Senin, 02 Maret 2015

Senang Hilang, Bahagia Terbilang

Dibesarkan dalam ruang lingkup keluarga militer, membuat saya sangat hapal dengan peribahasa "Esa Hilang, Dua Terbilang" yang artinya berusaha sekeras mungkin hingga maksud tercapai.
The Nice Proverb.

Tak pernah sekalipun dalam hidup saya, ketika saya meminta A dalam sekejap hal "A" itu datang dan terwujud. Semua harus dilalui dengan keringat dan darah agar keinginan "A" saya itu terwujud.
Sebab terlahir dari bukan keluarga kaya membuat saya harus selalu max effort dalam mewujudkan keinginan saya. Serta terlahir dari bisa disebut anak yang tak terlalu diunggulkan sebab anak perempuan satu-satunya yang diapit oleh Ksatria superior dan Ksatria inferior membuat saya lagi lagi harus push over limit jika dan hanya jika keinginan saya terwujud. Oleh karena itu saya menjadi pribadi yang sangat ambisius, kecenderungan individualis, dan amat skeptis dengan urusan orang lain, dan egois. Serta terkadang saya menyakiti diri saya sendiri hingga bisa lupa makan dan tidur (yang katanya sih kebutuhan dasar manusia) jika ada hal yang harus saya capai pada saat itu juga.
Ya, saya amat sangat jarang membiarkan tubuh serta pikiran saya "istirahat", hingga maka dari itu mungkin Tuhan berikan sesuatu yang tak tersembuhkan sebagai "rem" untuk diri saya.

Dan di tahun 2015 ini segudang rencana harus terwujud dan tidak boleh sampai postponed, sebab jika hal ini tertunda maka rencana ditahun berikutnya pun akan tertunda.
Keinginan terbesar saya tahun ini adalah ingin berkuliah kembali.
Ya, menyandang gelar ahli madya di tahun lalu tidak membuat saya puas, jalan masih panjang dan berliku jika ingin bergelar sekaliber doktor atau profesor. Rasanya hati ini belum tenang jika belum sarjana, sebab syarat agar bisa goes to Europe adalah bergelar sarjana.
Hal itu tidak mudah karena harus di-endorse sendiri. Program ekstensi tak satupun yang menyediakan beasiswa (ekstensi = kelas karyawan, kelas yang katanya sudah bisa menghasilkan uang sendiri). Dan saya pun dituntut menjadi hard worker.

Hard Worker.
Kerja bisa sampai 12 jam sehari, belum lagi kerja sambilan yang membuat saya harus bangun subuh untuk ngajar private dipagi hari membuat saya lupa akan waktu bersenang-senang.
Kesenangan bagi saya hanya 2 yaitu bisa bebas menonton drama, music video sepanjang hari dan makan, ya..makan, menyenangkan lidah saya yang senang makan makanan yang up to date.
Tapi hal itu tidak bisa sebebas dulu waktu zaman kuliah.
Gaji 1 juta perbulan mau tidak mau harus disimpan dan tidak bisa diganggu gugat jika ingin kuliah tahun ini (itu pun bukan di universitas yang saya inginkan, oke untuk bahas yang ini ditulisan berikutnya). At least, waktu dan dana untuk bersenang-senang terbatas.
Segala serba harus diatur sendiri. Hedon, it's no bachelor.
Tetapi tantangan yang paling krusial jelas di orang tua, ya.. saya -si anak yang tidak diunggulkan ini- mendadak jadi anak yang diunggulkan sebab si Ksatria Superior itu telah memuntahkan kesalahannya kepada saya dan kini sebagai "balas budi" karena dulu beliau yang meng-endorse kuliah ahli madya saya, sekarang muntahan itu harus saya bereskan. Angan kuliah sarjana semakin jauh di pelupuk mata. Menyerah? Tak ada di kamus saya. Pasti ada cara lain, ya semoga ada cara lain.

Dan kini, Senang saya hilang.
Hilang. Hilang. Dihilangkan oleh saya.
Mungkin waktu bersenang-senang saya sudah selesai.
Kini waktu saya untuk bersusah-susah (sebenarnya dari dulu, tapi dulu distraksinya keren jadi lupa kalau dari dulu sudah susah), jika dan hanya jika ingin studi ke Eropa itu terwujud. Ya jika tidak maka bersenanglah dan puaslah dengan gelar ahli madya.
Sebab nanti pasti bahagia akan datang. Ya, segala max effort dan push over limit ini akan berakhir bahagia akan menjadi lebih bahagia dari pada kesenangan semu semata.
No Pain, No Gain, kan Nno..
Jelas kamu akan berbeda dan jauh lebih baik daripada orang lain yang hidupnya serba instant dan mudah. Jelas kamu akan bahagia, nno. Jelas pengorbanan ini akan dinilai setimpal oleh Tuhan.
Sebab Tuhan selalu bersama orang-orang yang mau berusaha.

Semoga lelah ini menjadi lillah,
Senang Hilang, Bahagia Terbilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...