Langit ibukota yang kulalui mulai menguning, lambat-laun warnanya semakin pekat, tanda terik siang akan beralih pada pekatnya malam.
Ku langkah gontai menelusuri tangga stasiun, sesekali langkahku terhenti karena lututku terus gemetar.
Ku melihat bangku tunggu kereta sudah di duduki banyak orang, dan ku sudah pasti berdiri menunggu kereta datang, kaki ini sudah sangat kaku dan punggung pun sudah linu ingin rasanya segera bertemu kasur. Namun perjalanan masih jauh.
Ku tak tahan, hingga akhirnya ku duduk di lantai pinggir peron.
Rok biru mudaku jelas sudah kucel dan kotor, ku tak peduli, ku hanya ingin duduk.
Lalu ku rogoh tas ku, ku buka buku catatanku, terselip sebuah kartu nama.
Ku pandangi lekat-lekat kartu nama itu, dan seketika rasanya bola mataku dipenuhi oleh sesuatu yang basah.
"Ah..apa ini?" Tanya batinku.
Suara yang memberitahukan bahwa kereta tujuanku akan segera datang, ku bergegas berdiri. Namun serangan dari orang-orang yang tengah berburu waktu membuatku hilang posisi dan kereta lewat di depanku sudah sangat berdesakan.
Sudah jelas ku kalah dalam pertarungan desak-desakan itu, bertemu kasur akan menjadi semakin lama, tetapi gerbong kereta pun sudah sangat sesak.
Ku lewatkan kereta itu begitu saja.
Ku tak melanjutkan duduk di lantai dan berharap kereta tujuanku akan segera datang.
Hampir saja lupa, ada sebuah kartu nama yang tadi ku pegang.
Ku selipkan kedalam buku catatan yang ku taruh dalam tas.
Tak berapa lama keretanya tiba dan tidak terlalu berdesakan, meskipun tidak longgar juga, tapi setidaknya ku dapat masuk walaupun tak dapat tempat duduk.
Dinginnya Air Conditioner didalam kereta membuat wajahku yang berminyak menjadi kaku dan lututku masih gemetar. Ku pegang erat gantungan di kereta menjaga tubuh agar tidak oleng. Ku diam dan pikiranku pun lari pada kejadian beberapa jam lalu sebelumnya yang mungkin menjadi salah satu penyebab lututku terus bergemetar.
***
Hari itu aku memutuskan untuk produktif meski sedang akhir pekan untuk datang ke sebuah pameran pendidikan.
Ya, tidak memiliki tujuan jelas, hanya sekedar jalan-jalan dan semoga mendapat referensi untuk melanjutkan studi.
Tiba disana selepas tengah hari dan sedang waktu istirahat.
Ku menunggu sambil menyaksikan hiburan yang telah disediakan oleh panitia.
Pameran pun telah dibuka, ku menjelajah satu booth ke booth lainnya.
Bertanya-tanya hal standar seperti kapan ujian masuknya, soalnya apa saja, biaya, studi, dan sebagainya. Mengumpulkan berbagai brosur dan goodie bag.
Hingga sampailah di satu booth sebuah universitas terkemuka di dunia.
Seorang mbak-mbak menyapa aku terlebih dahulu dan ku ceritakan bahwa aku mencari program master, kalau bisa sekalian dengan beasiswanya.
Lalu mbak itu bertanya apa jurusanku, setelah ku jawab, dia langsung berkata bahwa Kepala Penelitian program studi yang aku tuju juga ada di booth tersebut.
Ku di kenalkan dan beliau begitu ramah tersenyum lebih dahulu padaku.
"Hello, What's your name?" Ucapnya.
"My name is Retno". Ku juga mengenalkan bahwa aku masih kuliah dan sedang mencari program studi lanjut master sekalian beasiswa sebab jika biaya sendiri baik aku maupun orang tuaku sudah tidak akan bisa menanggungnya.
Matanya sangat berbinar ketika mendengar penjelasanku mengapa aku ingin lanjut master, mengapa aku memilih program studi itu, dan apa tujuanku nanti.
"Do you have any research abt that? Or still working out?" Ucapnya.
"Ah.." Aku ingin menjawab iya, namun aku pun ragu sebab penelitian yang sedang aku tulis itu tak ku lanjutkan lagi, ku sudah hilang mood dan semangat untuk melanjutkan.
Namun entah mengapa bibirku tiba-tiba berkata iya, dan jari jemari mencari folder itu dalam google drive-ku.
"But, I'm so sorry its still lacking and I don't finish yet."
"It's fine. "
Dia membaca dengan seksama abstrak dan poin-poin yang sudah aku tulis.
Ku gigit bibirku dan menyesali mengapa memperlihatkannya, itu masih kesana-kemari dan sebuah gagasan penelitian yang ditolak oleh kampusku, lalu ku berikan pada seorang Profesor yang jabatannya mungkin setingkat dekan jika dikampusku, ku mengutuk diriku sendiri bahkan untuk melihat wajah beliau saja aku sudah tak sanggup.
"Well.." Beliau memecah ceracau penyesalan dalam pikiranku.
"Woah, I never imagine it before."
"Hah? Ini maksudnya apa? Ah..tuhkan jelek, aduh kebodohan sekali sih, No." Batinku terus saja menyesali dan menyalahi keputusan ini.
"If you take this research to our univ, I'll be taking full of you."
"Full?"
"Yes, you will be part of our univ and everything is gonna be free." Dia mengatakannya dengan tersenyum, sementara jantungku rasanya berdetak 2x bahkan 3x lebih cepat.
Apa ini maksudnya, ini mimpi, ini maksudnya apa, dia berkata itu artinya apa. Seakan semua ceracau penyesalan tadi berubah menjadi ceracau kebingungan.
"Prof, it's real?" Ucapku bergetar namun ingin memastikan.
"Sure, absolutely. So, you fix this proposal and send to me. I'll be taking care of you, and you will be student of our univ and become my student. Oh, it's my name card. You can send your proposal to my email, I always check my email."
"Prof.."
"I'm very excited abt your reseach, it's new and unique, if you can take this into global case, I'm really sure you will be outstanding there. "
Makin bingung untuk berkata-kata. Gila. Ini gila. Bangun! Bangun! Ku cubit tanganku dan sakit. Ini bukan mimpi. Ini nyata.
Dia begitu yakin dan berkata bahwa aku akan outstanding disana setelah membaca abstrak yang telah ditolak di kampusku karena terlalu sedikit datanya, jarang, dan tidak populer. Namun, ini? Apa yang aku dapati sekarang? Oh, Tuhan, ini mengapa begini? Mengapa dan Kenapa?
Ini sudah sangat rollercoaster sekali. Baru saja ku menyesal, bingung, kini bahagia, namun bingung, terharu, sedih, bahagia, namun bingung. Ah..
Ku baca dan ku tatap lekat-lekat kartu nama itu.
"Prof, I'm very excited and thank you very much abt this chance. I'm totally speechless."
"It's ok. Don't forget GPA 3.5 above, ielts 6.5 above, and send your proposal."
"But prof, I'm taking long to graduate."
"When will? Next year? I'll be waiting for you. Just make sure prepare from now."
Lalu beliau menyerahkan sebuah formulir yang aku isi. Beliau pun ikut menandatangi formulir itu dan berkata bahwa kini beliau memiliki mahasiswa baru.
"See you in our univ, Retno." Beliau menyebut namaku, menjabat tanganku, dan tersenyum padaku, sangat ramah sekali.
Lemas.
Ku lemas.
Lututku bergetar.
Ini jelas bukan mimpi.
Mengapa?
Disaat ku sudah akan menyerah.
Merasa 'ah sudahlah mau sebanyak kamu berusaha semua akan percuma saja'
Merasa 'lelahmu hanya akan mendera kesakitan dan bukan kebahagiaan'
Tapi kini kenyataan apa yang aku hadapi ini.
Sungguh campur aduk rasanya.
Ini masih sangat awal, tetapi aku merasa sangat amat dihargai.
Aku tahu ini akan membuatku terlena, tetapi biarkan aku terlena meski ini masih sangat dini.
Ini masih belum apa-apa.
***
Ingatan itu terbawa hingga ku di kereta, lalu kini ku tak dapat lagi menahannya.
Air mata pun keluar begitu deras mengalir dari pelupuk mataku.
Ku menangis sejadinya, dan tersedu-sedu hingga seluruh gerbong melihatku.
Aku tak bisa menangis hanya dengan keluar airmata, entah mengapa jika ku menangis hebat, suarapun ikut keluar dari mulutku.
Seorang ibu bahkan sampai menepuk pundakku dan memberikan kursinya untukku.
Aku menolaknya dengan halus sambil menyeka air mataku.
Aku bukan sedih, aku hanya terlampau bahagia.
Selepas ku sampai di stasiun tujuanku, langit sudah makin kental dengan warna kuningnya. Senja ini membawa keajaiban tepat di jam 5.14pm saat itu.
Sebuah momen yang tak terduga, sebuah kebahagiaan yang ajaib, aku sungguh amat terlarut, aku terlena, dan terbuai.
Tetapi biarlah, biar hanya untuk hari ini, untuk senja yang indah itu.
Terimakasih untuk tidak menyerah meski ingin.
Terimakasih dan mari esoknya hadapi dunia kembali.
Terlena hanya untuk hari itu.
Sebab ini bukan apa-apa, ini baru saja dimulai.
Entah kenapa takdir akan membawa, setidaknya terimakasih, No, sudah selalu berusaha dan tak menyerah. Ku ulangi lagi. Terimakasih, No.
Dan tentu terimakasih Tuhan atas hari itu. Atas segala rencanaMu yang tak terduga.
Pada 5.14pm
Ditulis Bulan 5 Tanggal 14.
Ku langkah gontai menelusuri tangga stasiun, sesekali langkahku terhenti karena lututku terus gemetar.
Ku melihat bangku tunggu kereta sudah di duduki banyak orang, dan ku sudah pasti berdiri menunggu kereta datang, kaki ini sudah sangat kaku dan punggung pun sudah linu ingin rasanya segera bertemu kasur. Namun perjalanan masih jauh.
Ku tak tahan, hingga akhirnya ku duduk di lantai pinggir peron.
Rok biru mudaku jelas sudah kucel dan kotor, ku tak peduli, ku hanya ingin duduk.
Lalu ku rogoh tas ku, ku buka buku catatanku, terselip sebuah kartu nama.
Ku pandangi lekat-lekat kartu nama itu, dan seketika rasanya bola mataku dipenuhi oleh sesuatu yang basah.
"Ah..apa ini?" Tanya batinku.
Suara yang memberitahukan bahwa kereta tujuanku akan segera datang, ku bergegas berdiri. Namun serangan dari orang-orang yang tengah berburu waktu membuatku hilang posisi dan kereta lewat di depanku sudah sangat berdesakan.
Sudah jelas ku kalah dalam pertarungan desak-desakan itu, bertemu kasur akan menjadi semakin lama, tetapi gerbong kereta pun sudah sangat sesak.
Ku lewatkan kereta itu begitu saja.
Ku tak melanjutkan duduk di lantai dan berharap kereta tujuanku akan segera datang.
Hampir saja lupa, ada sebuah kartu nama yang tadi ku pegang.
Ku selipkan kedalam buku catatan yang ku taruh dalam tas.
Tak berapa lama keretanya tiba dan tidak terlalu berdesakan, meskipun tidak longgar juga, tapi setidaknya ku dapat masuk walaupun tak dapat tempat duduk.
