Mengingat hal yang
memuakkan adalah hal yang jauh lebih memuakkan daripada apapun
Setidaknya itu
membuat jengah pikiran yang sudah bejibun memikirkan persoalan hidup yang tak
pernah kunjung usai
Terbebani akan suatu
hal yang terjadi karena pelimpahan dosa orang lain sudah merupakan hal yang
paling memuakkan sedunia
Dan kini dituntut
untuk diingat kembali, seakan mencabik parut luka yang telah mengering
Tahukah bahwa
rasanya ingin menjerit tapi tak dapat mengeluarkan suara adalah titik tersulit
dalam rasa ini
Ya, selalu
ditempatkan pada posisi sulit seakan memakan buah simalakama
Jika dimakan akan
kehilangan Bapak, tak dimakan akan kehilangan Ibu
Lantas mengapa harus
selalu ditempatkan pada posisi seperti ini?
Ingin berlari tetapi
tak ditakdirkan sebagai pengecut
Ingin mengikuti
tetapi tak ditakdirkan sebagai pengkhianat
Ingin memberontak
tetapi tak ditakdirkan sebagai durhaka
Lantas harus seperti
apa, karena diri bukanlah lumba-lumba yang akan menurut saja jika diperintah
untuk melompati lingkaran berapi
Berdiam diri dan
menunggu segalanya reda pun bukan solusi
Karena api ini malah
akan semakin membesar dan menghancurkan segala yang dilaluinya
Entah harus ujian
seperti apa dan harus dengan cara apa dalam menyelesaikan kobaran api yang tak
pernah padam ini
Apa diri ini kurang
kuat? Apa diri ini justru terlalu lemah?
Titik tersulit ini
akan semakin pelik untuk dilalui, tetapi lari bukan solusi, menyerang tak tentu
akan menang, pasrah malah akan berakhir dengan amarah, bertanya pun malah akan
semakin tak nyata, mengadu pun akan berakhir tak pasti layaknya dadu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar