Selasa, 22 November 2016

Elegi Dua Jiwa

Mengapa malam ini begitu dingin?Laksana hati yang mulai mengeras oleh ketidakmampuan diri
Gagal, merasa gagal seutuhnya
Marah, ketika tak ada hal yang dapat dilakukan
Kesal, karena terkurung oleh ego diri
Dan lagi, menyalahkan diri teramat sangat

Hahahaha....
Hahahaha....
Sudahlah, sudah cukup tertawa atau ditertawakan
Jika ingin marah, marahlah
Jika ingin menangis, menangislah
Namun semua itu tertahan, terkekang oleh kesombongan diri yang selalu berkata, "tidak apa-apa"

Sudahlah, cukup untuk selalu memikirkan sesuatu yang berlebih
Bersikaplah sesuai kapasitas, jangan berlebih karena luka yang kau dapat
Sudahlah, antusiasmu melukai prestisemu, melukai loyalitasmu, kau tak dapat apa-apa
Hanya lelah, lelah yang mendera
Bahagia karena lelah itu hanya kamuflase
Beban ini hanya kau tanggung sendiri
Hingga sakit yang amat terasa mulai menggerogotimu

Tubuhmu didera sakit, karena jiwamu yang semakin renta
Renta di usia yang seharusnya sedang membara
Kau terlalu membara hingga membakar dirimu sendiri

Tak akan ada yang mengingatmu yang bersusah payah seperti ini
Tak akan ada yang menganggapmu saat kau tak ada nanti
Layaknya asap yang hilang tak berbekas
Seperti itulah dirimu nanti, lantas mengapa harus memaksakan diri
Cukup,aku mohon cukup
Tidakkah kau kasihan pada dirimu yang terus ditempa
Diperlakukan seperti ini kau hanya bisa diam dan tertawa seakan tak ada apa-apa
Sungguh ku muak pada dirimu
Kau munafik!
Kau pembohong!
Untuk apa semua ini?
Apa yang sebenarnya kau cari?
Pikirkanlah dirimu sendiri!
Pikirkanlah berapa banyak hal yang kau korbankan demi sesuatu yang sama sekali tak menganggapmu ada.
Jika berhasil kau dielu-elukan, lalu dilupakan.
Jika gagal kau disalahkan, dan selalu diingat aib itu.

Apakah mereka tahu berapa jam yang kau habiskan untuk tidur?
Disaat semua orang terlelap, kau memikirkan ini itu, bagaimana kalau begini bagaimana kalau begitu
Apakah mereka tahu berapa tetes keringat yang kau kucurkan?
Apakah mereka tahu betapa seraknya dirimu berteriak kepada mereka yang tak pernah mendengarmu?
Lalu kau mulai tertawa oleh hal-hal kecil.
Pengalihan.

Aku berkata seperti ini karena aku marah.
Melihatmu selalu terkulai lemah.
Melihatmu menahan sakit sendirian.
Melihatmu mengerang pada bekas luka yang belum sembuh, namun sudah terluka kembali.
Mau sampai kapan?
Apa kau harus sampai mati?
Apa kau harus mempertaruhkan hidupmu?

*******

Terdiam.
Aku tak dapat berkata apa-apa.
Suaraku terlalu parau bahkan untuk berkata "Maaf."
Tak pernah ku berharap mendapatkan apa-apa dari yang kulakukan ini.
Anggap saja ini bagian dari pengalihan akan rasa ingin mati kehendak sendiri namun begitu terlarang
Hingga merusak sendiri, memperparah sendiri.

Ku tak minta dikenang, ku tak minta dianggap
Semua ini kulakukan karena rasa tanggung jawab dan cinta yang teramat dalam hingga ku tak tahu alasannya, meski harus mengesampingkan hidupku, ini semua tak apa
Ini adalah konsekuensi dari hidup yang ku pilih

Aku bukan pembohong, Aku bukan munafik
Aku hanya tak ingin dijauhi dan dianggap lemah karena terlalu sering menangis atau mengeluh
Aku harus pura-pura kuat hingga aku dapat sebenarnya menjadi kuat
Tawaku, tingkahku yang membuat orang lain tertawa karena aku senang melihat orang tersenyum karenaku.
Tak apa, urusan aku kenapa dan seperti apa, itu adalah urusanku.

Terimakasih sudah mengkhawatirkanku.
Terimakasih sudah setia bersama dengan ku yang keras kepala ini.
Terimakasih sudah sangat sabar memaklumiku.
Aku mohon jangan pernah pergi dariku, meski waktu ku padamu terbatas.

*******

TERSERAH!!
KAU TAK PERNAH MENDENGARKANKU!!
JIKA KAU INGIN MATI, MATI SAJA SENDIRI!
TAK USAH MEMBAWAKU HANCUR BERSAMAMU.

.
.
.
.

Ah, sial!!
Ahhhhhhh.....

*******

:)

*******

JANGAN TERSENYUM SEPERTI ITU!!
KAU MEMBUATKU SEMAKIN TIDAK BERDAYA.

*******

Maaf..
Maaf..
Maaf..
dan
Terimakasih karena selalu bersamaku.
Tenang, kalaupun aku harus mati, aku akan mati bahagia.
Karena ini adalah hidupku, hidup yang ku pilih memang seperti ini.
Dan ku tak menyesalinya.
Maka dari itu tetaplah bersamaku, menguatkanku.
Selalu.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...