Disaat seusia seperti ini mereka memilih untuk berkencan dan pergi kemanapun bersama kekasihnya.
Makan, nonton, dan melakukan segala hal bersama lawan jenis yang dinamakan pacar.
Menjalin kisah yang dinamakan pacaran dengan ucapan, "Mau ngga jadi pacar saya?" Ucap lelaki dan perempuan mengiyakan, lalu mereka pacaran.
Dan saya pun berulang kali mengalaminya dan berulang kali pun gagal membinanya.
Lalu lahir pemikiran bahwa saya merasa bahwa diri saya adalah korban pacaran.
Ya, selalu ditinggalkan, dikhianati, memberi tak diberi, dihilangkan tanggungjawab, rentan galau.
Dan benakpun berkata, "Lantas untuk apa pacaran?"
Saya tidak berpikiran bahwa saya ini terlalu agamis dengan munafiknya berkata bahwa pacaran itu haram. Bahwa saya berpikiran seperti itu karena sebelumnya saya mungkin tersakiti sampai keubun-ubun hingga timbul traumatik untuk berpacaran.
Mungkin itu bisa dijadikan alasan. Tetapi sesungguhnya alasan sebenarnya karena belum siap.
Saya selalu membuat pasangan saya tak berdaya dan merasa tidak dibutuhkan karena saya selalu meng-handle apapun sendiri, memutuskan apapun sendiri menurut apa yang saya kehendaki dan saya akui itu benar. Sering kali pasangan saya merasa tak dihargai dan diacuhkan oleh sikap arogansi dan individualis saya yang begitu besar.
Dan saya selalu merasa paling superior pada pasangan saya.
Padahal lelaki pun memiliki ego yang tinggi, yang mereka justru ingin lebih dibandingkan perempuannya, namun saya tak suka terkalahkan.
Lalu, saya menjadi si penuntut lebih. Ingin pasangan saya sebagaimana keinginan saya, namun ketika pasangan saya ingin saya menurut, saya tak mau menghendakinya. Lagi-lagi saya termakan oleh keegoisan sendiri.
Bagi Koleris, cinta adalah menaklukan.
Dan itu menyakiti pasangan saya.
Terus menerus rasa cinta itu pun menjadi lelah.
Sementara saya ya..tetap seperti biasa.
Saya mengaku cinta tetapi sulit mengekspresikannya. Hingga pasangan saya selalu sangsi apakah saya memiliki perasaan yang sama dibalik keacuhan tingkat tinggi yang saya miliki.
Lalu saya pun ditinggalkan. Dan itu karena saya yang tak mampu berbagi.
Pilihan pun jatuh menjadi memantaskan diri.
Saya belum siap, dan saya pun tak mau terus menerus jatuh pada lubang yang sama hanya untuk memperdaya nafsu dan ikuti trend.
Saya akui masih jauh kehidupan saya dari kesan agamis, tetapi untuk hal ini saya sedang berproses mencapai titik dimana bahwa saya benar-benar istiqomah.
Masih banyak ambisi saya yang mesti dikejar.
Saya masih dipenuhi rasa arogansi dan individualis yang sangat tinggi.
Saya belum siap berbagi.
Hingga sekarang saya sedang mengkaji ulang perangai saya, saya akui saya harus berubah dan perubahan itu tidak dijalankan dengan memiliki pasangan.
Akan ada masa dimana rasa egois saya ini teralihkan.
Saya yang merasa superior ini akan mulai belajar berbagi.
Jika pun masa itu tergerus oleh usia saya yang berakhir sebelum saya sempat mengetahui jodoh saya, tak apa, yang terpenting saya mencoba berada di jalan cinta-Nya.
Tuhan yang selalu menerima diri ini yang kotor.
Semoga Tuhan memaafkan kekhilafan saya dulu dalam menafsirkan cinta dari-Nya.
Dari seorang perempuan yang sedang berusaha menjadi wanita yang sedang memantaskan diri bagi yang halal baginya kelak..
Makan, nonton, dan melakukan segala hal bersama lawan jenis yang dinamakan pacar.
Menjalin kisah yang dinamakan pacaran dengan ucapan, "Mau ngga jadi pacar saya?" Ucap lelaki dan perempuan mengiyakan, lalu mereka pacaran.
Dan saya pun berulang kali mengalaminya dan berulang kali pun gagal membinanya.
Lalu lahir pemikiran bahwa saya merasa bahwa diri saya adalah korban pacaran.
Ya, selalu ditinggalkan, dikhianati, memberi tak diberi, dihilangkan tanggungjawab, rentan galau.
Dan benakpun berkata, "Lantas untuk apa pacaran?"
Saya tidak berpikiran bahwa saya ini terlalu agamis dengan munafiknya berkata bahwa pacaran itu haram. Bahwa saya berpikiran seperti itu karena sebelumnya saya mungkin tersakiti sampai keubun-ubun hingga timbul traumatik untuk berpacaran.
Mungkin itu bisa dijadikan alasan. Tetapi sesungguhnya alasan sebenarnya karena belum siap.
Saya selalu membuat pasangan saya tak berdaya dan merasa tidak dibutuhkan karena saya selalu meng-handle apapun sendiri, memutuskan apapun sendiri menurut apa yang saya kehendaki dan saya akui itu benar. Sering kali pasangan saya merasa tak dihargai dan diacuhkan oleh sikap arogansi dan individualis saya yang begitu besar.
Dan saya selalu merasa paling superior pada pasangan saya.
Padahal lelaki pun memiliki ego yang tinggi, yang mereka justru ingin lebih dibandingkan perempuannya, namun saya tak suka terkalahkan.
Lalu, saya menjadi si penuntut lebih. Ingin pasangan saya sebagaimana keinginan saya, namun ketika pasangan saya ingin saya menurut, saya tak mau menghendakinya. Lagi-lagi saya termakan oleh keegoisan sendiri.
Bagi Koleris, cinta adalah menaklukan.
Dan itu menyakiti pasangan saya.
Terus menerus rasa cinta itu pun menjadi lelah.
Sementara saya ya..tetap seperti biasa.
Saya mengaku cinta tetapi sulit mengekspresikannya. Hingga pasangan saya selalu sangsi apakah saya memiliki perasaan yang sama dibalik keacuhan tingkat tinggi yang saya miliki.
Lalu saya pun ditinggalkan. Dan itu karena saya yang tak mampu berbagi.
Pilihan pun jatuh menjadi memantaskan diri.
Saya belum siap, dan saya pun tak mau terus menerus jatuh pada lubang yang sama hanya untuk memperdaya nafsu dan ikuti trend.
Saya akui masih jauh kehidupan saya dari kesan agamis, tetapi untuk hal ini saya sedang berproses mencapai titik dimana bahwa saya benar-benar istiqomah.
Masih banyak ambisi saya yang mesti dikejar.
Saya masih dipenuhi rasa arogansi dan individualis yang sangat tinggi.
Saya belum siap berbagi.
Hingga sekarang saya sedang mengkaji ulang perangai saya, saya akui saya harus berubah dan perubahan itu tidak dijalankan dengan memiliki pasangan.
Akan ada masa dimana rasa egois saya ini teralihkan.
Saya yang merasa superior ini akan mulai belajar berbagi.
Jika pun masa itu tergerus oleh usia saya yang berakhir sebelum saya sempat mengetahui jodoh saya, tak apa, yang terpenting saya mencoba berada di jalan cinta-Nya.
Tuhan yang selalu menerima diri ini yang kotor.
Semoga Tuhan memaafkan kekhilafan saya dulu dalam menafsirkan cinta dari-Nya.
Dari seorang perempuan yang sedang berusaha menjadi wanita yang sedang memantaskan diri bagi yang halal baginya kelak..