Kamis, 31 Desember 2015

Tulisan Pertama

Selalu saja saat pertama menulis terkadang dihadapkan pada satu titik, kalimat apa yang pertama ditulis, bagaimana penyampaiannya, bagaimana rangkaian katanya.
Tetapi jika satu kalimat sudah tertulis, maka kalimat lainnya begitu lancar ditulis tanpa banyak berpikir, tahu-tahu malah sudah lebih dari tiga paragraf.
Sama seperti sekarang pula.
Ya, memulai sesuatu memang sulit, memang perlu trigger yang cukup kuat untu mengalihkan diri dari segala prokrastinasi dan segala anteknya.
Begitu pula dengan memulai dengan sesuatu yang baru di tahun yang baru.

Anggap saja ini semacam throwback, flashback, dan sebagainya.

Dimulai dari 2014.
Ya, ini dianggap tahun dengan ujian terberat di era usia 20 tahun hidup saya, mengapa? Karena saya banyak kehilangan di tahun ini. Meski Tuhan tetap memberikan hadiah yang indah di tanggal 30 September 2014, yaitu kini dibelakang nama saya tersemat sebuah gelar dan sebuah prestasi yang membuat orang tua saya bangga sepanjang masa. Sebenarnya pencapaian di 2014 itu diusahakan sejak 3 tahun kebelakang, namun pengumumannya di tahun 2014, jadi seakan-akan tahun 2014 merupakan tahun penuh prestasi.
Anggap saja, meski sakitnya malah lebih dan rasanya titik terburuk hidup saya, titik depresi, titik rasa dimana menjadi orang yang paling antagonis, paling buruk, paling tak ada gunanya, dan rasanya ingin mencari shortcut lalu lari dari tanggung jawab, maka dari itu banyak yang pergi dari kehidupan saya di tahun itu. Terlalu bertubi-tubi, tetapi saya bisa melaluinya dengan "berpura-pura tenang" seperti biasa, mengapa? karena dengan berpura-pura itu, malah akan menjadi tenang yang sebenarnya.
Ada dua kemungkinan yaitu mereka tak pantas berada disisi saya, atau saya yang tak pantas berada disisi mereka.
Anggap saja ini pembelajaran hidup, bukankah semakin merasa sakit, maka akan semakin kuat, kuat menahan sakit, maksudnya hahaha....
Kita tak akan pernah tahu seberapa kuat kita, jika belum dihadapkan pada rasa sakit :)

Time is so flash.
2015 adalah tahun transisi penyembuhan.
Pengalihannya kuat sekali, dengan bekerja lebih dari 12 jam membuat tak ada waktu untuk memikirkan sakit ditahun lalu. Dan lagi-lagi Tuhan memberikan "hadiah" di setiap tahunnya, yaitu membuat saya menjadi suatu bagian cita-cita saya dari jam bangku sekolah. Memakai almamater kuning, dan diizinkan menuntut ilmu di universitas yang katanya nomor 1 di Indonesia.
Doa yang terkabul dengan tanggung jawab yang begitu besar, pergolakan, dan tangisan yang malah jauh lebih banyak daripada sakit tahun lalu. Tapi ini tangis bahagia. Bahkan terlalu bahagia.
Mari serap ilmu sebanyak-banyaknya dari sini. Mari kembali bermimpi untuk menuju negeri asal Sherlock Holmes.

Dan kini di tahun 2016.
Baru dilewati kurang lebih 3 jam yang lalu.
Semoga tahun ini titik puncak seorang Retno dimulai kembali, biasanya sih setiap 4 tahun sekali, haha
Sudah mirip pemilihan Presiden Amerika saja.
2008, 2012, adalah bisa dibilang masa keemasan anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Apa saja yang dia dapat dan dia rasakan pada tahun itu? Mungkin lain kali bisa dibagikan disini.
Semoga banyak hal yang indah di tahun 2016 ini, dan semoga resolusi agar benar-benar bisa menjadi wanita seutuhnya bisa diraih di tahun ini.

Brace your self, nno.
Let's conquer the world :)

Minggu, 06 Desember 2015

Mohon ajari saya

Mohon ajari saya untuk menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab
Menjadi seseorang yang bisa lari dari tugasnya, bisa tidak peduli dengan tugasnya, atau bahkan pura-pura lupa pada tugasnya

Mohon ajari saya untuk menjadi percaya kepada orang lain, agar segalanya tidak selalu saya yang menggarap, agar saya pun bisa mempercayai kemampuan orang lain
Agar tidak hanya saya saja yang merasa lelah, sementara yang lain hanya melihat dan bertepuk tangan jika itu semua berhasil dan mengejek jika itu gagal

Mohon ajari saya untuk lupa akan amanah, agar bisa dengan mudah mengatakan "maaf lupa, maaf tidak sengaja" dan maaf atas segala alasan konyol lainnya

Mohon ajari saya untuk menjadi pribadi yang mengutamakan kepentingannya diatas segalanya, hingga bahkan saya tak perlu berkorban apapun, hanya duduk manis dan menjadi penonton yang hanya dapat mengkritik

Mohon ajari saya untuk marah, untuk sedih, agar tidak selalu membuat orang tertawa, menjadi candaan orang lain, menjadi orang yang always full charge, agar dengan mudah mengungkapkan bagaimana perasaannya, supaya orang-orang mengerti dan memakluminya

Mohon ajari saya untuk setidaknya terlihat seperti manusia, bukan cyborg, zombie atau sejenisnya

Kamis, 15 Oktober 2015

Dialog Menjelang Fajar

Apa yang harus ku katakan pada dunia yang dinamis ini, jika ku begitu statis?
Apa yang harus ku katakan pada dunia yang fleksibel ini, jika ku begitu kaku?
Apa pula yang harus kukatakan pada dunia yang penuh sesak ini, jika ku selalu merasa sendiri?
Tak ada yang bisa ku katakan, ku hanya diam saat dunia menghakimi diri yang tidak bisa menyesuaikan ini.
Lama-lama ku bisa saja tergerus kejamnya dan angkuhnya dunia.
Manusia lainnya berburu untuk berubah, tetapi ku masih seperti ini saja.

Menatap jauh dan lebih senang memperhatikan orang-orang yang tergesa-gesa
Berdiri mematung dan hanya senang terdiam dengan sesekali menertawakan mereka yang tanpa rencana,
yang terpenting adalah ikuti saja dunia yang dinamis ini.
Tetapi apabila belum siap, mau dikatakan bagaimana?
Apabila belum siap berubah -berubah lebih baik- mengapa harus tergesa-gesa?
Nikmati saja, dunia memang ditakdirkan berubah-ubah.
Jika statis, mungkin tak ada malam ataupun siang, tak ada kemarau atau musim penghujan
Manusia juga dinamis, tetapi ada yang drastis atau ada yang "alon-alon asal klakon"

Jika ada yang bertanya, mengapa kau masih disini?
Aku akan menjawab bahwa "aku tak pernah berubah, jikapun ada yang berubah, mungkin aku tampak lebih tua,
tapi hal ini tak pernah berubah"
Apakah yang kau maksud dengan hal ini? Hati atau perasaan?
Lalu, ku tertawa dangkal sebelum menjawabnya, "Yang ada dipikiranmu hanya persoalan hati saja."
Lantas apa?
Dia mulai menanyaiku layaknya tersangka yang diinterogasi oleh detektif. Aku tak menjawab, sengaja agar dia penasaran.
Apa? Apa? Apa?
"Begitu inginnya kamu mengetahui jawabannya?"
Iya, lantas apa lagi yang aku tunggu selain jawabanmu.
"Hm...bagaimana ya, aku menjelaskannya."
Kau membuatku semakin kesal.
"Oke,baiklah. Jadi hal ini adalah sesuatu yang sebenarnya aku pun tak tahu."
Hahahaha, -dia menertawaiku- pasti soal perasaan dan hati kan?
Aku segera tegas membantah, "Bukan, bukan hal yang dangkal dan dipenuhi oleh prasangka seperti itu"
Dia menatap tajam padaku, "Aku tak pernah tahu apa mauku, karena aku jarang berdialog dengan diriku sendiri.
Dia semakin menatap tajam membuatku semakin takut.
Dia lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku, kau tahu mengapa kita mirip? Karena kau adalah aku dan aku adalah kau.
Kau tak pernah membiarkan dirimu jujur pada dirimu sendiri, sehingga kau tak tahu maumu apa, oleh karena itu,
kau hanya bisa mengamati orang lain, sementara dirimu terabaikan.
Ajak bicaralah diriku, kau tak sendirian. Jika memang kau belum siap berubah, aku temani.
Jika kau memang senang menatap interaksi orang lain, ketimbang kamu ikut berinteraksi, maka aku temani.
Jika kau lebih senang berdiri mematung, sementara orang-orang nampak tergesa-gesa, aku temani.
Kau tak pernah sendiri, ada aku.
Aku pun tak akan pergi ataupun berubah.
Karena aku adalah kehendakmu.
Mari kita sering berdialog, agar kita lebih akrab, wahai diriku sendiri.

"A..aku, a..ku..." Aku tak bisa berkata apa-apa.
Dan langit malam pun menjelang pagi.
Matahari sudah mulai memancarkan warna cerahnya pada langit yang gelap.
Kini langit pun merona.
Aku pun tersenyum merona, menatap dia. Terimakasih, ucapku dalam hati.

Selasa, 13 Oktober 2015

Doa Yang Terkabul



"Waaaaa......" 
ku berteriak dalam hati sembari berlari penuh semangat saat langit mulai meredup dan tergantikan oleh lampu-lampu jalan. Tak terasa bagian paling sentimentil ini pun tak dapat lagi tertahan. Air pun keluar dari sudut gelap mata ini. Basah, namun menyejukkan.

Rasanya kaki ini tak mampu lagi menahan kesumringahan hati yang tak dapat terbendung. Ku pun mengistirahatkan kakiku dengan berduduk-duduk santai di halte. Tak ada siapapun, hanya ada aku dan kertas-kertas pengumuman yang mulai usang dan terkelupas dari dindingnya. Ku pandangi satu-satu, mungkin ada lowongan kerja part time untuk mahasiswa sore seperti ku. Ya, mahasiswa. Kini ku benar-benar menjadi mahasiswa. "Waaaa....." ku teriak lagi dalam hati.

Baru 5 hari rasanya menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi idaman mungkin semua orang, tetapi aku tak peduli. Perguruan tinggi ini adalah idamanku, idamanku sejak masih berseragam putih abu-abu. Bahkan bermimpi saja sudah sangat indah dan membahagiakan, apalagi benar-benar menjadi bagian disini. Memakai almamaternya saja mungkin hanya sekedar mimpi di siang bolong. Namun, kini, saat ini, mimpi ini telah terwujud. Kini aku benar-benar mahasiswa disini, iya, disini. Aku mohon jangan teriak lagi dalam hati. Hati ini bisa sakit telinganya mendengarmu berteriak, hahaha.

Kini aku terduduk di lantai 4 perpustakaan fakultas tempatku menimba ilmu. Dekat jendela. Ya, untuk seseorang yang bahkan naik jembatan penyebrangan saja sudah keringat dingin bukan kepalang, kini duduk di dekat jendela lantai 4, hahah, seakan-akan lupa bahwa aku punya phobia ketinggian. Tetapi semua itu benar kulupakan, karena ku memang bahagia. Bahagia itu distraksi yang paling ampuh dari semua rasa sakit didunia ini.

Bukan hal yang mudah untukku sampai disini. Beberapa kali rasanya ingin menyerah saja untuk sesuatu yang tak mungkin ini. Mimpi kamu terlalu tinggi, hingga doa pun diganti, "Ya..Tuhan, hamba pasrahkan apa yang terbaik untuk hamba, jika memang ini terbaik untuk hamba, pasti akan ada jalan untuk hamba sebagaimana pun sulitnya jalan tersebut. Jika memang ini bukan yang terbaik untuk hamba, pasti Engkau mempunyai jalan yang lebih indah untuk hamba di tempat lain." Dan, tanggal 14 Agustus, namaku terpasang di website penerimaannya dan dinyatakan lulus. Ya, lulus, aku akan menjadi mahasiswa disana. Ini serius, Tuhan?
Apakah perjuangan terhenti? Tidak, ini baru dimulai. Bukan harga yang murah untuk menebus Kartu Tanda Mahasiswa dan Jaket Almamaternya. Aku pun menangis tersedu-sedu, saat Ibu berkata bangga memiliki anak sepertiku. Harga yang kukumpulkan selama setahun pergi pagi pulang malam pun belum cukup untuk menebusnya. Maksud hati tak ingin membebani Ibu, akhirnya membebani juga. Juara sekali perjuangannya, hingga last minutes sebelum pendaftaran ulang ditutup, Ibu menelepon. Ku berlari dan lagi-lagi sentimentil lagi, ku menangis. Dan ku menangis lagi saat jaket itu berada ditanganku. Iya, jaket dengan warna mencolok. Bahkan ada kalimat yang menyatakan, "jika mahasiswa almamater itu telah turun ke jalan, maka ada sesuatu di negara ini." Wuih...keren bukan main kalimat itu. Entah kalimat dari siapa.
Kini, ku masih menatap ke luar jendela. Dan berkata dalam hati bahwa ini baru permulaan. Hidupmu baru saja dimulai di Kampus Perjuangan ini. Disini semua serba sendiri, dan kamu sendiri yang memutuskan kapan kamu akan bertoga. Semakin lama disini, harga yang dibayar juga semakin menggunung. Euforianya harus diiringi dengan tanggungjawab. Ya, kamu harus membuat laporan pertanggungjawaban kepada Tuhan karena Tuhan telah benar-benar mengabulkan doamu. Sulit, setiap hari rasanya sulit, tetapi pasti ada kemudahan setelahnya. Jangan terlalu santai karena kamu berbeda dengan yang lainnya. Kamu disini untuk berjuang dan harus menjadi yang terbaik, buat tangis Ibumu menjadi sebuah tangis kebanggaan. Dan jangan sampai membuat Tuhan kecewa dan menyesal telah mengabulkan doamu ini.

Selamat datang, mari serap ilmu terbaik yang ada disini. Dan gunakan ilmu itu untuk menjadi bermanfaat bagi sesama. Selamat berjuang, Enno. Aku selalu berjuang bersamamu.

Dari ku untuk diriku.
Depok, 4 September 2015.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Fam-ill-y

Ketika air lebih kental daripada darah
Ya, kutipan itu pernah terdengar dalam sebuah drama sejarah.
Lalu pertanyaan yang timbul, mengapa bisa seperti itu?
Bukankah substansi air jauh lebih encer daripada darah, lantas mengapa terjadi kebalikan seperti itu.
Dan seribu diam berkecamuk dalam jiwa.
Kediaman, bukan kegaduhan akan ceracau-ceracau. Tetapi diam, diam yang sangat hening, hingga seseorang datang memegang sebuah batu lalu melemparkannya dengan penuh amarah pada dinding imajiner yang dulunya sangat kokoh bahkan tak ada yang mampu menembusnya.
Mungkin dulu ada yang sempat berniat, namun hanya sampai pada fase niat.

Tak perlu lagi ditutupi.
Karena bau darah kini semakin membusuk.
Air yang datang pun ikut terbawa menjadi berbau busuk.
Terbawa menjadi berwarna merah.
Merah darah oleh pertumpahan saudara.

Bukankah bangsa kita sangat terkenal akan cerita Kerajaan Singasari?
Ya, kerajaan yang dibangun atas pertumpahan darah atas nama dendam dan perselisihan antar saudara.
Dan berakhir dengan ketiadaan penerus baik berikutnya.
Kertanegara adalah raja yang berhasil berdiri diatas pertumpahan darah saudaranya.
Dendam tak akan menghasilkan kemenangan abadi, yang ada hanya keterpurukan dan membumihanguskan segalanya hingga dasarnya.

Seyogyanya saudara adalah keluarga.
Ya, keluarga sedarah yang berasal dari nenek yang sama.
That's a family..
Such a great warm love, contain sweetness and tenderly.
Being having much time, with full-like-heart-talkative
Itu kan idealnya.
Hingga pertempuran darah pun dapat berlangsung seperti halnya yang terjadi pada Kerajaan Singasari lampau.
Saling cakar, saling terkam, saling tusuk, saling melukai, saling menodai, sesama keluarga.
Seharusnya saling mengasihi, saling melindungi, saling mencintai, saling membantu, sesama keluarga.
Hingga rela terlihat bertampak "baik" dimata orang lain ketimbang menolong saudaranya yang tercengkram antara hidup dan mati.

Ketika orang lain yang bukan sedarah malah lebih mengasihi, lebih mencintai, lebih menghormati, daripada darah daging sendiri.
Atas dasar apa? Mungkin atas dasar kemanusiaan. Lalu bukankah saudara atau keluarga pun adalah manusia? Lantas mengapa tak memiliki rasa kemanusiaan?
"Untuk apa menolong saudara sendiri, hanya akan semakin membebani dan seterusnya akan terus ingin ditolong, lebih baik menolong orang lain, bisa disebut dermawan dan baik hati."
Perkataan macam apa itu? Perkataan inilah yang timbul dari pepatah 'air lebih kental daripada darah'

Ada sakit dan kesakitan serta penderitaan dalam darah daging sendiri yang perlahan membusuk dan mematikan organ yang lain. Hingga perlahan akan mati dengan kesendirian.
Biarlah, mungkin jika image dermawan itu terbangun sempurna maka orang lainlah yang akan membantu merawat bangkai busuk itu, bukan sanak keluarganya. Mengapa? Karena sanak keluarganya telah sakit dan mati terlebih dulu. Mati tercekik oleh ari-ari saudaranya.

Rabu, 12 Agustus 2015

Wanita Seutuhnya

Diam sejenak memikirkan arti dari judul tulisan ini.
Ya, wanita seutuhnya.
Seperti apakah itu?

Apakah seseorang berjenis kelamin perempuan yang sudah berusia diatas 20tahun?
Bukan perempuan, tetapi wanita. Kesannya seperti dewasa ya. Entah dewasa dalam segi usia atau pemikiran.
Jika memang usia menjadi patokan untuk mendapat titel "wanita", maka saya sudah masuk kriteria tersebut.
Kalau dari segi pemikiran mungkin masih terlalu jauh untuk dikatakan wanita.

Apakah seseorang (berjenis kelamin perempuan) yang memakai rok dan sepatu hak tinggi?
Bukan seseorang yang memakai tas ransel dan sepatu keds?
Berarti saya tidak termasuk wanita.

Apakah seseorang yang berbicara pelan, anggun, dengan senyum merebak, pipi merona oleh blush on, kelopak bercahaya oleh eyes shadow dengan balutan eyeliner diatasnya, dan bibir merah oleh lipstik, itukah wanita?
Ini masih berbicara yang berkelamin perempuan ya baik di KTP maupun diakui oleh masyarakat.
Saya? Di bedak pun jarang sekali.

Lalu saya ini apa? Perempuan yang belum menyandang status wanita?
Kemana-mana memakai celana jeans belel yang dicuci kalau ingat (wow..), tas ransel, sepatu keds yang dibeli dari jerih payah kerja sebulan demi merk, memakai jaket bukan cardigans, duduk bersila, berbicara keras dan cepat, senang "memukul" teman (ini kalau udah akrab banget ya, haha), dan polos tanpa make up.
Ini jelas bukan wanita banget.
Apalagi wanita seutuhnya.
Jika dan hanya jika kriteria wanita seperti yang ditulis diatas.

Seseorang pernah berkata, "Jadilah wanita seutuhnya versi dirimu".
Ini yang tambah bingung.
Kalau jadi seperti ini ya jelas bukan wanita seutuhnya tapi wanita tomboy.
Atau mungkin menjadi wanita seutuhnya sesuai "pakem" yang ada, kemudian sedikit improvisasi dan sentuhan kreatifitas mengubahnya menjadi versi saya sendiri?

Hmm...diam (lagi) sejenak untuk berpikir.
Perlu diketahui bahwa menjadi "wanita seutuhnya" sudah masuk list resolusi tahun ini lho.
Dan sudah setengah tahun lebih, sudahkah menampakan perubahan?
Mungkin tidak signifikan, tetapi Step By Step seperti judul lagu New Kidz On The Block. Ya menurut pepatah jawa, "alon-alon asal klakon". (Ini alasan buat prokrastinasi mungkin, haha)

Yups, Enno. Jadilah wanita seutuhnya versi dirimu.
Kapan deadline-nya? Doain aja 😁😁

Jumat, 31 Juli 2015

Kenyataan Sebaliknya

"....menangislah bila harus menangis karena kita semua manusia... manusia bisa terluka, manusia pasti menangis, dan manusia pun bisa mengambil hikmah.."

Ya, itu adalah sebait dari lagu Dewa. Lagu yang sangat "manusia banget".
Wajar kan jika manusia bersedih dengan berbagai alasan yang membuat dia terpaksa meneteskan airmata, tetapi tidak semua itu bisa diungkapkan dengan kata-kata, dengan tindakan, atau tergantikan dengan raut wajah sedih.
Adakalanya dibiarkan terbalik.

tersenyum dalam hati menangis...
Ya, itu penggalan dari lagu Agnes Monica.
Biarkan orang lain tahunya bahwa hidup kita hanya penuh tawa dan bahagia, mereka tak perlu tahu kesedihan kita yang sebenarnya, karena apa? Mereka telah terlalu sibuk dengan masalah mereka masing-masing tanpa mau harus terbebani dengan hidup kita meskipun labeling-nya curhat.

Hingga kenyataan pun sebaliknya.
Ada, "Ngga kok, aku ngga apa-apa." di balik, "Aku baik-baik saja kok"
Ada, "Aku bahagia kok :)" dibalik, "Aku sedih, rasanya ingin menangis"
Ada, "hehehe, hahaha" dibalik, "hiks...hiks...huaaaa.."

Itu munafik.
Hm..ada yang menyebutkannya seperti itu, namun jika terlalu jujur maka orang akan mudah stereotype bahwa dia itu tukang galau, cengeng, cemen, memble, rapuh, lemah, tak berdaya, dan segala macam cap yang menyatakan dirinya selalu dengan mudahnya nelangsa.
Hingga akhirnya menjadi pura-pura kuat, pura-pura bahagia, dan pura-pura tak terjadi apa-apa.
Untuk menjadi apa? Untuk menjadi sebenar-benarnya kuat, sebenar-benarnya bahagia, dan sebenar-benarnya biasa aja.

Orang-orang yang berkenyataan sebaliknya ini merupakan golongan orang-orang yang tidak mau orang sekitarnya menjadi awkward karena merasa harus empati terhadap kesedihannya, kenestapaannya, dan kegalauannya. Hingga dijauhi atau merasa harus di-pukpuk.
Biarlah seperti biasa saja, kesedihan ini bisa di-handle kok, dan orang-orang seperti ini tak mau membebani orang lain, yang seperti sudah dijelaskan diatas bahwa orang lain pun punya masalah sendiri.
Balik lagi soal kemunafikan.
Mengapa sih ngga bisa jujur aja kalau sedih? Ngga usah hahaha deh padahal hikshiks!
I'm not a queen of drama, but I'm just ordinary human who not being pitied by others.

Satu hal bahwa orang-orang seperti ini tidak butuh dikasihani, tetapi butuh sendiri, sebab orang-orang seperti ini akan mudah tersenyum, tertawa dengan sendiri, sebab mereka tahu bahwa kesedihan bukan untuk diratapi tapi untuk disyukuri karena Tuhan memberikan kesedihan sebab Tuhan tahu mereka kuat.
 

Selasa, 02 Juni 2015

Memantaskan diri

Disaat seusia seperti ini mereka memilih untuk berkencan dan pergi kemanapun bersama kekasihnya.
Makan, nonton, dan melakukan segala hal bersama lawan jenis yang dinamakan pacar.
Menjalin kisah yang dinamakan pacaran dengan ucapan, "Mau ngga jadi pacar saya?" Ucap lelaki dan perempuan mengiyakan, lalu mereka pacaran.
Dan saya pun berulang kali mengalaminya dan berulang kali pun gagal membinanya.

Lalu lahir pemikiran bahwa saya merasa bahwa diri saya adalah korban pacaran.
Ya, selalu ditinggalkan, dikhianati, memberi tak diberi, dihilangkan tanggungjawab, rentan galau.
Dan benakpun berkata, "Lantas untuk apa pacaran?"
Saya tidak berpikiran bahwa saya ini terlalu agamis dengan munafiknya berkata bahwa pacaran itu haram. Bahwa saya berpikiran seperti itu karena sebelumnya saya mungkin tersakiti sampai keubun-ubun hingga timbul traumatik untuk berpacaran.
Mungkin itu bisa dijadikan alasan. Tetapi sesungguhnya alasan sebenarnya karena belum siap.

Saya selalu membuat pasangan saya tak berdaya dan merasa tidak dibutuhkan karena saya selalu meng-handle apapun sendiri, memutuskan apapun sendiri menurut apa yang saya kehendaki dan saya akui itu benar. Sering kali pasangan saya merasa tak dihargai dan diacuhkan oleh sikap arogansi dan individualis saya yang begitu besar.
Dan saya selalu merasa paling superior pada pasangan saya.
Padahal lelaki pun memiliki ego yang tinggi, yang mereka justru ingin lebih dibandingkan perempuannya, namun saya tak suka terkalahkan.
Lalu, saya menjadi si penuntut lebih. Ingin pasangan saya sebagaimana keinginan saya, namun ketika pasangan saya ingin saya menurut, saya tak mau menghendakinya. Lagi-lagi saya termakan oleh keegoisan sendiri.
Bagi Koleris, cinta adalah menaklukan.

Dan itu menyakiti pasangan saya.
Terus menerus rasa cinta itu pun menjadi lelah.
Sementara saya ya..tetap seperti biasa.
Saya mengaku cinta tetapi sulit mengekspresikannya. Hingga pasangan saya selalu sangsi apakah saya memiliki perasaan yang sama dibalik keacuhan tingkat tinggi yang saya miliki.
Lalu saya pun ditinggalkan. Dan itu karena saya yang tak mampu berbagi.

Pilihan pun jatuh menjadi memantaskan diri.
Saya belum siap, dan saya pun tak mau terus menerus jatuh pada lubang yang sama hanya untuk memperdaya nafsu dan ikuti trend.
Saya akui masih jauh kehidupan saya dari kesan agamis, tetapi untuk hal ini saya sedang berproses mencapai titik dimana bahwa saya benar-benar istiqomah.
Masih banyak ambisi saya yang mesti dikejar.
Saya masih dipenuhi rasa arogansi dan individualis yang sangat tinggi.
Saya belum siap berbagi.
Hingga sekarang saya sedang mengkaji ulang perangai saya, saya akui saya harus berubah dan perubahan itu tidak dijalankan dengan memiliki pasangan.
Akan ada masa dimana rasa egois saya ini teralihkan.
Saya yang merasa superior ini akan mulai belajar berbagi.
Jika pun masa itu tergerus oleh usia saya yang berakhir sebelum saya sempat mengetahui jodoh saya, tak apa, yang terpenting saya mencoba berada di jalan cinta-Nya.
Tuhan yang selalu menerima diri ini yang kotor.
Semoga Tuhan memaafkan kekhilafan saya dulu dalam menafsirkan cinta dari-Nya.

Dari seorang perempuan yang sedang berusaha menjadi wanita yang sedang memantaskan diri bagi yang halal baginya kelak..

Kamis, 28 Mei 2015

Second Lead

Second Lead atau biasa disebut pemain nomor dua.
Dia bukan pemeran utama dalam sebuah cerita.
Dia peran kedua setelah peran utama.
Adegannya sudah jelas lebih banyak si pemeran utama.
Dia juga bukan cameo atau supporting actor.
Dia hanya pemain kedua.

Dia sangat akrab dengan cinta sepihak atau bertepuk sebelah tangan.
Dia menyimpan rasa cinta kepada si pemeran utama, namun apadaya Sang Sutradara sudah memilih bahwa pemeran utama harus bersanding dengan pemeran utama juga.
Tentu bukan tanpa usaha, si second lead ini pun mencoba untuk meraih hati dan cinta si pemeran utama, bahkan bisa dibilang bahwa si second lead ini memiliki perasaan jauh lebih tulus dibanding si pemeran utama.
Dia sangat dekat dengan patah hati.

Pemeran utama biasanya menangis dan terluka oleh sikap pemeran utama lainnya.
Dan datangnya si second lead yang memberi pundak, menghapus tangis, bahkan menghibur.
Setelah bahagia, maka pemeran utama kembali ke pangkuan si pemeran utama lainnya.
Dan second lead pun hanya menelan pil pahit dan dia patah hati.

Second Lead kadang berubah menjadi tokoh antagonis.
Dia mengerahkan segala cara agar si pemeran utama bersanding dengannya.
Dia menjadi jahat dan cinta tulusnya berubah menjadi hitam dipenuhi arogansi.
Namun tetap saja dia patah hati.
Bahkan dengan cara tulus dan manis pun tak dapat merengkuh sang pemeran utama, apalagi menggunakan cara jahat laksana penyihir.
Dia kembali menelan ludah.

Dia tak dapat menyalahkan Sang Sutradara.
Ini mungkin sudah jadi bagian dari skenario-Nya.
Dia hanya pemain baru yang belum banyak jam terbangnya, atau dia bisa saja pemain lama namun belum siap naik kasta jadi pemeran utama.
Ya...Dia patah hati dari berbagai arah.

Second Lead ini demi naik kasta menjadi pemeran utama, dia tampilkan segenap kemampuannya.
Meskipun dia hanya pemain lapis kedua, hanya jadi sandaran si pemeran utama saat sedih, yang selalu tak dipilih oleh si pemeran utama, yang hanya mampu menatap dari jauh, namun dia tak pernah mundur.
Sebab yang terpenting adalah proses mencintai bukan dengan siapa dia akan bersanding.
Karena bermula dari pemain kedua, dia akan menjadi pemeran utama.

Jumat, 08 Mei 2015

Ibu, Master of Encryption

Sosok perempuan paruh baya berdiri didepan sebuah gapura bercat biru sembari membawa payung besar yang dia genggam oleh tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengangkat payung hijau untuk melindungi tubuhnya dari rintikkan hujan. Dia nampak menunggu seseorang. Tidak terlihat ekspresi jenuh di raut mukanya. Yang terlihat adalah wajah rindu menanti seseorang yang bisa saja sangat dia rindukan kehadirannya. Lalu dari kejauhan tampak seorang anak perempuan berlari mendekati perempuan paruh baya itu.
"Ibu.." Sapa anak perempuan itu. Wajah anak itu berseri mendekati Ibunya rasanya ingin segera memeluk.
"Ini payungnya." Perempuan paruh baya yang disebut itu memberikan payung kepada anaknya.
Dia pun tak jadi memeluknya. Tangannya diremas lalu mengambil payung dan membukanya.
"Ibu, tahu tidak kalau,.... bla...bla...bla.." Anak itu menceritakan segala macam hal hingga lupa titik koma dalam sebuah pembicaraan. Rasanya seluruh hal yang dia alami di perantauan ingin dia curahkan pada Ibunya.
"Oh.." Jawab Ibu sekenanya.
No response suppossed to be.
Anak itu tidak jadi meneruskan ceritanya. Mood-nya seketika hilang, menguap ke angkasa yang akan menjadi embun di pagi hari.

Ibu, The most frozen woman ever. Mungkin Elsa juga kalah.
Tak banyak bercerita. Tak banyak tawa. Namun sering menangis tiba-tiba.
Beberapa kali dibuat bingung. Ini maksudnya apa. Perasaan Ibu seperti apa.
Jika bertanya Ibu kenapa,hanya derai air mata jawabannya.
Apakah Ibu sulit mengekspresikan apa yang Ibu rasakan.
Tapi Ibu paling senang menceritakan anak lelaki sulungnya. Rasanya begitu bangga mempunyai anak sepertinya. Menjadi abdi negara berpangkat dan disegani banyak orang.
Namun pil pahit menodai kebanggaannya.
Ketika tak semua buah di pohon memberikan rasa yang sama.
Akhirnya keluhan demi keluhan terlontar dari mulut Ibu.
Rasanya gelar the most frozen woman ever kini beralih kepada anak perempuan semata wayangnya.

"Ndo.. Ibu rasa, bla...bla...bla..." Ibu membuka cerita mengisahkan betapa pelik dan menderita hidupnya.
"Oh.." Anak perempuan itu menjawab sekenanya. "Enggeh, Bu, Iya.. Oh.. Hmm..." hanya itu kata perkata yang anak perempuan itu lontarkan.
Hingga suatu waktu anak perempuan itu pulang kerumah, rencananya ingin melepas rindu namun apa yang didapat hanya sekumpulan keluhan. Dia tak lebih dari Departemen Sosial atau mungkin samsak.
Anak itu mengunci diri di kamar. Memakai earphone tanda dia menolak segala suara kecuali lagu kesukaannya.
Ini persoalan siapa yang tidak mengerti keadaan satu sama lain. Siapa yang tidak bisa membaca hati sama lain. Atau siapa yang tidak peka.

Rasanya hidup begitu teramat susah kala usia semakin bertambah. Apakah ini bagian dari proses pendewasaan yang tak pernah kunjung usai.
Rasanya ingin sekali mengutarakan satu sama lain, apa inginnya, apa yang diharapkan, semua tak pernah mencapai titik temu, semua tak pernah akan seperti itu.
Saling memprediksi dan saling merasa dirinya adalah korban.

Sejak kecil Ibu melarang anak perempuan itu bermain dengan sebayanya. Jika ada yang ke rumah, selalu dikatakan bahwanya anaknya sedang tidur atau anaknya sedang belajar.
Jangan berkomunikasi dengan siapapun, ke sekolah hanya belajar.
Jadilah anak perempuan itu menjadi anak kutubuku, tak punya kawan, hanya segudang musuh dan malah jadi korban pem-bully-an karena terlihat eksklusif.
Lalu saat anak perempuan itu menginjak dewasa, dia menjadi rebel.
Dia tak pernah sekalipun membantah omongan orang tua. Jika mendapat khotbah, dia hanya diam tak berucap sama sekali. Tapi pikirannya menolak semua omongan itu. Dia tetap akan mengulanginya lagi, hanya saja jika dia membantah, dia akan kehilangan tenaga percuma. Dia tak akan melawan hal dengan kemungkinan kekalahan yang besar.
Dia ingin bebas. Hampir 10 tahun dia terkurung dalam rumah. Dia tak hanya sekedar si kutubuku, dia ingin mempunyai teman, dia ingin aktif. Hingga dia pun berbohong, berucap bahwa dia belajar kelompok, padahal dia main atau rapat organisasi.
Jelang masa lulus sekolah, Ibu berubah jadi diktator tangan besi. Dia ingin semua anaknya menjadi seperti dia inginkan, tanpa melihat anaknya berada pada potensi apa.
Apa Ibu tahu jika anaknya mengikuti olimpiade Kimia? Jika anaknya mendapat nilai tertinggi saat masuk SMP? Jika anaknya murid teladan waktu SD? Jika anaknya juara lomba debat B.Inggris? Jika anaknya menyukai teater? Jika anaknya senang menulis naskah drama? Jika anaknya ingin jadi seorang kimiawan? Anaknya ingin jadi translater? Apakah Ibu tahu?
Tidak.
Tentu saja, tidak.
No matter what happen, no matter what you desire, I judge you what I want.
Tak akan tinggal diam.
Anak itu melawan hingga akhirnya dia bisa....
Kuliah.

"Yeah, sekarang saya mahasiswi." Teriak dia kegirangan.
Kuliah jam 7 pagi tak pernah dia lalui dengan kejenuhan. Segala tugas dia kerjakan.
Mungkin dia prokrastinasinya jagoan, tapi tak pernah lari dari deadline meski terkadang sering last minutes, but she was happy for doing that. That's what she wants. 
Dan Ibu sedikit melunak. Entah melunak, entah memang ada sesuatu yang bisa saja jadi bom waktu, hingga 1 bulan setelah kelulusan...
Boom! Boom! Boom!
Dia terkulai lemas. Dia menjatuhkan sebuah kertas bertuliskan "Lulusan Terbaik".
Hati dan usahanya seakan tercabik oleh mahluk visioner yang tak bertanggungjawab.
Mimpi kuliah mungkin hanya sampai ahli madya, begitu ujar mahluk visioner kebanggaan Ibu itu.
Kini anak perempuan itu menanggung kesalahan seseorang.
Seseorang yang dulunya sering mengajarinya bagaimana bertahan disaat serangan dari berbagai arah mata angin datang. Bagaimana harus menjadi orang yang tak bisa diprediksi, bagaimana hidup harus meaningful, harus idealis, harus berbeda tetapi tetap keren.
Bullshit. That's theory. I just grown up by my way.
Begitu teriak anak perempuan itu.
Ini konspirasi. Tetapi tak tega rasanya melihat Ibu menangis seperti itu.

"Ibu, apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya Ibu rasakan? Katakan! Katakan! Saya akan selalu berburuksangka jika Ibu tak pernah mengatakannya dengan jelas. Saya akan selamanya tak pernah mengerti Ibu. Saya akan....." Anak perempuan itu tak mengatakan apa-apa. Dia hanya tertunduk. Bahkan air matapun tak dapat mewakili perasaannya saat itu.
Lalu hanya satu kata keluar dari mulutnya, "Iya, Bu."
Setelah itu saatnya berpikir keras bagaimana sekaligus bisa mewujudkan mimpinya, dengan mengiyakan permintaan Ibu.
Headache.
Heartache.

Matahari mungkin rasanya sudah meninggi. Namun anak perempuan itu masih berkutat pada selimut kucelnya. Lalu handphone berdering. Membangunkan dia dari mimpi singkatnya.
Dia meraih handphone-nya dengan malas.
"Iya, Halo."
"Ndo..." Terdengar suara wanita paruh baya.
"Oh..Ibu, ada apa?"
"Jangan lupa, ya, Ibu tunggu."
Anak perempuan itu menghela nafas panjang.
Ibu seharusnya Ibu juga mengatakan hal itu kepada anak kebanggaan Ibu. Apa karena saya bukanlah anak yang menuruti keinginan Ibu dulu, Ibu jadi terus menekan saya. Ibu saya lelah, Bu, saya sakit. Mengapa Ibu tak menanyakan kabar saya dulu. Mengapa Ibu begitu dingin. Mengapa Ibu begitu kejam kepada saya, Bu. Apakah saya tidak berbakti hingga Ibu menghukum saya sedemikian rupa. Apakah mempunyai anak seperti saya hanyalah beban bagi Ibu.
"Iya, Bu."
"Baik-baik ya."
"Iya, Bu." Anak perempuan yang selalu mengiyakan apapun yang Ibu katakan itu pun menutup teleponnya.
Dia melanjutkan tidurnya dan berharap tak akan terbangun lagi.

Selasa, 05 Mei 2015

Kamar Hijau

Disebuah kamar bernuansa hijau dari mulai dinding, sprei yang melapisi kasur tipisnya, hingga sebuah boneka besar berkumis kesayangannya pun didominasi hijau.
Hijau adalah warna yang menenangkan, baginya. Tidak hanya sekedar warna kesukaan. Tetapi malah lebih memberikan efek "sedasi" padanya.
Dia yang meletup-letup seperti gunung berapi yang kapan saja bisa menyemburkan lava didalamnya, seketika begitu tenang jika berada didalamnya.
Tempat yang dingin dengan sejuta keheningan.
Tempat yang dibentengi dinding yang tak pernah lelah mendengar setiap celotehannya tentang ketidakadilan dunia kepadanya.
Tempat dengan sejuta tissue bertebaran dilantai jika suara saja tak mampu menjelaskan segalanya.
Tempat dengan segala kebisuan yang menatap sendu ketika dia mengerang kesakitan sendirian tanpa ada seorang pun tahu.
Tapi dia begitu jujur kepadanya.
Dia mencurahkan segalanya.
Karena dia tak pernah merasa jenuh mendengarkan cerita yang melulu itu-itu saja.
Dia memang tak pernah memberi pundak saat sedih datang.
Tak pernah ikut tertawa ketika melihat gerakan yang aneh serta gimik-gimik naskah yang selalu dia perankan.
Dan selalu ada.
Itu yang pasti.
Lelah selalu berujung disini.
Tidur dan kembali menatap langit-langit kamar.
Menatap sendu, kosong, dan hampa.
Tetapi dia ada dan selalu ada.
Tanpa mengeluh balik.
Apa karena dia hanya benda mati?
Bukan, dia adalah taman dengan sejuta ketenangan yang selalu tertutup, takkan dibiarkan terbuka kecuali atas keinginannya.

Senin, 02 Maret 2015

Senang Hilang, Bahagia Terbilang

Dibesarkan dalam ruang lingkup keluarga militer, membuat saya sangat hapal dengan peribahasa "Esa Hilang, Dua Terbilang" yang artinya berusaha sekeras mungkin hingga maksud tercapai.
The Nice Proverb.

Tak pernah sekalipun dalam hidup saya, ketika saya meminta A dalam sekejap hal "A" itu datang dan terwujud. Semua harus dilalui dengan keringat dan darah agar keinginan "A" saya itu terwujud.
Sebab terlahir dari bukan keluarga kaya membuat saya harus selalu max effort dalam mewujudkan keinginan saya. Serta terlahir dari bisa disebut anak yang tak terlalu diunggulkan sebab anak perempuan satu-satunya yang diapit oleh Ksatria superior dan Ksatria inferior membuat saya lagi lagi harus push over limit jika dan hanya jika keinginan saya terwujud. Oleh karena itu saya menjadi pribadi yang sangat ambisius, kecenderungan individualis, dan amat skeptis dengan urusan orang lain, dan egois. Serta terkadang saya menyakiti diri saya sendiri hingga bisa lupa makan dan tidur (yang katanya sih kebutuhan dasar manusia) jika ada hal yang harus saya capai pada saat itu juga.
Ya, saya amat sangat jarang membiarkan tubuh serta pikiran saya "istirahat", hingga maka dari itu mungkin Tuhan berikan sesuatu yang tak tersembuhkan sebagai "rem" untuk diri saya.

Dan di tahun 2015 ini segudang rencana harus terwujud dan tidak boleh sampai postponed, sebab jika hal ini tertunda maka rencana ditahun berikutnya pun akan tertunda.
Keinginan terbesar saya tahun ini adalah ingin berkuliah kembali.
Ya, menyandang gelar ahli madya di tahun lalu tidak membuat saya puas, jalan masih panjang dan berliku jika ingin bergelar sekaliber doktor atau profesor. Rasanya hati ini belum tenang jika belum sarjana, sebab syarat agar bisa goes to Europe adalah bergelar sarjana.
Hal itu tidak mudah karena harus di-endorse sendiri. Program ekstensi tak satupun yang menyediakan beasiswa (ekstensi = kelas karyawan, kelas yang katanya sudah bisa menghasilkan uang sendiri). Dan saya pun dituntut menjadi hard worker.

Hard Worker.
Kerja bisa sampai 12 jam sehari, belum lagi kerja sambilan yang membuat saya harus bangun subuh untuk ngajar private dipagi hari membuat saya lupa akan waktu bersenang-senang.
Kesenangan bagi saya hanya 2 yaitu bisa bebas menonton drama, music video sepanjang hari dan makan, ya..makan, menyenangkan lidah saya yang senang makan makanan yang up to date.
Tapi hal itu tidak bisa sebebas dulu waktu zaman kuliah.
Gaji 1 juta perbulan mau tidak mau harus disimpan dan tidak bisa diganggu gugat jika ingin kuliah tahun ini (itu pun bukan di universitas yang saya inginkan, oke untuk bahas yang ini ditulisan berikutnya). At least, waktu dan dana untuk bersenang-senang terbatas.
Segala serba harus diatur sendiri. Hedon, it's no bachelor.
Tetapi tantangan yang paling krusial jelas di orang tua, ya.. saya -si anak yang tidak diunggulkan ini- mendadak jadi anak yang diunggulkan sebab si Ksatria Superior itu telah memuntahkan kesalahannya kepada saya dan kini sebagai "balas budi" karena dulu beliau yang meng-endorse kuliah ahli madya saya, sekarang muntahan itu harus saya bereskan. Angan kuliah sarjana semakin jauh di pelupuk mata. Menyerah? Tak ada di kamus saya. Pasti ada cara lain, ya semoga ada cara lain.

Dan kini, Senang saya hilang.
Hilang. Hilang. Dihilangkan oleh saya.
Mungkin waktu bersenang-senang saya sudah selesai.
Kini waktu saya untuk bersusah-susah (sebenarnya dari dulu, tapi dulu distraksinya keren jadi lupa kalau dari dulu sudah susah), jika dan hanya jika ingin studi ke Eropa itu terwujud. Ya jika tidak maka bersenanglah dan puaslah dengan gelar ahli madya.
Sebab nanti pasti bahagia akan datang. Ya, segala max effort dan push over limit ini akan berakhir bahagia akan menjadi lebih bahagia dari pada kesenangan semu semata.
No Pain, No Gain, kan Nno..
Jelas kamu akan berbeda dan jauh lebih baik daripada orang lain yang hidupnya serba instant dan mudah. Jelas kamu akan bahagia, nno. Jelas pengorbanan ini akan dinilai setimpal oleh Tuhan.
Sebab Tuhan selalu bersama orang-orang yang mau berusaha.

Semoga lelah ini menjadi lillah,
Senang Hilang, Bahagia Terbilang.

Jumat, 30 Januari 2015

Sebuah Tulisan yang Emosional

Suatu hari nanti jika saya membaca (lagi) tulisan ini, mungkin saya akan tertawa karena melihat tulisan yang begitu emosional ini.
Ya, saya tak punya pilihan selain menulis, karena sudah tak ada lagi orang yang mau mendengar keluh kesah saya, hal ini wajar karena setiap orang punya kesibukan dan urusan tersendiri.
Lagipula setiap saya "curhat" selalu dianggap bahwa saya itu orang yang penuh rasa amarah, selalu tidak puas, menganggap dunia tidak adil bagi saya, dan penuh dengan emosi. Padahal gaya "curhat" saya saja yang begitu ekspresif. Ya, perlu diakui bahwa point diatas ada benarnya. Saya memang selalu merasa seperti itu, jika saya saya merasa. Tapi kadang saya lupa bahwa saya sedang tersinggung atau sedang sakit hati pada seseorang, sebab saya selalu memilih diam, menyimpan dan membendung semua, lantas mencari seseorang yang "siap" kena muntahan curhat saya.
Tidak banyak orang yang kena muntahan itu. Hanya orang-orang terpilih dan "beruntung" sebab saya sangat sulit untuk terbuka pada orang lain. Tetapi jika saya sudah percaya kepada seseorang, bahkan aib sebesar apapun pasti akan saya ceritakan.

Kini, cara konvensional versi saya itu harus dihilangkan. Manusia bukan lagi tempat untuk memuntahkan segala keluh kesah. Kepada Tuhan? Dia sudah sibuk mengurusi segala hal, saya tak ingin menambah beban-Nya dengan menceritakan keluh kesah saya yang sudah tingkat drama queen.

Emosi yang berkecamuk dalam dada ini memang sebaiknya muntahkan saja disini. Saya kecewa, saya marah pada diri saya yang begitu egois dan tidak pernah jujur bahkan pada diri sendiri.
Hingga saya mendapat sebuah kalimat yang sangat menyesakkan dada pada dua hari yang lalu. Ya, mungkin saya sudah keterlaluan? Atau saya yang terlalu pragmatis serta sulit menerima hal baru? Atau saya terlalu idealis dan memandang segalanya harus sesuai protap, jika A, B, C, D, urutannya harus seperti itu, tidak bisa jadi C, A, B, lalu D. Begitu sangat tidak fleksibel, hingga saya begitu dingin dan tidak mempunyai rasa empati.
Apakah saya sudah seperti robot yang hilang "rasa kemanusiaan" atau seseorang yang hanya punya rasa amarah? Hingga orang-orang pun jengah jika berinteraksi dengan saya, bekerja sama dengan saya. Apakah sebegitukah saya?

Saya perlu mawas diri.

Tapi saya ingin menyalahkan orang lain juga. Saya ingin egois dan mengatakan bahwa saya telah melakukan hal terbaik (menurut saya) dan orang lain sebegitu gampangnya mengatakan bahwa saya tidak punya sense of prepare well. Mereka tahu apa, sih?
Bukan berarti mengenal sudah lama lantas bisa mengetahui tabiat seseorang secara 100%.
Ini sudah emosional belum tulisannya?

Saya yang terkonsep dan kuno ini harus dihadapkan pada pilihan antara loyalitas harga mati tetapi didepak dari kerjasama dengan langit atau menuruti langit untuk merengkuh sesuatu yang baru yang belum tentu loyal atau malah hanya sekedar lewat nantinya dengan mengorbankan idealisme saya sendiri. Galau ngga sih kalau dihadapkan pada pilihan tersebut?
Tidak. Saya malah marah, mengapa langit begitu kejamnya (biasanya juga kejam) dan tidak pernah memperlakukan saya dengan adil. Tak pernah diistimewakan barang sekali. Selalu dihujani angin dan petir serta rembesan air.
Ini sudah lebih emosional, kah?

Selalu seperti itu. Tapi nanti juga biasa lagi.
Ya, ini hanya tulisan emosional yang ditulis oleh orang yang penuh dengan rasa emosi yang tak terbendung.
Saya salah dan saya minta maaf atas ketidakpunyaan rasa empati dalam diri saya, yang terlalu mengagungkan konsep saya, hingga saya tak punya rasa "kasihan".
Tapi haruskah mendepak keloyalitasan saya demi "baru" yang belum tentu akan bersatu?


the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...