Dinginnya Air Conditioner didalam kereta membuat wajahku yang berminyak menjadi kaku dan lututku masih gemetar. Ku pegang erat gantungan di kereta menjaga tubuh agar tidak oleng. Ku diam dan pikiranku pun lari pada kejadian beberapa jam lalu sebelumnya yang mungkin menjadi salah satu penyebab lututku terus bergemetar.
***
Hari itu aku memutuskan untuk produktif meski sedang akhir pekan untuk datang ke sebuah pameran pendidikan.
Ya, tidak memiliki tujuan jelas, hanya sekedar jalan-jalan dan semoga mendapat referensi untuk melanjutkan studi.
Tiba disana selepas tengah hari dan sedang waktu istirahat.
Ku menunggu sambil menyaksikan hiburan yang telah disediakan oleh panitia.
Pameran pun telah dibuka, ku menjelajah satu booth ke booth lainnya.
Bertanya-tanya hal standar seperti kapan ujian masuknya, soalnya apa saja, biaya, studi, dan sebagainya. Mengumpulkan berbagai brosur dan goodie bag.
Hingga sampailah di satu booth sebuah universitas terkemuka di dunia.
Seorang mbak-mbak menyapa aku terlebih dahulu dan ku ceritakan bahwa aku mencari program master, kalau bisa sekalian dengan beasiswanya.
Lalu mbak itu bertanya apa jurusanku, setelah ku jawab, dia langsung berkata bahwa Kepala Penelitian program studi yang aku tuju juga ada di booth tersebut.
Ku di kenalkan dan beliau begitu ramah tersenyum lebih dahulu padaku.
"Hello, What's your name?" Ucapnya.
"My name is Retno". Ku juga mengenalkan bahwa aku masih kuliah dan sedang mencari program studi lanjut master sekalian beasiswa sebab jika biaya sendiri baik aku maupun orang tuaku sudah tidak akan bisa menanggungnya.
Matanya sangat berbinar ketika mendengar penjelasanku mengapa aku ingin lanjut master, mengapa aku memilih program studi itu, dan apa tujuanku nanti.
"Do you have any research abt that? Or still working out?" Ucapnya.
"Ah.." Aku ingin menjawab iya, namun aku pun ragu sebab penelitian yang sedang aku tulis itu tak ku lanjutkan lagi, ku sudah hilang mood dan semangat untuk melanjutkan.
Namun entah mengapa bibirku tiba-tiba berkata iya, dan jari jemari mencari folder itu dalam google drive-ku.
"But, I'm so sorry its still lacking and I don't finish yet."
"It's fine. "
Dia membaca dengan seksama abstrak dan poin-poin yang sudah aku tulis.
Ku gigit bibirku dan menyesali mengapa memperlihatkannya, itu masih kesana-kemari dan sebuah gagasan penelitian yang ditolak oleh kampusku, lalu ku berikan pada seorang Profesor yang jabatannya mungkin setingkat dekan jika dikampusku, ku mengutuk diriku sendiri bahkan untuk melihat wajah beliau saja aku sudah tak sanggup.
"Well.." Beliau memecah ceracau penyesalan dalam pikiranku.
"Woah, I never imagine it before."
"Hah? Ini maksudnya apa? Ah..tuhkan jelek, aduh kebodohan sekali sih, No." Batinku terus saja menyesali dan menyalahi keputusan ini.
"If you take this research to our univ, I'll be taking full of you."
"Full?"
"Yes, you will be part of our univ and everything is gonna be free." Dia mengatakannya dengan tersenyum, sementara jantungku rasanya berdetak 2x bahkan 3x lebih cepat.
Apa ini maksudnya, ini mimpi, ini maksudnya apa, dia berkata itu artinya apa. Seakan semua ceracau penyesalan tadi berubah menjadi ceracau kebingungan.
"Prof, it's real?" Ucapku bergetar namun ingin memastikan.
"Sure, absolutely. So, you fix this proposal and send to me. I'll be taking care of you, and you will be student of our univ and become my student. Oh, it's my name card. You can send your proposal to my email, I always check my email."
