Senin, 15 Agustus 2016

Bulimia Rhapsody


Hari itu hujan deras, aku dan teman-temanku merapat di sebuah tempat makan yang cukup terkenal, terkenal harganya yang bisa dijangkau dengan mengganti menjadi makan mie selama seminggu.
Ya, demi pride dan demi check in di path.
Kami pun memesan makanan. Sebenarnya lebih memesan harganya.
Sebab, yang kami lihat bukanlah makanannya, melainkan brandrol harganya.
Sambil menunggu makanan kami datang, ada yang asyik mengobrol, ada pula yang asyik dengan gadget-nya. Dan aku, asyik memfoto berbagai sudut restoran tersebut.

Akhirnya makanan kami pun datang.
Suasana dinginnya hujan menyebabkan suasana lapar kian kentara, hingga layaknya anak yang tidak makan seminggu, kami pun kalap. Meski sekalap-kalapnya tidak akan pernah lupa untuk "memfoto" makanannya.
Aku adalah orang yang paling cepat menghabiskan makanan "mahal" itu.
Antara sedang lapar, atau karena aku tak pernah mengunyah makananku lebih lama. Kata orang, makanku tak pernah aku hayati.

Makan pun selesai, kami lanjut berbincang-bincang sambil menunggu hujan reda.
Namun, ditengah berbincang itu, aku merasa ada yang salah dengan mulutku.
Rasanya kering dan menjadi asam seketika.
Aku pun meneguk minumku. Namun rasanya malah semakin mual.
Tak perlu dirasa-rasa begitu dalam, aku bertingkah seperti biasanya, hingga rasanya perut sebelah kiri terasa memanas dan sakit melilit. Mual begitu kuat terasa hingga kekerongkongan.
Lama-lama tak bisa ku tahan, hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk ke kamar mandi.
Disana, rasa mual kian kuat, aku coba menahannya hingga air mataku keluar dan mata mulai perih.
Dan pada akhirnya semua yang ku tahan akhirnya aku keluarkan, makanan seharga jatah makan seminggu itu kini telah bersarang di lubang toilet.
Aku flush dan aku pun menangis, menatap kebodohanku yang tak bisa ku tahan.

Aku keluar dari toilet dan menuju wastafel.
Ku bersihkan mulutku, dan ku basuh mukaku.
Setelah semuanya kering, ku baru memberanikan diri keluar menemui sahabatku dan tertawa seperti biasa.

Ini bukanlah yang pertama, ini sudah menjadi rutinitas dari mulai tahun 2008 silam.
Ketika aku memutuskan untuk berhenti sarapan karena sibuk harus segera ke sekolah karena kebagian piket OSIS.
Hingga puncaknya mulai tahun 2011. Dan terkulai lemah semalaman di ruangan serba bau etanol di tahun 2012.

Bulimia, ya ini namanya Bulimia. Aku namai itu, meski sebelumnya memang telah ada namanya. Namun biasanya Bulimia telah terjadi karena faktor psikologis dari seseorang yang ingin langsing. Namun aku menganggap substansinya sama, yaitu senang memuntahkan makanan yang telah dia makan.
Dan begitulah aku menjalani kehidupan selama hampir 8 tahun ini.
Memang tidak setiap saat tetapi hal ini selalu terjadi jika aku terlampau senang.
Ya, Rhapsody.
Maka ku namai setiap status ku dengan Bulimia Rhapsody.
Agar aku selalu ingat bahwa aku tak boleh berlebihan dalam makan dan merasa senang, jika tidak mau semuanya berakhir dalam lubang toilet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...