Hari itu hujan
deras, aku dan teman-temanku merapat di sebuah tempat makan yang cukup
terkenal, terkenal harganya yang bisa dijangkau dengan mengganti menjadi makan
mie selama seminggu.
Ya, demi pride dan demi check
in di path.
Kami pun memesan
makanan. Sebenarnya lebih memesan harganya.
Sebab, yang kami
lihat bukanlah makanannya, melainkan brandrol harganya.
Sambil menunggu
makanan kami datang, ada yang asyik mengobrol, ada pula yang asyik dengan gadget-nya. Dan aku, asyik memfoto berbagai
sudut restoran tersebut.
Akhirnya makanan
kami pun datang.
Suasana dinginnya
hujan menyebabkan suasana lapar kian kentara, hingga layaknya anak yang tidak
makan seminggu, kami pun kalap. Meski sekalap-kalapnya tidak akan pernah lupa
untuk "memfoto" makanannya.
Aku adalah orang
yang paling cepat menghabiskan makanan "mahal" itu.
Antara sedang lapar,
atau karena aku tak pernah mengunyah makananku lebih lama. Kata orang, makanku
tak pernah aku hayati.
Makan pun selesai,
kami lanjut berbincang-bincang sambil menunggu hujan reda.
Namun, ditengah
berbincang itu, aku merasa ada yang salah dengan mulutku.
Rasanya kering dan
menjadi asam seketika.
Aku pun meneguk
minumku. Namun rasanya malah semakin mual.
Tak perlu
dirasa-rasa begitu dalam, aku bertingkah seperti biasanya, hingga rasanya perut
sebelah kiri terasa memanas dan sakit melilit. Mual begitu kuat terasa hingga
kekerongkongan.
Lama-lama tak bisa
ku tahan, hingga akhirnya aku pun memutuskan untuk ke kamar mandi.
Disana, rasa mual
kian kuat, aku coba menahannya hingga air mataku keluar dan mata mulai perih.
Dan pada akhirnya
semua yang ku tahan akhirnya aku keluarkan, makanan seharga jatah makan
seminggu itu kini telah bersarang di lubang toilet.
Aku flush dan aku pun menangis, menatap
kebodohanku yang tak bisa ku tahan.
Aku keluar dari
toilet dan menuju wastafel.
Ku bersihkan
mulutku, dan ku basuh mukaku.
Setelah semuanya
kering, ku baru memberanikan diri keluar menemui sahabatku dan tertawa seperti
biasa.
Ini bukanlah yang
pertama, ini sudah menjadi rutinitas dari mulai tahun 2008 silam.
Ketika aku
memutuskan untuk berhenti sarapan karena sibuk harus segera ke sekolah karena
kebagian piket OSIS.
Hingga puncaknya
mulai tahun 2011. Dan terkulai lemah semalaman di ruangan serba bau etanol di
tahun 2012.
Bulimia, ya ini
namanya Bulimia. Aku namai itu, meski sebelumnya memang telah ada namanya.
Namun biasanya Bulimia telah terjadi karena faktor psikologis dari seseorang
yang ingin langsing. Namun aku menganggap substansinya sama, yaitu senang
memuntahkan makanan yang telah dia makan.
Dan begitulah aku
menjalani kehidupan selama hampir 8 tahun ini.
Memang tidak setiap
saat tetapi hal ini selalu terjadi jika aku terlampau senang.
Ya, Rhapsody.
Maka ku namai setiap
status ku dengan Bulimia Rhapsody.
Agar aku selalu
ingat bahwa aku tak boleh berlebihan dalam makan dan merasa senang, jika tidak
mau semuanya berakhir dalam lubang toilet.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar