Senin, 31 Maret 2014

Terlahir Melankolis, Terlatih Korelis

Hidup selalu mempunyai cara untuk menyiksa manusia dalam segala bentuk takdir dan jalannya
Kebahagiaan yang fana dan kenikmatan sesaat mengundara ke angkasa, terlihat sekilas kemudian hilang
Hidup bukannya tak adil, tapi hidup memiliki keadilan tersendiri yang manusia tak lebih dari boneka yang katanya bisa bergerak dan bertindak sebagaimana akal dan rasa yang telah dimilikinya namun tetap tak bisa serta merta karena ada aturan dari keadilan hidup itu sendiri

Ditempa dari segala macam keangkuhan dunia, membuat gadis kecil berumur 8 tahun itu hanya bisa menangis di sudut ruang kelas
Matanya sembab dan nafasnya tersengal-sengal akan ketidakmampuan dia melawan serangan keroyokan anak-anak sirik yang bermodalkan kekayaan orangtua dan kedigdayaan kakaknya akan ketidakberdayaan mereka dalam melawan kegeniusan gadis manis itu
Miris karena tak ada satupun yang menolong
Gadis kecil itu pun memikirkan banyak hal saat pulang sekolah, dia bertanya pada dirinya mengapa dia terlalu perasa dan begitu mudah menangis, dia merasa dirinya terlalu lemah
Hampir 3 tahun menjadi korban bullying membuat dia jengah akan semua ini
Seharian dia mengurung di kamar dan tak mau banyak bicara, dia hanya diam dan menjawab seperlunya
Mungkin kejadian itu merupakan titik kulminasi dalam hidupnya, lama-lama jika dia terus seperti ini dia tak lebih dari seonggok daging yang berjalan dan menerima setiap apa yang terjadi pada dirinya

Gadis manis itu bukanlah seorang anggota sailormoon yang dapat berubah dalam beberapa detik, semua butuh proses yang panjat dan kalut hingga latihan bertahun-tahun itu pun teruji pada usia dia beranjak 10 tahun
Dengan heroiknya dia menampik permintaan contekan dari seorang teman (re: salah satu anak sirik yang mem-bully-nya kala itu) dan dia berkata dengan dinginnya "Bukannya kata kamu bahwa kepintaran yang saya dapat hanya berasal dari sogokan orang tua saya? Lantas kenapa kamu mencontek pada orang yang katanya pintarnya palsu ini?" Dan anak sirik itu pun pergi dan malu menemui teman se-geng-nya.
Singkat cerita, si anak cengeng itu (dulu) masuk kedalam geng yang dulu mem-bully-nya, dia punya trik da siasat perang yang seharusnya dimiliki oleh orang dewasa, kala itu umurnya 10 tahun namun dia bisa mengobrak-abrik semua dan menjadi ketua geng karena kepintaran dia yang melebihi anak-anak seusia dia. Dia tak mau berakhir seperti anak-anak sirik yang doyan bully itu dan memiliki otak sampah sejak dini.

Dia pun menjadi superior.
Si gadis perasa, perfeksionis, cengeng, dan terlalu semua diambil hati kini menjelma menjadi gadis kuat yang anti menangis, tangkas, pengambil keputusan, dan visioner.
Dunia tak membutuhkan lagi gadis cengeng yang rapuh, dunia butuh gadis yang kuat yang mampu menghalau segala ketidakadilan dunia dengan cara dia sendiri

Dia seperti itu bukan karena setiap keinginannya selalu terwujud, dia selalu didesak keadaan, dipaksa tersenyum diatas luka, dipaksa untuk selalu dapat mengatasi segala masalah (re:tantangan) dalam usia dini, semuanya menempa dan melatih dia untuk menghapus ke melankolisan dia menjadi suatu energi korelis, mungkin tak menghapus seluruhnya, namun mereduksi kemelankolisan dia menjadi sebuah karakter yang sekarang melekat erat padanya hingga kini, yaitu Korelis..

