Ada yang salahkah
dari penglihatanku ini?
Ku menutup rapat
mataku, lalu ku membukanya kembali
Tetap saja, tak
berubah
Ini ada kesalahan
dari mataku!
Ini jelas kesalahan!
Bagaimana lautan
yang biru kini menghitam pekat?
Tanganku mencoba
merasakan airnya
Dingin sekali
Ombaknya begitu
besar, seakan ingin memakanku hidup-hidup
"Lakukanlah!!"
Teriakku.
Jika ingin membawaku
bersamamu, lakukanlah!
Ku menoleh
kebelakang
Disana terlihat
barisan orang-orang memandang tajam kearahku
Mereka menertawaiku.
Meneriakkanku seorang pecundang. Pembual
Merekalah yang
mendorongku di tepi lautan yang hitam pekat
"Tanpa perlu
kalian dorong, aku memang ingin melakukannya. Ya, terimakasih!"
Ucapku pada barisan
orang-orang itu.
Mereka manusia tanpa
wajah dan lidahnya panjang menjilati kotoran mereka sendiri
Aku terlalu berharga
bersama mereka
Lebih baik aku
hanyut ditelan ombak daripada harus menjadi bagian dari mereka
Picik!
Munafik!
Mereka meneriakku
seperti itu.
Hah, tak salah
dengar?
"KALIAN YANG
MUNAFIK DAN PICIK!!"
AKU INGIN MATI
SAJA!!!!!
Itu artinya kamu
kalah dari mereka. Usik batinku.
Tak ada tempat
bagiku.
Ku tak diterima
dimanapun.
Ku tak bisa
menjadikan mereka menerimaku.
Ku tak bisa menjadi
nyaman dengan ini semua.
Lihat, Lihat, ku
melukai tubuh dan jiwaku sendiri karena menelan kemunafikan mereka.
Aku tak sanggup
hidup berpura tersenyum pada apa yang tak sesuai dengan jalanku.
Aku hitam. Pekat.
Tak ada sinar yang
mau menerangiku.
Aku berduka.
Duka yang teramat
panjang.
Mungkin memang
selamanya ku akan berduka.
Ini jalanku.
Ini pilihanku.
Aaarrrgggghhh..mereka
terus menertawaiku, aku menutup telingaku.
Aku meneruskan
langkahku.
Rasa dingin lautan
merasuk masuk ketelapak kakiku
Semakin lama
membasahi kaki, lutut, hingga tak terasa kini airnya sudah sampai dada
Sesak.
Dingin sekali
merasuk dadaku.
Ku tak mau menoleh
ke belakang.
Ku tak mau melihat
manusia-manusia tanpa wajah itu
Air sudah sampai
leherku.
Sebentar lagi.
Sebentar lagi aku
akan bertemu keabadian.
Mungkin disana tak
akan lebih indah.
Malah mungkin akan
didera siksa atas pelanggaran hidup sesuka yang ku lakukan dulu
Lagi-lagi ini
jalanku
Kini air telah
memenuhi seluruh tubuhku
Kakiku sudah tidak
lagi berpijak
Ku tak memberontak
Ku terhenti nafas
Ku mencoba membuka
mata
Tak ada yang bisa ku
lihat
Sesak
Semakin sesak dan
sakit
Rasanya perutku
telah dipenuhi air hitam pekat itu
Ya, ini tempatku
Akhirnya ini
kegelapan yang abadi
Ku lelah, saatnya
beristirahat panjang
Ini sakit, tapi
mengapa begitu menenangkan
Begitu nyaman, sakit
ternyaman yang pernah kurasa
Dari segaris mataku
yang terpejam, ku melihat cahaya
Cahaya semakin lama
semakin memenuhi pelupuk mataku
Ku membuka mata
perlahan
Apa ini tempat yang
diinginkan setiap orang itu?
Ah..tidak mungkin
secepat ini
Dan aku pun tak
pantas berada disana
Tapi ini sungguh
terang sekali
Lalu ku rasa,
Ya, aku merasakan
sesuatu
Sesuatu yang menarik
tanganku
Tetapi ku tak bisa
bergerak
Ku tak memiliki
tenaga untuk menolak tarikan itu
Ku terbawa entah
kemana
Apakah ku telah
dijemput oleh malaikat maut
Ya, mungkin saja dia
Gelap.
Gelap.
Dan saatku membuka
mata, aku berada di pesisir pantai
Apa ini?
Apa?
Ku seperti orang
kebingungan.
Lautan yang ku lihat
masih hitam pekat
Samar ku lihat
punggung seseorang
Apa dia yang telah
menarikku ke daratan?
Ku terduduk,
"Hei…!! Mengapa kau melakukan ini?"
Dia tetap berjalan
menjauhiku.
"Hei..!"
Ingin rasanya ku berdiri dan mengejarnya, tetapi dada ini masih sakit.
"Hei..!"
"Hei..!"
Ku terbatuk, suara semakin parau.
Dia masih terus
berjalan menjauhiku
Aku lemas dan
terkulai diatas pasir pantai.
AAAAAAAA….!!
Aku kesal seketika.
AAAAAAAA….!!
"Selamat
berduka, jalani dan jangan bertindak seperti pengecut!"
Hah?? Aku kaget,
suara siapa itu?
Aku terduduk namun
tak ada siapa-siapa
Punggung itu pun
kini sudah tak terlihat
Apa ini?
Apa semua ini?
Apa memang ku
dihukum untuk mejalani kedukaan ini.
Terbaring abadi
dalam hitamku, diantara sinar imaji?
Entahlah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar