Hidup selalu
mempunyai cara untuk menyiksa manusia dalam segala bentuk takdir dan jalannya
Kebahagiaan yang
fana dan kenikmatan sesaat mengundara ke angkasa, terlihat sekilas kemudian
hilang
Hidup bukannya tak
adil, tapi hidup memiliki keadilan tersendiri yang manusia tak lebih dari
boneka yang katanya bisa bergerak dan bertindak sebagaimana akal dan rasa yang
telah dimilikinya namun tetap tak bisa serta merta karena ada aturan dari
keadilan hidup itu sendiri
Ditempa dari segala
macam keangkuhan dunia, membuat gadis kecil berumur 8 tahun itu hanya bisa
menangis di sudut ruang kelas
Matanya sembab dan
nafasnya tersengal-sengal akan ketidakmampuan dia melawan serangan keroyokan
anak-anak sirik yang bermodalkan kekayaan orangtua dan kedigdayaan kakaknya
akan ketidakberdayaan mereka dalam melawan kegeniusan gadis manis itu
Miris karena tak ada
satupun yang menolong
Gadis kecil itu pun
memikirkan banyak hal saat pulang sekolah, dia bertanya pada dirinya mengapa
dia terlalu perasa dan begitu mudah menangis, dia merasa dirinya terlalu lemah
Hampir 3 tahun
menjadi korban bullying membuat dia
jengah akan semua ini
Seharian dia
mengurung di kamar dan tak mau banyak bicara, dia hanya diam dan menjawab
seperlunya
Mungkin kejadian itu
merupakan titik kulminasi dalam hidupnya, lama-lama jika dia terus seperti ini
dia tak lebih dari seonggok daging yang berjalan dan menerima setiap apa yang
terjadi pada dirinya
Gadis manis itu
bukanlah seorang anggota sailormoon yang dapat berubah dalam beberapa detik,
semua butuh proses yang panjat dan kalut hingga latihan bertahun-tahun itu pun
teruji pada usia dia beranjak 10 tahun
Dengan heroiknya dia
menampik permintaan contekan dari seorang teman (re: salah satu anak sirik yang
mem-bully-nya kala itu) dan dia berkata
dengan dinginnya "Bukannya kata kamu bahwa kepintaran yang saya dapat
hanya berasal dari sogokan orang tua saya? Lantas kenapa kamu mencontek pada
orang yang katanya pintarnya palsu ini?" Dan anak sirik itu pun pergi dan
malu menemui teman se-geng-nya.
Singkat cerita, si
anak cengeng itu (dulu) masuk kedalam geng yang dulu mem-bully-nya, dia punya trik da siasat perang
yang seharusnya dimiliki oleh orang dewasa, kala itu umurnya 10 tahun namun dia
bisa mengobrak-abrik semua dan menjadi ketua geng karena kepintaran dia yang
melebihi anak-anak seusia dia. Dia tak mau berakhir seperti anak-anak sirik
yang doyan bully itu dan memiliki otak
sampah sejak dini.
Dia pun menjadi
superior.
Si gadis perasa,
perfeksionis, cengeng, dan terlalu semua diambil hati kini menjelma menjadi
gadis kuat yang anti menangis, tangkas, pengambil keputusan, dan visioner.
Dunia tak
membutuhkan lagi gadis cengeng yang rapuh, dunia butuh gadis yang kuat yang
mampu menghalau segala ketidakadilan dunia dengan cara dia sendiri
Dia seperti itu
bukan karena setiap keinginannya selalu terwujud, dia selalu didesak keadaan,
dipaksa tersenyum diatas luka, dipaksa untuk selalu dapat mengatasi segala
masalah (re:tantangan) dalam usia dini, semuanya menempa dan melatih dia untuk
menghapus ke melankolisan dia menjadi suatu energi korelis, mungkin tak
menghapus seluruhnya, namun mereduksi kemelankolisan dia menjadi sebuah
karakter yang sekarang melekat erat padanya hingga kini, yaitu Korelis..