Jumat, 30 Oktober 2020

Kelola Rasa

Malam kontemplasi yang selalu ku hadirkan setiap harinya sebelum tidur, membawaku pada perasaan yang tak karuan. Aku begitu marah, sedih, gusar, dan kecewa saat itu akan hal-hal yang entah apa karena saking begitu rumitnya. Sebab ku tak suka akan perasaan yang tak beralasan (ps. kecuali jatuh cinta, karena there's no reason to be lover), aku selalu menuliskan perasaan aku apa dan mengapa hal itu bisa terjadi. Ku pandangi beberapa alasan yang ku tulis atas perasaan campuk adukku, manakah alasan yang irrasional dan rasional. Hampir sebagian besar alasannya irrasional dan persoalan yang lalu timbul lagi, diungkit kembali, dan tercetus. Huft.. Ku hela nafas dan mencoba untuk tidur saja dan selesaikan besok.

Keesokan paginya aku terbangun dengan perasaan yang sangat amat sedih. Dan seolah ingin memperparah keadaan itu, aku memutar dan mendengarkan lagu-lagu yang sedih. Seharian itu aku hanya terbaring di kasur tipisku. Pikiranku berkelana kesana-kemari. Ku tidak ada gairah untuk menghadapi hari itu. Lalu, orang-orang tanpa ba bi bu mengirimiku pesan untuk ini dan itu tanpa memperhatikan dan memperdulikan apakah aku baik-baik saja saat itu.

Memang jika orang basa-basi dan bertanya, "Apa kabar?", apakah kamu akan menjawab jujur jawaban mereka? Tentu tidak. Kamu akan membalas dengan pertanyaan kembali, "Ada apa tanya begitu?" atau jawaban diplomatis, "Aku sih gitu-gitu aja, memangnya ada apa?" dan langsung menanyai orang lain kepada intinya. Ya, sebab begitu, maka orang-orang tak perlu basa basi kepadamu, karena kamu yang membiasakan hal itu dan kini kamu kesal karena orang minta pertolongan kamu tanpa tanya kabar dulu? Hipokrit!

Baik, disini aku yang salah. Tetapi saat itu ya aku akui bahwa aku sama sekali tak ingin diganggu. Seakan mendung memang ada diatas kepalaku. Hingga pada satu titik, aku muak bertemu orang-orang, aku tak ingin bertemu siapapun, dan tidak ingin berinteraksi. Aku ingin sendiri saja. Ku buka semua media sosialku dan aku deaktivasi semua akunku untuk jangka waktu yang entah sampai kapan. Mungkin sampai aku mulai merasa tenang.

Aku sengaja mengistirahatkan dahulu aktivitas media sosialku sementara karena aku tidak mau menjadi impulsif dan menuliskan sesuatu yang emosional yang mungkin kelak akan aku sesali. Aku sedang tidak stabil secara emosi (meski secara finansial sudah lebih dulu terjadi). Aku mudah sekali marah dan jengkel, seakan seluruh dunia itu menyebalkan. Lalu aku dengan mudahnya menangis, menjadi drama queen meratapi nasib hidup yang begitu sulit dan nestapa seakan menjadi manusia paling menderita sedunia. Kemudian dengan mudahnya merasa bahagia, akan jebakan palsu yang mengikatmu padahal itu hanya fana dan manipulasi belaka. Begitulah siklus kehidupanku sekarang. Mudah seperti yang aku inginkan selama ini.

Sebentar. Sebentar. 
Sebenarnya bukan "mudah" seperti ini yang ku inginkan. Bukan.
Bukan mudah marah, mudah sedih, dan mudah bahagia. Bukan.
Yang kuinginkan adalah mudah urusan hidupku di dunia ini.
Terlepas rasa syukur atau tidak tapi aku ingin mengatakan bahwa hidupku tidak mudah.

Mari ku jelaskan.
Jika aku menginginkan sesuatu, aku tidak bisa dengan mudahnya mendapatkannya. 
Entah itu memang jalannya harus berliku, berdarah, penuh luka, dan sakit yang harus ku lalui dahulu untuk mendapatkannya, atau memang aku sendiri yang memilih jalan itu.
Kadang aku suka menantang diri jika diberi jalan yang sedikit mudah.
Memang aku manusia menyebalkan yang mengutuk diberi kesulitan namun merasa tidak tertantang jika diberi kemudahan. Dan kini aku meracau meminta kemudahan. 
Yes, i'm not clown but i'm a whole of circus. 

Sejujurnya aku lelah dengan rasa ini yang tidak bisa ku kelola.
Rasa marahku, rasa sedihku, rasa bahagiaku, bagaimana ku mengelolanya?
Mengapa rasanya begitu sulit? Aku ingin kemudahan. Benar-benar ingin mudah saja.
Ku sudah kenyang dengan tantangan, ku ingin hidupku sederhana saja, mudah saja, biasa saja.
Tidakkah itu dapat terjadi padaku?

Aku tak bisa berada di zona abu-abu. 
Semua terasa meledak-ledak, membuncah, dan berlebihan.
Sungguh rasa ini melelahkan hingga beberapa kali aku kalah oleh diriku sendiri.
Aku tak bisa melawannya. Aku tidak bisa menang akan diriku sendiri.
Aku bukanlah pemegang kendali akan rasa yang aku miliki.
Dia yang mengaturnya dan membuatku menjadi bukan seperti aku.
Aku semakin kehilangan diriku setiap harinya. Aku rindu akan diriku yang dulu.
Diriku yang bisa mengelola semua rasa. 
Bisa tetap tersenyum bahagia meski hatinya bersedih.
Bisa terdiam saja meski amarah mengerubunginya.
Bisa menyimpan kesedihan yang begitu lama tanpa orang tahu.
Memiliki seribu topeng yang dia bisa ganti kapan saja.

Kontemplasiku masih berlanjut. Lebih dalam lagi.
Sadar bahwa aku yang dulu bukanlah sedang mengelola rasa namun sedang menahan dan berpura-pura.
Bukankah sekarang ini akibat dulu ku selalu menahannya maka sekarang membuncah tidak karuan?
Bukankah kini kepura-puraan itu menjadi lebih jujur bahwa setiap rasa yang terjadi itu memang apa adanya begitu? Ku melepas topeng itu semua dan memperlihatkan bahwa inilah aku.
Dan sialnya, hal itu tidak bisa ku terima!
Aku yang mana dulu ini yang tidak terima akan hal itu? 
Aku bahkan tidak tahu lagi sebenarnya aku ini siapa dan apa mauku.

Aku tidak ingin menjadi orang yang "mudah" melampiaskan rasa yang berlebihan dan berganti begitu cepat.
Tapi aku pun tak ingin menahan atau bahkan berpura-pura akan rasa itu lagi. Sungguh rumit.
Yasudahlah, hari ini ku telah kalah dari diriku sendiri. 
Masih ada esok, mari coba lagi untuk memenangkannya.
Semoga ku bisa benar-benar mengelola rasa tanpa terpaksa atau tergesa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...