Senin, 15 Agustus 2016

Youth Pt.1


Hai 22 tahun, masa dimana kamu bakal jadi leader girl group kalau debut dalam usia segitu. Usia yang seharusnya sudah lulus kuliah dan memikirkan bagaimana hidup menjadi isteri orang, tetapi kamu? Masih kuliah, masih senang hura-hura dan ngomongin Oppa-Oppa Korea.
Tapi begitu bahagianya hidup seperti ini (dulu).
Sampai kapan? Ah entahlah, sampai bosan, sampai larut, mungkin.

Hari itu ceritanya pergi ke gunung, ingin melepas penat dan segudang deadline yang malah asyik ditunda daripada dikerjakan. Sebab tidak akan alright pengerjaannya jika dilakukan saat otak begitu penat, butuh penyegar, atau pengalihan sejenak (padahal sebenarnya lari dari masalah, hahaha).
Paket data sengaja dimatikan agar tak ada yang menghubungi, jika pun amat begitu penting, bisa SMS atau telpon, ya kedua hal yang jarang dilakukan zaman sekarang.
Sebab ingin sekali fokus, tenang, senang, tanpa diingatkan akan tugas dan sebagainya.

Aku pergi kesana dengan seorang teman, yang sudah kenal sejak 2008.
Kita punya satu kesamaan yaitu begitu "menggilai" Oppa Korea (Oppa yaitu panggilan untuk lelaki yang lebih tua kalau di Korea, eits..jangan berpikir kalau dia itu kakek yang sudah tua ya, hehe)
Terjebak diantara batas imajinasi dan realita.
Sangat berharap bisa menetap disana, bahkan bermimpi ingin menjadi isteri mereka.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa diantara teman sebaya kami telah menikah dan memiliki kekasih, sementara kami masih sendiri, hahaha (miris, ya.. Haha)

Kami kesana naik motor, dan tahu apa perbincangan selama 3 jam perjalanan menuju ke gunung? Apalagi selain fantasi tentang si mata sipit dan berlesung pipit.
Ceritanya seminggu belakangan ini terjebak dalam fanfiction atau cerita fiksi yang dibuat fans hasil kiriman dari teman yang "sama gilanya" terhadap hal tersebut.
Ceritanya juga hampir sama kayak pengalaman pribadi, jadi berasa baca cerita sendiri dan baper sendiri, haha.

Setelah menempuh trayek yang begitu terjal dan ekstrem, serta ada adegan jatuh pula dari motor (efek kebanyakan ngomongin si Oppa), apa yang kami lakukan? Malah lihat video youtube offline, lagi-lagi tentang Oppa. Yang diobrolin adalah Oppa. Dan disana kami memiliki ide untuk membuat video self camera ya mirip-mirip dengan duo keong racun dulu, dan ngegunain lagu Oppa.
Malu dilihatin orang, kita bodo amat deh. Hahaha, kita tertawa bersama, saling menertawai diri sendiri, katanya malu tapi masih lanjut hahaha.
Handphone sampai lowbatt dan kurang lebih ada sekitar 25 video, udah pas tuh buat dibikin film yang ber-sequel-sequel.

Perjalanan pulang apa yang kami lakukan? Hahaha, kami bernyanyi lagu-lagu Korean Pop ala-ala Boy Band dengan lirik yang nyaris ngawur, kami hanya tahu lirik belakangnya dan nada-nadanya saja, maklum itu bukan bahasa ibu kami, meski sering dengar dan baca liriknya, ya jika dinyanyikan ya sebagaimana penangkapan saja.
Meski macet, kami tetap bernyanyi dan berteriak tak jelas, bahkan sama dengan fanchants-nya (suara penyemangat dari fans kalau idolanya mulai bernyanyi diatas panggung), selama lebih dari 2jam mungkin kami sudah buat  album rekaman.

Sampai dirumah, kami malah buka laptop, rencananya ingin berbagi video untuk selanjutnya akan dilakukan tahap pengeditan, tapi malah ujung-ujungnya lihat video Oppa, tertawa bersama melihat keseruan dan kelucuan mereka, tanpa terasa sudah malam, saatnya kembali ke rumah.

Ah, rasanya hari itu ingin seperti itu, melupakan sejuta beban yang menggunung di pundak. Tetapi hanya pada hari itu, sebab esok hari dunia yang sebenarnya harus dijalani.
Thanks, teman, untuk harinya :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

the borderline.

have you ever laughed so loud then after the seconds, you felt sad as if you never laugh before? have you ever cried intensively then once...