Saat saya duduk di
bangku SMA, mata pelajaran yang saya amat sukai yaitu Kimia. Sebagian orang
menyukainya karena tampak mudah dan menarik, namun saya menyukainya karena apa
yang terkandung didalamnya saat kaya akan makna.
Ya..mungkin karena
saya sangat menyukai analogi, sehingga apapun yang ada disekeliling saya sering
saya metafora-kan sesuai keinginan saya..
Bermula dari sebuah
usaha dalam menepati janji yaitu saat seorang teman mengundang saya dalam
sebuah dalam sebuah acara. Dengan bermodal peta jalur kendaraan umum, saya gambling menuju kesana.
Namun kadang apa
yang telah diusahakan dan diproseskan hasilnya tak sesuai dengan harapan. Saya
sudah seperti rumput kecil ditengah hutan belantara yang bisa saja mati kala
sekawanan rusa hutan menginjaknya.
Saya telan pil yang
pahit itu. Bohong kalau tak ada yang merasa marah saat apa yang diusahakannya
seratus, hasilnya malah jauh dari yang diharapkan. Marah wajar, namun siapa dan
apa yang harus dimarahkannya? Lagi - lagi menelannya.
Disana saya
mengambil pelajaran bahwa jangan pernah memposisikan orang lain seperti diri
sendiri, karena jelas itu merupakan hal yang amat berbeda, lain orang lain
kepala. Saya memperlakukanya begini, apakah mungkin orang lain pun akan
melakukan hal yang sama? Yang bisa saya lakukan saat dikecewakan adalah
berusaha agar saya tidak mengecewakan orang lain, jangan sampai orang lain
merasakan hal yang saya rasakan atau malah saya mengecewakan orang lain. Tetap
lakukan yang terbaik dan seoptimal mungkin.
Lain waktu lain
cerita, seakan kembali mengulang, saya harus kesana kembali dengan tujuan dan
tema yang berbeda.
Lagi-lagi menelan
pil pahit dengan dosis yang lebih tinggi, disini saya bersyukur dengan dosis
yang tinggi ini, berarti level saya telah meningkat akibat pembelajaran masa
kemarin, jika hal yang sama terjadi dengan dosis yang sama tentu saya akan
kecewa karena ternyata saya tak lolos ujian waktu itu.
Lagi-lagi gambling dengan trayek jalur bebas.
Hujan deras
mengiringi. Dengan modal jas hujan dan motor pinjaman, saya bergegas dengan
tempuh yang sangat panjang.
Lalu dengan tubuh
menggigil saya berusaha untuk melakukan tugas semaksimal mungkin.
Ketika daya tempuh
proses yang jauh lebih panjang daripada eksekusi, membuat saya ingin meminta
lebih.
Dan itu jelas hal
yang tak bisa dilakukan hanya sekedar keinginan.
Saya marah dan
kecewa tapi saya harus belajar dari kasus terdahulu.
Udara dingin kala
itu namun jangan sampai kepala saya menjadi beku, saya harus melakukan sesuatu
hal tanpa perlu mengandalkan siapapun atau meminta bantuan siapapun.
Saya harus mandiri
dan never depend on.
Saya ini pohon
anggur yang telah kuat batangnya dan tak perlu kayu penyangga.
Seperti halnya
reaksi kimia, yang dilakukan untuk menyeimbangkan keadaan yang terlampau
menyenangkan, saya harus reduksi dengan mengurangi kemungkinan optimis yang
berlebihan yang membuat saya jadi merasa sombong. Lalu ketika keadaan sangat
menyedihkan, saya harus oksidasi semangat saya dan selalu melakukan hal yang
terbaik, agar tak semuanya berlarut-larut.
Meski cerita hari
ini sepertinya sangat berisi kekecewaan dan kesedihan, tapi terkandung oksidasi
didalamnya yaitu kekuatan. Dan ternyata saya kuat, bukan pura-pura kuat, tetapi
memang kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar