Seorang sahabat
pernah berkata, "Kau jangan terlalu mencintai seseorang karna kau seperti pohon anggur,
merambat dan hanya bisa berdiri tegak jika tongkat penopangnya kuat, namun jika
dahannya telah kuat, maka pohon itu tak perlu menopang, karna dia telah kuat
dengan sendirinya. Demikian dengan kau."
Mungkin kala itu si
Pohon Anggur itu terlalu terburu-buru, dia menganggap lamanya waktu yang
menyatukan dengan segala badai yang menerjang, serangan ulat sekalipun berhasil
terlewati membuat dia begitu optimis bahwa lamanya waktu berbanding lurus
dengan kualitas. Namun itu hanya angan mimpi dongeng. Menyenangkan dengan
buaian khasnya yaitu happy ending. Bila disebut ending,
mungkin ini belum layak disebut ending,
tapi lebih tepatnya fase kesalahan. Ya, kesalahan yang sampai saat ini adalah
kesalahan terindah dan dosa termanis yang pernah dilakukan oleh si Pohon Anggur
yang dengan beraninya bertaruh segalanya demi penopang yang belum tentu akan
menopangnya selamanya. Hingga pohon itu pun rubuh, berantakan, dan merambat di
tanah seperti Semangka. Perlu waktu untuk sembuh,untuk bangkit, untuk menjalani
keseharian seperti tak ada apa-apa.
Sebuah kutipan dari
drama menyebutkan, "Lebih baik menangis sepuasnya hari ini, namun akan
tegar selamanya, daripada berpura-pura tegar hari ini, namun menangis
seterusnya."
Dan itu yang
dilakukan Pohon Anggur, hingga dia bisa berdiri kembali. Mungkin belum
sepenuhnya tegak, namun serakan dahan yang patah kini sudah bukan lagi hambatan
untuk tegak kembali. Kini dia masuk pada babak baru hidupnya.
Tuhan memberikan
rasa ingin kepada hamba-Nya tetapi malah mengabulkan yang hamba-Nya butuhkan,
semata-mata untuk mengajarkan rasa kecewa, rasa pahit, rasa sakit agar bisa
kembali bangkit.
Pohon Anggur belajar
dari kalimat diatas. Karena kita tak akan pernah tahu sekuat apa diri kita,
sebelum tantangan itu datang.
Babak baru ini akan
dihiasi dengan prasangka baik, kesalahan jadikan pembelajaran, dan selalu
tersenyum dalam kondisi apapun, hai Pohon Anggur.
Sejuta ulat bahkan
semilyar ulat menghampirimu, sekuat angin yang mampu merobohkan dahanmu, tetap
hasilkan buah Anggur yang manis.
Kau bukan tak butuh
penopang sekarang, tetapi kau sekarang sudah bisa tegak meski belum sempurna
dengan dahanmu sendiri.
Penopang bisa jatuh
kala dahanmu semakin kuat dan tegak, maka yang kau perlukan sekarang adalah
pelengkap yang bisa menemanimu kala terik panas dan derasnya hujan serta
terpaan angin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar