Selasa, 22 November 2016

Elegi Dua Jiwa

Mengapa malam ini begitu dingin?Laksana hati yang mulai mengeras oleh ketidakmampuan diri
Gagal, merasa gagal seutuhnya
Marah, ketika tak ada hal yang dapat dilakukan
Kesal, karena terkurung oleh ego diri
Dan lagi, menyalahkan diri teramat sangat

Hahahaha....
Hahahaha....
Sudahlah, sudah cukup tertawa atau ditertawakan
Jika ingin marah, marahlah
Jika ingin menangis, menangislah
Namun semua itu tertahan, terkekang oleh kesombongan diri yang selalu berkata, "tidak apa-apa"

Sudahlah, cukup untuk selalu memikirkan sesuatu yang berlebih
Bersikaplah sesuai kapasitas, jangan berlebih karena luka yang kau dapat
Sudahlah, antusiasmu melukai prestisemu, melukai loyalitasmu, kau tak dapat apa-apa
Hanya lelah, lelah yang mendera
Bahagia karena lelah itu hanya kamuflase
Beban ini hanya kau tanggung sendiri
Hingga sakit yang amat terasa mulai menggerogotimu

Tubuhmu didera sakit, karena jiwamu yang semakin renta
Renta di usia yang seharusnya sedang membara
Kau terlalu membara hingga membakar dirimu sendiri

Tak akan ada yang mengingatmu yang bersusah payah seperti ini
Tak akan ada yang menganggapmu saat kau tak ada nanti
Layaknya asap yang hilang tak berbekas
Seperti itulah dirimu nanti, lantas mengapa harus memaksakan diri
Cukup,aku mohon cukup
Tidakkah kau kasihan pada dirimu yang terus ditempa
Diperlakukan seperti ini kau hanya bisa diam dan tertawa seakan tak ada apa-apa
Sungguh ku muak pada dirimu
Kau munafik!
Kau pembohong!
Untuk apa semua ini?
Apa yang sebenarnya kau cari?
Pikirkanlah dirimu sendiri!
Pikirkanlah berapa banyak hal yang kau korbankan demi sesuatu yang sama sekali tak menganggapmu ada.
Jika berhasil kau dielu-elukan, lalu dilupakan.
Jika gagal kau disalahkan, dan selalu diingat aib itu.

Apakah mereka tahu berapa jam yang kau habiskan untuk tidur?
Disaat semua orang terlelap, kau memikirkan ini itu, bagaimana kalau begini bagaimana kalau begitu
Apakah mereka tahu berapa tetes keringat yang kau kucurkan?
Apakah mereka tahu betapa seraknya dirimu berteriak kepada mereka yang tak pernah mendengarmu?
Lalu kau mulai tertawa oleh hal-hal kecil.
Pengalihan.

Aku berkata seperti ini karena aku marah.
Melihatmu selalu terkulai lemah.
Melihatmu menahan sakit sendirian.
Melihatmu mengerang pada bekas luka yang belum sembuh, namun sudah terluka kembali.
Mau sampai kapan?
Apa kau harus sampai mati?
Apa kau harus mempertaruhkan hidupmu?

*******

Terdiam.
Aku tak dapat berkata apa-apa.
Suaraku terlalu parau bahkan untuk berkata "Maaf."
Tak pernah ku berharap mendapatkan apa-apa dari yang kulakukan ini.
Anggap saja ini bagian dari pengalihan akan rasa ingin mati kehendak sendiri namun begitu terlarang
Hingga merusak sendiri, memperparah sendiri.

Ku tak minta dikenang, ku tak minta dianggap
Semua ini kulakukan karena rasa tanggung jawab dan cinta yang teramat dalam hingga ku tak tahu alasannya, meski harus mengesampingkan hidupku, ini semua tak apa
Ini adalah konsekuensi dari hidup yang ku pilih

Aku bukan pembohong, Aku bukan munafik
Aku hanya tak ingin dijauhi dan dianggap lemah karena terlalu sering menangis atau mengeluh
Aku harus pura-pura kuat hingga aku dapat sebenarnya menjadi kuat
Tawaku, tingkahku yang membuat orang lain tertawa karena aku senang melihat orang tersenyum karenaku.
Tak apa, urusan aku kenapa dan seperti apa, itu adalah urusanku.

Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.
Terimakasih sudah setia bersama dengan ku yang keras kepala ini.
Terimakasih sudah sangat sabar memaklumiku.
Aku mohon jangan pernah pergi dariku, meski waktu ku padamu terbatas.

*******

TERSERAH!!
KAU TAK PERNAH MENDENGARKANKU!!
JIKA KAU INGIN MATI, MATI SAJA SENDIRI!
TAK USAH MEMBAWAKU HANCUR BERSAMAMU.

.
.
.
.

Ah, sial!!
Ahhhhhhh.....

*******

:)

*******

JANGAN TERSENYUM SEPERTI ITU!!
KAU MEMBUATKU SEMAKIN TIDAK BERDAYA.

*******

Maaf..
Maaf..
Maaf..
dan
Terimakasih karena selalu bersamaku.
Tenang, kalaupun aku harus mati, aku akan mati bahagia.
Karena ini adalah hidupku, hidup yang ku pilih memang seperti ini.
Dan ku tak menyesalinya.
Maka dari itu tetaplah bersamaku, menguatkanku.
Selalu.









Jumat, 02 September 2016

Mimpi Yang Menyakitkan


Dibawah jalanan yang sepi, langkahku terhenti
Lemas sekali tungkai kakiku hingga rasanya tak dapat lagi melangkah
Ini terlalu berat, Tuhan
Sangat berat bahkan seakan tak bisa lagi ditahan
Dan tak dapat dibagi pada siapapun

Mengapa Engkau beri keinginan ini dan mengabulkannya?
Justru rasa sakit ini makin menjadi bahkan lebih sakit daripada ketika Engkau tak mengabulkannya
Lagi-lagi ku mengeluh, bukannya berterimakasih
Manusia macamku ini memang seharusnya tak Kau kasihi
Tak seharusnya Kau kabulkan keinginannya yang bahkan sangat mustahil
Meski bagiMu tak ada yang mustahil
Maafkan aku, Tuhan
Aku memang kurang bahkan sangat kurang religius
Tetapi aku sangat berterimakasih dan begitu teramat terharu ketika Kau mengabulkan mimpi yang bahkan sampai detik ini begitu sulit ku pertanggungjawabkan
Langkah ini mulai goyah dan terkulai

Sudahlah, berhenti menjadi manusia paling menderita di dunia ini
Semua pasti mempunyai kesulitan sendiri yang tak semua orang tahu
Semua pasti mempunyai rasa sakit sendiri yang disembunyikan
Lalu, kebiasaan burukmu datang
Lari..
Ya, lari dan bersembunyi bukannya menyelesaikan
Tetapi ku terlalu lelah untuk terus berpikir solusi  ini sendiri
Aku ingin bercerita tetapi kepada siapa
Hanya kepada tulisan ini ku begitu jujur
Tak semua bisa ku tertawakan dan bersikap tak terjadi apa-apa
Namun saat sendiri, semua sakit ini menyerang secara brutal tanpa bisa ku tahan

Tuhan, kembali ku memanggil-Mu
Mudahkanlah jalan ini, Tuhan
Mimpi yang menyakitkan yang telah Kau kabulkan, aku mohon jangan terlalu dipersulit bahkan aku teramat takut kehilangan akal dan lari dari semua ini
Ini begitu indah, Tuhan, ini adalah keinginan ku terdalam yang begitu indah kau kabulkan
Mungkin permintaanku ini terlalu kurang ajar, setelah Kau begitu baik hati mengabulkannya dan sekarang aku meminta jangan dipersulit
Maafkan aku, Tuhan, aku sungguh tak ingin menyerah
Aku tak tahu batas ini sampai mana aku dapat bertahan
Dan aku tak bisa mengubur mimpi yang sudah kadung ku jalani
Aku tak dapat mundur, Tuhan
Ku lebih rela mati jika memang ini tak dapat dilanjutkan
Biarlah ku dikatakan pecundang, setidaknya ku pernah sangat berjuang bahkan hingga ku menyampingkan rasa malu dan digdaya yang selama ini ku pegang
Tetapi itu dosa besar, dan tak termaafkan oleh-Mu

