Kamis, 18 Desember 2014

Perempuan, Sekolah, dan Restu

"Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh perempuan akan kembali mengurusi dapur dan menggendong anak?!"
Ungkapan itu melesat dari mulut seseorang yang saya sayangi dan hormati. Saya tidak punya daya untuk membantah atau menyanggah kalimat diatas, saya hanya diam dan tertunduk.
Saya malas untuk beradu argumen apalagi dengan tingkat kekalahan argumentasi yang saya dapat sangat tinggi, sehingga saya memilih diam. And prove it.

Hidup dalam latar belakang non-akademis, membuat saya yang sangat tergila-gila dengan "belajar" seperti ayam yang ingin mencoba terbang tinggi seperti elang.
Butuh usaha keras dan air mata untuk meyakinkan mereka bahwa seorang perempuan pun perlu sekolah tinggi. Tak hanya sampai sekolah menengah, namun bisa ke jenjang universitas sekalipun.
Selain alasan diatas, mereka pun mengatakan bahwa takut saya akan meninggal karena sakit sebab terlalu banyak berpikir untuk sekolah. Saya rasanya ingin menjawab, kalaupun saya meninggal bukan karena sakit akibat pusing memikirkan tugas belajar, tapi meninggal karena menahan hasrat agar terus menuntut ilmu.

Secara kodrati, perempuan adalah seorang isteri dan ibu kelak. Itu memang sudah menjadi tugasnya, lantas apakah mereka tidak perlu pintar? Tidak perlu cakap? Tidak perlu tahu apa-apa? Hanya cukup tahu urusan harga sayuran berapa, bagaimana cara memasak gulai, bagaimana cara memandikan bayi, bagaimana cara membuat kopi untuk suami, hanya perlu tahu itu? Jelas tidak.

Perempuan harus jago ekonomi, dimana dia harus pandai mengatur keuangan keluarga agar tidak surplus, bagaimana dengan uang Rp 50.000,- misalnya tetapi harus membeli kebutuhan yang lain, prinsip dan dasar-dasar ekonomi harus digunakan.
Perempuan pun harus seperti ahli gizi, bagaimana memasak makanan yang memiliki nilai gizi seimbang, apabila ada salah seorang anggota keluarga yang sakit, makanan apa yang harus diberi, jenis sayuran apa yang baik untuk pertumbuhan anak.
Perempuan juga seorang perawat, bagaimana jika anak dan suami sakit, belajar bagaimana pertolongan pertama saat anak demam, saat anak terluka karena jatuh, basic life support misalnya.
Dan perempuan pun harus bisa menjadi guru, karena sesungguhnya anak belajar hal apapun pertama kali dari orangtua terutama seorang Ibu.

Jadi apa cukup seorang perempuan hanya sampai sekolah dasar dan menengah? Apakah perempuan se-multitasking dan se-multitalent itu dibatasi pendidikannya? Perempuan tak hanya mengurusi dapur tapi mengurusi keluarga bersama suami. Karena perempuan adalah ibu negara. Dari rahimnyalah lahir seorang dokter, tentara, profesor, guru, polisi, dan manusia bermanfaat lainnya.
Banyak anak yang menjadi nakal, dicap bodoh oleh masyarakat, dianggap annoying karena faktor dari keluarga yang mungkin tak mumpuni mengurus dan mendidik anak.

Ini bukan lagi zaman kolonial dimana perempuan tak bisa bersekolah, sekarang sudah banyak perempuan yang sukses sebagai wanita karier, profesor, menjadi menteri, dokter, bahkan seorang presiden, namun tak mengenyampingkan kodratnya sebagai seorang isteri dan ibu.
Jika faktor biaya menghalangi cita-cita, jangan jadikan alasan, karena bersekolah tidak akan membebani keluarga, beasiswa bertebaran dimana-mana bagi mereka yang giat dan mau berusaha.
Yang dibutuhkan sekarang hanyalah restu dan dukungan moril, itu saja Ibu.. Itu saja yang anak perempuan satu-satunya Ibu ini inginkan.
Restu Ibu agar anak perempuan satu-satunya tak hanya menjadi manusia yang biasa-biasa saja, tetapi menjadi manusia yang berguna dan dapat membuat orang lain hebat pula.
Banyak mimpi dan rancangan, namun yang dibutuhkan cukup restu Ibu karena restu Ibu, restu Tuhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...