aktivitasnya, dia memperhatikan adiknya yang nampak menahan gertakan digiginya.
"Kakak juga begini kan ke kakak, kakak pengen diperhatikan lebih sama kakak, adek juga mau hal seperti itu. Adek punya kakak dua orang tapi semua sibuk, adek juga ingin diperhatikan. Kakak pernah nanya apakah adek sudah mengerjakan PR, apa adek ada kesulitan ngga ngerjain PRnya, kak pernah nanya itu ngga?! Kak pengen diperhatiin sama kakak, tapi kak juga ngga merhatiin aku, kak sama aja sama kakak!!"

Kakak perempuan itu hanya bisa memandang adik laki-lakinya pergi.
Dia tertegun dan tak dapat berkata apa-apa.
Cinta yang katanya tulus itu pamrih.
Coba saja kau hanya menyayangi kakakmu tanpa harus kau menuntut kakakmu melakukan hal yang sama. Maka mungkin adikmu pun akan melakukan hal yang sama.
Apa yang kamu tuai itu yang akan kamu tanam. 
Coba saja kamu meluangkan waktumu untuk adikmu, kakakmu pun akan melakukan hal yang sama. 
Semua ini seperti seorang hamster yang beerlari di roda kandangnya.
Berputar-putar tak henti. 
Menjadi dewasa itu perlu, tetapi apakah lantas menjadi pamrih?
Kalimat-kalimat itu berceracau.

Tanpa solusi, berakhir antiklimaks.
Hanya bisa menjadi bahan refleksi.
Semoga akan selalu teringat di hati, bahwa cinta tak selamanya ingin diberi. 



 

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...