My Super Hero

Bermula dari hari Jumat tanggal 21 Maret mulai nggak enak makan, rasanya tenggorokan mulai ngga beres dan rasanya mau flu. Sempat kepikiran mungkin ketularan teman, soalnya seminggu yang lalu mengantar teman yang sakit flu ke dokter. Tapi salah sendiri juga sih imunnya lagi drop jadi mungkin ketular.
Mau nyalahin jadwal kuliahan yang padet ah, karena ini semua andil dari mereka (jadwal kuliah yang padat itu).
Setiap pagi harus ke Desa Ciwaruga (sudah masuk ke Kab.Bandung Barat) dan harus mewawancarai 30 rumah dengan hal yang sama dan setiap hari. Dikatakan sales, dikatakan peminta sumbangan, yaelah..emang saya ada tampang begitu.
Singkat cerita saya jadi kena flu akut dan kemana-mana membawa tissue.
Dan repotnya ngga ketulungan, makan ngga ada rasanya, hidung ngga bisa cium wangi apa-apa, badan gerah karena selalu merasa panas, pokoknya sakit flu yang katanya sepele tapi annoying banget kalau buat saya.

*Mengibarkan bendera putih*
Asli nyerah.. Udah ngga bisa survive.. Berasa lemah dari berbagai sisi..
Lebay ya saya, tapi itu kerasanya
Semua acara minggu ini di cancel, dan kepaksa minggu depan harus kerja rodi buat nebus ini semua. Walah..

Jumat sore saya memutuskan pulang kerumah dengan langkah  gontai dan kepala pening setelah hampir sebulan tak pulang
Suara sudah parau dan disambut hangat oleh Bapak yang sudah menunggu didepan jalan, saya dan Bapak naik motor menuju ke rumah. Dan lagi-lagi dimarahin Bapak karna setiap pulang pasti sakit. Maaf Pak :(

Melihat anaknya yang terkapar tak berdaya, Ibu memutuskan untuk membawa saya ke dokter. Lama sekali menunggu ELF disisi jalan, karena tempat praktek dokter itu hanya bisa dilewati oleh ELF. Hampir sejam Ibu mematung disisi jalan, sementara saya tak kuat berdiri, duduk di dekat Ibu. Ibu disuruh duduk ngga mau dan setia mematung menunggu ELF. Dan akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Kami naik ELF kurang lebih 15 menit.
Tibalah saya dan Ibu di praktek dokter itu, dan pasiennya berjibun. Menunggu lagi. Tapi Ibu dengan antusias mematung didepan ruang praktek dokter, disuruh duduk ngga mau katanya takut kelewat. Sementara saya duduk diruang tunggu sambil menahan sakit.
Lalu saya tiba untuk diperiksa, karena pasiennya banyak, dokternya seperti rusuh ngga jelas, dan pemeriksaan ngga lebiih dari 5 menit lalu diberi obat.
Saat kami hendak pulang, hujan deras turun. Saya dan Ibu tidak membawa payung hanya bisa menunggu hingga hujan reda. Bapak yang khawatir terus menerus menelpon dan menyuruh cepat pulang.
Hingga adzan magrib berkumandang, kami masih di praktek dokter.
Pukul 20.00 kami masih di praktek dokter namun kini kami menunggu di luar, kondisi hujan gerimis dan dingin, tapi Ibu tak mau duduk dan mematung menunggu bis lewat. Lalu Bapak menelpon akan menjemput kami dengan mobil.
Lama tak kunjung datang, handphone Bapak mati tak bisa dihubungi.
Lalu ada angkot yang datang dan bilang akan menuju ke daerah tempat kami tinggal, Ibu kira itu kiriman dari Bapak, kami malah sudah naik angkot itu, namun pas ditanya kenal dengan Bapak Eddy, sang supir mengatakan tidak kenal, karena Ibu adalah Isteri Sholehah, Ibu menyuruh saya turun dari angkot dan tetap menunggu Bapak yang tak kunjung datang itu.
Saya hanya bisa diam menahan sakit di rahang saya, infeksi influenza membuat telinga kanan dan rahang saya ikut kena infeksi, makan ngga bisa, buka mulut ngga bisa, apalagi bicara.
Dan Ibu masih setia menunggu Bapak dibalik rintikan hujan..

Lalu yang kami tunggu itupun datang, Bapak tiba dengan truk.
Ya..akan dijemput dengan mobil itu adalah dengan mobil truk.
Perjuangan Bapak meminjam truk beserta supir tempat Bapak bekerja untuk menjemput kami.
Terharu :')
Dengan sedikit berdesak-desakan, kami naik truk tersebut dibagian depan.
Bapak datang dengan baju basah kuyuk, membuat saya semakin terharu.
Kemudian kami pun sampai, dan kembali berjalan kaki berpeluh banjir setinggi mata kaki dari gang menuju rumah kami, sementara Bapak kembali bersama truk di tempat kerjanya.
Sampailah saya dirumah, langsung berganti baju, makan meski dengan susah payah, serta minum obat.
Hari itu adalah hari dimana saya melihat super hero yang sesungguhnya.
Ibu dan Bapak adalah tokoh yang bisa menyulap hal yang ngga ada bisa jadi ada demi anaknya.
Kerjasama yang sangat bagus dan keren.
Ibu yang dengan gesit membawa anaknya yang sedang sakit, sholehah menuruti apa kata suaminya..
Bapak yang cepat datang membawa turbo truknya dengan keadaan basah kuyuk, semua demi anaknya..
Super hero yang saya lihat biasanya ada di komik dan film, tapi kini ku melihat secara nyata, dari dulu kini hingga sekarang, yaitu Ibu dan Bapak.
Kelak Enno akan bahagiakan Ibu dan Bapak. Kelak Enno akan jadi Ibu yang baik yang bisa menjadi superhero seperti Ibu. Dan suami Enno kelak akan menjadi superhero bagi anak-anak kami nanti :')

Sabtu, 15 Maret 2014

Terdesak

Entah sampai saat ini saya tak tahu mengapa muncul kosa kata "terdesak" dalam Bahasa Indonesia.
Apa karena orang-orang mengalami atau pernah merasakan bagaimana rasa terdesak tersebut, tapi menurut saya "terdesak" adalah bagi orang yang tak pernah merencanakan sesuatu atau bahkan merencanakan sesuatu namun gagal karena proses pematangan yang kurang tepat.
Jadi bagi mereka yang selalu mempersiapkan segala macam kemungkinan yang akan terjadi, tentu daya "terdesak" pun akan diminimalisir.

Dan sekarang "terdesak" itu dibagi menjadi 2 yaitu
1. Terdesak yang memang benar terdesak
Hal ini ngga perlu dijelaskan, karena kemungkinan ini selalu ada saat apa yang direncanakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, lantas waktu yang dikejar sehingga "terdesak" itu pun terjadi
2. Terdesak yang direncanakan
Wah, kok bisa ada? Ya, ada.
Dewasa kini hal yang ngga mungkin sekalipun bisa direncanakan kok.
Salah satunya adalah terdesak.
Sebenarnya terdesak ini cuma "excuse" doang, dimana orang bisa mengatakan bahwa dia terdesak, biasanya dalam hal yang tercela.
Kamu mengapa mencelakai dia? Saya dalam keadaan terdesak.
Nah bisa jadi sih seperti point 1 yaitu terdesak yang memang terdesak, atau terdesak yang direncanakan?
Tidak berniat mencelakai orang tapi semua strategi untuk mencelakakan seseorang itu sangat matang dan terencana dari awal, apa iya terdesak atau didesain dengan alibi terdesak?
Bahaya hal seperti itu, bisa-bisa semua bisa bersikap seenaknya karena alasan terdesak, bahkan norma-norma kebenaran pun akan ditiadakan karena alasan terdesak.

Jangan dibiasakan seperti itu, nanti malah jadi kebiasaan, untuk apa menggapai semuanya tapi tidak dengan cara halal dan excuse-nya terdesak mengenyampingkan segala hal yang benar, nanti Bangsa ini makin acakadut. Orang tua pun yang asalnya bangga malah jadi kecewa karena disajikan proses yang tidak halal.
Sekarang memang tidak akan terasa, tapi suatu hari apa yang akan ditanam pasti akan dituai :)

Cermin

Bencilah seseorang, seakan kau tak pernah berbuat hal yang menjengkelkan
Jangan pernah berikan maaf pada orang lain, seakan kau tak pernah berbuat salah
Jangan pernah meminta maaf pada orang lain, seakan kau orang paling suci di dunia ini
Makilah seseorang, seakan kau orang paling sempurna di dunia

