Sabtu, 25 Maret 2017

Hukum Penyuka Sastra

25 Desember 2016 - 25 Maret 2017

Wise men say
Only fools rush in
But I can't help falling in love with you
Shall I stay?
Would it be a sin
If I can't help falling in love with you?


Lagu itu terus kau mainkan melalui headset di telingaku
Kau terus bergumam nada lagu itu, ya..lagu kesukaanmu
Aku selalu memintamu menyanyikannya langsung, tapi tetap saja kau selalu membantah dan berkata,
"Kamu boleh minta apa saja, tetapi jangan memintaku untuk bernyanyi. Suaraku sama sekali tak bagus, ah.. Kamu akan pingsan mendengarnya."
Dia berkata seperti itu sambil sesekali membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tak perlu dibenarkan, lalu dia tersenyum dengan matanya yang menjadi segaris itu..
Ah..Gemas sekali, haha..

***

Aku hanya memandang luasnya danau pagi itu, rasanya angin semilir memasuki setiap pori-poriku
Ku bersenandung lagu Elvis Presley - Can't Help Falling In Love, hanya bergumam, namun kini sendirian di depan danau yang tenang, seperti perasaanku saat itu
Tenang dan diam..
Atau memang hanya berpura-pura tenang..
Tetapi rasanya ini ingin meledak, ingin sekali berlari dan berkata, "Please, Dont Go!!"
Namun hal itu terlalu klise dan dramatis untuk diungkapkan

Pagi ini 25 Maret 2017, Depok tampak mendung, bahkan sinar matahari rasanya malas untuk menampakkan diri
Langit Depok kelabu, dan gerimis pun menyadarkanku untuk tak terlalu lama menatap danau
Ku berlari kecil menuju "ruang belajar", sebuah ruangan yang selalu dijadikan tempat bertemu

"Tak usah saling berbicara, ini bukan tempat ngobrol, ini tempat belajar."
"Lalu kenapa membawaku kesini?"
"Ya, biar belajar."
"Belajar saja sendiri, disiplin ilmu kita berbeda jadi ngapain belajar bersama?!"
"Ya, tapi aku ingin tidak ingin sendiri belajarnya." Ucapnya dengan mata yang tertuju pada buku yang isinya pasal semua. Dia sama sekali tak memandangku saat berbicara. Aku bosan dan memasangkan headset di handphone-ku.
"Eh, bentar." Ucapnya. Kali ini dia mengalihkan matanya dari buku tebalnya.
Dia mengeluarkan handphone-nya, lalu beberapa saat kemudian dia berkata, "Buka Line!"
Aku membukanya, ada sebuah kiriman.
"Apa ini?"
"Itu kan sudah namanya, pakai nanya?!"
Hm...Juteknya kambuh. Dia mengirim sebuah mp3, lalu ku dengarkan melalui headset-ku.
"Ya, ampun ini kan versi lamanya."
"Yaudah dengerin aja, aku mau lanjut belajar, besok kuis." Dia lagi-lagi menghiraukan aku. Kembali menatap buku pasal-pasal itu.

Aku mendengarkan lagu itu berulang-ulang di "ruang belajar".
Kali ini sendiri tanpa si kutu buku itu.
Dia kini sedang terbang tinggi mengangkasa.
Tak kan tergapai dan diraih kembali.
Padahal ini belum dimulai dan belum ingin dibuka, tetapi apa dan mengapa begini dan seperti ini.
Rasanya seperti, ini mengapa sesak.
Ini mengapa seperti ingin terisak, meraung, dan menjerit.
Tetapi tetap saja tenang dan diam.

***

"Kalau lo ga suka sama cara kepemimpinan gue, mending lo keluar aja dari kepanitiaan ini. Gue ga butuh orang yang ga bisa jaga komitmen. Ini acara gede, kalau lo setengah-setengah mending lo mundur." Lelaki berkacamata itu tampak seriius. Diantara ratusan orang, dia berkata dengan tegas dan hmm..savage sekali.
Semua dalam forum itu terdiam dan menunduk. Tapi aku penasaran dengan wajahnya saat itu, aku memandangnya, dan ada getir diwajahnya. Tampak lelah seakan merasa apa kerja kerasnya tak dianggap orang lain. Aku pernah merasakan posisi seperti itu, sering, sering sekali.
"Jadi gue mohon banget sama kalian semua, please do team work and makes our dream come true! It's not for me, but for you all. I never asked you into this, you choose it, so, you must be responsible it." Ucapnya, nadanya semakin bergetar. Terlihat sekali dia seperti menahan rasa marah, tapi dia tahan, Dia menggigit bibirnya. Dia membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tidak perlu dibenarkan.
Forum pun dibubarkan.
"Hei, sini!" Lelaki itu memanggilku. Aku menghampiri dan berkata, "Iya, Kak?"
"Sudah sampai mana?"
Dia bertanya progres pekerjaanku, aku bercerita panjang lebar dan dia cuma manggut-manggut.
"Dek, suka puisi?" Ucapnya tiba-tiba.
"Hah?"
"Ga jadi deh."
"Eh.." Aku kayak orang bego yang planga plongo, ketika aku sudah laporan ini itu, tiba-tiba dia tanya seperti itu. "Aku ga terlalu suka puisi, Kak."
"Terus?"
"Ya, suka teaternya aja. Habis bingung sih."
"Bingung gimana?"
"Puisi itu menginterpretasinya kayak gimana, harus gimana, dan ya..bingung."
"Ya dibaca aja, isinya kayak gimana."
"Nah itu.."
"Gue suka banget sama puisi. Kayaknya enak aja baca kalimat yang tersirat kayak gitu, butuh pemikiran buat ngartiin setiap kalimatnya."
Ini anak suka puisi kenapa ga kuliah sastra aja sih, malah ambil hukum coba. Ungkapku dalam hati.
"Aneh ya, anak hukum suka puisi?" Ucapnya tiba-tiba. Aku kaget lagi, apa dia bisa baca pikiran ya, apa dia bisa mendengar gumamku barusan.
"Nggak kok, Kak. Bagus heheh. Aku juga anak kesehatan tapi suka teater, kan ga nyambung, haha" Aku mencoba tertawa, hmm.. awkward banget rasanya situasi ini. Rasanya pengen cepet selesai percakapan ini.
"Yasudah kerjakan urusannya ya, kalau ada apa-apa, kabari gue ya."
Akhirnya obrolan ini selesai.
Tetapi obrolan lain pun datang.
Mengapa
Semakin
Kesini
Semakin
Senang
Mengobrol
Dengannya
Berbincang tentang segala hal
Berbincang tentang apapun
Tidak.
Sepertinya ini harus dihentikan
Sebelum..
Sebelum..
Sebelum berharap semakin jauh
Karena
Ini
Semua
Dimulai
Dari
Kebohongan
Oh... Caught in a Lie..
A Sweet Lie ever..

***

25 Desember 2016 

"Gue mau ngomong sesuatu."
"Sama, Kak, aku juga mau ngomong sesuatu."
"Yaudah, Dek dulu."
"Hm..."
"Apa?"
"Gimana, ya.."
"Ah..Lama."
Susah banget ya ampun, rasanya pengen kabur dari situasi ini. Tetapi ini harus diselesaikan biar jelas, tapi buat apa sih kejelasan toh juga, apa sih ini, situasi apa ini. Aduh...
"Jadi gini, Kak, sebenarnya Kak ga harus panggil aku Dek, yang jelas aku lebih tua dari kakak. Terus aku ini..."
"Ya tahu, kok." Dia menyela pembicaraanku.
"Tahu gimana?"
"Ya intinya udah tahu kok, jadi mau ngomong itu?"
"Hah?" Sumpah aku masih bingung. Jadi selama ini dia sudah tahu, terus dia biasa aja?
"Sekarang gue yang mau ngomong. Dek tahu ga kenapa tema acara ini every moment count together?"
"Hah?" Sumpah aku masih ngga ngerti dong.
"Yes, because I want to make moment count together."
"Hah?"
"Kenapa sih hah mulu? Kepedesan?"
"Kak, udah tahu dari kapan?"
"Apaan sih?"
"Ya kalau aku lebih tua?"
"Emang itu penting banget, ya?"
"Hm..ya tapi.."
"Yaudah deh, intinya gue udah tahu dan itu ga penting. Intinya, let's make every moment count together".
"Tapi ini?"
"Doesnt mean anything, just do it together. Laper kan? Yuk, makan."
"But why?"
"Hah?"
"Em..Why?"
"It's nothing, just I want it. I just attract to you among 240 people on it. Cleary?"
"Hmmm..."
"Yuk, makan.."
Semuanya terjalani dan begitu saja.
Tapi mengapa..

***

25 Maret 2017

Pagi itu di depan danau, ku membaca dua lembar kertas yang diselipkan pada halaman ke 4 sebuah buku..


PEMBERIAN TAHU

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.

Kupilih kau dari yang banyak, tapi

sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.

Aku pernah ingin benar padamu,

Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,


Kita berpeluk cium tidak jemu,

Rasa tak sanggup kau kulepaskan.

Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,

Aku memang tidak bisa lama bersama

Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!


Chairil Anwar, 1946


Lalu lembar berikutnya ku buka..


KELABU UNTUK SENDU YANG MENUNGGU

Jauh sudah ku menerka asa ini
Jauh sudah ku redam resah ini
Kelu lidah berkata ini
Seharusnya permulaan tak perlu dimulai
Jika sesak rindu tertahan hanya sampai disini

Tak pantas bibir ini memohon maaf
Atas kelancangan menaruh asa pada kelabu yang tak ingin bersinar
Datangku memberi pelangi namun tetap saja kelabu
Ku hancur pondasimu lalu kini ku berlari
Ku manusia tak tahu diri

Tersenyumlah, atau setidaknya bersinar
Ku tak termaafkan 
Ku pecundang yang bersembunyi dalam keraguan
14000 kilometer, sesak rindu ini tak termaafkan
Kelabu untuk sendumu, bersinarlah
Rebut sinarku untuk mu
Agar biar saja ku yang sendu, kelabumu akan menjadi jingga

Tak perlu menunggu
Tak perlu jika menambah sendu

MR, 25 Maret 2017

Lalu hujan pun turun, ku belari menuju "ruang belajar" dengan segala kebisingan yang teredam

***

Kisah yang tak berawal dan entah apakah ini memang sudah berakhir.
Terimakasih sudah menjadi bagian cerita pendek hitam duniaku, wahai Hukum Penyuka Sastra.

Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Some things are meant to be
Take my hand,
Take my whole life, too
For I can't help falling in love with you


*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...