Manusia terlahir
dari peradaban Tuhan Yang Maha Agung
Terlintas dalam
setiap kebajikan dan modifikasi dari prasangka
Melangkah bak
butiran mutiara dalam cangkang dan terdiam laksana burung yang hinggap di dahan
yang rindang
Manusia
dimetaforakan sebuah mahluk yang tak pernah bisa sendiri
Desain Tuhan yang
sungguh kompleks pada diri manusia membuat manusia terkesan paling agung
diantara mahluk lainnya
Manusia hidup
dibawah hamparan awan dan diatas pijakan bumi
Membawa manusia
dalam alur kehidupan atas prakarsa Tuhan
Awan menaungi
manusia dari teriknya panas matahari dan mengguyurkan hujan saat
kristal-kristal air tak dapat awan tahan terhadap manusia
Awan kala murka saat
gemuruh dan kilat menyambar pada manusia
Manusia yang mulai
tamak dan terasuki oleh setan yang menggerogoti hati
Awan nampak putih
bagai kapas, menghiasi langit biru bak samudera diatas
Mengangkasa disetiap
pikiran dan hasrat manusia yang selalu ingin mengundara
Bumi, lengkap dengan
sungai dan gunung yang menghiasinya
Memberikan pohon
kala awan sedikit muncul dalam menghalau teriknya matahari
Memberikan sungai
saat haus mendera di oase perjalanan hidup
Memberikan
kenikmatan yang segala isinya bumi
Namun, memberi
banjir saat luapan air tak mampu diawasi dari ketamakan manusia
Memberi tanah
longsor dari keserakahan manusia pada perut bumi
Memberi letusan
gunung saat manusia lupa bahwasanya ada Sutradara Pengatur Segalanya
Dan memberi petaka
dalam manusia dan manusia yang beradu diatas bumi
Semua terjadi karena
awan dan bumi disuratkan untuk bersama bumi
Mau atau tidak mau,
suka atau tidak suka, mereka beriringan dalam takdir Tuhan untuk menghiasi
hidup manusia yang monoton
Gabungan keduanya
membentuk sebuah neraca keseimbangan bagi manusia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar