Saya sering
menyepelekan hal kecil.
Kurang suka
memperhatikan remeh temeh pada kehidupan saya pribadi.
Berbeda dengan hal
lain diluar dari diri saya, saya orang yang selalu memperhatikan hal yang detail.
Hingga suatu ketika
negara api pun menyerang.
Menggerogoti dan
membumihanguskan secara perlahan hal vital dari diri saya.
Dan saya
menyadarinya setelah semuanya kian hari kian memburuk.
Orang-orang sering
mengalami hal ini dalam skala kecil.
Lalu membiarkannya
karena akan hilang sendiri.
Saya pun beranggapan
seperti itu.
Dan itu tak lama.
Ternyata hal yang
saya anggap kecil begitu besar efek yang ditimbulkan.
Kian hari kemunduran
itu kian nyata.
Melemaskan dan
melumpuhkan satu persatu sendi kehidupan saya.
Mengakibatkan ide
yang bergelora ini tertahan dan mesti menahan untuk tidak meledak karena kapasitas pertahanan
yang regresif.
Kini saya tersudut
pada suatu pilihan.
Memperbaiki dengan
kemungkinan yang tipis atau menjalani dengan
kemungkinan tergerus.
Semuanya
berputar-putar saja.
Dan saya akui ini
adalah kesalahan saya.
Kesalahan fatal yang
telat saya duga.
Dan saya memilih
untuk menjalani karena saya pesimis untuk
memperbaikinya.
Alasan klise yang
saya temui adalah saya tak mempunyai waktu untuk memperbaiki.
Memperbaiki sama
saja dengan berjalan ditempat, sementara dunia tak mau menunggu saya ditempat.
Dunia yang dinamis
ini tak mau menunggu.
Hal ini bukan egois
tapi realistis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar