Minggu, 15 November 2020

Semicolon;

"Jika hidup bisa memilih untuk berhenti atau melanjutkan, manakah yang akan kau pilih?"

Ku biarkan pertanyaan itu menembus dinding pertahananku yang sudah sekian lama berjuang melawan segala kegamangan. Satu persatu pertanyaan lainnya berceracau dalam pikiranku. Ku biarkan saja mereka berisik di otakku. Setidaknya ku tidak terlalu merasa sepi dan sendiri.

"Tidak bisakah hidup semudah menekan tuts do re mi di piano?"

Tertawa ku terbahak-bahak mendengarnya. Ada-ada saja. Kadang yang tidak ada dibuat ada, yang ada dianggap tidak ada. Ya mana ada menekan tuts do re mi itu mudah jika letaknya saja tidak tahu? Konyol.

"Kenapa segala harus masuk akal? Memang hanya aku saja yang konyol?! Kamu juga!!"

Jelas aku lebih konyol membiarkan ceracau ini terus menggema tanpa bisa ku kelola. Rasanya sudah mencapai titik kulminasi tanpa tahu apakah ini lelah atau pasrah. 

"Bisakah kita berhenti saja?"

Apa lagi? Kenapa lagi? Ada apa? Mau berhenti dari apa? Bahkan jika ini memang sakit, ku sendiri tidak tahu sumbernya dimana, sakitnya sebelah mana, atau sejak kapan. Semua terlalu gamang bahkan aku tidak tahu ini nyata atau hanya sekedar kata-kata.

"Jadi mau dilanjutkan saja?"

Mau melanjutkan apa sebenarnya? Aku sebal akan diriku sendiri yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi bukan dengan jawaban. Sebab, aku pun tak tahu jawabannya apa. Kita disini saling bertanya, saling bingung, saling tidak mengerti, bahkan saling tidak memahami.

Jangan bertanya lagi! Biar aku saja yang mengambil alih. Sudah cukup ceracau ini menguasaiku, kini harus aku kendalikan. Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Sebab aku takut.

Aku semakin takut.

Takut akan diriku sendiri.

Takut tak akan kembali menjadi diriku sendiri dan membiarkan terjatuh begitu dalam ke dasar jurang yang dingin. Ku pernah berada disana dan ku tak mau lagi. 

Aku berusaha sadar. Berusaha memahami sesuatu yang membuat kepalaku ingin meledak saja. Hingga di satu titik, aku ingin berhenti. Ini sudah cukup. Sudah lebih dari batas aku sendiri.

"Omong Kosong!!!"

Sial!! Kenapa kamu ...

"Diam dulu! Kamu selalu berkata demikian, membiarkan dirimu terjatuh dan dikuasai oleh sisi terkelam. Aku mohon hentikan untuk berkata bahwa ini sudah melebihi batas karena ada aku yang akan menyeretmu naik dari jurang dingin itu, ada aku yang akan menjadi sinar di saat semua cahaya memilih untuk pergi darimu, masih ada aku, meski aku pun sering ingin menyerah dan selalu mempertanyakan mengapa kita seperti ini. Bukan kamu saja yang ingin berhenti, aku juga sama tapi setidaknya tidak sekarang. Tidak oleh diri kita sendiri tetapi oleh Dia yang pemilik segala kuasa ini. Sebab aku yakin alasan kita masih disini karena memang kita belum selesai, hidup masih ada waktu untuk kita diami."

Sungguh kamu itu maunya apa? Tadi kamu mempertanyakan antara berhenti atau lanjut, meminta untuk berhenti saja, kini dengan bijaknya berkata berbelit-belit bahwa kita masih ada waktu. Kamu yang omong kosong! Sudah hentikan ceracaumu, jangan lagi menggema di pikiranku, kau hanya membuatku kian terpuruk dan bersalah akan keputusanku nanti.

"Izinkan aku sekali lagi untuk berkata, bolehkah?"

....

"Aku mohon sekali ini saja."

....

"Tolong."

Baiklah. Sekali saja.

"Terimakasih. Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada dirimu yang sudah bertahan hingga sekarang meski kerap aku sering mengusikmu dengan mempertanyakan perihal yang hanya membuatmu serba salah. Kedua, aku minta maaf karena sering menginginkan hal yang mudah, tentu saja hal itu kerap membuat kita berselisih sebab kamu berkata itu tidak sesuai dengan keteguhan yang kamu pilih, aku selalu saja mengusikmu dengan rengekanku yang begitu membenci hidup namun terlalu takut untuk berhenti. Kata maafku bahkan lebih panjang dari kata terimakasihku. Ya aku banyak salah padamu, bahkan kamu pun bosan mendengarnya. Tetapi aku tulus mengatakan hal tadi bahwa kita masih ada waktu. Jadi aku mohon. Sudah cukup yang ingin aku katakan. Aku akan diam sekarang."

Jika saja kamu memilih untuk berhenti, apakah ini semua ini akan selesai begitu saja? Rasa sakit ini sudah kadung beredar di seluruh tubuhku tanpa bisa ku identifikasi lagi titik paling sakitnya berada dimana. Jika berhenti, apakah rasa sakit ini akan hilang? Kita pernah mencobanya kan? Namun gagal. Seringnya gagal. Benar katamu, mungkin karena kita belum waktunya untuk berhenti. Benar-benar berhenti. Tapi lucu juga kalau diingat-ingat. Betapa inginnya kita untuk berhenti tetapi di sisi lain kita begitu takut.

Kita takut berada di tempat yang tinggi karena takut jatuh.
Kita takut berada di kecepatan tinggi karena takut bertabrakan.
Kita takut berada di tempat asing karena takut dilukai.
Kita takut berada di kegelapan karena takut tak bisa berbuat apa-apa.
Hingga sampailah kita pada titik bahwa kita takut pada diri kita sendiri karena pernah merasa adiksi yang kuat untuk hidup.

Lucu ya kita? Aku tahu sekarang kamu sedang tertawa meski kamu diam. 
Semua ceracauku disini perihal tentang berhenti atau lanjut namun pada akhirnya tetap berlanjut. 
Kita tetap menjalaninya. Mencoba teratur. Membiasakan semua terlihat natural. 

Sedih rasanya ketika ada yang selalu berkata, "Ada yang bisa aku lakukan agar kamu merasa lebih baik?" atau "Ada yang bisa aku bantu?" namun nyatanya penolakan yang ku berikan karena ku tidak tahu bagaimana agar aku merasa lebih baik atau cara seperti apa yang mampu membantuku. Benar-benar tidak tahu. Aku ingin ditolong, aku ingin dihentikan saat pikiran seperti ini datang, tetapi aku tidak bisa.

Aku dan segala keegoisanku memilih untuk mengajakmu ikut dalam jurang dingin itu. Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, tetap memberikan uluran tangan, tetap berada disampingku, tetap memberikanku cahaya, tetap mengingatkanku untuk bertahan, dan memberikan kehangatan di musim dingin abadiku. Pertanyaanmu tentang lanjut dan berhenti malah menamparku dari sisi lain seperti kamu sebenarnya ingin memberitahu padaku, "Apa kamu mau terus seperti ini, pecundang?!" Tidak perlu sungkan, ya aku tahu secara eksplisit kamu ingin berkata demikian namun kamu terlalu sungkan memilih diksi yang pas hanya untuk bertutur denganku. Dan maaf ya .. maaf sekali .. maaf .. maaf sedalamnya .. maaf .. benar-benar maaf .. aku selalu tidak sabar, aku yang penuh kepura-puraan, aku yang pecundang dan berbelit-belit dengan omong kosong, maaf membuatmu lelah, mengajakmu terjun ke jurang, dan mengacuhkan begitu kasar. 

Kini, seperti halnya titik koma. Mungkin kita bisa berhenti, namun berhenti untuk melanjutkan. 
Sampai waktu itu tiba. Aku dan kamu. Kita. 



Jumat, 30 Oktober 2020

Kelola Rasa

Malam kontemplasi yang selalu ku hadirkan setiap harinya sebelum tidur, membawaku pada perasaan yang tak karuan. Aku begitu marah, sedih, gusar, dan kecewa saat itu akan hal-hal yang entah apa karena saking begitu rumitnya. Sebab ku tak suka akan perasaan yang tak beralasan (ps. kecuali jatuh cinta, karena there's no reason to be lover), aku selalu menuliskan perasaan aku apa dan mengapa hal itu bisa terjadi. Ku pandangi beberapa alasan yang ku tulis atas perasaan campuk adukku, manakah alasan yang irrasional dan rasional. Hampir sebagian besar alasannya irrasional dan persoalan yang lalu timbul lagi, diungkit kembali, dan tercetus. Huft.. Ku hela nafas dan mencoba untuk tidur saja dan selesaikan besok.

Keesokan paginya aku terbangun dengan perasaan yang sangat amat sedih. Dan seolah ingin memperparah keadaan itu, aku memutar dan mendengarkan lagu-lagu yang sedih. Seharian itu aku hanya terbaring di kasur tipisku. Pikiranku berkelana kesana-kemari. Ku tidak ada gairah untuk menghadapi hari itu. Lalu, orang-orang tanpa ba bi bu mengirimiku pesan untuk ini dan itu tanpa memperhatikan dan memperdulikan apakah aku baik-baik saja saat itu.

Memang jika orang basa-basi dan bertanya, "Apa kabar?", apakah kamu akan menjawab jujur jawaban mereka? Tentu tidak. Kamu akan membalas dengan pertanyaan kembali, "Ada apa tanya begitu?" atau jawaban diplomatis, "Aku sih gitu-gitu aja, memangnya ada apa?" dan langsung menanyai orang lain kepada intinya. Ya, sebab begitu, maka orang-orang tak perlu basa basi kepadamu, karena kamu yang membiasakan hal itu dan kini kamu kesal karena orang minta pertolongan kamu tanpa tanya kabar dulu? Hipokrit!

Baik, disini aku yang salah. Tetapi saat itu ya aku akui bahwa aku sama sekali tak ingin diganggu. Seakan mendung memang ada diatas kepalaku. Hingga pada satu titik, aku muak bertemu orang-orang, aku tak ingin bertemu siapapun, dan tidak ingin berinteraksi. Aku ingin sendiri saja. Ku buka semua media sosialku dan aku deaktivasi semua akunku untuk jangka waktu yang entah sampai kapan. Mungkin sampai aku mulai merasa tenang.

Aku sengaja mengistirahatkan dahulu aktivitas media sosialku sementara karena aku tidak mau menjadi impulsif dan menuliskan sesuatu yang emosional yang mungkin kelak akan aku sesali. Aku sedang tidak stabil secara emosi (meski secara finansial sudah lebih dulu terjadi). Aku mudah sekali marah dan jengkel, seakan seluruh dunia itu menyebalkan. Lalu aku dengan mudahnya menangis, menjadi drama queen meratapi nasib hidup yang begitu sulit dan nestapa seakan menjadi manusia paling menderita sedunia. Kemudian dengan mudahnya merasa bahagia, akan jebakan palsu yang mengikatmu padahal itu hanya fana dan manipulasi belaka. Begitulah siklus kehidupanku sekarang. Mudah seperti yang aku inginkan selama ini.

Sebentar. Sebentar. 
Sebenarnya bukan "mudah" seperti ini yang ku inginkan. Bukan.
Bukan mudah marah, mudah sedih, dan mudah bahagia. Bukan.
Yang kuinginkan adalah mudah urusan hidupku di dunia ini.
Terlepas rasa syukur atau tidak tapi aku ingin mengatakan bahwa hidupku tidak mudah.

Mari ku jelaskan.
Jika aku menginginkan sesuatu, aku tidak bisa dengan mudahnya mendapatkannya. 
Entah itu memang jalannya harus berliku, berdarah, penuh luka, dan sakit yang harus ku lalui dahulu untuk mendapatkannya, atau memang aku sendiri yang memilih jalan itu.
Kadang aku suka menantang diri jika diberi jalan yang sedikit mudah.
Memang aku manusia menyebalkan yang mengutuk diberi kesulitan namun merasa tidak tertantang jika diberi kemudahan. Dan kini aku meracau meminta kemudahan. 
Yes, i'm not clown but i'm a whole of circus. 

Sejujurnya aku lelah dengan rasa ini yang tidak bisa ku kelola.
Rasa marahku, rasa sedihku, rasa bahagiaku, bagaimana ku mengelolanya?
Mengapa rasanya begitu sulit? Aku ingin kemudahan. Benar-benar ingin mudah saja.
Ku sudah kenyang dengan tantangan, ku ingin hidupku sederhana saja, mudah saja, biasa saja.
Tidakkah itu dapat terjadi padaku?

Aku tak bisa berada di zona abu-abu. 
Semua terasa meledak-ledak, membuncah, dan berlebihan.
Sungguh rasa ini melelahkan hingga beberapa kali aku kalah oleh diriku sendiri.
Aku tak bisa melawannya. Aku tidak bisa menang akan diriku sendiri.
Aku bukanlah pemegang kendali akan rasa yang aku miliki.
Dia yang mengaturnya dan membuatku menjadi bukan seperti aku.
Aku semakin kehilangan diriku setiap harinya. Aku rindu akan diriku yang dulu.
Diriku yang bisa mengelola semua rasa. 
Bisa tetap tersenyum bahagia meski hatinya bersedih.
Bisa terdiam saja meski amarah mengerubunginya.
Bisa menyimpan kesedihan yang begitu lama tanpa orang tahu.
Memiliki seribu topeng yang dia bisa ganti kapan saja.

Kontemplasiku masih berlanjut. Lebih dalam lagi.
Sadar bahwa aku yang dulu bukanlah sedang mengelola rasa namun sedang menahan dan berpura-pura.
Bukankah sekarang ini akibat dulu ku selalu menahannya maka sekarang membuncah tidak karuan?
Bukankah kini kepura-puraan itu menjadi lebih jujur bahwa setiap rasa yang terjadi itu memang apa adanya begitu? Ku melepas topeng itu semua dan memperlihatkan bahwa inilah aku.
Dan sialnya, hal itu tidak bisa ku terima!
Aku yang mana dulu ini yang tidak terima akan hal itu? 
Aku bahkan tidak tahu lagi sebenarnya aku ini siapa dan apa mauku.

Aku tidak ingin menjadi orang yang "mudah" melampiaskan rasa yang berlebihan dan berganti begitu cepat.
Tapi aku pun tak ingin menahan atau bahkan berpura-pura akan rasa itu lagi. Sungguh rumit.
Yasudahlah, hari ini ku telah kalah dari diriku sendiri. 
Masih ada esok, mari coba lagi untuk memenangkannya.
Semoga ku bisa benar-benar mengelola rasa tanpa terpaksa atau tergesa.

Selasa, 07 April 2020

Ilusi Kebahagiaan

Temanku selalu bertanya mengapa ku tak punya cermin di kamarku. Aku menjawab bahwa aku tak suka melihat diriku. Diriku yang penuh kepura-puraan. Pura-pura tangguh, pura-pura kuat, dan pura-pura bahagia.

Lalu ku membeli cermin, agar jika temanku ke kamarku dan ingin berkaca, aku dapat menyediakannya. Namun setelah itu, cermin itu ku balikkan. Lagi-lagi aku tak suka melihat cermin. Apalagi melihat pantulan diriku di cermin.

Apa aku sebegitubencinya terhadap diriku sendiri hingga melihat pantulan di cermin saja tidak mau?
Ya bisa jadi iya, bisa jadi tidak.
Yang pasti aku selalu didera kelelahan berkepanjangan. Seakan ingin berhenti namun dunia terus saja berputar tak memberiku rehat.
Seakan, ya namun tak benar-benar akan.

Suatu hari ku beranikan diri untuk menatap diri di cermin, aku menatap lekat-lekat.
Inilah seseorang yang ku lihat di cermin, lagi-lagi penuh kepura-puraan. Aku pun menatap nanar wajah yang terpantul itu. Matanya mulai digenangi air. Tampak dia begitu kuat menahannya agar tak sampai jatuh dengan menggigit bibirnya. Namun semakin dia menahannya, semakin banyak genangan itu hingga akhirnya semuanya tumpah membasahi pipi. Dia menutup wajahnya dengan tangan, tak kuasa lagi dia melihat cermin. Dia kini terisak larut akan kesedihan yang dia ciptakan sendiri. Lalu tetiba dia bergumam, "mengapa untuk merasa bahagia begitu sulit?!"

Aku muak melihatnya! Aku balikkan cermin itu. Dan ku rasa dingin di pipiku. Aku menyentuhnya dan basah. Ah sial!! Ternyata yang menangis itu adalah diriku, ya siapa lagi yang kulihat di cermin itu jika bukan diriku yang cengeng ini.

Lalu ku hempaskan tubuhku ke kasur tipisku. Mataku kini menatap langit-langit kamar sempitku. Ku naikkan tanganku seakan mencoba meraih lampu kamar diatasku. Sinarnya begitu silau hingga ku halangi dengan tanganku, namun masih silau hingga akhirnya ku tutup wajahku dengan bantal. Gelap. Semuanya mulai gelap.

Dan ku terisak kembali. Semua kesedihan seakan datang menusuk dari segala arah. Ku biarkan dia menguasaiku, ku biarkan diriku menangis sejadinya. Mungkin ini sudah terlalu berat untuk ditahan dengan segala tameng kepura-puraanku.

Terdengar ceracau-ceracau yang mendengung di telingaku.
"Ibu ngga bangga kamu lulus dari universitas sana, ibu bangga jika kamu menikah dengan orang yang berada."
"Lo tuh yang perlu pergi ke psikiater, obatin diri lo kenapa masih jomblo sampai sekarang!"
"Harusnya kamu lihat keadaan keluarga kamu, malah maksain kuliah lagi. Ngga mikir kamu!"
"Cukup jangan ganggu keluarga aku lagi, disaat aku susah kamu kemana, aku sudah lelah dengan keluarga ini."
"Wajarlah kamu ke psikiater, kamu kan orangnya introvert!"
"Kamu dilecehkan orang? Kamu ada masalah sama saya?!"
"Kamu pasti suap sekolah ya makanya ranking 1 terus?"
"Bapak cuma tukang parkir aja mau sok-sokan sekolah yang bagus?!"

DIAM!!!! Bentakku!! Telingaku makin berdengung mendengar itu semua. Ku tutup semakin kuat bantal di wajahku hingga tangis isakku menjadi sesak, aku kehilangan nafas, aku bahkan tak bisa bernafas. Dadaku berat, kepalaku rasanya terus berputar. Lalu terasa getaran hebat, sangat hebat. Aku terperanjat.
Apa ini? Ada apa ini? Tanyaku didalam hati. Rasanya pipiku masih basah, kepalaku sungguh berat, dadaku masih sesak tapi semua yang kulihat tampak bergetar hebat. Ku pun bergegas lari keluar dengan tas berisi laptop dan berkas penting yang sebelumnya telah kusiapkan jika hal ini terjadi. Ku buka pintu, ku turuni tangga dengan panik, namun setelah tiba dibawah, ku mulai terdiam.

Malam sudah semakin larut dan hanya aku sendiri dengan tas ranselku berdiri mematung.
"AH!!" lagi dan lagi ini datang kembali.
Aku lemas dan terduduk di tangga.
Ku memandang kakiku yang ternyata memakai sandal yang kiri dan kanan berbeda.
Ku raba kepalaku dan terasa rambutku berantakan.
Tidak hanya rambutku, tapi seluruh keadaanku saat itu. Dengan langkah gontai ku kembali ke kamar. Menyimpan kembali tas ranselku dan membanting diriku ke kasur dengan posisi telungkup.
Ku pukul kasurku berkali-kali.
Aku bangun, duduk, dan terdiam kembali.

Mengapa ini begitu nyata? Mengapa seakan-akan yang aku lihat benar-benar bergetar hebat dan nyaris akan runtuh? Aku begitu panik sejadinya. Aku begitu takut sejadinya. Tapi mengapa aku mesti takut? Bukannya beberapa kali aku ingin pergi dari kehidupan ini? Melarikan diri dari sakitnya hidup ini. Jika saja kamarku runtuh hari itu maka biarkan saja aku didalamnya yang nanti aku akan tertimbun reruntuhannya, tapi mengapa aku malah takut, kabur, dan menyelamatkan diri?

Aku berdiri mendekati meja belajarku. Ku ambil beberapa obat lalu ku tegak tanpa minum. Pahit. Namun sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan ini semua. Kepahitan dan kesakitan ini sungguh aku ingin melepasnya. Ini sungguh begitu berat dan tak bisa lagi ku tahan.

Ilusi itu terasa nyata. Namun mengapa hanya ilusi ketakutan yang nyata. Aku ingin ilusi kebahagiaan yang terasa nyata untukku. Aku sudah lelah menangis, aku sudah lelah merasa ketakutan, aku sudah lelah dengan rasa cemas yang tak berkesudahan ini, aku sudah muak dengan rasa sakit ini. Bisakah ini berubah menjadi kebahagiaan? Meski itu hanya ilusi, tak apa yang penting ku bisa merasakan kebahagiaan. Ku tak butuh lagi kenyataan yang hanya dera sakit yang ku terima.

Mataku sudah mulai berat. Nafasku yang sesak kini sudah semakin teratur. Aku mulai menguap. Aku mengantuk. Obatnya sudah bereaksi. Ku mulai baringkan tubuhku ke kasurku lagi.
Ku tatap langit-langit dengan rasa kantuk maha dasyat yang sebentar lagi menidurkanku.

Untuk bisa tenang saja ku perlu minum obat.
Untuk bisa terlelap saja ku perlu minum obat.

Aku tersenyum. Ku merasa bibirku menyungging senyuman meski ku tak melihat di cermin tapi aku tahu jika aku sedang tersenyum.
Ketenangan itu memberikan kebahagiaan yang tersalurkan melalui senyumku.

Ku tutup mataku perlahan.
Bahkan bahagia itu pun ku dapat dari obat.
Ilusi kebahagiaan itu akhirnya datang.
Tak bisa kuciptakan sendiri.
Semua datang dari obat sakti yang kunamai obat kebahagiaan.

Ku pun terlelap. Semakin dalam. Ku bahkan sudah melupakan kejadian menyedihkan saat ku menangis melihat diriku sendiri di cermin serta kejadian ketakutan tak beralasan yang membuatku malam-malam keluar kamar membawa ransel.
Sebuah malam yang panjang yang berputar seperti hampir di setiap hari.

Aku pun tertidur. Aku lelah berpura-pura.
Aku ingin bahagia ini nyata.
Suatu hari nanti.

Rabu, 19 Februari 2020

Kompas : Terdiam lalu Bergerak Perlahan


"Don’t be afraid, it's okay if you fall down
When you feel down, you can take a rest for a while"

Aku menghela nafas panjang ketika penggalan dari lirik lagu itu terdengar di telingaku
Lagu itu berjudul "Compass", akhir-akhir ini mendengarkan lagu tersebut setiap saat
Mungkin aku sedikit kehilangan "arah" sehingga aku butuh kompas untuk mengingatkan akan jalan yang sedang dan akan ku lalui, tetapi daripada ku sebut kehilangan arah, bisa saja sebenarnya arahnya sudah sesuai (dari konteks jalan yang ku pilih), namun ku memilih untuk diam dahulu, tidak bergerak baik ke kanan atau ke kiri, ke depan atau malah ke belakang, ya.. Ku hanya diam, ingin diam dulu.

Anggap saja diam ini sebagai istirahat dari tekanan yang selama ini dibuat oleh diri sendiri meski jelas faktor dari luar lebih sangat mendalam, tetapi aku membiarkannya menusuk dan melukaiku hingga sakit sesakit-sakitnya
Entah darimana ku mendapatkan kalimat ini, tapi aku ingat ungkapannya, "Tak ada yang bisa melukaimu, kecuali dirimu sendiri." Ya.. Ku rasa itu benar adanya, meski terkadang malah ingin menjadi korban atas segala derita ini dan menyalahkan orang lain atau bahkan Tuhan atas kenestapaan ini.
That's human basic, well.

Mengapa ku setuju akan kalimat itu, karena jika kita tidak menganggap itu sebagai luka maka hal itu tidak akan berdampak pada diri kita.
Rasa sedih, kecewa, atau marah sekalipun adalah hal yang kita izinkan datang untuk dirasakan, adapun orang lain atau situasi hanya perantara saja.
Jika kita menganggap hal itu biasa saja, ya tak akan menjadi kesedihan.
Jika kita menoleransi hal itu, ya tak akan kecewa.
As simple as like that, but not .. HAHA

Karena itu, kita perlu orang lain, situasi, keadaan, atau bahkan Tuhan untuk kita jadikan "dalang" dari segala rasa ini.
"Duh.. Gara-gara dia, ku jadi menderita."
"Kenapa aku harus berada di situasi ini, sungguh membuatku marah!!"
Ya jelas dong, harus ada yang disalahkan, mana mau menyalahkan diri sendiri, ada ego dan pride yang mendominasi atau titik level paling tinggi ya jelas dengan menyalahkan Tuhan.
"Kenapa aku harus berada di posisi ini, Tuhan?"
"Kenapa ku di dera luka dan sakit, mengapa tak kau beri kebahagiaan, Tuhan?"
Mau buat versi bahagianya? Ah tak perlu, manusia jika bahagia tak perlu menyalahkan siapapun, tetapi berterimakasih dan bersyukur (biasanya).

Jadi apa yang terjadi padaku tepatnya hari ini?
Ya, aku sangat lelah bahkan saking lelahnya ku hanya berdiam diri sembari memegang kompas yang sebenarnya bisa menunjukkanku ke arah yang ku tuju, namun ku memilih diam dan mulai menangis.
Seharian ini yang ku lakukan hanyalah menangis, sejadinya, sekerasnya namun ku redam suaranya dengan bantal agar tidak membuat orang-orang di sekitarku bertanya-tanya dan malah membuatku jadi pusat perhatian.

Lantas mengapa ku menangis?
Karena aku sendiri yang membiarkan diriku terluka, aku membiarkan diriku sedih, nestapa, menderita, atau segala kata yang bisa mendeskripsikan kesakitan yang luar biasa.
Apakah aku ingin menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padaku ini?
Secara naluriah, ya jelas saja iya, aku akan menyalahkan orang lain, mengutuknya, memarahinya, serta meminta penjelasan Tuhan mengapa ku mesti lahir ke dunia jika hanya derita yang ku punya.
Tetapi ku memilih untuk tidak melakukannya, setidaknya sekarang hm.. Mungkin.

Aku tidak baik-baik saja sekarang, aku mengakuinya
Namun ketidakbaik-baiknya aku ini, tak akan aku salahkan siapapun akan hal itu
Biarlah, ya, aku ingin melepaskan segala rasa sakit itu dengan menangis sepuasnya hari ini
Entah kapan akan redanya tapi aku berharap tidak akan lama

Setiap pagi aku akan mengingat sebelum memulai aktivitas untuk "melepaskan" rasa sakit ini
Hari demi hari, aku ingat untuk "melepaskan"-nya, pelan-pelan saja
Disini aku tidak mencoba untuk sok bijak, hanya aku ingin mengarahkan energiku (yang terbatas ini) untuk hal lain seperti mulai lagi bergerak meski perlahan ya tak apa yang penting ku bisa bergerak, sambil sesekali istirahat
Tak apa-apa, toh aku tidak sedang berlomba-lomba dengan siapapun, ku hanya berlomba dengan waktu kematianku yang tak pernah ku tahu, setidaknya ku melakukan sesuatu hal yang berguna dan sedikit demi sedikit melepaskan sakit itu

Semoga lekas membaik, ya :")

Senin, 20 Januari 2020

Celoteh Sebelum Tidur



Disaat sedang suntuk-suntuknya dan yang ku lakukan hanyalah scrooling media sosial, lalu di grup angkatan ada yang membagikan seminar untuk lanjut studi ke salah satu universitas ternama di Amerika Serikat. Hal yang membuatku tertarik adalah disanalah tempat terbaik -yang menurutku dan dosenku pun pernah mengatakannya- untuk lanjut studi sesuai jurusan yang telah kulalui -karena sudah lulus, alhamdulillah- dan ku geluti sekarang.

Tak seperti kebanyakan teman seangkatanku yang sudah mulai menikah, mempunyai anak, ada yang lanjut S2 di kampus yang sama, ada yang jadi pengabdi negara, dan segala macam pekerjaan, mungkin hanya aku dan segelintir teman-teman lainnya yang bertahan sebagai freelancer -karena disebut pengangguran ya ngga nganggur banget-, jujur aku sama sekali belum pernah menggunakan ijazah terbaruku untuk melamar pekerjaan secara resmi.

Ada hal dan alasan dibalik itu semua yang mungkin aku ceritakan nanti -jika tidak lupa dan malas-. Lalu, akhirnya ku mendaftar ke acara tersebut, karena memang dari dulu ku suka datang ke acara-acara bedah kampus, hunting scholarship, ya yang berhubungan dengan study aboard.

Hari H pun datang, ku tiba saat itu telat 10 menit karena memang berangkatnya telat dan keretanya berhenti lama di salah satu stasiun. Ku bergegas masuk dan ternyata baru pembukaan. Di acara itu pun mendapat snack gratis -lumayan buat ganjel perut- haha.

Di sesi awal, ku sedikit bosan karena yang ku harapkan adalah pembahasan bagaimana caranya bisa masuk ke universitas itu -jangan bilang tinggal masuk ke gerbangnya- dan disana juga ada peraih beasiswa yang sedang kuincar, ku ingin mendengar presentasi dan sesi tanya jawab soal itu. Namun, yang ku dapatkan adalah -anggap saja- seperti sedang kuliah kembali. Seorang doktor menjelaskan studi dan perkembangannya serta beberapa contoh kasus dan pengalamannya. Dia mendapat gelar tersebut dari universitas ternama itu.

Dan yang ku tunggu pun datang, sesi presentasi bagaimana bisa kuliah kesana, tips and trick, dan segala rupa. Ada 4 pembicara, metode yang digunakan panel diskusi. Dua pembicara adalah dokter yang lebih memilih ambil magister di bidang studi yang sama denganku ketimbang menjadi spesialis dan dua pembicara lainnya adalah lulusan yang S1-nya sama denganku.

Salah satu pembicara bahkan satu almamater, hanya beda jurusan namun satu fakultas. Dia seusia denganku, bahkan sejak magang, dia sudah magang di salah satu subunit PBB yang membidangi anak. Keren. Aku kagum.

Ku pun yang asalnya -ya, aku pernah punya mimpi untuk kuliah di Amerika, sebab memang sarangnya dan gudangnya jurusanku itu ada disana bukan di Eropa tapi aku keukeuh pada negara impianku itu, inisial : koentji- ingin kesana, namun api yang mulai padam itu, seakan menyala kembali.

"Ya.. aku juga bisa, kamu juga pasti bisa." Ungkapnya, yang semakin menambah panas api di hatiku. "Yuk, nno, gas!!"

Keesokkannya, aku terbangun dan termangu memikirkan betapa bodohnya aku selama tahun 2019 aku sudah apa saja?? tak ada selain rebahan, berkutat dengan sesuatu yang tak bisa disembuhkan namun hanya bisa ku kendalikan -nanti ku cerita tentang ini, kalau ga lupa, haha- ya, lagi-lagi aku tertinggal dan tahun sudah 2020.

Mana katanya mau study aboard sementara persiapan baru dititik, "okay, gue punya paspor." lha terus lainnya? Ditengah kontemplasi dan ceracau yang terus berdengung di telingaku, akhir aku bangkit dari kasur dan berkata, "Yuk, mulai lagi, sebab tahap yang sekarang jauh lebih sulit maka yuk lebih semangat!!"

Dan kini ku mulai susun strategi mempersiapkan itu semua, mesti entah bagaimana ku membagi antara mewujudkan mimpiku atau berlatih demi memperjuangkan mimpi orangtua.

Ya, sebab bulan ini hampir menuju 1 tahun setelah aku lulus dan aku masih gini-gini aja, mau sampai kapan? Hingga tiba celotehan sebelum tidur ini aku tulis sambil menunggu kantuk.

Aku sungguh tak mau tahun 2020 mengulang 2019 yang sudah ku buang begitu saja, tanpa ada pencapaian apa-apa -okay, nno, kamu dan temanmu bikin jurnal ya yang katanya terbit februari nanti, dan kamu juga sidang skripsi serta lulus di 2019 dan kamu bilang ((ku buang begitu saja)) oh my God- iya, baik.

Progresku lebih lambat dari yang lain. Aku memang selalu tertinggal dan berkutat di persoalan itu itu saja. Belum tekanan dari orangtua yang pasti lebih mendukungku menikah -seperti perempuan seusiaku yang bahkan ada yang anaknya sudah SD- daripada lanjut sekolah lagi.

Tetapi ini impianku, aku ingin jadi peneliti, dosen, dan akademisi. Aku ingin ketika orang mengingat tentang 'itu' -hal yang sedang kugeluti- mereka akan bilang, "ah dia adalah pakarnya!" dan dia itu adalah aku.

Huft, aku harus punya mimpi agar aku bisa tetap hidup, agar aku punya alasan untuk bertahan, meski dunia tak berpihak padaku.

Jadi celotehan ini sudah saja karena efek obatnya sudah bekerja dan ku mulai ngantuk. Intinya, ya begitulah..

Selamat malam, mari wujudkan mimpi jadi kenyataan. 

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...