Ketika air lebih kental daripada darah
Ya, kutipan itu pernah terdengar dalam sebuah drama sejarah.
Lalu pertanyaan yang timbul, mengapa bisa seperti itu?
Bukankah substansi air jauh lebih encer daripada darah, lantas mengapa terjadi kebalikan seperti itu.
Dan seribu diam berkecamuk dalam jiwa.
Kediaman, bukan kegaduhan akan ceracau-ceracau. Tetapi diam, diam yang sangat hening, hingga seseorang datang memegang sebuah batu lalu melemparkannya dengan penuh amarah pada dinding imajiner yang dulunya sangat kokoh bahkan tak ada yang mampu menembusnya.
Mungkin dulu ada yang sempat berniat, namun hanya sampai pada fase niat.
Tak perlu lagi ditutupi.
Karena bau darah kini semakin membusuk.
Air yang datang pun ikut terbawa menjadi berbau busuk.
Terbawa menjadi berwarna merah.
Merah darah oleh pertumpahan saudara.
Bukankah bangsa kita sangat terkenal akan cerita Kerajaan Singasari?
Ya, kerajaan yang dibangun atas pertumpahan darah atas nama dendam dan perselisihan antar saudara.
Dan berakhir dengan ketiadaan penerus baik berikutnya.
Kertanegara adalah raja yang berhasil berdiri diatas pertumpahan darah saudaranya.
Dendam tak akan menghasilkan kemenangan abadi, yang ada hanya keterpurukan dan membumihanguskan segalanya hingga dasarnya.
Seyogyanya saudara adalah keluarga.
Ya, keluarga sedarah yang berasal dari nenek yang sama.
That's a family..
Such a great warm love, contain sweetness and tenderly.
Being having much time, with full-like-heart-talkative
Itu kan idealnya.
Hingga pertempuran darah pun dapat berlangsung seperti halnya yang terjadi pada Kerajaan Singasari lampau.
Saling cakar, saling terkam, saling tusuk, saling melukai, saling menodai, sesama keluarga.
Seharusnya saling mengasihi, saling melindungi, saling mencintai, saling membantu, sesama keluarga.
Hingga rela terlihat bertampak "baik" dimata orang lain ketimbang menolong saudaranya yang tercengkram antara hidup dan mati.
Ketika orang lain yang bukan sedarah malah lebih mengasihi, lebih mencintai, lebih menghormati, daripada darah daging sendiri.
Atas dasar apa? Mungkin atas dasar kemanusiaan. Lalu bukankah saudara atau keluarga pun adalah manusia? Lantas mengapa tak memiliki rasa kemanusiaan?
"Untuk apa menolong saudara sendiri, hanya akan semakin membebani dan seterusnya akan terus ingin ditolong, lebih baik menolong orang lain, bisa disebut dermawan dan baik hati."
Perkataan macam apa itu? Perkataan inilah yang timbul dari pepatah 'air lebih kental daripada darah'
Ada sakit dan kesakitan serta penderitaan dalam darah daging sendiri yang perlahan membusuk dan mematikan organ yang lain. Hingga perlahan akan mati dengan kesendirian.
Biarlah, mungkin jika image dermawan itu terbangun sempurna maka orang lainlah yang akan membantu merawat bangkai busuk itu, bukan sanak keluarganya. Mengapa? Karena sanak keluarganya telah sakit dan mati terlebih dulu. Mati tercekik oleh ari-ari saudaranya.
Ya, kutipan itu pernah terdengar dalam sebuah drama sejarah.
Lalu pertanyaan yang timbul, mengapa bisa seperti itu?
Bukankah substansi air jauh lebih encer daripada darah, lantas mengapa terjadi kebalikan seperti itu.
Dan seribu diam berkecamuk dalam jiwa.
Kediaman, bukan kegaduhan akan ceracau-ceracau. Tetapi diam, diam yang sangat hening, hingga seseorang datang memegang sebuah batu lalu melemparkannya dengan penuh amarah pada dinding imajiner yang dulunya sangat kokoh bahkan tak ada yang mampu menembusnya.
Mungkin dulu ada yang sempat berniat, namun hanya sampai pada fase niat.
Tak perlu lagi ditutupi.
Karena bau darah kini semakin membusuk.
Air yang datang pun ikut terbawa menjadi berbau busuk.
Terbawa menjadi berwarna merah.
Merah darah oleh pertumpahan saudara.
Bukankah bangsa kita sangat terkenal akan cerita Kerajaan Singasari?
Ya, kerajaan yang dibangun atas pertumpahan darah atas nama dendam dan perselisihan antar saudara.
Dan berakhir dengan ketiadaan penerus baik berikutnya.
Kertanegara adalah raja yang berhasil berdiri diatas pertumpahan darah saudaranya.
Dendam tak akan menghasilkan kemenangan abadi, yang ada hanya keterpurukan dan membumihanguskan segalanya hingga dasarnya.
Seyogyanya saudara adalah keluarga.
Ya, keluarga sedarah yang berasal dari nenek yang sama.
That's a family..
Such a great warm love, contain sweetness and tenderly.
Being having much time, with full-like-heart-talkative
Itu kan idealnya.
Hingga pertempuran darah pun dapat berlangsung seperti halnya yang terjadi pada Kerajaan Singasari lampau.
Saling cakar, saling terkam, saling tusuk, saling melukai, saling menodai, sesama keluarga.
Seharusnya saling mengasihi, saling melindungi, saling mencintai, saling membantu, sesama keluarga.
Hingga rela terlihat bertampak "baik" dimata orang lain ketimbang menolong saudaranya yang tercengkram antara hidup dan mati.
Ketika orang lain yang bukan sedarah malah lebih mengasihi, lebih mencintai, lebih menghormati, daripada darah daging sendiri.
Atas dasar apa? Mungkin atas dasar kemanusiaan. Lalu bukankah saudara atau keluarga pun adalah manusia? Lantas mengapa tak memiliki rasa kemanusiaan?
"Untuk apa menolong saudara sendiri, hanya akan semakin membebani dan seterusnya akan terus ingin ditolong, lebih baik menolong orang lain, bisa disebut dermawan dan baik hati."
Perkataan macam apa itu? Perkataan inilah yang timbul dari pepatah 'air lebih kental daripada darah'
Ada sakit dan kesakitan serta penderitaan dalam darah daging sendiri yang perlahan membusuk dan mematikan organ yang lain. Hingga perlahan akan mati dengan kesendirian.
Biarlah, mungkin jika image dermawan itu terbangun sempurna maka orang lainlah yang akan membantu merawat bangkai busuk itu, bukan sanak keluarganya. Mengapa? Karena sanak keluarganya telah sakit dan mati terlebih dulu. Mati tercekik oleh ari-ari saudaranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar