Selasa, 12 Agustus 2014

Titik Tersulit

Mengingat hal yang memuakkan adalah hal yang jauh lebih memuakkan daripada apapun
Setidaknya itu membuat jengah pikiran yang sudah bejibun memikirkan persoalan hidup yang tak pernah kunjung usai
Terbebani akan suatu hal yang terjadi karena pelimpahan dosa orang lain sudah merupakan hal yang paling memuakkan sedunia
Dan kini dituntut untuk diingat kembali, seakan mencabik parut luka yang telah mengering

Tahukah bahwa rasanya ingin menjerit tapi tak dapat mengeluarkan suara adalah titik tersulit dalam rasa ini
Ya, selalu ditempatkan pada posisi sulit seakan memakan buah simalakama
Jika dimakan akan kehilangan Bapak, tak dimakan akan kehilangan Ibu
Lantas mengapa harus selalu ditempatkan pada posisi seperti ini?
Ingin berlari tetapi tak ditakdirkan sebagai pengecut
Ingin mengikuti tetapi tak ditakdirkan sebagai pengkhianat
Ingin memberontak tetapi tak ditakdirkan sebagai durhaka
Lantas harus seperti apa, karena diri bukanlah lumba-lumba yang akan menurut saja jika diperintah untuk melompati lingkaran berapi

Berdiam diri dan menunggu segalanya reda pun bukan solusi
Karena api ini malah akan semakin membesar dan menghancurkan segala yang dilaluinya
Entah harus ujian seperti apa dan harus dengan cara apa dalam menyelesaikan kobaran api yang tak pernah padam ini
Apa diri ini kurang kuat? Apa diri ini justru terlalu lemah?

Titik tersulit ini akan semakin pelik untuk dilalui, tetapi lari bukan solusi, menyerang tak tentu akan menang, pasrah malah akan berakhir dengan amarah, bertanya pun malah akan semakin tak nyata, mengadu pun akan berakhir tak pasti layaknya dadu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...