Selasa, 13 Oktober 2015

Doa Yang Terkabul



"Waaaaa......" 
ku berteriak dalam hati sembari berlari penuh semangat saat langit mulai meredup dan tergantikan oleh lampu-lampu jalan. Tak terasa bagian paling sentimentil ini pun tak dapat lagi tertahan. Air pun keluar dari sudut gelap mata ini. Basah, namun menyejukkan.

Rasanya kaki ini tak mampu lagi menahan kesumringahan hati yang tak dapat terbendung. Ku pun mengistirahatkan kakiku dengan berduduk-duduk santai di halte. Tak ada siapapun, hanya ada aku dan kertas-kertas pengumuman yang mulai usang dan terkelupas dari dindingnya. Ku pandangi satu-satu, mungkin ada lowongan kerja part time untuk mahasiswa sore seperti ku. Ya, mahasiswa. Kini ku benar-benar menjadi mahasiswa. "Waaaa....." ku teriak lagi dalam hati.

Baru 5 hari rasanya menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi idaman mungkin semua orang, tetapi aku tak peduli. Perguruan tinggi ini adalah idamanku, idamanku sejak masih berseragam putih abu-abu. Bahkan bermimpi saja sudah sangat indah dan membahagiakan, apalagi benar-benar menjadi bagian disini. Memakai almamaternya saja mungkin hanya sekedar mimpi di siang bolong. Namun, kini, saat ini, mimpi ini telah terwujud. Kini aku benar-benar mahasiswa disini, iya, disini. Aku mohon jangan teriak lagi dalam hati. Hati ini bisa sakit telinganya mendengarmu berteriak, hahaha.

Kini aku terduduk di lantai 4 perpustakaan fakultas tempatku menimba ilmu. Dekat jendela. Ya, untuk seseorang yang bahkan naik jembatan penyebrangan saja sudah keringat dingin bukan kepalang, kini duduk di dekat jendela lantai 4, hahah, seakan-akan lupa bahwa aku punya phobia ketinggian. Tetapi semua itu benar kulupakan, karena ku memang bahagia. Bahagia itu distraksi yang paling ampuh dari semua rasa sakit didunia ini.

Bukan hal yang mudah untukku sampai disini. Beberapa kali rasanya ingin menyerah saja untuk sesuatu yang tak mungkin ini. Mimpi kamu terlalu tinggi, hingga doa pun diganti, "Ya..Tuhan, hamba pasrahkan apa yang terbaik untuk hamba, jika memang ini terbaik untuk hamba, pasti akan ada jalan untuk hamba sebagaimana pun sulitnya jalan tersebut. Jika memang ini bukan yang terbaik untuk hamba, pasti Engkau mempunyai jalan yang lebih indah untuk hamba di tempat lain." Dan, tanggal 14 Agustus, namaku terpasang di website penerimaannya dan dinyatakan lulus. Ya, lulus, aku akan menjadi mahasiswa disana. Ini serius, Tuhan?
Apakah perjuangan terhenti? Tidak, ini baru dimulai. Bukan harga yang murah untuk menebus Kartu Tanda Mahasiswa dan Jaket Almamaternya. Aku pun menangis tersedu-sedu, saat Ibu berkata bangga memiliki anak sepertiku. Harga yang kukumpulkan selama setahun pergi pagi pulang malam pun belum cukup untuk menebusnya. Maksud hati tak ingin membebani Ibu, akhirnya membebani juga. Juara sekali perjuangannya, hingga last minutes sebelum pendaftaran ulang ditutup, Ibu menelepon. Ku berlari dan lagi-lagi sentimentil lagi, ku menangis. Dan ku menangis lagi saat jaket itu berada ditanganku. Iya, jaket dengan warna mencolok. Bahkan ada kalimat yang menyatakan, "jika mahasiswa almamater itu telah turun ke jalan, maka ada sesuatu di negara ini." Wuih...keren bukan main kalimat itu. Entah kalimat dari siapa.
Kini, ku masih menatap ke luar jendela. Dan berkata dalam hati bahwa ini baru permulaan. Hidupmu baru saja dimulai di Kampus Perjuangan ini. Disini semua serba sendiri, dan kamu sendiri yang memutuskan kapan kamu akan bertoga. Semakin lama disini, harga yang dibayar juga semakin menggunung. Euforianya harus diiringi dengan tanggungjawab. Ya, kamu harus membuat laporan pertanggungjawaban kepada Tuhan karena Tuhan telah benar-benar mengabulkan doamu. Sulit, setiap hari rasanya sulit, tetapi pasti ada kemudahan setelahnya. Jangan terlalu santai karena kamu berbeda dengan yang lainnya. Kamu disini untuk berjuang dan harus menjadi yang terbaik, buat tangis Ibumu menjadi sebuah tangis kebanggaan. Dan jangan sampai membuat Tuhan kecewa dan menyesal telah mengabulkan doamu ini.

Selamat datang, mari serap ilmu terbaik yang ada disini. Dan gunakan ilmu itu untuk menjadi bermanfaat bagi sesama. Selamat berjuang, Enno. Aku selalu berjuang bersamamu.

Dari ku untuk diriku.
Depok, 4 September 2015.

3 komentar:

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...