Jumat, 03 Maret 2017

Darah!

Landasan pacu begitu luas tergambar mata ini
Begitu luas dan terik kala ku menengadah pada langit yang tampak biru dan cerah
Ku halau sinarnya dengan telapak tanganku
Samar, ku masih melihat semburat cahaya dari sela-sela jariku
Cahayanya begitu kuning dan indah menghangatkan wajahku yang kini mulai memerah

Angin datang tiba-tiba membelai rambutku
Begitu dingin di sela teriknya panas matahari
Ku lihat pesawat terbang mengudara tepat di atasku
Anginnya begitu besar bahkan menghamburkan rambutku ke angkasa
Ku tersenyum dan lebih tepatnya ku tertawa
Rambutku menjadi tak karuan
Ku berlari seolah mengejar pesawat itu
Bukan untuk benar-benar mengejarnya, tetapi untuk berlari dan melepas semuanya
Ku berteriak melawan deru suara pesawat yang terbang
Rasanya teriakanku hampir memutuskan pita suaraku
Tak apa, yang penting ku bisa meluapkannya

Lelah berlari, ku baringkan tubuhku begitu saja di atas aspal landasan pacu
Hangat meresap ke pakaian dan langsung pada tubuhku
Matahari makin terik menyerangku namun ku biarkan panasnya
Ku pejamkan mataku, warna lembayung seolah hadir di tengah pelupuk mataku, biar dulu aku ingin tertidur sebentar
Melanglanglah aku pada saat itu, tahun 2016 yang baru sehari ku tinggalkan
Tahun yang penuh Darah, Keringat, dan Airmata

*****

DARAH

Agustus 2016

Kali kedua setelah hampir 3 tahun tidak mengalami hal menyedihkan seperti ini
Bukan karena seberapa sakitnya tetapi dengan siapa menanggungnya
Dan lagi-lagi menanggungnya ini sendiri
Merasakan perihnya selang yang dimasukan ke dalam mulut
Rasanya sangat mual dan berasa dimasukkan ke mesin pencuci mobil
Di beri air, dibasuh, di beri air lagi, di kuras, di isi, terus menerus seperti itu
Luka yang dibasuh air menjadi perih seketika dan ku hanya bisa meringis sendirian dalam ruangan pekat etanol

Ku melihat miris apayang ada dalam tubuhku
Cairan tak jelas berwarna merahmuda
Katanya ada luka yang telah menjadi parut kini terkikis lagi
Dia memarahiku yang begitu bodoh mengulang kesalahan 3 tahun lalu dan malah semakin memburuk
Aku tak membantah, sudah, ini memang seperti ini

Dua minggu setelah berselang
Ku rasakan sakit di bagian lain dalam tubuhku
Dan ini membuatku sangat takut
Sangat takut hingga ku habiskan seharian untuk merenung
Ayolah ini kenapa lagi

Hasilnya mencengangkan
Selama ini segalanya memburuk akibat ketidakpedulianku pada diriku sendiri
Ku terkejut bukan main, terdiam lemas

Saat itu udara begitu dingin dan lembab, ku langkahkan kakiku perlahan sedikit demi sedikit
Sepatuku beradu basah dengan genangan air sisa hujan di senja itu
Tak banyak yang ku pikirkan saat ku berjalan kala itu
Aku hanya ingin tidur, itu saja..

Sampailah aku pada tempat dimana ku bisa tertidur
Ku baringkan tubuhku, ku luruskan seluruh badanku
Mata ini menatap langit-langit kamar
Lampu digelapkan, kata temanku itu sengaja sebab dia tak bisa tidur jika lampunya menyala
Samar ku lihat wajah temanku yang tertidur tepat disampingku
Tidurnya begitu lelap, dalam, dan nyenyak
Ingin rasanya seperti itu, tidur dengan senyenyak dan sedalam itu

Pikiranku pun lari kemana-mana
Ketika badan ini telah lelah dideru rasa sakit tetapi mata ini enggan terpejam
Ku terduduk, ku tundukkan kepalaku
Lalu airmata ini tiba-tiba mengalir begitu deras
Dada ini bergetar hebat, ku tutupi wajahku dan ku tahan mulutku hingga tak ada suara yang keluar dari mulutku
Ku gapai bantal dan ku letakkan di wajahku
Semoga bantal ini dapat meredam segalanya pikirku kala itu

Ku rasa menyesal dan amat sangat merasa bersalah terutama pada diriku sendiri
Ku benci pada diriku
Ku muak pada diriku
Ku menyesal pada diriku
Ku bersalah pada diriku
Ku sedih pada diriku
Tetapi ku tak dapat berbuat apa-apa
Lagi-lagi ku lihat wajah temanku yang tertidur itu, aku harus berkata apa, aku harus berkata dan bercerita darimana, akankah dia akan menerima segala keadaan ini, akankah ku diperlakukan seperti biasa, lidah ini kelu dan tak dapat berkata apa-apa

Maaf..
Maaf..
Maaf..
Ku tak berbagi bukan berarti ku tak menganggap
Ku hanya tak ingin membebani
Mungkin ini takdir getir yang harus ku jalani atas kesalahanku yang harus ku tebus sendiri
Maaf, sekali lagi maaf...

***

Ku buka mataku
Ku angkat tubuhku
Ku duduk diatas aspal landasan pacu
Matahari terik sudah menyerang
Menyuruhku segera pergi dari sana
Lalu ku berdiri, melangkah meninggalkannya

Disamping pandanganku ada ilalang tinggi yang mengapit landasan pacu
Haruskah ku kesana bermain dengan ilalang itu
Ku tersenyum dan mengangguk
Mari kesana, mungkin itu tempat yang lebih teduh
Lebih nyaman dan bersahabat untuk melanglang pikiranku pada cerita tentang …
Tentang sesuatu yang tak dapat diucapkan secara kata prakata..


Cianjur, 1 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...