Waktu menjadikanku berkembang. Waktu pula yang menjadikanku menua. Namun, waktu tak mampu mematikan asa ini. Waktu hanya berjalan sebagaimana seharusnya. Dan aku berjalan semau pikiranku.
Waktu mengajariku arti kematian dengan mengakhiri setiap nafas yang telah kehabisan waktu.
Waktu mengajariku pula arti kehidupan dengan seiring nafas dan tangis bayi hadir disetiap waktu.
Waktu mengubahku dari bayi menjadi besar seperti ini, aku menyebutnya besar dibanding dewasa, sebab badanku telah tumbuh besar namun dewasa belum terlalu nampak hadir. Dan waktu pun mengikis kemampuan hidupku, bagai air laut yang mengabrasi karang laut.
Waktu tidak hanya persoalan lama atau sebentar, singkat dan panjang, tapi waktu memaknai hakikat jiwa yang mampu menobrak keangkuhan raga.
Ya, sudah lama nampaknya, gemericik kegusaran ini namun waktu tak kuasa menghapusnya dalam ingatan.
Waktu mengajariku arti kematian dengan mengakhiri setiap nafas yang telah kehabisan waktu.
Waktu mengajariku pula arti kehidupan dengan seiring nafas dan tangis bayi hadir disetiap waktu.
Waktu mengubahku dari bayi menjadi besar seperti ini, aku menyebutnya besar dibanding dewasa, sebab badanku telah tumbuh besar namun dewasa belum terlalu nampak hadir. Dan waktu pun mengikis kemampuan hidupku, bagai air laut yang mengabrasi karang laut.
Waktu tidak hanya persoalan lama atau sebentar, singkat dan panjang, tapi waktu memaknai hakikat jiwa yang mampu menobrak keangkuhan raga.
Ya, sudah lama nampaknya, gemericik kegusaran ini namun waktu tak kuasa menghapusnya dalam ingatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar