Kamis, 18 Desember 2014

Perempuan, Sekolah, dan Restu

"Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh perempuan akan kembali mengurusi dapur dan menggendong anak?!"
Ungkapan itu melesat dari mulut seseorang yang saya sayangi dan hormati. Saya tidak punya daya untuk membantah atau menyanggah kalimat diatas, saya hanya diam dan tertunduk.
Saya malas untuk beradu argumen apalagi dengan tingkat kekalahan argumentasi yang saya dapat sangat tinggi, sehingga saya memilih diam. And prove it.

Hidup dalam latar belakang non-akademis, membuat saya yang sangat tergila-gila dengan "belajar" seperti ayam yang ingin mencoba terbang tinggi seperti elang.
Butuh usaha keras dan air mata untuk meyakinkan mereka bahwa seorang perempuan pun perlu sekolah tinggi. Tak hanya sampai sekolah menengah, namun bisa ke jenjang universitas sekalipun.
Selain alasan diatas, mereka pun mengatakan bahwa takut saya akan meninggal karena sakit sebab terlalu banyak berpikir untuk sekolah. Saya rasanya ingin menjawab, kalaupun saya meninggal bukan karena sakit akibat pusing memikirkan tugas belajar, tapi meninggal karena menahan hasrat agar terus menuntut ilmu.

Secara kodrati, perempuan adalah seorang isteri dan ibu kelak. Itu memang sudah menjadi tugasnya, lantas apakah mereka tidak perlu pintar? Tidak perlu cakap? Tidak perlu tahu apa-apa? Hanya cukup tahu urusan harga sayuran berapa, bagaimana cara memasak gulai, bagaimana cara memandikan bayi, bagaimana cara membuat kopi untuk suami, hanya perlu tahu itu? Jelas tidak.

Perempuan harus jago ekonomi, dimana dia harus pandai mengatur keuangan keluarga agar tidak surplus, bagaimana dengan uang Rp 50.000,- misalnya tetapi harus membeli kebutuhan yang lain, prinsip dan dasar-dasar ekonomi harus digunakan.
Perempuan pun harus seperti ahli gizi, bagaimana memasak makanan yang memiliki nilai gizi seimbang, apabila ada salah seorang anggota keluarga yang sakit, makanan apa yang harus diberi, jenis sayuran apa yang baik untuk pertumbuhan anak.
Perempuan juga seorang perawat, bagaimana jika anak dan suami sakit, belajar bagaimana pertolongan pertama saat anak demam, saat anak terluka karena jatuh, basic life support misalnya.
Dan perempuan pun harus bisa menjadi guru, karena sesungguhnya anak belajar hal apapun pertama kali dari orangtua terutama seorang Ibu.

Jadi apa cukup seorang perempuan hanya sampai sekolah dasar dan menengah? Apakah perempuan se-multitasking dan se-multitalent itu dibatasi pendidikannya? Perempuan tak hanya mengurusi dapur tapi mengurusi keluarga bersama suami. Karena perempuan adalah ibu negara. Dari rahimnyalah lahir seorang dokter, tentara, profesor, guru, polisi, dan manusia bermanfaat lainnya.
Banyak anak yang menjadi nakal, dicap bodoh oleh masyarakat, dianggap annoying karena faktor dari keluarga yang mungkin tak mumpuni mengurus dan mendidik anak.

Ini bukan lagi zaman kolonial dimana perempuan tak bisa bersekolah, sekarang sudah banyak perempuan yang sukses sebagai wanita karier, profesor, menjadi menteri, dokter, bahkan seorang presiden, namun tak mengenyampingkan kodratnya sebagai seorang isteri dan ibu.
Jika faktor biaya menghalangi cita-cita, jangan jadikan alasan, karena bersekolah tidak akan membebani keluarga, beasiswa bertebaran dimana-mana bagi mereka yang giat dan mau berusaha.
Yang dibutuhkan sekarang hanyalah restu dan dukungan moril, itu saja Ibu.. Itu saja yang anak perempuan satu-satunya Ibu ini inginkan.
Restu Ibu agar anak perempuan satu-satunya tak hanya menjadi manusia yang biasa-biasa saja, tetapi menjadi manusia yang berguna dan dapat membuat orang lain hebat pula.
Banyak mimpi dan rancangan, namun yang dibutuhkan cukup restu Ibu karena restu Ibu, restu Tuhan.


Rabu, 26 November 2014

Manusia dan Perpindahan

Teruntuk diri yang senang berada di "zona nyaman"

Huft..
Menghela nafas dulu biar terkesan dramatis.

Well,
Tiba-tiba otak mendadak sok ingin menceramahi pola pikirnya sendiri
Hahaha, tertawa dulu agar tidak terlalu serius.
Ya, serius itu hanya milik orang dewasa, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hari terus menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun, dan tahun itu menginjak menjadi windu, dasawarsa, bahkan bisa menjadi abad, namun rasanya I dont wanna getting old.
Padahal kalau ingin menjadi abadi, harus jadi vampire atau werewolf sekalian. But that's imagine.
Karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa waktu bisa menjadi teman yang menyenangkan sekaligus musuh yang mematikan.
Diri ini bisa saja tergusur oleh kejamnya waktu yang tak pernah memihak siapapun.

Semua akan berubah pada waktunya.
Mungkin pepatah itu tepat untuk mendeskripsikan segala apa yang menjadi bahan pemikiran dewasa ini.
Ya, harusnya pepatah itu "semua akan indah pada waktunya", tapi keindahan itu bukan berdasarkan pada waktunya, tapi bagaimana diri ini yang membuat indah, sekali lagi jika terlalu mengandalkan waktu hanya akan tergusur oleh keras dan pedihnya kenyataan.
Tapi diri ini tak suka perubahan, diri ini ingin segalanya berjalan sebagaimana pattern "nyaman" yang mungkin perlu waktu lama untuk sampai pada fase "that's my comfortable place", tapi nyatanya itu semu, hanya sementara, karena satu hal manusia itu dinamis.

Manusia berpindah dari sekolah TK menuju SD, SMP, SMA, lalu kuliah, kerja, menikah, mempunyai keluarga, membesarkan anak, hingga ditutup dengan meninggal.
Dan selalu diri ini menjadi salah satu yang ditinggalkan oleh perpindahan manusia.
Meskipun diri ini pun menjadi salah satu pemeran dari perpindahan, namun hanya perpindahan status, tetapi dalam segi apapun masih sama dan tak pernah berubah.
Menjadi yang ditinggalkan pasti menorehkan setitik luka
Luka ini pun menjadi penguat agar jangan sampai menggantungkan diri kepada manusia yang melakukan perpindahan
Pada akhirnya diri ini hanya bisa berdiri melihat orang - orang berpindah, satu per satu meninggalkannya.
Tak perlu khawatir, karena zona nyaman itu kini akan dia buat sendiri bersama dirinya sendiri.
Ketika manusia default lainnya hanya berpindah secara horizontal,
Dia akan berpindah, menjulang ke angkasa dan melihat dari langit orang-orang yang meninggalkannya sibuk berpindah, bergeneralisasi dengan common-common people karena dia akan menjadi the only special.

Jangan khawatir.

Selasa, 12 Agustus 2014

Titik Tersulit

Mengingat hal yang memuakkan adalah hal yang jauh lebih memuakkan daripada apapun
Setidaknya itu membuat jengah pikiran yang sudah bejibun memikirkan persoalan hidup yang tak pernah kunjung usai
Terbebani akan suatu hal yang terjadi karena pelimpahan dosa orang lain sudah merupakan hal yang paling memuakkan sedunia
Dan kini dituntut untuk diingat kembali, seakan mencabik parut luka yang telah mengering

Tahukah bahwa rasanya ingin menjerit tapi tak dapat mengeluarkan suara adalah titik tersulit dalam rasa ini
Ya, selalu ditempatkan pada posisi sulit seakan memakan buah simalakama
Jika dimakan akan kehilangan Bapak, tak dimakan akan kehilangan Ibu
Lantas mengapa harus selalu ditempatkan pada posisi seperti ini?
Ingin berlari tetapi tak ditakdirkan sebagai pengecut
Ingin mengikuti tetapi tak ditakdirkan sebagai pengkhianat
Ingin memberontak tetapi tak ditakdirkan sebagai durhaka
Lantas harus seperti apa, karena diri bukanlah lumba-lumba yang akan menurut saja jika diperintah untuk melompati lingkaran berapi

Berdiam diri dan menunggu segalanya reda pun bukan solusi
Karena api ini malah akan semakin membesar dan menghancurkan segala yang dilaluinya
Entah harus ujian seperti apa dan harus dengan cara apa dalam menyelesaikan kobaran api yang tak pernah padam ini
Apa diri ini kurang kuat? Apa diri ini justru terlalu lemah?

Titik tersulit ini akan semakin pelik untuk dilalui, tetapi lari bukan solusi, menyerang tak tentu akan menang, pasrah malah akan berakhir dengan amarah, bertanya pun malah akan semakin tak nyata, mengadu pun akan berakhir tak pasti layaknya dadu.

Distraction of Dream High!

Entah perasaan apa yang bisa dideskripsikan hari ini
Iri, marah, sedih, senang, bercampur dalam rasa yang tak menentu seperti ini
Apa karena titik pencapaian yang terlalu tinggi, hingga merasa sangat marah saat diri belum mencapai pada titik tersebut?
Apa karena merasa didahului, hingga iri saat orang lain mencapai finish lebih dahulu?
Apa karena begitu merasa paling menderita daripada orang lain, hingga merasa sedih, merasa paling nestapa sealam semesta?
Apa karena begitu kagum dengan pencapaian yang belum teruji, hingga senang terlalu dini membuat lupa diri?
Lalu sebenarnya perasaan apa yang dirasakan saat ini seharusnya?
Absurd membuat buram dalam tindakan
Pembiaran hanya mencari pembenaran yang tak akan abadi

Masih berdiri di langit yang sama, masih berpijak di bumi  yang sama, lantas mengapa harus timbul rasa marah saat memiliki standar yang begitu tinggi dalam pencapaian?
Mengerahkan dan memporsir diri terlalu keras bukankah itu adalah perjuangan?
Lantas mengapa harus marah saat semua tak sejalan dengan prediksi perjuangan yang telah dilontarkan, itu pertanda bahwa perjuangan belum sampai pada titik yang begitu tinggi seperti yang telah diprediksikan
Melambung, melambunglah layaknya bola bounce yang semakin tinggi apabila semakin dijatuhkan ke dasar bumi. Mengangkasalah hingga bintang dapat di raih.

Belum dinamakan garis finish jika belum dinyatakan mati oleh Tuhan
Setiap kisah akan ada bab dari bab pertama dan selanjutnya
Itu bukan akhir, itu hanyalah pergantian menuju bab yang baru, bab yang lebih sulit, bab yang akan semakin mendewasakan diri
Orang lain lebih dulu, jika timbul iri adalah hal yang manusiawi
Selama diri masih beranggapan sebagai manusia, iri adalah wajar
Namun apakah akan terus meratapi dan sebagai penonton
Mereka yang lebih dulu belum ada jaminan untuk meraih sukses lebih dulu,
Mereka yang sepertinya telah finish lebih dulu bukan berarti dia pemenang,
Didahului setidaknya membuat diri dapat melihat lebih banyak dibanding yang lebih dulu, memiliki banyak waktu untuk memperbaiki dan terus berlatih agar sampai pada pencapaian. Tak ada yang tak mungkin bagi mereka yang mau berusaha.

Awan hitam terus mengikuti kemanapun pergi, beranjak lalu hujanpun turun membasahi, petir menyambar kala hujan semakin deras
Hidup begitu nestapa, tak ada sinar matahari, hanya mendung dan kelabu yang menghampiri. Tapi apakah hanya diri saja yang mengalami hal tersebut?
Lihat sekeliling, menunduklah. Menengadah hanya akan membuat sakit ruas leher.

Terlalu dini untuk tertawa pada hal yang belum pasti
Terlalu mendewakan karya malah akan membuat diri semakin sombong
Ini adalah akar. Akar dari semua rasa absurd ini adalah karena terlalu hanyut akan pujian di masa lalu, lengah akan kesenangan sesaat yang malah berakhir tragis dalam hilangnya posisi yang diraih.
Semua layaknya laut yang memiliki pasang dan surut, namun bukan bagaimana mengikuti arus laut, tetapi bagaimana dapat mengendalikan ombak, tak terperdaya, tak goyah, dan tetap terus merangkai mimpi meski jalan tak selalu mudah.

Rasa itu anggap saja metafora dalam sebuah kegamangan rasa tertinggal.
Tak perlu risau yang berlebih.
Tetap menatap mimpi yang telah dirancang sedemikian rupa.
Gagal bukanlah sarana menyalahkan diri.
Gagal adalah tempat yang mendekatkan diri pada rasa semangat.
Orang yang tak pernah gagal, bukanlah orang yang hebat, tetapi mereka adalah orang malang yang tak benar-benar merasa bagaimana hebatnya sebuah semangat perjuangan.

Anggap saja tulisan ini sebuah distraksi.

Distraksi untuk tetap bermimpi.

Senin, 16 Juni 2014

Awan dan Bumi Pada Manusia

Manusia terlahir dari peradaban Tuhan Yang Maha Agung
Terlintas dalam setiap kebajikan dan modifikasi dari prasangka
Melangkah bak butiran mutiara dalam cangkang dan terdiam laksana burung yang hinggap di dahan yang rindang

Manusia dimetaforakan sebuah mahluk yang tak pernah bisa sendiri
Desain Tuhan yang sungguh kompleks pada diri manusia membuat manusia terkesan paling agung diantara mahluk lainnya

Manusia hidup dibawah hamparan awan dan diatas pijakan bumi
Membawa manusia dalam alur kehidupan atas prakarsa Tuhan

Awan menaungi manusia dari teriknya panas matahari dan mengguyurkan hujan saat kristal-kristal air tak dapat awan tahan terhadap manusia
Awan kala murka saat gemuruh dan kilat menyambar pada manusia
Manusia yang mulai tamak dan terasuki oleh setan yang menggerogoti hati
Awan nampak putih bagai kapas, menghiasi langit biru bak samudera diatas
Mengangkasa disetiap pikiran dan hasrat manusia yang selalu ingin mengundara

Bumi, lengkap dengan sungai dan gunung yang menghiasinya
Memberikan pohon kala awan sedikit muncul dalam menghalau teriknya matahari
Memberikan sungai saat haus mendera di oase perjalanan hidup
Memberikan kenikmatan yang segala isinya bumi
Namun, memberi banjir saat luapan air tak mampu diawasi dari ketamakan manusia
Memberi tanah longsor dari keserakahan manusia pada perut bumi
Memberi letusan gunung saat manusia lupa bahwasanya ada Sutradara Pengatur Segalanya
Dan memberi petaka dalam manusia dan manusia yang beradu diatas bumi

Semua terjadi karena awan dan bumi disuratkan untuk bersama bumi
Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, mereka beriringan dalam takdir Tuhan untuk menghiasi hidup manusia yang monoton

Gabungan keduanya membentuk sebuah neraca keseimbangan bagi manusia

Jumat, 06 Juni 2014

Ruang Bawah Tanah

Gelap, dingin, lembab dan dihuni sekawanan kelelawar yang hidup menggantung dengan badan terbalik

Sepintas itulah suasana ruang bawah tanah, tempat melarikan diri atau mungkin tempat yang sangat tepat untuk meregang nyawa
Tempat itu jarang didatangi oleh orang lain, bahkan orang lain tak pernah memperdulikan keberadaan ruangan ini.
Ruangan ini hanya sisa dari bangunan yang tak terpakai, lagipula jarang di zaman sekarang, orang-orang memiliki ruangan di bawah tanah, karena orang-orang zaman sekarang adalah exhibitionist.
Senang pamer dan memperlihatkan segala yang dia punya, dan ruang bawah tanah tak lebih dari tempat yang lebih buruk disebut gudang, tempat sesuatu yang tidak layak lagi dipakai.

Sesekali dia didatangi, ya..sesekali bahkan bisa dibilang jarang
Dia datangi saat si pemilik sedang merasa sebagai seseorang yang paling menderita didunia
Tak ada kawan, tak ada sesuatu tempat berbagi
Biasanya dia kemari untuk release and realize semuanya tanpa diketahui orang lain

Tapi pernahkah ruang bawah tanah mengeluh diperlakukan seperti ini?
Diingat saat sedih, saat merana, menjadi peraduan saat gundah.
Lalu ditinggalkan saat bahagia, dan lari saat semua baik-baik saja.
Ruang bawah tanah tetap dingin dan gelap, cahaya datang hanya jika ada yang kesana, setelahnya dia sendiri dan ditemani oleh kelelawar yang ingin menenangkan dirinya
Sekalipun dia tak pernah mengeluh berada dalam kedinginan, yang terpenting baginya dia bisa meredam segala emosi dan teriak pemiliknya yang sedang merana, dia setia mendengarkan meski tahu akan ditinggalkan.

Rabu, 04 Juni 2014

Babak Baru Pohon Anggur

Seorang sahabat pernah berkata, "Kau jangan terlalu mencintai  seseorang karna kau seperti pohon anggur, merambat dan hanya bisa berdiri tegak jika tongkat penopangnya kuat, namun jika dahannya telah kuat, maka pohon itu tak perlu menopang, karna dia telah kuat dengan sendirinya. Demikian dengan kau."

Mungkin kala itu si Pohon Anggur itu terlalu terburu-buru, dia menganggap lamanya waktu yang menyatukan dengan segala badai yang menerjang, serangan ulat sekalipun berhasil terlewati membuat dia begitu optimis bahwa lamanya waktu berbanding lurus dengan kualitas. Namun itu hanya angan mimpi dongeng. Menyenangkan dengan buaian khasnya yaitu happy ending.  Bila disebut ending, mungkin ini belum layak disebut ending, tapi lebih tepatnya fase kesalahan. Ya, kesalahan yang sampai saat ini adalah kesalahan terindah dan dosa termanis yang pernah dilakukan oleh si Pohon Anggur yang dengan beraninya bertaruh segalanya demi penopang yang belum tentu akan menopangnya selamanya. Hingga pohon itu pun rubuh, berantakan, dan merambat di tanah seperti Semangka. Perlu waktu untuk sembuh,untuk bangkit, untuk menjalani keseharian seperti tak ada apa-apa.

Sebuah kutipan dari drama menyebutkan, "Lebih baik menangis sepuasnya hari ini, namun akan tegar selamanya, daripada berpura-pura tegar hari ini, namun menangis seterusnya."
Dan itu yang dilakukan Pohon Anggur, hingga dia bisa berdiri kembali. Mungkin belum sepenuhnya tegak, namun serakan dahan yang patah kini sudah bukan lagi hambatan untuk tegak kembali. Kini dia masuk pada babak baru hidupnya.
Tuhan memberikan rasa ingin kepada hamba-Nya tetapi malah mengabulkan yang hamba-Nya butuhkan, semata-mata untuk mengajarkan rasa kecewa, rasa pahit, rasa sakit agar bisa kembali bangkit.
Pohon Anggur belajar dari kalimat diatas. Karena kita tak akan pernah tahu sekuat apa diri kita, sebelum tantangan itu datang.
Babak baru ini akan dihiasi dengan prasangka baik, kesalahan jadikan pembelajaran, dan selalu tersenyum dalam kondisi apapun, hai Pohon Anggur.
Sejuta ulat bahkan semilyar ulat menghampirimu, sekuat angin yang mampu merobohkan dahanmu, tetap hasilkan buah Anggur yang manis.
Kau bukan tak butuh penopang sekarang, tetapi kau sekarang sudah bisa tegak meski belum sempurna dengan dahanmu sendiri.

Penopang bisa jatuh kala dahanmu semakin kuat dan tegak, maka yang kau perlukan sekarang adalah pelengkap yang bisa menemanimu kala terik panas dan derasnya hujan serta terpaan angin.

Rabu, 28 Mei 2014

Balada mengabdi didesa, derita si anak hedon

"Aduh..,kangen makan fried chicken, pizza, donat, ramen, nonton, dan lain-lain, biasanya setiap hari, sekarang hampir seminggu nggak nyicip enaknya hangout."

Damn!! That was felt by almost everybody and me!
Baru 11 hari menjalani rutinitas yang bernama Praktek Kerja Lapangan (PKL) di salah satu desa yang dekat dengan kaki gunung.
Dinginnya menusuk tulang, bahkan saat menyikat gigi, si gigi sensitif saling beradu menahan dingin.
Tinggal di rumah orang dengan wilayah yang hampir sama dengan rumah sendiri, serasa feels like home banget, tapi bedanya jika dirumah, airnya tidak sedingin ini.
PKL atau bahasa kerennya mengabdi di masyarakat merupakan sarana wajib militer bagi mereka yang ingin mendapatkan toga di tahun ini. Mau ngga mau, suka ngga suka, harus dijalani.

Hampir mau 3 tahun tinggal sendiri di kota besar nan penuh kehedonan membuat saya terlena akan enaknya hidup sendiri. Makan makanan cepat saji, nonton bioskop, mall, dan kenikmatan duniawi, hidup bebas hanya kuliah dan bagaimana mewujudkan mimpi menjadi seorang tenaga kesehatan, membuat saya merasa terbuai. Pulang kerumah hanya sesekali. Karna kegiatan kampus dan luar kampus yang bejibun memutuskan untuk stay di kota penuh distro itu.

Dan sekarang dihadapkan pada kenyataan jauh dari segala hal kemewahan dan serba instan ala kota. Hidup dengan bahasa lokal, keramahan warga, dituntut kerjasama antar anggota kelompok, membuat saya kewalahan dengan sifat individualistik saya yang sangat kental. Tapi bukan saya namanya jika tidak bisa improvisasi.

Anggap ini latihan. Latihan mengabdikan ilmu, istilah bersusah dahulu bersenang kemudian sangat kentara pada PKL kali ini.
Jauh dari orang tua, bagi anak kosan kayak saya, sudah biasa. Kangen ya tinggal mendoakan saja agar semuanya baik-baik saja. Tak perlu merengek dan mengeluh dan men-share hal negatif yang bisa membuat orang lain ikutan berkeluh kesah juga.
Karna semua ini adalah sarana memupuk kedewasaan, dan benar- benar mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat.

Senin, 31 Maret 2014

Terlahir Melankolis, Terlatih Korelis

Hidup selalu mempunyai cara untuk menyiksa manusia dalam segala bentuk takdir dan jalannya
Kebahagiaan yang fana dan kenikmatan sesaat mengundara ke angkasa, terlihat sekilas kemudian hilang
Hidup bukannya tak adil, tapi hidup memiliki keadilan tersendiri yang manusia tak lebih dari boneka yang katanya bisa bergerak dan bertindak sebagaimana akal dan rasa yang telah dimilikinya namun tetap tak bisa serta merta karena ada aturan dari keadilan hidup itu sendiri

Ditempa dari segala macam keangkuhan dunia, membuat gadis kecil berumur 8 tahun itu hanya bisa menangis di sudut ruang kelas
Matanya sembab dan nafasnya tersengal-sengal akan ketidakmampuan dia melawan serangan keroyokan anak-anak sirik yang bermodalkan kekayaan orangtua dan kedigdayaan kakaknya akan ketidakberdayaan mereka dalam melawan kegeniusan gadis manis itu
Miris karena tak ada satupun yang menolong
Gadis kecil itu pun memikirkan banyak hal saat pulang sekolah, dia bertanya pada dirinya mengapa dia terlalu perasa dan begitu mudah menangis, dia merasa dirinya terlalu lemah
Hampir 3 tahun menjadi korban bullying membuat dia jengah akan semua ini
Seharian dia mengurung di kamar dan tak mau banyak bicara, dia hanya diam dan menjawab seperlunya
Mungkin kejadian itu merupakan titik kulminasi dalam hidupnya, lama-lama jika dia terus seperti ini dia tak lebih dari seonggok daging yang berjalan dan menerima setiap apa yang terjadi pada dirinya

Gadis manis itu bukanlah seorang anggota sailormoon yang dapat berubah dalam beberapa detik, semua butuh proses yang panjat dan kalut hingga latihan bertahun-tahun itu pun teruji pada usia dia beranjak 10 tahun
Dengan heroiknya dia menampik permintaan contekan dari seorang teman (re: salah satu anak sirik yang mem-bully-nya kala itu) dan dia berkata dengan dinginnya "Bukannya kata kamu bahwa kepintaran yang saya dapat hanya berasal dari sogokan orang tua saya? Lantas kenapa kamu mencontek pada orang yang katanya pintarnya palsu ini?" Dan anak sirik itu pun pergi dan malu menemui teman se-geng-nya.
Singkat cerita, si anak cengeng itu (dulu) masuk kedalam geng yang dulu mem-bully-nya, dia punya trik da siasat perang yang seharusnya dimiliki oleh orang dewasa, kala itu umurnya 10 tahun namun dia bisa mengobrak-abrik semua dan menjadi ketua geng karena kepintaran dia yang melebihi anak-anak seusia dia. Dia tak mau berakhir seperti anak-anak sirik yang doyan bully itu dan memiliki otak sampah sejak dini.

Dia pun menjadi superior.
Si gadis perasa, perfeksionis, cengeng, dan terlalu semua diambil hati kini menjelma menjadi gadis kuat yang anti menangis, tangkas, pengambil keputusan, dan visioner.
Dunia tak membutuhkan lagi gadis cengeng yang rapuh, dunia butuh gadis yang kuat yang mampu menghalau segala ketidakadilan dunia dengan cara dia sendiri

Dia seperti itu bukan karena setiap keinginannya selalu terwujud, dia selalu didesak keadaan, dipaksa tersenyum diatas luka, dipaksa untuk selalu dapat mengatasi segala masalah (re:tantangan) dalam usia dini, semuanya menempa dan melatih dia untuk menghapus ke melankolisan dia menjadi suatu energi korelis, mungkin tak menghapus seluruhnya, namun mereduksi kemelankolisan dia menjadi sebuah karakter yang sekarang melekat erat padanya hingga kini, yaitu Korelis..

My Super Hero

Bermula dari hari Jumat tanggal 21 Maret mulai nggak enak makan, rasanya tenggorokan mulai ngga beres dan rasanya mau flu. Sempat kepikiran mungkin ketularan teman, soalnya seminggu yang lalu mengantar teman yang sakit flu ke dokter. Tapi salah sendiri juga sih imunnya lagi drop jadi mungkin ketular.
Mau nyalahin jadwal kuliahan yang padet ah, karena ini semua andil dari mereka (jadwal kuliah yang padat itu).
Setiap pagi harus ke Desa Ciwaruga (sudah masuk ke Kab.Bandung Barat) dan harus mewawancarai 30 rumah dengan hal yang sama dan setiap hari. Dikatakan sales, dikatakan peminta sumbangan, yaelah..emang saya ada tampang begitu.
Singkat cerita saya jadi kena flu akut dan kemana-mana membawa tissue.
Dan repotnya ngga ketulungan, makan ngga ada rasanya, hidung ngga bisa cium wangi apa-apa, badan gerah karena selalu merasa panas, pokoknya sakit flu yang katanya sepele tapi annoying banget kalau buat saya.

*Mengibarkan bendera putih*
Asli nyerah.. Udah ngga bisa survive.. Berasa lemah dari berbagai sisi..
Lebay ya saya, tapi itu kerasanya
Semua acara minggu ini di cancel, dan kepaksa minggu depan harus kerja rodi buat nebus ini semua. Walah..

Jumat sore saya memutuskan pulang kerumah dengan langkah  gontai dan kepala pening setelah hampir sebulan tak pulang
Suara sudah parau dan disambut hangat oleh Bapak yang sudah menunggu didepan jalan, saya dan Bapak naik motor menuju ke rumah. Dan lagi-lagi dimarahin Bapak karna setiap pulang pasti sakit. Maaf Pak :(

Melihat anaknya yang terkapar tak berdaya, Ibu memutuskan untuk membawa saya ke dokter. Lama sekali menunggu ELF disisi jalan, karena tempat praktek dokter itu hanya bisa dilewati oleh ELF. Hampir sejam Ibu mematung disisi jalan, sementara saya tak kuat berdiri, duduk di dekat Ibu. Ibu disuruh duduk ngga mau dan setia mematung menunggu ELF. Dan akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Kami naik ELF kurang lebih 15 menit.
Tibalah saya dan Ibu di praktek dokter itu, dan pasiennya berjibun. Menunggu lagi. Tapi Ibu dengan antusias mematung didepan ruang praktek dokter, disuruh duduk ngga mau katanya takut kelewat. Sementara saya duduk diruang tunggu sambil menahan sakit.
Lalu saya tiba untuk diperiksa, karena pasiennya banyak, dokternya seperti rusuh ngga jelas, dan pemeriksaan ngga lebiih dari 5 menit lalu diberi obat.
Saat kami hendak pulang, hujan deras turun. Saya dan Ibu tidak membawa payung hanya bisa menunggu hingga hujan reda. Bapak yang khawatir terus menerus menelpon dan menyuruh cepat pulang.
Hingga adzan magrib berkumandang, kami masih di praktek dokter.
Pukul 20.00 kami masih di praktek dokter namun kini kami menunggu di luar, kondisi hujan gerimis dan dingin, tapi Ibu tak mau duduk dan mematung menunggu bis lewat. Lalu Bapak menelpon akan menjemput kami dengan mobil.
Lama tak kunjung datang, handphone Bapak mati tak bisa dihubungi.
Lalu ada angkot yang datang dan bilang akan menuju ke daerah tempat kami tinggal, Ibu kira itu kiriman dari Bapak, kami malah sudah naik angkot itu, namun pas ditanya kenal dengan Bapak Eddy, sang supir mengatakan tidak kenal, karena Ibu adalah Isteri Sholehah, Ibu menyuruh saya turun dari angkot dan tetap menunggu Bapak yang tak kunjung datang itu.
Saya hanya bisa diam menahan sakit di rahang saya, infeksi influenza membuat telinga kanan dan rahang saya ikut kena infeksi, makan ngga bisa, buka mulut ngga bisa, apalagi bicara.
Dan Ibu masih setia menunggu Bapak dibalik rintikan hujan..

Lalu yang kami tunggu itupun datang, Bapak tiba dengan truk.
Ya..akan dijemput dengan mobil itu adalah dengan mobil truk.
Perjuangan Bapak meminjam truk beserta supir tempat Bapak bekerja untuk menjemput kami.
Terharu :')
Dengan sedikit berdesak-desakan, kami naik truk tersebut dibagian depan.
Bapak datang dengan baju basah kuyuk, membuat saya semakin terharu.
Kemudian kami pun sampai, dan kembali berjalan kaki berpeluh banjir setinggi mata kaki dari gang menuju rumah kami, sementara Bapak kembali bersama truk di tempat kerjanya.
Sampailah saya dirumah, langsung berganti baju, makan meski dengan susah payah, serta minum obat.
Hari itu adalah hari dimana saya melihat super hero yang sesungguhnya.
Ibu dan Bapak adalah tokoh yang bisa menyulap hal yang ngga ada bisa jadi ada demi anaknya.
Kerjasama yang sangat bagus dan keren.
Ibu yang dengan gesit membawa anaknya yang sedang sakit, sholehah menuruti apa kata suaminya..
Bapak yang cepat datang membawa turbo truknya dengan keadaan basah kuyuk, semua demi anaknya..
Super hero yang saya lihat biasanya ada di komik dan film, tapi kini ku melihat secara nyata, dari dulu kini hingga sekarang, yaitu Ibu dan Bapak.
Kelak Enno akan bahagiakan Ibu dan Bapak. Kelak Enno akan jadi Ibu yang baik yang bisa menjadi superhero seperti Ibu. Dan suami Enno kelak akan menjadi superhero bagi anak-anak kami nanti :')

Sabtu, 15 Maret 2014

Terdesak

Entah sampai saat ini saya tak tahu mengapa muncul kosa kata "terdesak" dalam Bahasa Indonesia.
Apa karena orang-orang mengalami atau pernah merasakan bagaimana rasa terdesak tersebut, tapi menurut saya "terdesak" adalah bagi orang yang tak pernah merencanakan sesuatu atau bahkan merencanakan sesuatu namun gagal karena proses pematangan yang kurang tepat.
Jadi bagi mereka yang selalu mempersiapkan segala macam kemungkinan yang akan terjadi, tentu daya "terdesak" pun akan diminimalisir.

Dan sekarang "terdesak" itu dibagi menjadi 2 yaitu
1. Terdesak yang memang benar terdesak
Hal ini ngga perlu dijelaskan, karena kemungkinan ini selalu ada saat apa yang direncanakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan, lantas waktu yang dikejar sehingga "terdesak" itu pun terjadi
2. Terdesak yang direncanakan
Wah, kok bisa ada? Ya, ada.
Dewasa kini hal yang ngga mungkin sekalipun bisa direncanakan kok.
Salah satunya adalah terdesak.
Sebenarnya terdesak ini cuma "excuse" doang, dimana orang bisa mengatakan bahwa dia terdesak, biasanya dalam hal yang tercela.
Kamu mengapa mencelakai dia? Saya dalam keadaan terdesak.
Nah bisa jadi sih seperti point 1 yaitu terdesak yang memang terdesak, atau terdesak yang direncanakan?
Tidak berniat mencelakai orang tapi semua strategi untuk mencelakakan seseorang itu sangat matang dan terencana dari awal, apa iya terdesak atau didesain dengan alibi terdesak?
Bahaya hal seperti itu, bisa-bisa semua bisa bersikap seenaknya karena alasan terdesak, bahkan norma-norma kebenaran pun akan ditiadakan karena alasan terdesak.

Jangan dibiasakan seperti itu, nanti malah jadi kebiasaan, untuk apa menggapai semuanya tapi tidak dengan cara halal dan excuse-nya terdesak mengenyampingkan segala hal yang benar, nanti Bangsa ini makin acakadut. Orang tua pun yang asalnya bangga malah jadi kecewa karena disajikan proses yang tidak halal.
Sekarang memang tidak akan terasa, tapi suatu hari apa yang akan ditanam pasti akan dituai :)

Cermin

Bencilah seseorang, seakan kau tak pernah berbuat hal yang menjengkelkan
Jangan pernah berikan maaf pada orang lain, seakan kau tak pernah berbuat salah
Jangan pernah meminta maaf pada orang lain, seakan kau orang paling suci di dunia ini
Makilah seseorang, seakan kau orang paling sempurna di dunia

Karena kau tak akan pernah tahu bahwa kau adalah orang yang paling menjengkelkan, pernah berbuat salah, bukan orang suci, dan bahkan tidak sempurna di mata orang lain

Jadi jangan pernah mempersulit orang lain seakan hidupmu tak pernah membutuhkan orang lain

Kamis, 13 Maret 2014

Reduksi, Oksidasi

Saat saya duduk di bangku SMA, mata pelajaran yang saya amat sukai yaitu Kimia. Sebagian orang menyukainya karena tampak mudah dan menarik, namun saya menyukainya karena apa yang terkandung didalamnya saat kaya akan makna.
Ya..mungkin karena saya sangat menyukai analogi, sehingga apapun yang ada disekeliling saya sering saya metafora-kan sesuai keinginan saya..

Bermula dari sebuah usaha dalam menepati janji yaitu saat seorang teman mengundang saya dalam sebuah dalam sebuah acara. Dengan bermodal peta jalur kendaraan umum, saya gambling menuju kesana.
Namun kadang apa yang telah diusahakan dan diproseskan hasilnya tak sesuai dengan harapan. Saya sudah seperti rumput kecil ditengah hutan belantara yang bisa saja mati kala sekawanan rusa hutan menginjaknya.
Saya telan pil yang pahit itu. Bohong kalau tak ada yang merasa marah saat apa yang diusahakannya seratus, hasilnya malah jauh dari yang diharapkan. Marah wajar, namun siapa dan apa yang harus dimarahkannya? Lagi - lagi menelannya.
Disana saya mengambil pelajaran bahwa jangan pernah memposisikan orang lain seperti diri sendiri, karena jelas itu merupakan hal yang amat berbeda, lain orang lain kepala. Saya memperlakukanya begini, apakah mungkin orang lain pun akan melakukan hal yang sama? Yang bisa saya lakukan saat dikecewakan adalah berusaha agar saya tidak mengecewakan orang lain, jangan sampai orang lain merasakan hal yang saya rasakan atau malah saya mengecewakan orang lain. Tetap lakukan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

Lain waktu lain cerita, seakan kembali mengulang, saya harus kesana kembali dengan tujuan dan tema yang berbeda.
Lagi-lagi menelan pil pahit dengan dosis yang lebih tinggi, disini saya bersyukur dengan dosis yang tinggi ini, berarti level saya telah meningkat akibat pembelajaran masa kemarin, jika hal yang sama terjadi dengan dosis yang sama tentu saya akan kecewa karena ternyata saya tak lolos ujian waktu itu.
Lagi-lagi gambling dengan trayek jalur bebas.
Hujan deras mengiringi. Dengan modal jas hujan dan motor pinjaman, saya bergegas dengan tempuh yang sangat panjang.
Lalu dengan tubuh menggigil saya berusaha untuk melakukan tugas semaksimal mungkin.
Ketika daya tempuh proses yang jauh lebih panjang daripada eksekusi, membuat saya ingin meminta lebih.
Dan itu jelas hal yang tak bisa dilakukan hanya sekedar keinginan.
Saya marah dan kecewa tapi saya harus belajar dari kasus terdahulu.
Udara dingin kala itu namun jangan sampai kepala saya menjadi beku, saya harus melakukan sesuatu hal tanpa perlu mengandalkan siapapun atau meminta bantuan siapapun.
Saya harus mandiri dan never depend on.
Saya ini pohon anggur yang telah kuat batangnya dan tak perlu kayu penyangga.

Seperti halnya reaksi kimia, yang dilakukan untuk menyeimbangkan keadaan yang terlampau menyenangkan, saya harus reduksi dengan mengurangi kemungkinan optimis yang berlebihan yang membuat saya jadi merasa sombong. Lalu ketika keadaan sangat menyedihkan, saya harus oksidasi semangat saya dan selalu melakukan hal yang terbaik, agar tak semuanya berlarut-larut.

Meski cerita hari ini sepertinya sangat berisi kekecewaan dan kesedihan, tapi terkandung oksidasi didalamnya yaitu kekuatan. Dan ternyata saya kuat, bukan pura-pura kuat, tetapi memang kuat.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...