Minggu, 15 November 2020

Semicolon;

"Jika hidup bisa memilih untuk berhenti atau melanjutkan, manakah yang akan kau pilih?"

Ku biarkan pertanyaan itu menembus dinding pertahananku yang sudah sekian lama berjuang melawan segala kegamangan. Satu persatu pertanyaan lainnya berceracau dalam pikiranku. Ku biarkan saja mereka berisik di otakku. Setidaknya ku tidak terlalu merasa sepi dan sendiri.

"Tidak bisakah hidup semudah menekan tuts do re mi di piano?"

Tertawa ku terbahak-bahak mendengarnya. Ada-ada saja. Kadang yang tidak ada dibuat ada, yang ada dianggap tidak ada. Ya mana ada menekan tuts do re mi itu mudah jika letaknya saja tidak tahu? Konyol.

"Kenapa segala harus masuk akal? Memang hanya aku saja yang konyol?! Kamu juga!!"

Jelas aku lebih konyol membiarkan ceracau ini terus menggema tanpa bisa ku kelola. Rasanya sudah mencapai titik kulminasi tanpa tahu apakah ini lelah atau pasrah. 

"Bisakah kita berhenti saja?"

Apa lagi? Kenapa lagi? Ada apa? Mau berhenti dari apa? Bahkan jika ini memang sakit, ku sendiri tidak tahu sumbernya dimana, sakitnya sebelah mana, atau sejak kapan. Semua terlalu gamang bahkan aku tidak tahu ini nyata atau hanya sekedar kata-kata.

"Jadi mau dilanjutkan saja?"

Mau melanjutkan apa sebenarnya? Aku sebal akan diriku sendiri yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi bukan dengan jawaban. Sebab, aku pun tak tahu jawabannya apa. Kita disini saling bertanya, saling bingung, saling tidak mengerti, bahkan saling tidak memahami.

Jangan bertanya lagi! Biar aku saja yang mengambil alih. Sudah cukup ceracau ini menguasaiku, kini harus aku kendalikan. Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Sebab aku takut.

Aku semakin takut.

Takut akan diriku sendiri.

Takut tak akan kembali menjadi diriku sendiri dan membiarkan terjatuh begitu dalam ke dasar jurang yang dingin. Ku pernah berada disana dan ku tak mau lagi. 

Aku berusaha sadar. Berusaha memahami sesuatu yang membuat kepalaku ingin meledak saja. Hingga di satu titik, aku ingin berhenti. Ini sudah cukup. Sudah lebih dari batas aku sendiri.

"Omong Kosong!!!"

Sial!! Kenapa kamu ...

"Diam dulu! Kamu selalu berkata demikian, membiarkan dirimu terjatuh dan dikuasai oleh sisi terkelam. Aku mohon hentikan untuk berkata bahwa ini sudah melebihi batas karena ada aku yang akan menyeretmu naik dari jurang dingin itu, ada aku yang akan menjadi sinar di saat semua cahaya memilih untuk pergi darimu, masih ada aku, meski aku pun sering ingin menyerah dan selalu mempertanyakan mengapa kita seperti ini. Bukan kamu saja yang ingin berhenti, aku juga sama tapi setidaknya tidak sekarang. Tidak oleh diri kita sendiri tetapi oleh Dia yang pemilik segala kuasa ini. Sebab aku yakin alasan kita masih disini karena memang kita belum selesai, hidup masih ada waktu untuk kita diami."

Sungguh kamu itu maunya apa? Tadi kamu mempertanyakan antara berhenti atau lanjut, meminta untuk berhenti saja, kini dengan bijaknya berkata berbelit-belit bahwa kita masih ada waktu. Kamu yang omong kosong! Sudah hentikan ceracaumu, jangan lagi menggema di pikiranku, kau hanya membuatku kian terpuruk dan bersalah akan keputusanku nanti.

"Izinkan aku sekali lagi untuk berkata, bolehkah?"

....

"Aku mohon sekali ini saja."

....

"Tolong."

Baiklah. Sekali saja.

"Terimakasih. Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada dirimu yang sudah bertahan hingga sekarang meski kerap aku sering mengusikmu dengan mempertanyakan perihal yang hanya membuatmu serba salah. Kedua, aku minta maaf karena sering menginginkan hal yang mudah, tentu saja hal itu kerap membuat kita berselisih sebab kamu berkata itu tidak sesuai dengan keteguhan yang kamu pilih, aku selalu saja mengusikmu dengan rengekanku yang begitu membenci hidup namun terlalu takut untuk berhenti. Kata maafku bahkan lebih panjang dari kata terimakasihku. Ya aku banyak salah padamu, bahkan kamu pun bosan mendengarnya. Tetapi aku tulus mengatakan hal tadi bahwa kita masih ada waktu. Jadi aku mohon. Sudah cukup yang ingin aku katakan. Aku akan diam sekarang."

Jika saja kamu memilih untuk berhenti, apakah ini semua ini akan selesai begitu saja? Rasa sakit ini sudah kadung beredar di seluruh tubuhku tanpa bisa ku identifikasi lagi titik paling sakitnya berada dimana. Jika berhenti, apakah rasa sakit ini akan hilang? Kita pernah mencobanya kan? Namun gagal. Seringnya gagal. Benar katamu, mungkin karena kita belum waktunya untuk berhenti. Benar-benar berhenti. Tapi lucu juga kalau diingat-ingat. Betapa inginnya kita untuk berhenti tetapi di sisi lain kita begitu takut.

Kita takut berada di tempat yang tinggi karena takut jatuh.
Kita takut berada di kecepatan tinggi karena takut bertabrakan.
Kita takut berada di tempat asing karena takut dilukai.
Kita takut berada di kegelapan karena takut tak bisa berbuat apa-apa.
Hingga sampailah kita pada titik bahwa kita takut pada diri kita sendiri karena pernah merasa adiksi yang kuat untuk hidup.

Lucu ya kita? Aku tahu sekarang kamu sedang tertawa meski kamu diam. 
Semua ceracauku disini perihal tentang berhenti atau lanjut namun pada akhirnya tetap berlanjut. 
Kita tetap menjalaninya. Mencoba teratur. Membiasakan semua terlihat natural. 

Sedih rasanya ketika ada yang selalu berkata, "Ada yang bisa aku lakukan agar kamu merasa lebih baik?" atau "Ada yang bisa aku bantu?" namun nyatanya penolakan yang ku berikan karena ku tidak tahu bagaimana agar aku merasa lebih baik atau cara seperti apa yang mampu membantuku. Benar-benar tidak tahu. Aku ingin ditolong, aku ingin dihentikan saat pikiran seperti ini datang, tetapi aku tidak bisa.

Aku dan segala keegoisanku memilih untuk mengajakmu ikut dalam jurang dingin itu. Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, tetap memberikan uluran tangan, tetap berada disampingku, tetap memberikanku cahaya, tetap mengingatkanku untuk bertahan, dan memberikan kehangatan di musim dingin abadiku. Pertanyaanmu tentang lanjut dan berhenti malah menamparku dari sisi lain seperti kamu sebenarnya ingin memberitahu padaku, "Apa kamu mau terus seperti ini, pecundang?!" Tidak perlu sungkan, ya aku tahu secara eksplisit kamu ingin berkata demikian namun kamu terlalu sungkan memilih diksi yang pas hanya untuk bertutur denganku. Dan maaf ya .. maaf sekali .. maaf .. maaf sedalamnya .. maaf .. benar-benar maaf .. aku selalu tidak sabar, aku yang penuh kepura-puraan, aku yang pecundang dan berbelit-belit dengan omong kosong, maaf membuatmu lelah, mengajakmu terjun ke jurang, dan mengacuhkan begitu kasar. 

Kini, seperti halnya titik koma. Mungkin kita bisa berhenti, namun berhenti untuk melanjutkan. 
Sampai waktu itu tiba. Aku dan kamu. Kita. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...