Maka,
Jika memang batas ini sudah sampai akhir yang tak bisa ditahan
Hentikan detak ini, dan berikan kepada mereka yang yang masih ingin bertahan dan bertanggung jawab pada mimpinya yang indah
Aku tak apa-apa, dengan-Mu sudah mengabulkannya aku sudah sangat bahagia
Meski tak dapat sampai akhir ku bahagia, tetapi akan selalu aku ingat kebahagiaan ini
Namun,
Jika masih ada harapan, maka permudahlah, Tuhan
Lihat, bahkan sampai titik keputusasaan ini, aku masih berharap  dan tetap berjuang demi mimpi yang menyakitkan ini, mimpi yang sangat sakit namun menyimpan sejuta kebahagiaan.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Malam Dingin

Terpaku ku menatap ke arah jendela
Rembesan sisa gerimis di senja masih menetes
Layaknya mata ini yang berujung sembab tanpa sebab

Nafas menghela begitu panjang seakan sesak di dada dan akhirnya bisa bernafas meski tersengal
Pundak terasa berat dan seakan tak mampu lagi tegak
Membungkuk, terbungkuk hingga pandangan pun menunduk
Kini ku tak lagi dapat melihat rembesan air di jendela
Pandanganku menjadi kabur dan ku hanya dapat memandang kaki ku yang penuh luka

Lukanya ada yang mengering, ada pula yang masih terasa perih, terutama di telapak
Mengapa kakiku penuh luka? Apa ku berjalan diatas aspal panas sisa kemarau tanpa alas kaki?
Ataukah ku berjalan diatas berbatuan yang tajam?
Mengapa tak menggunakan alas kaki? Mengapa kau membiarkannya terluka? Ucapku pada diriku
Entahlah, ku tak dapat menjawabnya, terlalu banyak ceracau dalam kepala yang tak mampu ku jawab segala pertanyaan itu

Kepalaku terasa berat, menatap kebawah membuatku merasa pusing
Hingga rasa penat itu begitu sakit, sehingga ku tak mampu menahannya dan terkulai lemas di lantai yang dingin, sangat dingin
Kutarik kedua kaki ku, ku dekap erat, tangan ini mencoba menghangatkan kaki ini namun tangan ini pun begitu dingin
Tanpa sadar gigiku pun saling beradu, tak dapat ku tahan dinginnya

Mata ini mulai rabun melihat sekitar
Yang ku tahu, ku berada di sebuah ruangan berjendela dan semua warna dindingnya adalah putih
Jendela itu begitu jauh, hingga tak lagi dapat ku melihat rembesan air sisa hujan
Jendela tanpa pintu disampingnya
Tak ada pintu
Lantas bagaimana ku bisa berada disini?
Apakah melalui jendela?
Entahlah aku lupa

Yang ku tahu hari ini begitu dingin, dan diluar melalui jendela ke melihat gelap diantara rembesan titik hujan
Yang pasti aku sendirian
Meski tetap ku coba menegakan kepalaku untuk melihat sekitar, apakah ada orang lain di sekitarku?
Berat sekali, bahkan untuk melihat sekeliling
Pandanganku pun menjadi buram, dan rasa sakit dari kepala ku mengalir ke seluruh tubuhku
Ku mengerang tanpa suara, tak dapat ku mengeluarkan suara
Ku tarik kedua kakiku, ku dekap erat
Rasa sakit dan dingin itu mulai menusuk amat sangat
Nafasku semakin tersengal, dan begitu sesak
Kini ku tak dapat melihat apapun
Ku begitu sesak
Hingga sampai pada titik ku tak ingat apapun
Semua begitu gelap
Rasa sakit itu pun sudah tak terasa

Apa ini yang namanya kematian?
Apa jiwa ku sudah terlepas dari raga?
Yang ku ingat dan masih terasa jelas adalah rasa sakit, sepi yang begitu dingin
Dingin di malam hari.

Senin, 15 Agustus 2016

Bulimia Rhapsody


Hari itu hujan deras, aku dan teman-temanku merapat di sebuah tempat makan yang cukup terkenal, terkenal harganya yang bisa dijangkau dengan mengganti menjadi makan mie selama seminggu.
Ya, demi pride dan demi check in di path.
Kami pun memesan makanan. Sebenarnya lebih memesan harganya.
Sebab, yang kami lihat bukanlah makanannya, melainkan brandrol harganya.
Sambil menunggu makanan kami datang, ada yang asyik mengobrol, ada pula yang asyik dengan gadget-nya. Dan aku, asyik memfoto berbagai sudut restoran tersebut.

Akhirnya makanan kami pun datang.
Suasana dinginnya hujan menyebabkan suasana lapar kian kentara, hingga layaknya anak yang tidak makan seminggu, kami pun kalap. Meski sekalap-kalapnya tidak akan pernah lupa untuk "memfoto" makanannya.
Aku adalah orang yang paling cepat menghabiskan makanan "mahal" itu.
Antara sedang lapar, atau karena aku tak pernah mengunyah makananku lebih lama. Kata orang, makanku tak pernah aku hayati.

Makan pun selesai, kami lanjut berbincang-bincang sambil menunggu hujan reda.
Namun, ditengah berbincang itu, aku merasa ada yang salah dengan mulutku.
Rasanya kering dan menjadi asam seketika.
Aku pun meneguk minumku. Namun rasanya malah semakin mual.
Tak perlu dirasa-rasa begitu dalam, aku bertingkah seperti biasanya, hingga rasanya perut sebelah kiri terasa memanas dan sakit melilit. Mual begitu kuat terasa hingga kekerongkongan.
Lama-lama tak bisa ku tahan, hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk ke kamar mandi.
Disana, rasa mual kian kuat, aku coba menahannya hingga air mataku keluar dan mata mulai perih.
Dan pada akhirnya semua yang ku tahan akhirnya aku keluarkan, makanan seharga jatah makan seminggu itu kini telah bersarang di lubang toilet.
Aku flush dan aku pun menangis, menatap kebodohanku yang tak bisa ku tahan.

Aku keluar dari toilet dan menuju wastafel.
Ku bersihkan mulutku, dan ku basuh mukaku.
Setelah semuanya kering, ku baru memberanikan diri keluar menemui sahabatku dan tertawa seperti biasa.

Ini bukanlah yang pertama, ini sudah menjadi rutinitas dari mulai tahun 2008 silam.
Ketika aku memutuskan untuk berhenti sarapan karena sibuk harus segera ke sekolah karena kebagian piket OSIS.
Hingga puncaknya mulai tahun 2011. Dan terkulai lemah semalaman di ruangan serba bau etanol di tahun 2012.

Bulimia, ya ini namanya Bulimia. Aku namai itu, meski sebelumnya memang telah ada namanya. Namun biasanya Bulimia telah terjadi karena faktor psikologis dari seseorang yang ingin langsing. Namun aku menganggap substansinya sama, yaitu senang memuntahkan makanan yang telah dia makan.
Dan begitulah aku menjalani kehidupan selama hampir 8 tahun ini.
Memang tidak setiap saat tetapi hal ini selalu terjadi jika aku terlampau senang.
Ya, Rhapsody.
Maka ku namai setiap status ku dengan Bulimia Rhapsody.
Agar aku selalu ingat bahwa aku tak boleh berlebihan dalam makan dan merasa senang, jika tidak mau semuanya berakhir dalam lubang toilet.

Youth Pt.1


Hai 22 tahun, masa dimana kamu bakal jadi leader girl group kalau debut dalam usia segitu. Usia yang seharusnya sudah lulus kuliah dan memikirkan bagaimana hidup menjadi isteri orang, tetapi kamu? Masih kuliah, masih senang hura-hura dan ngomongin Oppa-Oppa Korea.
Tapi begitu bahagianya hidup seperti ini (dulu).
Sampai kapan? Ah entahlah, sampai bosan, sampai larut, mungkin.

Hari itu ceritanya pergi ke gunung, ingin melepas penat dan segudang deadline yang malah asyik ditunda daripada dikerjakan. Sebab tidak akan alright pengerjaannya jika dilakukan saat otak begitu penat, butuh penyegar, atau pengalihan sejenak (padahal sebenarnya lari dari masalah, hahaha).
Paket data sengaja dimatikan agar tak ada yang menghubungi, jika pun amat begitu penting, bisa SMS atau telpon, ya kedua hal yang jarang dilakukan zaman sekarang.
Sebab ingin sekali fokus, tenang, senang, tanpa diingatkan akan tugas dan sebagainya.

