Selasa, 12 Agustus 2014

Titik Tersulit

Mengingat hal yang memuakkan adalah hal yang jauh lebih memuakkan daripada apapun
Setidaknya itu membuat jengah pikiran yang sudah bejibun memikirkan persoalan hidup yang tak pernah kunjung usai
Terbebani akan suatu hal yang terjadi karena pelimpahan dosa orang lain sudah merupakan hal yang paling memuakkan sedunia
Dan kini dituntut untuk diingat kembali, seakan mencabik parut luka yang telah mengering

Tahukah bahwa rasanya ingin menjerit tapi tak dapat mengeluarkan suara adalah titik tersulit dalam rasa ini
Ya, selalu ditempatkan pada posisi sulit seakan memakan buah simalakama
Jika dimakan akan kehilangan Bapak, tak dimakan akan kehilangan Ibu
Lantas mengapa harus selalu ditempatkan pada posisi seperti ini?
Ingin berlari tetapi tak ditakdirkan sebagai pengecut
Ingin mengikuti tetapi tak ditakdirkan sebagai pengkhianat
Ingin memberontak tetapi tak ditakdirkan sebagai durhaka
Lantas harus seperti apa, karena diri bukanlah lumba-lumba yang akan menurut saja jika diperintah untuk melompati lingkaran berapi

Berdiam diri dan menunggu segalanya reda pun bukan solusi
Karena api ini malah akan semakin membesar dan menghancurkan segala yang dilaluinya
Entah harus ujian seperti apa dan harus dengan cara apa dalam menyelesaikan kobaran api yang tak pernah padam ini
Apa diri ini kurang kuat? Apa diri ini justru terlalu lemah?

Titik tersulit ini akan semakin pelik untuk dilalui, tetapi lari bukan solusi, menyerang tak tentu akan menang, pasrah malah akan berakhir dengan amarah, bertanya pun malah akan semakin tak nyata, mengadu pun akan berakhir tak pasti layaknya dadu.

Distraction of Dream High!

Entah perasaan apa yang bisa dideskripsikan hari ini
Iri, marah, sedih, senang, bercampur dalam rasa yang tak menentu seperti ini
Apa karena titik pencapaian yang terlalu tinggi, hingga merasa sangat marah saat diri belum mencapai pada titik tersebut?
Apa karena merasa didahului, hingga iri saat orang lain mencapai finish lebih dahulu?
Apa karena begitu merasa paling menderita daripada orang lain, hingga merasa sedih, merasa paling nestapa sealam semesta?
Apa karena begitu kagum dengan pencapaian yang belum teruji, hingga senang terlalu dini membuat lupa diri?
Lalu sebenarnya perasaan apa yang dirasakan saat ini seharusnya?
Absurd membuat buram dalam tindakan
Pembiaran hanya mencari pembenaran yang tak akan abadi

Masih berdiri di langit yang sama, masih berpijak di bumi  yang sama, lantas mengapa harus timbul rasa marah saat memiliki standar yang begitu tinggi dalam pencapaian?
Mengerahkan dan memporsir diri terlalu keras bukankah itu adalah perjuangan?
Lantas mengapa harus marah saat semua tak sejalan dengan prediksi perjuangan yang telah dilontarkan, itu pertanda bahwa perjuangan belum sampai pada titik yang begitu tinggi seperti yang telah diprediksikan
Melambung, melambunglah layaknya bola bounce yang semakin tinggi apabila semakin dijatuhkan ke dasar bumi. Mengangkasalah hingga bintang dapat di raih.

Belum dinamakan garis finish jika belum dinyatakan mati oleh Tuhan
Setiap kisah akan ada bab dari bab pertama dan selanjutnya
Itu bukan akhir, itu hanyalah pergantian menuju bab yang baru, bab yang lebih sulit, bab yang akan semakin mendewasakan diri
Orang lain lebih dulu, jika timbul iri adalah hal yang manusiawi
Selama diri masih beranggapan sebagai manusia, iri adalah wajar
Namun apakah akan terus meratapi dan sebagai penonton
Mereka yang lebih dulu belum ada jaminan untuk meraih sukses lebih dulu,
Mereka yang sepertinya telah finish lebih dulu bukan berarti dia pemenang,
Didahului setidaknya membuat diri dapat melihat lebih banyak dibanding yang lebih dulu, memiliki banyak waktu untuk memperbaiki dan terus berlatih agar sampai pada pencapaian. Tak ada yang tak mungkin bagi mereka yang mau berusaha.

Awan hitam terus mengikuti kemanapun pergi, beranjak lalu hujanpun turun membasahi, petir menyambar kala hujan semakin deras
Hidup begitu nestapa, tak ada sinar matahari, hanya mendung dan kelabu yang menghampiri. Tapi apakah hanya diri saja yang mengalami hal tersebut?
Lihat sekeliling, menunduklah. Menengadah hanya akan membuat sakit ruas leher.

Terlalu dini untuk tertawa pada hal yang belum pasti
Terlalu mendewakan karya malah akan membuat diri semakin sombong
Ini adalah akar. Akar dari semua rasa absurd ini adalah karena terlalu hanyut akan pujian di masa lalu, lengah akan kesenangan sesaat yang malah berakhir tragis dalam hilangnya posisi yang diraih.
Semua layaknya laut yang memiliki pasang dan surut, namun bukan bagaimana mengikuti arus laut, tetapi bagaimana dapat mengendalikan ombak, tak terperdaya, tak goyah, dan tetap terus merangkai mimpi meski jalan tak selalu mudah.

Rasa itu anggap saja metafora dalam sebuah kegamangan rasa tertinggal.
Tak perlu risau yang berlebih.
Tetap menatap mimpi yang telah dirancang sedemikian rupa.
Gagal bukanlah sarana menyalahkan diri.
Gagal adalah tempat yang mendekatkan diri pada rasa semangat.
Orang yang tak pernah gagal, bukanlah orang yang hebat, tetapi mereka adalah orang malang yang tak benar-benar merasa bagaimana hebatnya sebuah semangat perjuangan.

Anggap saja tulisan ini sebuah distraksi.

Distraksi untuk tetap bermimpi.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...