"Prof.."
"I'm very excited abt your reseach, it's new and unique, if you can take this into global case, I'm really sure you will be outstanding there. "
Makin bingung untuk berkata-kata. Gila. Ini gila. Bangun! Bangun! Ku cubit tanganku dan sakit. Ini bukan mimpi. Ini nyata.
Dia begitu yakin dan berkata bahwa aku akan outstanding disana setelah membaca abstrak yang telah ditolak di kampusku karena terlalu sedikit datanya, jarang, dan tidak populer. Namun, ini? Apa yang aku dapati sekarang? Oh, Tuhan, ini mengapa begini? Mengapa dan Kenapa?
Ini sudah sangat rollercoaster sekali. Baru saja ku menyesal, bingung, kini bahagia, namun bingung, terharu, sedih, bahagia, namun bingung. Ah..
Ku baca dan ku tatap lekat-lekat kartu nama itu.
"Prof, I'm very excited and thank you very much abt this chance. I'm totally speechless."
"It's ok. Don't forget GPA 3.5 above, ielts 6.5 above, and send your proposal."
"But prof, I'm taking long to graduate."
"When will? Next year? I'll be waiting for you. Just make sure prepare from now."
Lalu beliau menyerahkan sebuah formulir yang aku isi. Beliau pun ikut menandatangi formulir itu dan berkata bahwa kini beliau memiliki mahasiswa baru.
"See you in our univ, Retno." Beliau menyebut namaku, menjabat tanganku, dan tersenyum padaku, sangat ramah sekali.
Lemas.
Ku lemas.
Lututku bergetar.
Ini jelas bukan mimpi.
Mengapa?
Disaat ku sudah akan menyerah.
Merasa 'ah sudahlah mau sebanyak kamu berusaha semua akan percuma saja'
Merasa 'lelahmu hanya akan mendera kesakitan dan bukan kebahagiaan'
Tapi kini kenyataan apa yang aku hadapi ini.
Sungguh campur aduk rasanya.
Ini masih sangat awal, tetapi aku merasa sangat amat dihargai.
Aku tahu ini akan membuatku terlena, tetapi biarkan aku terlena meski ini masih sangat dini.
Ini masih belum apa-apa.
***
Ingatan itu terbawa hingga ku di kereta, lalu kini ku tak dapat lagi menahannya.
Air mata pun keluar begitu deras mengalir dari pelupuk mataku.
Ku menangis sejadinya, dan tersedu-sedu hingga seluruh gerbong melihatku.
Aku tak bisa menangis hanya dengan keluar airmata, entah mengapa jika ku menangis hebat, suarapun ikut keluar dari mulutku.
Seorang ibu bahkan sampai menepuk pundakku dan memberikan kursinya untukku.
Aku menolaknya dengan halus sambil menyeka air mataku.
Aku bukan sedih, aku hanya terlampau bahagia.
Selepas ku sampai di stasiun tujuanku, langit sudah makin kental dengan warna kuningnya. Senja ini membawa keajaiban tepat di jam 5.14pm saat itu.
Sebuah momen yang tak terduga, sebuah kebahagiaan yang ajaib, aku sungguh amat terlarut, aku terlena, dan terbuai.
Tetapi biarlah, biar hanya untuk hari ini, untuk senja yang indah itu.
Terimakasih untuk tidak menyerah meski ingin.
Terimakasih dan mari esoknya hadapi dunia kembali.
Terlena hanya untuk hari itu.
Sebab ini bukan apa-apa, ini baru saja dimulai.
Entah kenapa takdir akan membawa, setidaknya terimakasih, No, sudah selalu berusaha dan tak menyerah. Ku ulangi lagi. Terimakasih, No.
Dan tentu terimakasih Tuhan atas hari itu. Atas segala rencanaMu yang tak terduga.
Pada 5.14pm
Ditulis Bulan 5 Tanggal 14.