Kamis, 13 Mei 2021

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before?

have you ever cried intensively then once you tried to be relief, you smile like something funny happen tickled your memory?

the adorable fluctuative.

 

the emotion has no border. 

no having borderline.

be able to jump in blink your eyes, be able to shout out to the sky, then abruptly dropped to the bottom of the ground.

 

it's not just about swings, more complicated that explain it simplicity.

the life maybe already cursed me beautifully.

indulging me with unstable emotion.

hugging me with infuriate fondness.

 

how's life? hilarious.

the life mock me madly.

bring that pain, i'm not scare anymore because i be able switch the emotion rapidly despite i feel numb.

i have been fallin' deeply and flyin' highly so your torment doesn't affect me significantly.

 

this border is gray not white or black.

maybe there is no border, it is just my imagination.

can not to cut in a line despite trying to escape.

that's why everything seems blurry, leaving the scars enchanted in my soul prettily.

 

the persona shows off distinguishly.

mesmerizing other's persona without the borderline.

it's the gift which hold your hand gentlely.

be little like coward is not part of the persona.

the borderline faded to be remedy.

 

you gonna be happy.

you gonna be sad.

you gonna be angry.

you gonna be disappointed.

you gonna be tired.

you gonna be overwhelmed.

you gonna feel it just seconds then mix it amazingly.

you don't need the borderline of the emotion.

 

the humble opinion said that it's not romanticized.

it tries to accept what the fate lure on.

the remedy of the broken soul.

Minggu, 14 Maret 2021

Stigmata (dalam 4 babak)

1.
Terompet genderang berbunyi tak ada suara
Aku bukan tuli namun tak ingin dengar
Acapkali berisik itu menggaung minta ku hirau

2. 
Segan ku mulai namun tak bisa ku kendali
Besi karat kini sudah menancap di hati
Lebam biru dengan darah yang tak kunjung henti

3.
Menoleh berat memincingkan mata
Berteriak tapi bukan dengan kata-kata
Mencari sinar di ujung gelap yang tak tahu dimana

4. 
Putar roda gusar bagi sang pendosa
Tersayat luka meski bau amis tanpa rasa
Dipenghujung hari penuh asa bagi si penghunus lara

Sabtu, 13 Maret 2021

Kamu.

Biru dan abu-abu bukanlah warna kesukaanmu.

Namun kini seakan menaungimu.

Mengapa bermuram biru dan berlangitkan abu-abu? 

Apakah itu protagonis yang ingin kau ciptakan?

Seakan jaring hidup pekat merantaimu, menenggelamkanmu jauh ke dasar yang jemu.


Nampak sekilas kamu yang ingin terus berlari.

Lari hingga lelah meski tahu bahwa ini tak ada tepi.

Kamu sekarang jatuh, bukan pada cinta tapi pada semesta yang katamu begitu membencimu.

Sesak peluh berputar pada orbit yang berceracau.

Hingga rasa ini mati tak berasa hanya dera letih ingin berhenti.


Semesta akan selalu membencimu sesuai persepsimu.

Ada malam dimana kamu menyerah, namun kamu belum kalah.

Kamu sudah pernah coba greentea cheese cake?

Jika belum, jangan pernah mencobanya.

Kalau ada malam menyerah lainnya, kalau ada malam biru langit abu-abu lainnya, ingat bahwa kamu belum mencoba greentea cheese cake.

Jadi, bertahan, ya, kamu?

Rabu, 06 Januari 2021

Ingin Jatuh Cinta.

Jika ditanya perasaan paling indah di dunia mungkin salah satu jawaban universalnya adalah perasaan jatuh cinta. Semua terasa berwarna, terasa sejuk, nyaman, dan terkadang membuatmu senyum-senyum sendiri.

Dengan jatuh cinta, kamu bahkan bisa menjadi sangat impulsif padahal biasanya dingin seperti bongkahan es. 

Dengan jatuh cinta, kamu bisa menganggap adegan percintaan di drama atau film yang biasanya klise menjadi sesuatu yang menyenangkan jika itu terjadi padamu.

Dengan jatuh cinta, kamu bisa merasakan bahwa merindu adalah fase membahagiakan dan membuat orang yang kamu cintai itu bahagia adalah fase yang amat sangat teramat membahagiakan.

Sungguh sepertinya menyenangkan, bukan?

Aku ingin merasakannya (lagi).

Jujur, iya.

Aku ingin merasakan jatuh cinta dengan penuh romantisme sehingga aku akan rajin mengutip penggalan novel Shakespeare sebagai ucapan selamat pagi padanya.

Aku pun ingin memeluknya dengan doa yang aku lantunkan di tengah malam agar dia senantiasa diberikan kebahagiaan.

Aku juga ingin merindukannya hingga mungkin suatu saat akan bertemu kembali dan melepas kerinduan itu dengan bersua penuh kasih dan sayang.

Suasana dan perasaan itu sangat menyenangkan, bukan?

Jika rasa jantungku berdetak lebih cepat, itu bukan karena serangan panikku datang, tetapi karena aku merindunya begitu sangat, memikirkan baju apa yang harus aku kenakan saat bertemunya, obrolan apa yang harus aku buka untuk mulai berbicara padanya, dan kencan seperti apa yang akan aku habiskan seharian dengannya.

Jika rasa nafasku mulai terasa sesak, itu bukan karena gangguan kecemasanku datang, tetapi karena aku merindunya begitu sangat. Membayangkan betapa hangat dekapannya, betapa lembut tangannya menggenggam jemariku, betapa sejuk tatapannya saat melihatku, membuatku menggila ingin segera bertemu dengannya.

Jika rasa kepalaku mau meledak, itu bukan karena stress dan depresi menguasai pikiranku, tetapi karena aku memikirkannya begitu dalam. Aku ingin bersamanya setiap saat. Memikirkan ketika begitu lelah diterpa persoalan duniawi lalu berakhir dengan kenyamanan menceritakan ini itu kepadanya sembari meminum teh hangat, menonton series semalaman dengannya, hingga membuka mata pertama di pagi hari adalah dengan melihat dirinya. Sungguh domestik.

Sebegitukuatnya perasaan cinta hingga bisa mendobrak ketidaknyaman, kesakitan, dan keputusasaan menjadi rasa rindu dan candu.

Jangan, jangan dulu berpikir tentang sisi nestapa dari jatuh cinta.

Ya, aku tahu itu.

Tapi setidaknya biarkan hal-hal yang indah itu saja yang datang sebagai distraksi dari segala macam sesak dan desak ini.

Like you ever feel your stomach is full of butterflies. 

You smile like an idiot but totally fine.

Unexpected things happen in your bored life so your life is like ridin' rollercoaster.

When you love someone.

Aku harus bagaimana agar aku merasakan itu (lagi)? Aku ingin pikiranku berpusat hanya padanya hingga ku tak ada waktu memikirkan rasa cemas, takut, dan depresiku yang tak kunjung usai. Aku ingin jatuh cinta.

Can love be as healing or maybe dragging me into another hurt, pain, and depression story? I don't know because life is gambling. 

Mungkin bisa penyembuh dan penyelamat atau malah semakin menjatuhkanku ke dasar jurang. Hanya saja sekarang aku ingin jatuh cinta dan memikirkan yang indah-indah saja dulu. Ya, nanti ketika saat rasa itu datang atau mungkin sebenarnya sudah, tinggal merubahnya menjadi mutual.



Minggu, 15 November 2020

Semicolon;

"Jika hidup bisa memilih untuk berhenti atau melanjutkan, manakah yang akan kau pilih?"

Ku biarkan pertanyaan itu menembus dinding pertahananku yang sudah sekian lama berjuang melawan segala kegamangan. Satu persatu pertanyaan lainnya berceracau dalam pikiranku. Ku biarkan saja mereka berisik di otakku. Setidaknya ku tidak terlalu merasa sepi dan sendiri.

"Tidak bisakah hidup semudah menekan tuts do re mi di piano?"

Tertawa ku terbahak-bahak mendengarnya. Ada-ada saja. Kadang yang tidak ada dibuat ada, yang ada dianggap tidak ada. Ya mana ada menekan tuts do re mi itu mudah jika letaknya saja tidak tahu? Konyol.

"Kenapa segala harus masuk akal? Memang hanya aku saja yang konyol?! Kamu juga!!"

Jelas aku lebih konyol membiarkan ceracau ini terus menggema tanpa bisa ku kelola. Rasanya sudah mencapai titik kulminasi tanpa tahu apakah ini lelah atau pasrah. 

"Bisakah kita berhenti saja?"

Apa lagi? Kenapa lagi? Ada apa? Mau berhenti dari apa? Bahkan jika ini memang sakit, ku sendiri tidak tahu sumbernya dimana, sakitnya sebelah mana, atau sejak kapan. Semua terlalu gamang bahkan aku tidak tahu ini nyata atau hanya sekedar kata-kata.

"Jadi mau dilanjutkan saja?"

Mau melanjutkan apa sebenarnya? Aku sebal akan diriku sendiri yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi bukan dengan jawaban. Sebab, aku pun tak tahu jawabannya apa. Kita disini saling bertanya, saling bingung, saling tidak mengerti, bahkan saling tidak memahami.

Jangan bertanya lagi! Biar aku saja yang mengambil alih. Sudah cukup ceracau ini menguasaiku, kini harus aku kendalikan. Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Sebab aku takut.

Aku semakin takut.

Takut akan diriku sendiri.

Takut tak akan kembali menjadi diriku sendiri dan membiarkan terjatuh begitu dalam ke dasar jurang yang dingin. Ku pernah berada disana dan ku tak mau lagi. 

Aku berusaha sadar. Berusaha memahami sesuatu yang membuat kepalaku ingin meledak saja. Hingga di satu titik, aku ingin berhenti. Ini sudah cukup. Sudah lebih dari batas aku sendiri.

"Omong Kosong!!!"

Sial!! Kenapa kamu ...

"Diam dulu! Kamu selalu berkata demikian, membiarkan dirimu terjatuh dan dikuasai oleh sisi terkelam. Aku mohon hentikan untuk berkata bahwa ini sudah melebihi batas karena ada aku yang akan menyeretmu naik dari jurang dingin itu, ada aku yang akan menjadi sinar di saat semua cahaya memilih untuk pergi darimu, masih ada aku, meski aku pun sering ingin menyerah dan selalu mempertanyakan mengapa kita seperti ini. Bukan kamu saja yang ingin berhenti, aku juga sama tapi setidaknya tidak sekarang. Tidak oleh diri kita sendiri tetapi oleh Dia yang pemilik segala kuasa ini. Sebab aku yakin alasan kita masih disini karena memang kita belum selesai, hidup masih ada waktu untuk kita diami."

Sungguh kamu itu maunya apa? Tadi kamu mempertanyakan antara berhenti atau lanjut, meminta untuk berhenti saja, kini dengan bijaknya berkata berbelit-belit bahwa kita masih ada waktu. Kamu yang omong kosong! Sudah hentikan ceracaumu, jangan lagi menggema di pikiranku, kau hanya membuatku kian terpuruk dan bersalah akan keputusanku nanti.

"Izinkan aku sekali lagi untuk berkata, bolehkah?"

....

"Aku mohon sekali ini saja."

....

"Tolong."

Baiklah. Sekali saja.

"Terimakasih. Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada dirimu yang sudah bertahan hingga sekarang meski kerap aku sering mengusikmu dengan mempertanyakan perihal yang hanya membuatmu serba salah. Kedua, aku minta maaf karena sering menginginkan hal yang mudah, tentu saja hal itu kerap membuat kita berselisih sebab kamu berkata itu tidak sesuai dengan keteguhan yang kamu pilih, aku selalu saja mengusikmu dengan rengekanku yang begitu membenci hidup namun terlalu takut untuk berhenti. Kata maafku bahkan lebih panjang dari kata terimakasihku. Ya aku banyak salah padamu, bahkan kamu pun bosan mendengarnya. Tetapi aku tulus mengatakan hal tadi bahwa kita masih ada waktu. Jadi aku mohon. Sudah cukup yang ingin aku katakan. Aku akan diam sekarang."

Jika saja kamu memilih untuk berhenti, apakah ini semua ini akan selesai begitu saja? Rasa sakit ini sudah kadung beredar di seluruh tubuhku tanpa bisa ku identifikasi lagi titik paling sakitnya berada dimana. Jika berhenti, apakah rasa sakit ini akan hilang? Kita pernah mencobanya kan? Namun gagal. Seringnya gagal. Benar katamu, mungkin karena kita belum waktunya untuk berhenti. Benar-benar berhenti. Tapi lucu juga kalau diingat-ingat. Betapa inginnya kita untuk berhenti tetapi di sisi lain kita begitu takut.

Kita takut berada di tempat yang tinggi karena takut jatuh.
Kita takut berada di kecepatan tinggi karena takut bertabrakan.
Kita takut berada di tempat asing karena takut dilukai.
Kita takut berada di kegelapan karena takut tak bisa berbuat apa-apa.
Hingga sampailah kita pada titik bahwa kita takut pada diri kita sendiri karena pernah merasa adiksi yang kuat untuk hidup.

Lucu ya kita? Aku tahu sekarang kamu sedang tertawa meski kamu diam. 
Semua ceracauku disini perihal tentang berhenti atau lanjut namun pada akhirnya tetap berlanjut. 
Kita tetap menjalaninya. Mencoba teratur. Membiasakan semua terlihat natural. 

Sedih rasanya ketika ada yang selalu berkata, "Ada yang bisa aku lakukan agar kamu merasa lebih baik?" atau "Ada yang bisa aku bantu?" namun nyatanya penolakan yang ku berikan karena ku tidak tahu bagaimana agar aku merasa lebih baik atau cara seperti apa yang mampu membantuku. Benar-benar tidak tahu. Aku ingin ditolong, aku ingin dihentikan saat pikiran seperti ini datang, tetapi aku tidak bisa.

Aku dan segala keegoisanku memilih untuk mengajakmu ikut dalam jurang dingin itu. Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, tetap memberikan uluran tangan, tetap berada disampingku, tetap memberikanku cahaya, tetap mengingatkanku untuk bertahan, dan memberikan kehangatan di musim dingin abadiku. Pertanyaanmu tentang lanjut dan berhenti malah menamparku dari sisi lain seperti kamu sebenarnya ingin memberitahu padaku, "Apa kamu mau terus seperti ini, pecundang?!" Tidak perlu sungkan, ya aku tahu secara eksplisit kamu ingin berkata demikian namun kamu terlalu sungkan memilih diksi yang pas hanya untuk bertutur denganku. Dan maaf ya .. maaf sekali .. maaf .. maaf sedalamnya .. maaf .. benar-benar maaf .. aku selalu tidak sabar, aku yang penuh kepura-puraan, aku yang pecundang dan berbelit-belit dengan omong kosong, maaf membuatmu lelah, mengajakmu terjun ke jurang, dan mengacuhkan begitu kasar. 

Kini, seperti halnya titik koma. Mungkin kita bisa berhenti, namun berhenti untuk melanjutkan. 
Sampai waktu itu tiba. Aku dan kamu. Kita. 



Jumat, 30 Oktober 2020

Kelola Rasa

Malam kontemplasi yang selalu ku hadirkan setiap harinya sebelum tidur, membawaku pada perasaan yang tak karuan. Aku begitu marah, sedih, gusar, dan kecewa saat itu akan hal-hal yang entah apa karena saking begitu rumitnya. Sebab ku tak suka akan perasaan yang tak beralasan (ps. kecuali jatuh cinta, karena there's no reason to be lover), aku selalu menuliskan perasaan aku apa dan mengapa hal itu bisa terjadi. Ku pandangi beberapa alasan yang ku tulis atas perasaan campuk adukku, manakah alasan yang irrasional dan rasional. Hampir sebagian besar alasannya irrasional dan persoalan yang lalu timbul lagi, diungkit kembali, dan tercetus. Huft.. Ku hela nafas dan mencoba untuk tidur saja dan selesaikan besok.

Keesokan paginya aku terbangun dengan perasaan yang sangat amat sedih. Dan seolah ingin memperparah keadaan itu, aku memutar dan mendengarkan lagu-lagu yang sedih. Seharian itu aku hanya terbaring di kasur tipisku. Pikiranku berkelana kesana-kemari. Ku tidak ada gairah untuk menghadapi hari itu. Lalu, orang-orang tanpa ba bi bu mengirimiku pesan untuk ini dan itu tanpa memperhatikan dan memperdulikan apakah aku baik-baik saja saat itu.

Memang jika orang basa-basi dan bertanya, "Apa kabar?", apakah kamu akan menjawab jujur jawaban mereka? Tentu tidak. Kamu akan membalas dengan pertanyaan kembali, "Ada apa tanya begitu?" atau jawaban diplomatis, "Aku sih gitu-gitu aja, memangnya ada apa?" dan langsung menanyai orang lain kepada intinya. Ya, sebab begitu, maka orang-orang tak perlu basa basi kepadamu, karena kamu yang membiasakan hal itu dan kini kamu kesal karena orang minta pertolongan kamu tanpa tanya kabar dulu? Hipokrit!

Baik, disini aku yang salah. Tetapi saat itu ya aku akui bahwa aku sama sekali tak ingin diganggu. Seakan mendung memang ada diatas kepalaku. Hingga pada satu titik, aku muak bertemu orang-orang, aku tak ingin bertemu siapapun, dan tidak ingin berinteraksi. Aku ingin sendiri saja. Ku buka semua media sosialku dan aku deaktivasi semua akunku untuk jangka waktu yang entah sampai kapan. Mungkin sampai aku mulai merasa tenang.

Aku sengaja mengistirahatkan dahulu aktivitas media sosialku sementara karena aku tidak mau menjadi impulsif dan menuliskan sesuatu yang emosional yang mungkin kelak akan aku sesali. Aku sedang tidak stabil secara emosi (meski secara finansial sudah lebih dulu terjadi). Aku mudah sekali marah dan jengkel, seakan seluruh dunia itu menyebalkan. Lalu aku dengan mudahnya menangis, menjadi drama queen meratapi nasib hidup yang begitu sulit dan nestapa seakan menjadi manusia paling menderita sedunia. Kemudian dengan mudahnya merasa bahagia, akan jebakan palsu yang mengikatmu padahal itu hanya fana dan manipulasi belaka. Begitulah siklus kehidupanku sekarang. Mudah seperti yang aku inginkan selama ini.

Sebentar. Sebentar. 
Sebenarnya bukan "mudah" seperti ini yang ku inginkan. Bukan.
Bukan mudah marah, mudah sedih, dan mudah bahagia. Bukan.
Yang kuinginkan adalah mudah urusan hidupku di dunia ini.
Terlepas rasa syukur atau tidak tapi aku ingin mengatakan bahwa hidupku tidak mudah.

Mari ku jelaskan.
Jika aku menginginkan sesuatu, aku tidak bisa dengan mudahnya mendapatkannya. 
Entah itu memang jalannya harus berliku, berdarah, penuh luka, dan sakit yang harus ku lalui dahulu untuk mendapatkannya, atau memang aku sendiri yang memilih jalan itu.
Kadang aku suka menantang diri jika diberi jalan yang sedikit mudah.
Memang aku manusia menyebalkan yang mengutuk diberi kesulitan namun merasa tidak tertantang jika diberi kemudahan. Dan kini aku meracau meminta kemudahan. 
Yes, i'm not clown but i'm a whole of circus. 

Sejujurnya aku lelah dengan rasa ini yang tidak bisa ku kelola.
Rasa marahku, rasa sedihku, rasa bahagiaku, bagaimana ku mengelolanya?
Mengapa rasanya begitu sulit? Aku ingin kemudahan. Benar-benar ingin mudah saja.
Ku sudah kenyang dengan tantangan, ku ingin hidupku sederhana saja, mudah saja, biasa saja.
Tidakkah itu dapat terjadi padaku?

Aku tak bisa berada di zona abu-abu. 
Semua terasa meledak-ledak, membuncah, dan berlebihan.
Sungguh rasa ini melelahkan hingga beberapa kali aku kalah oleh diriku sendiri.
Aku tak bisa melawannya. Aku tidak bisa menang akan diriku sendiri.
Aku bukanlah pemegang kendali akan rasa yang aku miliki.
Dia yang mengaturnya dan membuatku menjadi bukan seperti aku.
Aku semakin kehilangan diriku setiap harinya. Aku rindu akan diriku yang dulu.
Diriku yang bisa mengelola semua rasa. 
Bisa tetap tersenyum bahagia meski hatinya bersedih.
Bisa terdiam saja meski amarah mengerubunginya.
Bisa menyimpan kesedihan yang begitu lama tanpa orang tahu.
Memiliki seribu topeng yang dia bisa ganti kapan saja.

Kontemplasiku masih berlanjut. Lebih dalam lagi.
Sadar bahwa aku yang dulu bukanlah sedang mengelola rasa namun sedang menahan dan berpura-pura.
Bukankah sekarang ini akibat dulu ku selalu menahannya maka sekarang membuncah tidak karuan?
Bukankah kini kepura-puraan itu menjadi lebih jujur bahwa setiap rasa yang terjadi itu memang apa adanya begitu? Ku melepas topeng itu semua dan memperlihatkan bahwa inilah aku.
Dan sialnya, hal itu tidak bisa ku terima!
Aku yang mana dulu ini yang tidak terima akan hal itu? 
Aku bahkan tidak tahu lagi sebenarnya aku ini siapa dan apa mauku.

Aku tidak ingin menjadi orang yang "mudah" melampiaskan rasa yang berlebihan dan berganti begitu cepat.
Tapi aku pun tak ingin menahan atau bahkan berpura-pura akan rasa itu lagi. Sungguh rumit.
Yasudahlah, hari ini ku telah kalah dari diriku sendiri. 
Masih ada esok, mari coba lagi untuk memenangkannya.
Semoga ku bisa benar-benar mengelola rasa tanpa terpaksa atau tergesa.

Selasa, 07 April 2020

Ilusi Kebahagiaan

Temanku selalu bertanya mengapa ku tak punya cermin di kamarku. Aku menjawab bahwa aku tak suka melihat diriku. Diriku yang penuh kepura-puraan. Pura-pura tangguh, pura-pura kuat, dan pura-pura bahagia.

Lalu ku membeli cermin, agar jika temanku ke kamarku dan ingin berkaca, aku dapat menyediakannya. Namun setelah itu, cermin itu ku balikkan. Lagi-lagi aku tak suka melihat cermin. Apalagi melihat pantulan diriku di cermin.

Apa aku sebegitubencinya terhadap diriku sendiri hingga melihat pantulan di cermin saja tidak mau?
Ya bisa jadi iya, bisa jadi tidak.
Yang pasti aku selalu didera kelelahan berkepanjangan. Seakan ingin berhenti namun dunia terus saja berputar tak memberiku rehat.
Seakan, ya namun tak benar-benar akan.

Suatu hari ku beranikan diri untuk menatap diri di cermin, aku menatap lekat-lekat.
Inilah seseorang yang ku lihat di cermin, lagi-lagi penuh kepura-puraan. Aku pun menatap nanar wajah yang terpantul itu. Matanya mulai digenangi air. Tampak dia begitu kuat menahannya agar tak sampai jatuh dengan menggigit bibirnya. Namun semakin dia menahannya, semakin banyak genangan itu hingga akhirnya semuanya tumpah membasahi pipi. Dia menutup wajahnya dengan tangan, tak kuasa lagi dia melihat cermin. Dia kini terisak larut akan kesedihan yang dia ciptakan sendiri. Lalu tetiba dia bergumam, "mengapa untuk merasa bahagia begitu sulit?!"

Aku muak melihatnya! Aku balikkan cermin itu. Dan ku rasa dingin di pipiku. Aku menyentuhnya dan basah. Ah sial!! Ternyata yang menangis itu adalah diriku, ya siapa lagi yang kulihat di cermin itu jika bukan diriku yang cengeng ini.

Lalu ku hempaskan tubuhku ke kasur tipisku. Mataku kini menatap langit-langit kamar sempitku. Ku naikkan tanganku seakan mencoba meraih lampu kamar diatasku. Sinarnya begitu silau hingga ku halangi dengan tanganku, namun masih silau hingga akhirnya ku tutup wajahku dengan bantal. Gelap. Semuanya mulai gelap.

Dan ku terisak kembali. Semua kesedihan seakan datang menusuk dari segala arah. Ku biarkan dia menguasaiku, ku biarkan diriku menangis sejadinya. Mungkin ini sudah terlalu berat untuk ditahan dengan segala tameng kepura-puraanku.

Terdengar ceracau-ceracau yang mendengung di telingaku.
"Ibu ngga bangga kamu lulus dari universitas sana, ibu bangga jika kamu menikah dengan orang yang berada."
"Lo tuh yang perlu pergi ke psikiater, obatin diri lo kenapa masih jomblo sampai sekarang!"
"Harusnya kamu lihat keadaan keluarga kamu, malah maksain kuliah lagi. Ngga mikir kamu!"
"Cukup jangan ganggu keluarga aku lagi, disaat aku susah kamu kemana, aku sudah lelah dengan keluarga ini."
"Wajarlah kamu ke psikiater, kamu kan orangnya introvert!"
"Kamu dilecehkan orang? Kamu ada masalah sama saya?!"
"Kamu pasti suap sekolah ya makanya ranking 1 terus?"
"Bapak cuma tukang parkir aja mau sok-sokan sekolah yang bagus?!"

DIAM!!!! Bentakku!! Telingaku makin berdengung mendengar itu semua. Ku tutup semakin kuat bantal di wajahku hingga tangis isakku menjadi sesak, aku kehilangan nafas, aku bahkan tak bisa bernafas. Dadaku berat, kepalaku rasanya terus berputar. Lalu terasa getaran hebat, sangat hebat. Aku terperanjat.
Apa ini? Ada apa ini? Tanyaku didalam hati. Rasanya pipiku masih basah, kepalaku sungguh berat, dadaku masih sesak tapi semua yang kulihat tampak bergetar hebat. Ku pun bergegas lari keluar dengan tas berisi laptop dan berkas penting yang sebelumnya telah kusiapkan jika hal ini terjadi. Ku buka pintu, ku turuni tangga dengan panik, namun setelah tiba dibawah, ku mulai terdiam.

Malam sudah semakin larut dan hanya aku sendiri dengan tas ranselku berdiri mematung.
"AH!!" lagi dan lagi ini datang kembali.
Aku lemas dan terduduk di tangga.
Ku memandang kakiku yang ternyata memakai sandal yang kiri dan kanan berbeda.
Ku raba kepalaku dan terasa rambutku berantakan.
Tidak hanya rambutku, tapi seluruh keadaanku saat itu. Dengan langkah gontai ku kembali ke kamar. Menyimpan kembali tas ranselku dan membanting diriku ke kasur dengan posisi telungkup.
Ku pukul kasurku berkali-kali.
Aku bangun, duduk, dan terdiam kembali.

Mengapa ini begitu nyata? Mengapa seakan-akan yang aku lihat benar-benar bergetar hebat dan nyaris akan runtuh? Aku begitu panik sejadinya. Aku begitu takut sejadinya. Tapi mengapa aku mesti takut? Bukannya beberapa kali aku ingin pergi dari kehidupan ini? Melarikan diri dari sakitnya hidup ini. Jika saja kamarku runtuh hari itu maka biarkan saja aku didalamnya yang nanti aku akan tertimbun reruntuhannya, tapi mengapa aku malah takut, kabur, dan menyelamatkan diri?

Aku berdiri mendekati meja belajarku. Ku ambil beberapa obat lalu ku tegak tanpa minum. Pahit. Namun sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan ini semua. Kepahitan dan kesakitan ini sungguh aku ingin melepasnya. Ini sungguh begitu berat dan tak bisa lagi ku tahan.

Ilusi itu terasa nyata. Namun mengapa hanya ilusi ketakutan yang nyata. Aku ingin ilusi kebahagiaan yang terasa nyata untukku. Aku sudah lelah menangis, aku sudah lelah merasa ketakutan, aku sudah lelah dengan rasa cemas yang tak berkesudahan ini, aku sudah muak dengan rasa sakit ini. Bisakah ini berubah menjadi kebahagiaan? Meski itu hanya ilusi, tak apa yang penting ku bisa merasakan kebahagiaan. Ku tak butuh lagi kenyataan yang hanya dera sakit yang ku terima.

Mataku sudah mulai berat. Nafasku yang sesak kini sudah semakin teratur. Aku mulai menguap. Aku mengantuk. Obatnya sudah bereaksi. Ku mulai baringkan tubuhku ke kasurku lagi.
Ku tatap langit-langit dengan rasa kantuk maha dasyat yang sebentar lagi menidurkanku.

Untuk bisa tenang saja ku perlu minum obat.
Untuk bisa terlelap saja ku perlu minum obat.

Aku tersenyum. Ku merasa bibirku menyungging senyuman meski ku tak melihat di cermin tapi aku tahu jika aku sedang tersenyum.
Ketenangan itu memberikan kebahagiaan yang tersalurkan melalui senyumku.

Ku tutup mataku perlahan.
Bahkan bahagia itu pun ku dapat dari obat.
Ilusi kebahagiaan itu akhirnya datang.
Tak bisa kuciptakan sendiri.
Semua datang dari obat sakti yang kunamai obat kebahagiaan.

Ku pun terlelap. Semakin dalam. Ku bahkan sudah melupakan kejadian menyedihkan saat ku menangis melihat diriku sendiri di cermin serta kejadian ketakutan tak beralasan yang membuatku malam-malam keluar kamar membawa ransel.
Sebuah malam yang panjang yang berputar seperti hampir di setiap hari.

Aku pun tertidur. Aku lelah berpura-pura.
Aku ingin bahagia ini nyata.
Suatu hari nanti.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...