Rabu, 04 Juni 2014

Babak Baru Pohon Anggur

Seorang sahabat pernah berkata, "Kau jangan terlalu mencintai  seseorang karna kau seperti pohon anggur, merambat dan hanya bisa berdiri tegak jika tongkat penopangnya kuat, namun jika dahannya telah kuat, maka pohon itu tak perlu menopang, karna dia telah kuat dengan sendirinya. Demikian dengan kau."

Mungkin kala itu si Pohon Anggur itu terlalu terburu-buru, dia menganggap lamanya waktu yang menyatukan dengan segala badai yang menerjang, serangan ulat sekalipun berhasil terlewati membuat dia begitu optimis bahwa lamanya waktu berbanding lurus dengan kualitas. Namun itu hanya angan mimpi dongeng. Menyenangkan dengan buaian khasnya yaitu happy ending.  Bila disebut ending, mungkin ini belum layak disebut ending, tapi lebih tepatnya fase kesalahan. Ya, kesalahan yang sampai saat ini adalah kesalahan terindah dan dosa termanis yang pernah dilakukan oleh si Pohon Anggur yang dengan beraninya bertaruh segalanya demi penopang yang belum tentu akan menopangnya selamanya. Hingga pohon itu pun rubuh, berantakan, dan merambat di tanah seperti Semangka. Perlu waktu untuk sembuh,untuk bangkit, untuk menjalani keseharian seperti tak ada apa-apa.

Sebuah kutipan dari drama menyebutkan, "Lebih baik menangis sepuasnya hari ini, namun akan tegar selamanya, daripada berpura-pura tegar hari ini, namun menangis seterusnya."
Dan itu yang dilakukan Pohon Anggur, hingga dia bisa berdiri kembali. Mungkin belum sepenuhnya tegak, namun serakan dahan yang patah kini sudah bukan lagi hambatan untuk tegak kembali. Kini dia masuk pada babak baru hidupnya.
Tuhan memberikan rasa ingin kepada hamba-Nya tetapi malah mengabulkan yang hamba-Nya butuhkan, semata-mata untuk mengajarkan rasa kecewa, rasa pahit, rasa sakit agar bisa kembali bangkit.
Pohon Anggur belajar dari kalimat diatas. Karena kita tak akan pernah tahu sekuat apa diri kita, sebelum tantangan itu datang.
Babak baru ini akan dihiasi dengan prasangka baik, kesalahan jadikan pembelajaran, dan selalu tersenyum dalam kondisi apapun, hai Pohon Anggur.
Sejuta ulat bahkan semilyar ulat menghampirimu, sekuat angin yang mampu merobohkan dahanmu, tetap hasilkan buah Anggur yang manis.
Kau bukan tak butuh penopang sekarang, tetapi kau sekarang sudah bisa tegak meski belum sempurna dengan dahanmu sendiri.

Penopang bisa jatuh kala dahanmu semakin kuat dan tegak, maka yang kau perlukan sekarang adalah pelengkap yang bisa menemanimu kala terik panas dan derasnya hujan serta terpaan angin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...