Karena kau tak akan pernah tahu bahwa kau adalah orang yang paling menjengkelkan, pernah berbuat salah, bukan orang suci, dan bahkan tidak sempurna di mata orang lain

Jadi jangan pernah mempersulit orang lain seakan hidupmu tak pernah membutuhkan orang lain

Kamis, 13 Maret 2014

Reduksi, Oksidasi

Saat saya duduk di bangku SMA, mata pelajaran yang saya amat sukai yaitu Kimia. Sebagian orang menyukainya karena tampak mudah dan menarik, namun saya menyukainya karena apa yang terkandung didalamnya saat kaya akan makna.
Ya..mungkin karena saya sangat menyukai analogi, sehingga apapun yang ada disekeliling saya sering saya metafora-kan sesuai keinginan saya..

Bermula dari sebuah usaha dalam menepati janji yaitu saat seorang teman mengundang saya dalam sebuah dalam sebuah acara. Dengan bermodal peta jalur kendaraan umum, saya gambling menuju kesana.
Namun kadang apa yang telah diusahakan dan diproseskan hasilnya tak sesuai dengan harapan. Saya sudah seperti rumput kecil ditengah hutan belantara yang bisa saja mati kala sekawanan rusa hutan menginjaknya.
Saya telan pil yang pahit itu. Bohong kalau tak ada yang merasa marah saat apa yang diusahakannya seratus, hasilnya malah jauh dari yang diharapkan. Marah wajar, namun siapa dan apa yang harus dimarahkannya? Lagi - lagi menelannya.
Disana saya mengambil pelajaran bahwa jangan pernah memposisikan orang lain seperti diri sendiri, karena jelas itu merupakan hal yang amat berbeda, lain orang lain kepala. Saya memperlakukanya begini, apakah mungkin orang lain pun akan melakukan hal yang sama? Yang bisa saya lakukan saat dikecewakan adalah berusaha agar saya tidak mengecewakan orang lain, jangan sampai orang lain merasakan hal yang saya rasakan atau malah saya mengecewakan orang lain. Tetap lakukan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

Lain waktu lain cerita, seakan kembali mengulang, saya harus kesana kembali dengan tujuan dan tema yang berbeda.
Lagi-lagi menelan pil pahit dengan dosis yang lebih tinggi, disini saya bersyukur dengan dosis yang tinggi ini, berarti level saya telah meningkat akibat pembelajaran masa kemarin, jika hal yang sama terjadi dengan dosis yang sama tentu saya akan kecewa karena ternyata saya tak lolos ujian waktu itu.
Lagi-lagi gambling dengan trayek jalur bebas.
Hujan deras mengiringi. Dengan modal jas hujan dan motor pinjaman, saya bergegas dengan tempuh yang sangat panjang.
Lalu dengan tubuh menggigil saya berusaha untuk melakukan tugas semaksimal mungkin.
Ketika daya tempuh proses yang jauh lebih panjang daripada eksekusi, membuat saya ingin meminta lebih.
Dan itu jelas hal yang tak bisa dilakukan hanya sekedar keinginan.
Saya marah dan kecewa tapi saya harus belajar dari kasus terdahulu.
Udara dingin kala itu namun jangan sampai kepala saya menjadi beku, saya harus melakukan sesuatu hal tanpa perlu mengandalkan siapapun atau meminta bantuan siapapun.
Saya harus mandiri dan never depend on.
Saya ini pohon anggur yang telah kuat batangnya dan tak perlu kayu penyangga.

Seperti halnya reaksi kimia, yang dilakukan untuk menyeimbangkan keadaan yang terlampau menyenangkan, saya harus reduksi dengan mengurangi kemungkinan optimis yang berlebihan yang membuat saya jadi merasa sombong. Lalu ketika keadaan sangat menyedihkan, saya harus oksidasi semangat saya dan selalu melakukan hal yang terbaik, agar tak semuanya berlarut-larut.

Meski cerita hari ini sepertinya sangat berisi kekecewaan dan kesedihan, tapi terkandung oksidasi didalamnya yaitu kekuatan. Dan ternyata saya kuat, bukan pura-pura kuat, tetapi memang kuat.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...