Hai 22 tahun, masa
dimana kamu bakal jadi leader girl group kalau debut dalam usia segitu. Usia
yang seharusnya sudah lulus kuliah dan memikirkan bagaimana hidup menjadi
isteri orang, tetapi kamu? Masih kuliah, masih senang hura-hura dan ngomongin
Oppa-Oppa Korea.
Tapi begitu
bahagianya hidup seperti ini (dulu).
Sampai kapan? Ah
entahlah, sampai bosan, sampai larut, mungkin.
Hari itu ceritanya
pergi ke gunung, ingin melepas penat dan segudang deadline yang malah asyik
ditunda daripada dikerjakan. Sebab tidak akan alright
pengerjaannya jika dilakukan saat otak begitu penat, butuh penyegar,
atau pengalihan sejenak (padahal sebenarnya lari dari masalah, hahaha).
Paket data sengaja
dimatikan agar tak ada yang menghubungi, jika pun amat begitu penting, bisa SMS
atau telpon, ya kedua hal yang jarang dilakukan zaman sekarang.
Sebab ingin sekali
fokus, tenang, senang, tanpa diingatkan akan tugas dan sebagainya.
Aku pergi kesana
dengan seorang teman, yang sudah kenal sejak 2008.
Kita punya satu
kesamaan yaitu begitu "menggilai" Oppa Korea (Oppa yaitu panggilan
untuk lelaki yang lebih tua kalau di Korea, eits..jangan berpikir kalau dia itu
kakek yang sudah tua ya, hehe)
Terjebak diantara
batas imajinasi dan realita.
Sangat berharap bisa
menetap disana, bahkan bermimpi ingin menjadi isteri mereka.
Mungkin inilah salah
satu alasan mengapa diantara teman sebaya kami telah menikah dan memiliki
kekasih, sementara kami masih sendiri, hahaha (miris, ya.. Haha)
Kami kesana naik
motor, dan tahu apa perbincangan selama 3 jam perjalanan menuju ke gunung?
Apalagi selain fantasi tentang si mata sipit dan berlesung pipit.
Ceritanya seminggu
belakangan ini terjebak dalam fanfiction
atau cerita fiksi yang dibuat fans hasil kiriman dari teman yang "sama
gilanya" terhadap hal tersebut.
Ceritanya juga
hampir sama kayak pengalaman pribadi, jadi berasa baca cerita sendiri dan baper
sendiri, haha.
Setelah menempuh
trayek yang begitu terjal dan ekstrem, serta ada adegan jatuh pula dari motor
(efek kebanyakan ngomongin si Oppa), apa yang kami lakukan? Malah lihat video
youtube offline, lagi-lagi tentang Oppa. Yang diobrolin adalah Oppa. Dan disana
kami memiliki ide untuk membuat video self
camera ya mirip-mirip dengan duo keong racun dulu, dan ngegunain lagu
Oppa.
Malu dilihatin
orang, kita bodo amat deh. Hahaha, kita tertawa bersama, saling menertawai diri
sendiri, katanya malu tapi masih lanjut hahaha.
Handphone sampai lowbatt
dan kurang lebih ada sekitar 25 video, udah pas tuh buat dibikin film
yang ber-sequel-sequel.
Perjalanan pulang
apa yang kami lakukan? Hahaha, kami bernyanyi lagu-lagu Korean Pop ala-ala Boy
Band dengan lirik yang nyaris ngawur, kami hanya tahu lirik belakangnya dan
nada-nadanya saja, maklum itu bukan bahasa ibu kami, meski sering dengar dan
baca liriknya, ya jika dinyanyikan ya sebagaimana penangkapan saja.
Meski macet, kami
tetap bernyanyi dan berteriak tak jelas, bahkan sama dengan fanchants-nya (suara penyemangat dari fans kalau idolanya
mulai bernyanyi diatas panggung), selama lebih dari 2jam mungkin kami sudah
buat album rekaman.
Sampai dirumah, kami
malah buka laptop, rencananya ingin berbagi video untuk selanjutnya akan
dilakukan tahap pengeditan, tapi malah ujung-ujungnya lihat video Oppa, tertawa
bersama melihat keseruan dan kelucuan mereka, tanpa terasa sudah malam, saatnya
kembali ke rumah.
Ah, rasanya hari itu
ingin seperti itu, melupakan sejuta beban yang menggunung di pundak. Tetapi
hanya pada hari itu, sebab esok hari dunia yang sebenarnya harus dijalani.
Thanks, teman, untuk
harinya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar