Jumat, 06 Juni 2014

Ruang Bawah Tanah

Gelap, dingin, lembab dan dihuni sekawanan kelelawar yang hidup menggantung dengan badan terbalik

Sepintas itulah suasana ruang bawah tanah, tempat melarikan diri atau mungkin tempat yang sangat tepat untuk meregang nyawa
Tempat itu jarang didatangi oleh orang lain, bahkan orang lain tak pernah memperdulikan keberadaan ruangan ini.
Ruangan ini hanya sisa dari bangunan yang tak terpakai, lagipula jarang di zaman sekarang, orang-orang memiliki ruangan di bawah tanah, karena orang-orang zaman sekarang adalah exhibitionist.
Senang pamer dan memperlihatkan segala yang dia punya, dan ruang bawah tanah tak lebih dari tempat yang lebih buruk disebut gudang, tempat sesuatu yang tidak layak lagi dipakai.

Sesekali dia didatangi, ya..sesekali bahkan bisa dibilang jarang
Dia datangi saat si pemilik sedang merasa sebagai seseorang yang paling menderita didunia
Tak ada kawan, tak ada sesuatu tempat berbagi
Biasanya dia kemari untuk release and realize semuanya tanpa diketahui orang lain

Tapi pernahkah ruang bawah tanah mengeluh diperlakukan seperti ini?
Diingat saat sedih, saat merana, menjadi peraduan saat gundah.
Lalu ditinggalkan saat bahagia, dan lari saat semua baik-baik saja.
Ruang bawah tanah tetap dingin dan gelap, cahaya datang hanya jika ada yang kesana, setelahnya dia sendiri dan ditemani oleh kelelawar yang ingin menenangkan dirinya
Sekalipun dia tak pernah mengeluh berada dalam kedinginan, yang terpenting baginya dia bisa meredam segala emosi dan teriak pemiliknya yang sedang merana, dia setia mendengarkan meski tahu akan ditinggalkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...