Aku pergi kesana dengan seorang teman, yang sudah kenal sejak 2008.
Kita punya satu kesamaan yaitu begitu "menggilai" Oppa Korea (Oppa yaitu panggilan untuk lelaki yang lebih tua kalau di Korea, eits..jangan berpikir kalau dia itu kakek yang sudah tua ya, hehe)
Terjebak diantara batas imajinasi dan realita.
Sangat berharap bisa menetap disana, bahkan bermimpi ingin menjadi isteri mereka.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa diantara teman sebaya kami telah menikah dan memiliki kekasih, sementara kami masih sendiri, hahaha (miris, ya.. Haha)

Kami kesana naik motor, dan tahu apa perbincangan selama 3 jam perjalanan menuju ke gunung? Apalagi selain fantasi tentang si mata sipit dan berlesung pipit.
Ceritanya seminggu belakangan ini terjebak dalam fanfiction atau cerita fiksi yang dibuat fans hasil kiriman dari teman yang "sama gilanya" terhadap hal tersebut.
Ceritanya juga hampir sama kayak pengalaman pribadi, jadi berasa baca cerita sendiri dan baper sendiri, haha.

Setelah menempuh trayek yang begitu terjal dan ekstrem, serta ada adegan jatuh pula dari motor (efek kebanyakan ngomongin si Oppa), apa yang kami lakukan? Malah lihat video youtube offline, lagi-lagi tentang Oppa. Yang diobrolin adalah Oppa. Dan disana kami memiliki ide untuk membuat video self camera ya mirip-mirip dengan duo keong racun dulu, dan ngegunain lagu Oppa.
Malu dilihatin orang, kita bodo amat deh. Hahaha, kita tertawa bersama, saling menertawai diri sendiri, katanya malu tapi masih lanjut hahaha.
Handphone sampai lowbatt dan kurang lebih ada sekitar 25 video, udah pas tuh buat dibikin film yang ber-sequel-sequel.

Perjalanan pulang apa yang kami lakukan? Hahaha, kami bernyanyi lagu-lagu Korean Pop ala-ala Boy Band dengan lirik yang nyaris ngawur, kami hanya tahu lirik belakangnya dan nada-nadanya saja, maklum itu bukan bahasa ibu kami, meski sering dengar dan baca liriknya, ya jika dinyanyikan ya sebagaimana penangkapan saja.
Meski macet, kami tetap bernyanyi dan berteriak tak jelas, bahkan sama dengan fanchants-nya (suara penyemangat dari fans kalau idolanya mulai bernyanyi diatas panggung), selama lebih dari 2jam mungkin kami sudah buat  album rekaman.

Sampai dirumah, kami malah buka laptop, rencananya ingin berbagi video untuk selanjutnya akan dilakukan tahap pengeditan, tapi malah ujung-ujungnya lihat video Oppa, tertawa bersama melihat keseruan dan kelucuan mereka, tanpa terasa sudah malam, saatnya kembali ke rumah.

Ah, rasanya hari itu ingin seperti itu, melupakan sejuta beban yang menggunung di pundak. Tetapi hanya pada hari itu, sebab esok hari dunia yang sebenarnya harus dijalani.
Thanks, teman, untuk harinya :) 

Selasa, 17 Mei 2016

Mem[di]beri Cinta, Kak

Adakah cinta yang tulus kepadaku? Adakah cinta yang tak pernah berakhir?
Selalu untuk selamanya...

Ya, kalimat diatas merupakan lagu klasik era tahun 90-an, mengenai seseorang yang mempertanyakan tentang keberadaan cinta yang tulus. Adakah hal tersebut didunia ini?
Orang yang mempertanyakannya pasti "belum" mendapatkan cinta yang tulus versi dia.

Tulisan ini bukan cinta yang tulus antara pasangan pria dan wanita. Tetapi cinta antara saudara.
Karena memang cinta itu universal, kan? Bisa apa saja.
Contohnya saja, kita mau mencintai seseorang jika seseorang itu mencintai kita.
Padahal hakikat cinta itu memang memberi, karena cinta itu mencintai, terlepas orang tersebut mau mencintai kita atau tidak, itu jelas urusannya. Bukan urusan kita.

Ini naif, ya, sangat naif.
Dunia ini berlaku take and give. 
What you give, what you get.
Hidup ini adalah budaya pamrih.
Bahkan hal setulus cinta pun pamrih.

Kisahnya dimulai dari seorang adik perempuan.
Dia mempunyai seorang kakak dan adik laki-laki.
Sebab jarak umur yang relatif dekat, dia cenderung dekat dengan si kakak.
Sementara dengan adik bungsunya, dia yang cenderung kesepian karena diacuhkan oleh kedua kakaknya.

Adik perempuan ini menuntut lebih pada kakaknya, dia ingin diperhatikan.
Dia ingin kakak bisa berperan ganda.
Menjadi sahabat, penjaga, dan saudara.
Lalu seiring waktu keadaan, sang kakak pun harus menjalani kehidupannya sendiri.
Adik perempuan tak dapat menuntut lebih.
Dia memandang sudut lain, ada adik laki-lakinya terduduk di pojokan.
Ingin sekali mendekati adiknya, namun nanti mau berbicara apa, mau melakukan apa.
Jarak usia terlalu jauh, menjadi celah besar bagi mereka.
Pasti tidak nyambung, dia hanya anak kecil. Gumam adik perempuan.

Jika sama-sama kesepian, mengapa saling terdiam?
Mengapa tak mulai saling mendekat daripada hanya melihat kejauhan?

Adik perempuan itu sangat menyayangi kakak laki-lakinya, dia pun (berusaha) menuntut haknya kembali.
Tetapi keadaan sudah berubah, ada hal yang perlu kakak laki-lakinya perhatikan.
Masanya telah selesai. Bukannya semakin orang menjadi dewasa dia hanya akan memikirkan urusannya sendiri? Tetapi adik perempuan tak mengerti, if I give one, I must take one too.
Pamrih.
Adik perempuan ini belum dewasa, atau mungkin dia enggan menjadi dewasa.

Adik perempuan lalu membuat dunianya sendiri selepas ditinggal kakaknya.
Dia menenggelamkan dirinya dalam kesibukan yang dia buat sendiri.
Dia ingin menjadi dewasa seperti kakaknya.
Lalu, adik laki-lakinya menghampiri.
"Kak, ayo main!"
"Aduh, dek, nanti saja, kakak lagi sibuk, main saja diluar."
Adiknya pun pergi.
Penolakan-penolakan demi penolakan adik laki-lakinya terima.
Tak ada yang mau bermain dengannya.
Tak ada yang mau berbicara dengannya.
Dia kembali terduduk di sudut, sendiri, sepi

Adik laki-laki itu menghampiri kakak perempuannya. Dia mengumpulkan kekuatan terakhir yang dia punya.
Dia punya segudang benang kusut dikepalanya, dia meminta kakaknya meluruskan benang itu.
Dia menuntut lebih. Merengek minta diperhatikan oleh kakak perempuannya yang sok sibuk.
"Kak, tidak ada waktu buat aku?"
"Kakak sibuk, dek."
"Kakak sibuk terus."
"Ya, kan kalau orang dewasa pasti sibuk, Dek, nanti kamu kalau sudah dewasa juga pasti sibuk."
"Ngga mau, adek ngga mau menjadi dewasa. Dewasa itu menyebalkan. Maunya dapat lebih padahal kasihnya sedikit."
Kakaknya yang sedari tadi sibuk pun, menghentikan aktivitasnya, dia memperhatikan adiknya yang nampak menahan gertakan digiginya.
"Kakak juga begini kan ke kakak, kakak pengen diperhatikan lebih sama kakak, adek juga mau hal seperti itu. Adek punya kakak dua orang tapi semua sibuk, adek juga ingin diperhatikan. Kakak pernah nanya apakah adek sudah mengerjakan PR, apa adek ada kesulitan ngga ngerjain PRnya, kak pernah nanya itu ngga?! Kak pengen diperhatiin sama kakak, tapi kak juga ngga merhatiin aku, kak sama aja sama kakak!!"

Kakak perempuan itu hanya bisa memandang adik laki-lakinya pergi.
Dia tertegun dan tak dapat berkata apa-apa.
Cinta yang katanya tulus itu pamrih.
Coba saja kau hanya menyayangi kakakmu tanpa harus kau menuntut kakakmu melakukan hal yang sama. Maka mungkin adikmu pun akan melakukan hal yang sama.
Apa yang kamu tuai itu yang akan kamu tanam. 
Coba saja kamu meluangkan waktumu untuk adikmu, kakakmu pun akan melakukan hal yang sama. 
Semua ini seperti seorang hamster yang beerlari di roda kandangnya.
Berputar-putar tak henti. 
Menjadi dewasa itu perlu, tetapi apakah lantas menjadi pamrih?
Kalimat-kalimat itu berceracau.

Tanpa solusi, berakhir antiklimaks.
Hanya bisa menjadi bahan refleksi.
Semoga akan selalu teringat di hati, bahwa cinta tak selamanya ingin diberi. 



 

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...