Entah sampai saat ini saya tak tahu mengapa muncul kosa kata "terdesak" dalam Bahasa Indonesia.
Apa karena orang-orang mengalami atau pernah merasakan bagaimana rasa terdesak tersebut, tapi menurut saya "terdesak" adalah bagi orang yang tak pernah merencanakan sesuatu atau bahkan merencanakan sesuatu namun gagal karena proses pematangan yang kurang tepat.
Jadi bagi mereka yang selalu mempersiapkan segala macam kemungkinan yang akan terjadi, tentu daya "terdesak" pun akan diminimalisir.
Dan sekarang "terdesak" itu dibagi menjadi 2 yaitu
1. Terdesak yang memang benar terdesak
Hal ini ngga perlu dijelaskan, karena kemungkinan ini selalu ada saat apa yang direncanakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, lantas waktu yang dikejar sehingga "terdesak" itu pun terjadi
2. Terdesak yang direncanakan
Wah, kok bisa ada? Ya, ada.
Dewasa kini hal yang ngga mungkin sekalipun bisa direncanakan kok.
Salah satunya adalah terdesak.
Sebenarnya terdesak ini cuma "excuse" doang, dimana orang bisa mengatakan bahwa dia terdesak, biasanya dalam hal yang tercela.
Kamu mengapa mencelakai dia? Saya dalam keadaan terdesak.
Nah bisa jadi sih seperti point 1 yaitu terdesak yang memang terdesak, atau terdesak yang direncanakan?
Tidak berniat mencelakai orang tapi semua strategi untuk mencelakakan seseorang itu sangat matang dan terencana dari awal, apa iya terdesak atau didesain dengan alibi terdesak?
Bahaya hal seperti itu, bisa-bisa semua bisa bersikap seenaknya karena alasan terdesak, bahkan norma-norma kebenaran pun akan ditiadakan karena alasan terdesak.
Jangan dibiasakan seperti itu, nanti malah jadi kebiasaan, untuk apa menggapai semuanya tapi tidak dengan cara halal dan excuse-nya terdesak mengenyampingkan segala hal yang benar, nanti Bangsa ini makin acakadut. Orang tua pun yang asalnya bangga malah jadi kecewa karena disajikan proses yang tidak halal.
Sekarang memang tidak akan terasa, tapi suatu hari apa yang akan ditanam pasti akan dituai :)
Apa karena orang-orang mengalami atau pernah merasakan bagaimana rasa terdesak tersebut, tapi menurut saya "terdesak" adalah bagi orang yang tak pernah merencanakan sesuatu atau bahkan merencanakan sesuatu namun gagal karena proses pematangan yang kurang tepat.
Jadi bagi mereka yang selalu mempersiapkan segala macam kemungkinan yang akan terjadi, tentu daya "terdesak" pun akan diminimalisir.
Dan sekarang "terdesak" itu dibagi menjadi 2 yaitu
1. Terdesak yang memang benar terdesak
Hal ini ngga perlu dijelaskan, karena kemungkinan ini selalu ada saat apa yang direncanakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, lantas waktu yang dikejar sehingga "terdesak" itu pun terjadi
2. Terdesak yang direncanakan
Wah, kok bisa ada? Ya, ada.
Dewasa kini hal yang ngga mungkin sekalipun bisa direncanakan kok.
Salah satunya adalah terdesak.
Sebenarnya terdesak ini cuma "excuse" doang, dimana orang bisa mengatakan bahwa dia terdesak, biasanya dalam hal yang tercela.
Kamu mengapa mencelakai dia? Saya dalam keadaan terdesak.
Nah bisa jadi sih seperti point 1 yaitu terdesak yang memang terdesak, atau terdesak yang direncanakan?
Tidak berniat mencelakai orang tapi semua strategi untuk mencelakakan seseorang itu sangat matang dan terencana dari awal, apa iya terdesak atau didesain dengan alibi terdesak?
Bahaya hal seperti itu, bisa-bisa semua bisa bersikap seenaknya karena alasan terdesak, bahkan norma-norma kebenaran pun akan ditiadakan karena alasan terdesak.
Jangan dibiasakan seperti itu, nanti malah jadi kebiasaan, untuk apa menggapai semuanya tapi tidak dengan cara halal dan excuse-nya terdesak mengenyampingkan segala hal yang benar, nanti Bangsa ini makin acakadut. Orang tua pun yang asalnya bangga malah jadi kecewa karena disajikan proses yang tidak halal.
Sekarang memang tidak akan terasa, tapi suatu hari apa yang akan ditanam pasti akan dituai :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar