Landasan pacu begitu
luas tergambar mata ini
Begitu luas dan
terik kala ku menengadah pada langit yang tampak biru dan cerah
Ku halau sinarnya
dengan telapak tanganku
Samar, ku masih
melihat semburat cahaya dari sela-sela jariku
Cahayanya begitu
kuning dan indah menghangatkan wajahku yang kini mulai memerah
Angin datang
tiba-tiba membelai rambutku
Begitu dingin di
sela teriknya panas matahari
Ku lihat pesawat
terbang mengudara tepat di atasku
Anginnya begitu
besar bahkan menghamburkan rambutku ke angkasa
Ku tersenyum dan
lebih tepatnya ku tertawa
Rambutku menjadi tak
karuan
Ku berlari seolah
mengejar pesawat itu
Bukan untuk
benar-benar mengejarnya, tetapi untuk berlari dan melepas semuanya
Ku berteriak melawan
deru suara pesawat yang terbang
Rasanya teriakanku
hampir memutuskan pita suaraku
Tak apa, yang
penting ku bisa meluapkannya
Lelah berlari, ku
baringkan tubuhku begitu saja di atas aspal landasan pacu
Hangat meresap ke
pakaian dan langsung pada tubuhku
Matahari makin terik
menyerangku namun ku biarkan panasnya
Ku pejamkan mataku,
warna lembayung seolah hadir di tengah pelupuk mataku, biar dulu aku ingin
tertidur sebentar
Melanglanglah aku
pada saat itu, tahun 2016 yang baru sehari ku tinggalkan
Tahun yang penuh
Darah, Keringat, dan Airmata
*****
DARAH
Agustus 2016
Kali kedua setelah
hampir 3 tahun tidak mengalami hal menyedihkan seperti ini
Bukan karena
seberapa sakitnya tetapi dengan siapa menanggungnya
Dan lagi-lagi
menanggungnya ini sendiri
Merasakan perihnya
selang yang dimasukan ke dalam mulut
Rasanya sangat mual
dan berasa dimasukkan ke mesin pencuci mobil
Di beri air,
dibasuh, di beri air lagi, di kuras, di isi, terus menerus seperti itu
Luka yang dibasuh
air menjadi perih seketika dan ku hanya bisa meringis sendirian dalam ruangan
pekat etanol
Ku melihat miris
apayang ada dalam tubuhku
Cairan tak jelas
berwarna merahmuda
Katanya ada luka
yang telah menjadi parut kini terkikis lagi
Dia memarahiku yang
begitu bodoh mengulang kesalahan 3 tahun lalu dan malah semakin memburuk
Aku tak membantah,
sudah, ini memang seperti ini
Dua minggu setelah
berselang
Ku rasakan sakit di
bagian lain dalam tubuhku
Dan ini membuatku
sangat takut
Sangat takut hingga
ku habiskan seharian untuk merenung
Ayolah ini kenapa
lagi
Hasilnya
mencengangkan
Selama ini segalanya
memburuk akibat ketidakpedulianku pada diriku sendiri
Ku terkejut bukan
main, terdiam lemas
Saat itu udara
begitu dingin dan lembab, ku langkahkan kakiku perlahan sedikit demi sedikit
Sepatuku beradu
basah dengan genangan air sisa hujan di senja itu
Tak banyak yang ku
pikirkan saat ku berjalan kala itu
Aku hanya ingin
tidur, itu saja..
Sampailah aku pada
tempat dimana ku bisa tertidur
Ku baringkan
tubuhku, ku luruskan seluruh badanku
Mata ini menatap
langit-langit kamar
Lampu digelapkan,
kata temanku itu sengaja sebab dia tak bisa tidur jika lampunya menyala
Samar ku lihat wajah
temanku yang tertidur tepat disampingku
Tidurnya begitu
lelap, dalam, dan nyenyak
Ingin rasanya
seperti itu, tidur dengan senyenyak dan sedalam itu
Pikiranku pun lari
kemana-mana
Ketika badan ini
telah lelah dideru rasa sakit tetapi mata ini enggan terpejam
Ku terduduk, ku
tundukkan kepalaku
Lalu airmata ini
tiba-tiba mengalir begitu deras
Dada ini bergetar
hebat, ku tutupi wajahku dan ku tahan mulutku hingga tak ada suara yang keluar
dari mulutku
Ku gapai bantal dan
ku letakkan di wajahku
Semoga bantal ini
dapat meredam segalanya pikirku kala itu
Ku rasa menyesal dan
amat sangat merasa bersalah terutama pada diriku sendiri
Ku benci pada diriku
Ku muak pada diriku
Ku menyesal pada
diriku
Ku bersalah pada
diriku
Ku sedih pada diriku
Tetapi ku tak dapat
berbuat apa-apa
Lagi-lagi ku lihat
wajah temanku yang tertidur itu, aku harus berkata apa, aku harus berkata dan
bercerita darimana, akankah dia akan menerima segala keadaan ini, akankah ku
diperlakukan seperti biasa, lidah ini kelu dan tak dapat berkata apa-apa
Maaf..
Maaf..
Maaf..
Ku tak berbagi bukan
berarti ku tak menganggap
Ku hanya tak ingin
membebani
Mungkin ini takdir
getir yang harus ku jalani atas kesalahanku yang harus ku tebus sendiri
Maaf, sekali lagi
maaf...
***
Ku buka mataku
Ku angkat tubuhku
Ku duduk diatas
aspal landasan pacu
Matahari terik sudah
menyerang
Menyuruhku segera
pergi dari sana
Lalu ku berdiri,
melangkah meninggalkannya
Disamping
pandanganku ada ilalang tinggi yang mengapit landasan pacu
Haruskah ku kesana
bermain dengan ilalang itu
Ku tersenyum dan
mengangguk
Mari kesana, mungkin
itu tempat yang lebih teduh
Lebih nyaman dan
bersahabat untuk melanglang pikiranku pada cerita tentang …
Tentang sesuatu yang tak dapat diucapkan secara kata prakata..
Cianjur, 1 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar