Selasa, 16 Mei 2017

Demi Asa, Demi Cita

Kemarin Hari Selasa menjadi pengalaman perdana menjadi pengawas ujian masuk perguruan tinggi. Datang dari hari masih gelap hingga pulang di hari yang beranjak gelap.
Sedari ngawas menahan kantuk yang sangat, melihat 20 anak yang berusia 18 tahun mencoba peruntungan untuk mengganti titel siswa menjadi mahasiswa.
Yang tiap hari sekolah menggunakan seragam, kini beranjak memakai baju bebas.
Yang sekolah dari Senin bisa sampai Sabtu, nonstop, kini bisa kuliah Senin-Kamis, atau Senin, Selasa, Jumat, tergantung jadwal.
Dan memoriku terbang ke beberapa tahun lalu saat aku berada pada posisi seperti itu.

***

"Mulai besok, bangun pagi, tiap sore lari, tiap minggu harus berenang, jangan lupa latihan push up, sit up, pull up." Ucap Ibu di pagi hari, membangunkan aku yang baru tidur beberapa jam. "Oh iya, ikut karate, beli susu, susah amat badan mau 50kg juga, makanya makan tuh jangan pilih-pilih."
Aku kaget sekali dengan pernyataan Ibu yang berulang kali tanpa jeda tersebut, lho ada apa ini, aku kan sudah mengatakan berulang kali kalau itu bukanlah jalanku, aku mau kuliah, mau jadi mahasiswa. Mahasiswa disana tidak peduli jurusan apa, aku harus kuliah disana.
"Kapan, Bu, aku mengiyakan akan melalukan itu, Bu?" Sanggahku. "Itu ngga cocok, Bu, Ibu tahu kan nilai olahraga aku jeblok banget, cuma bisa lari aja, itu juga di remedial, Bu. Bakat aku ga disitu, Bu."
"Bakat kayak gitu bisa dilatih, masih ada setahun lagi sebelum kamu 18 tahun, bisa sampe kok."
"Ngga kayak gitu, Bu, aku ga suka hal yang kayak gitu. Aku mau kuliah."
"Kuliah itu mahal, darimana uangnya. Bapak kamu juga ga akan sanggup biayainnya. Terus banyak yang sudah jadi sarjana tapi nganggur. Kalau kamu nurut kata Ibu, sudah pendidikan beberapa bulan, kamu sudah punya uang banyak, dapat tunjangan juga. Apa jadi mahasiswa, cuma demo aja di TV."
"Karena aku bisanya cuma belajar, Bu, mengerjakan PR, membuat tugas, membaca, menulis, bukan lari, push up, sit up, capek itu, Bu, ngga bisa, ngga suka." Bantahku. Hampir saja airmata yang sudah menggunung akan menetes, namun ku masih teguh menahannya. Aku harus menahannya.
"Ya, dengerin dulu mau Ibu kamu kayak gimana, yang Ibu bilang bener kok." Ucap Bapakku yang dari tadi dia hanya asik menonton TV dan tak terlibat, kini ia buka suara.

Ughh..malas rasanya, tak ada yang memihakku. Tak ada yang mendukung mimpiku.
Memang salah jika menginginkan yang aku mau, kan aku sendiri yang menjalaninya, aku yang akan menanggung resiko atas segala konsekuensi yang aku pilih. Ini jalanku, ini inginku, aku yang lebih tahu!!
Ingin sekali mengatakan kalimat itu dengan lantang, namun selalu ku telan mentah-mentah. Mengeluarkan itu semua sama saja dengan bom bunuh diri. Menjadi pemberontak secara terang-terangan seperti itu siap saja akan menelan pil cap sebagai "anak durhaka" karena tak menurut perintah orang tua.
Tetapi lantas aku harus bagaimana, aku tak mau jadi anak durhaka, aku pun tak mau menjalani sesuatu yang tak sesuai inginku. Apa aku harus merelakan kebahagianku demi bahagianya orang tuaku? Apa aku harus mengubur mimpiku jauh-jauh untuk membuat orang tuaku bangga dengan keinginannya?
Tahulah. Pusing.
Aku mengantuk. Aku ingin tidur jika bisa tak ingin aku terbangun.

*

"Boleh ga aku pinjam semua buku IPS kamu?" Ucap aku pada teman sekolahku.
"Ya boleh aja, ngga dipake juga. Emang buat apa?"
"Buat aku makan. Ya, buat aku baca."
"Lha kan kamu anak IPA ngapain baca buku IPS?"
"Buku IPA yang bisa dibaca cuma Biologi aja, biarin dong iseng."
"Anaknya iseng baca buku IPS, hahaha.."
"Yaudah pinjem ya, kapan-kapan aku balikin hahaha."

"Brooo, pinjem buku bimbelnya dong."
"Ambil aja, kalau perlu sekalian gantiin aku bimbel ya, haha"
"Hah? Emang bisa?" Ucapku kaget.
"Bisa, aku mau main nih sama temenku, udah janjian, gantiin ya, kelasnya lumayan banyak jadi ga ada yang tahu. Nanti kasih tahu ya belajar apa." Ucap temenku yang sosialita itu sambil merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa buku. "Nih, ada kisi-kisi ujian masuk kuliah, jadi kamu bisa belajar dari point-point ini. Ini juga buku latihan soal IPA, yang dibelakangnya kunci jawabannya."
"Eh.. aku beneran boleh pinjem? Kamu ga akan pake buku ini?
"Ngga kok, lagian aku kan udah diterima di universitas itu, ya males buat ikut tes-tes lagi, haha." Ucapnya enteng sekali.

Bukan aku namanya kalau menyerah. Ya, aku harus ikut ujian masuk kuliah. Urusan nanti bayarnya darimana, lulus atau ngganya itu gimana nanti. Karena aku tahu tujuanku ini benar.
Lari? Berenang? Push up sit up?
Ya, aku melakukannya selepas pulang sekolah. Agar ibuku senang.
Selepas olahraga itu aku mandi dan makan, pasti saja aku mengantuk karena lelah.
Aku izin tidur lepas jam 7 malam. Ku set alarm jam 01.00 pagi.
Alarm berbunyi, wih berat rasanya aku membuka mataku ini. Tapi aku harus bangun. Aku mencuci muka. Aku membuat susu panas didapur.
Aku bawa beberapa buku di meja makan. Aku harus belajar. Aku harus berlatih soal.
Dan tak terasa sudah adzan Subuh, aku bereskan kembali bukuku mengambil wudhu lalu shalat, lalu tidur lagi.
Rutinitas itu aku lakukan sepanjang hari. Ibu sampai salut padaku karena shalat subuh tak pernah kelewat padahal biasanya susah dibangunin, hahah iya kan udah bangun dari jam 01.00.
Tapi Ibu tak tahu.
Biarlah.
Capek ngga sih?
Capek banget, rasanya aku iri pada temanku yang bimbel tapi selalu saja bolos karena lebih penting main daripada bimbel, padahal aku beberapa kali meminta ingin bimbel tetapi selalu ditolak. Iya sih aku ngga mikir, bisa sekolah biasa saja aku harusnya bersyukur, ini malah ngelunjak ingin bimbel, hm..
Ya, karena aku hidup digariskan harus bekerja keras, berusaha lebih keras, aku bukan lahir dari keluarga kaya, bukan pula orang yang beruntung, bukan orang yang jenius pula. Yang aku punya cuma mimpi, ya cuma mimpi yang harus aku wujudkan mau bagaimanapun, salah satunya dengan push over limit.

*

Aku daftar ujian, yeah.. uangnya ku dapat dari menyisihkan jajan dan bantuin teman dalam mengerjakan tugas akhir study tour. Namun aku kaget setengah mati ketika jadwal ujian masuk kuliah bersamaan dengan ujian kesehatan yang sudah Ibu daftarkan untuk aku.
Bagaimana ini? Aku bingung setengah mati, hingga aku lebih memilih ujian masuk kuliah. Ibu tak tahu dan sudah pasti aku tak akan lulus dan Ibu akan marah besar.
Aku merahasiakan ini rapat-rapat dan akhirnya terbongkar bahwa aku mangkir dari tes kesehatan. Ibuku marah besar, dia mengambil gagang sapu dan memukul kakiku.
Sakit sekali. Aku menangis sejadinya.
Tetapi bukan kakiku yang sakit, hatiku yang sakit.
Ketika kertas digenggamanku menuliskan bahwa aku lulus ujian masuk kuliah, aku segera berlari ke rumah dengan nada gembira bukan main, tetapi yang ku dapat bukan pelukan tanda selamat, malah pukulan dan makian bertubi-tubi.
Apakah aku telah membuat kejahatan maha dahsyat?
Apa aku telah menjadi anak durhaka?
Aku hanya bisa menangis dan mengurung dikamar.

Batas daftar ulang masuk kuliah segera berakhir, dan harganya pun sangat mahal. Mau bagaimanapun aku harus bilang, ya terserah apa yang akan Ibu katakan, jika dia memukulku lagi aku siap. Aku harus siap.
Aku tak banyak bicara, ku berikan kertas itu kepada Ibu. Aku menunggu dan melihat reaksi Ibu.
Aku menelan ludah dan bersiap untuk berbicara. Tetapi baru saja mengucapkan sepatah kata aku sudah menangis, dan tak lagi bisa ku tahan. Air mata yang selama ini ku tahan mengalir deras.
"Bu.. Aku tak mau disebut anak durhaka, aku jalani dan mengikuti apa kata ibu. Cuma waktu itu tesnya barengan sama tes masuk kuliah. Aku belajar bu biar masuk, aku ga minta bimbel karena tahu itu ga mungkin. Tapi aku ingin kuliah, aku ingin belajar, Bu. Darimana aku punya teman kalau ngga dari sekolah, Bu, aku ingin jadi ilmuan, Bu, aku ga bisa lari bu, olahraga aku payah. Aku suka belajar, baca buku, bukan seperti yang Ibu mau. Maaf, Bu. Kalau memang ngga diizinkan untuk kuliah, ya ga apa2 bu, aku akan kerja saja buat bayar biayanya. Tapi maaf bu aku ga bisa menjadi yang Ibu mau."
Aku mengucapkan itu dengan sesegukan. Ini beban yang selama ini dipendam, aku lepaskan begitu saja. Akhirnya aku berani mengatakannya.
"Ya sudah Ibu udah pinjem ke bank buat bayar biaya masuknya."
Aku kaget bukan main, ini aku ga salah dengar kan, ini beneran kan.
"Eh.. Ibu ini maksudnya?"
"Ya tahu Ibu juga kamu suka bangun tengah malam buat belajar, bikin susu juga sampai tumpah-tumpah ke meja. Ya belajar yang bener, semoga ada rezeki. Inget ya, harus jadi orang sukses atas jalan yang sudah kamu pilih."
"Beneran, Bu? Jadi boleh ini, Bu, beneran, Bu??"
"Iya bawel."
Aku teriak sejadinya, aku bahagia bukan main, aku peluk Ibu erat sekali. Terimakasih, Bu, terimakasih Bu. IBUUUUUUU...

***

Bel berbunyi 3x tanda ujian telah berakhir.
"Semuanya jangan ada lagi yang mengerjakan ya, soalnya boleh dibawa pulang." Ucapku. Aku berdiri meraih satu persatu lembar ujian. "Oke, kalian boleh pulang. Semoga sukses ya.." Tambahku.
Tugasku sebagai pengawas selesai hari itu.Melihat mereka ujian, aku jadi melayang ke peristiwa beberapa tahun lalu itu. Dan sekarang aku telah menjadi mahasiswa seperti yang aku inginkan. Semoga mereka pun bisa menggapai apa yang mereka inginkan.
Karena aku tahu dan sudah pasti bahwa tak akan ada usaha yang sia-sia.
Demi asa dan cita yang kini ku harus buktikan pada Ibu bahwa aku telah memilih jalan yang benar, Bu, doakan dan ridhai, Bu, karena ridho-mu itu adalah ridho-Nya.

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...